Tawa Gadis itu Seperti Candu

2020 Kata
Meski hari libur, Vanilla bangun pagi-pagi hari ini. Setelah membersihkan diri. Ia pergi ke dapur dan langsung membuka kulkasnya. Ia mengeluarkan beberapa bahan untuk dimasak. Ia bangun dengan perasaan senang yang meluap-luap. Ia berpikir ini akan menjadi hari yang sangat baik. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan pria itu. Vanilla dan Aditya punya banyak rencana hari ini, dan itu dimulai dengan makan bersama di rumahnya. Ia mengolah ayam dan sayur yang ia ambil dari kulkas menjadi ayam asam manis, tumis jamur, sayur sop dan salad buah. Berharap Aditya akan menyukainya, tentu saja. Aditya selalu menyukai apa yang ia masak. Ia yang hari ini libur sangat senang karena berpikir akan punya banyak waktu untuk menghabiskan hari dengan pria itu. Vanilla melihat jam di ruangan itu saat mendengar pintunya diketuk pelan. Dengan senyum sumringah, ia berjalan menuju pintu dan membuka salah satu daun pintunya. Tapi ia terkejut karena yang didapatinya adalah seseorang yang berdiri membelakanginya, dengan pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan kacamata. Kedua mata Vanilla memicing, lalu secara tak sadar ia mundur dua langkah. “Siapa kamu?” tanyanya. Sosok itu berbalik dan kontan membuat Vanilla menghela napas lega. “Joshua? sedang apa kamu di sini?” Vanilla tidak tahu kenapa ia menanyakan itu, padahal ia lebih ingin tahu kenapa penampilan pria itu seperti itu. Bagi Vanilla, tak hanya penampilan pria itu yang terlihat aneh, tapi juga gerak-geriknya. Pria itu terus menyapu sekeliling, entah ingin memastikan apa. Setelah Joshua pikir ia aman, ia menatap Vanilla yang masih menatapnya dengan raut wajah kebingungan. Ia langsung maju dan menggandeng tangan gadis itu untuk masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan rapat. “Bukankah sudah kubilang untuk jangan pernah mengabaikan pesan dan telepon dariku?” Joshua menatap Vanilla yang langsung bergerak menuju meja di samping sofa dan mengambil benda pipih miliknya dari sana. “Hpnya ku silent.” kata Vanilla sambil menggulung layar. Ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Joshua. “Kenapa penampilanmu seperti itu?” Vanilla bertanya lagi, masih dengan nada penasaran. Ia menatap Joshua dari atas sampai bawah. “Kenapa dengan penampilanku?” Joshua duduk di sofa sambil melepas topi dan kacamata hitamnya. Ia menatap gadis di depannya dan tersenyum. Senang bisa melihat gadis itu di sini. Saat berangkat, ia sudah berpikir bahwa mungkin saat ia sampai, gadis itu sedang tidak ada di rumah. Ia tahu akan sangat mengesalkan. Namun ia tetap datang, meski pesan dan panggilannya pada gadis itu sejak pagi terabaikan. “Kamu terlihat aneh.” ujar Vanilla. “untuk apa kamu ke sini?” “Kamu sedang menunggu seseorang?” Joshua melihat gadis itu mengangguk dan tidak perlu bersiapa siapa orang yang ditunggu gadis itu. Ia hanya bersyukur bahwa ia datang lebih dulu daripada Aditya. “Kamu punya sesuatu untuk dimakan? Aku belum sarapan.” Joshua sudah berdiri lalu pergi ke dapur, sebelum sempat Vanilla cegah. Ia akhirnya mengekori pria itu. Joshua tersenyum melihat meja makan di dapur kecil Vanilla yang sudah terisi dengan berbagai macam makanan. Aroma masakan itu membuat perutnya yang kelaparan semakin berontak minta diisi. “Ini semua kamu yang memasak?” Joshua mulai duduk di salah satu kursi dan mencium aroma nikmat dari makanan-makanan itu. “sepertinya enak.” “Stop. Jangan sentuh apapun.” Vanilla sedikit berteriak saat melihat Joshua hendak mengambil sendok dan tahu kalau Joshua akan mencicipi makanannya. Ia duduk di depan Joshua dan membulatkan matanya lebar-lebar. “Kenapa? Bukankah makanan ini untuk dimakan.” Joshua menahan geli karena melihat ekspresi Vanilla yang terasa dibuat-buat. “Tapi ini bukan untukmu.” Sekali lagi Vanilla mencoba memperingatkan. “sebentar.” katanya saat merasakan ponsel di tangannya bergetar. Ia pergi ke ruang tamu untuk mengangkat panggilan itu. *** Vanilla kembali ke dapur dengan wajah lesu. Semua kesenangannya sejak pagi langsung tersedot saat Aditya meminta maaf karena tidak bisa datang. “Kamu boleh makan semuanya.” katanya saat kembali duduk di seberang Joshua. “Kenapa?” Joshua bertanya dengan nada tak acuh. Ia tidak pernah bernar-benar peduli. Ia hanya berpikir bahwa ini akan menjadi awal yang ia tunggu-tunggu. Ia melirik Vanilla yang wajahnya langsung muram. Gadis itu seharusnya juga berpikir sepertinya. “Dia tidak bisa datang.” jawab gadis itu. Ia menatap Joshua yang sudah memulai suapan pertamanya. Ia tidak menyangka jika pria itu yang akan menikmati masakannya. “Apa alasannya?” Joshua memerhatikan wajah gadis itu dan melihat guratan kekecewaan di sana. Joshua rasanya ingin tersenyum puas, namun ia mati-matian menahannya. Ia tahu mood gadis itu sudah buruk dan ia tidak ingin tambah memperburuk. “Dia hanya bilang ia tidak bisa.” Joshua tersenyum sinis. Ia kembali sibuk mencacah makanan dalam mulutnya. “kamu tidak makan?” “Aku tidak lapar.” jawab Vanilla. Joshua berdecak. “jika karena hal ini saja kamu jadi malas makan, mungkin kalau Aditya bertunangan dengan wanita itu, kamu bisa bunuh diri.” Vanilla menengadah dan melotot pada Joshua yang langsung mengulum senyum. “aku tidak sebodoh itu.” ujarnya sambil berdecak. Ia terdiam saat Joshua mengulurkan sendok berisi nasi ke depan mulutnya. “Aku sehat. Tidak punya penyakit menular.” kata Joshua saat melihat Vanilla bergeming dan menatapnya ragu. Ia masih mengarahkan sendok itu ke depan mulut gadis itu. Ragu, namun akhirnya mulut Vanilla perlahan terbuka. Vanilla sudah akan mengambil piring saat Joshua menahannya. “ini saja.” kata Joshua sambil kembali mengulurkan sendok berisi nasi dan lauk ke arahnya. “Masakanmu enak.” puji Joshua yang langsung membuat Vanilla tersenyum kecil. “Kamu punya rencana apa hari ini?” Joshua bertanya saat isi piringnya tinggal setengah. “Tadinya aku mau menonton film. Tapi sepertinya aku akan di rumah saja.” “Ayo pergi bersamaku.” “Tidak usah.” kata Vanilla, “aku tahu kamu punya banyak hal yang bisa kamu kerjaan dibanding menghabiskan waktu bersamaku.” tolak Vanilla. “Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah begitu baik padaku.” Vanila mengernyit, mencoba mengartikan maksud dari kata-kata Joshua “kamu sudah merawatku ketika aku sakit. Bukankah aku bilang akan mengganti semua biaya kerugian yang kamu keluarkan untuk merawatku.” *** Vanilla tidak pernah ingin menjadikan Joshua pelarian. Sungguh. Ia baru menyadarinya beberapa hari kebelakang, di mana Joshua selalu ada di sampingnya setiap kali Aditya menghilang. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Joshua, namun ia tidak pernah ingin memberikan harapan pada pria itu. Ia berharap pria itu tidak memiliki perasaan apapun padanya. “Kenapa kamu berpakaian seperti itu?” Ada yang berbeda dengan Joshua hari ini. Dia tidak memakai mobil seperti biasa. Dia bilang dia naik taksi menuju rumahnya. Lalu penampilannya, benar-benar tidak bisa dimengerti. Joshua memakai celana jeans hitam dengan kaos hitam, juga jaket warna serupa yang melapisi, sepatu kets warna senada, kacamata hitam dan topi yang bisa menutupi wajahnya. Penampilannya seperti teroris yang sedang menjadi buronan polisi. “Harus.” hanya kata itu yang bisa diucapkan Joshua. “aku akan memanggil taksi.” Pria itu baru saja hendak mengambil benda pipih dari saku celana saat sebelah tangan Vanilla menahannya. “Ayo naik bus.” Ajak gadis itu. Mereka melewati taman komplek yang sepi, hanya terlihat tiga gadis berseragam sekolah berkumpul di salah satu bangku besi di samping sebuah patung rusa. “Kamu tidak biasa berjalan kaki ya?” Vanilla memerhatikan dahi Joshua yang sangat berkeringat. Ia mengambil selembar tisu dari tasnya dan memberikannya kepada pria itu. “Terlalu terik.” Vanilla tersenyum. Kacamata dan topi Joshua jelas tidak bisa menyembunyikan kelelahannya. “Kenapa kamu tidak membawa mobilmu?” biarpun siang itu sangat terik, Vanilla bisa merasakan embusan angin yang menerpa wajahnya. Menyapu kulitnya dan menerbangkan beberapa helai poninya. “Tidak apa-apa.” “Jangan bilang kamu sudah mulai merasa kesal karena aku duduk di belakang?” Vanilla mulai mengerti jalan pikiran Joshua. Ia tidak menyalahkan pria itu. Kondisi seperti itu memang membuat Joshua terlihat seperti supir. Namun ia tidak bisa melakukan apapun. Traumanya memang sudah mendarah daging dan sepertinya akan sulit untuk dihilangkan. “Tidak seperti itu.” ujar Joshua, “apa Aditya tidak pernah komplain kalau dia menjemputmu dan kamu duduk di kursi belakang?” Joshua balik bertanya. Gadis itu menggeleng sambil menjawab “Tidak.” “Pantas kamu begitu mencintainya.” Joshua mengatakannya dengan nada mengejek yang terdengar di telinga Vanilla. “Dia tidak pernah membawa mobilnya. Dia selalu menjemputku dengan motor.” Vanilla tertawa melihat ekspresi Joshua yang mendadak berubah. “Laki-laki pintar.” Baru kali ini Joshua melihat Vanilla tertawa dan ia terlihat lebih cantik daripada biasanya. Dengan rambut yang terurai melewati bahu, beberapa helainya terlihat jatuh di dahinya, hampir menutupi mata indahnya. Hanya dengan sebuah blus dan jeans, Joshua tidak pernah mengerti bagaimana ia bisa begitu tertarik oleh gadis itu. Ia tidak pernah tahu bahwa pertemuan pertama mereka mampu menghantarkan hari-hari yang baginya sangat menyenangkan. Gadis itu sederhana dan ia menyukainya. Ada hal-hal dalam diri Vanilla yang membuat Joshua sadar bahwa ia ingin mengenal gadis itu lebih jauh lagi. Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di halte kecil di depan komplek perumahan Vanilla. Halte dengan empat buah bangku besi dan atap mengkilat itu menjadi tempat bus yang akan Vanilla tumpangi berhenti. Bus-bus itu akan berhenti beberapa detik untuk memastikan apakah orang-orang di sana akan ikut naik atau tidak. Dan kalau hujan, halte itu akan sangat ramai oleh orang-orang yang berteduh. Di samping halte itu ada sebuah minimarket kecil yang selalu menjadi tujuan Vanilla untuk membeli beberapa kebutuhan. Di ujung jalan, mereka berdua melihat bus mendekat. Tapi Joshua bersikeras tidak mau naik karena bis itu penuh sesak. “Joshua!” Vanilla melotot pada Joshua saat melihat bus itu akhirnya menghilang dari padangannya. “Kamu tidak lihat? Bus itu penuh sesak. Bagaimana ia menjamin keselamatan penumpang sampai tujuan?” Joshua tampak tak mau kalah. “Kita tidak punya pilihan, Joshua. Kalau menunggu bus sepi, kita akan sampai di mall tengah malam.” kata Vanilla dengan nada jengkel. “Aku ikut denganmu.” Joshua akhirnya mengalah dan memilih menurut pada gadis itu. Saat bus berikutnya datang, Vanilla menggandeng tangan Joshua. Menahan agar pria itu tidak menghindar. Senyum Joshua melengkung saat melihat jemari gadis itu bertaut dengan jemarinya. Bus yang mereka naiki tak sepadat bus yang pertama, walau mereka tetap harus berdiri. Vanilla tidak sadar, saat satu tangannya berpegangan pada tiang, tangan yang satunya masih terus menggenggam tangan Joshua. Joshua melihat gerak Vanilla yang lihai. Ia berpegangan cukup kuat, jadi saat bus itu berhenti mendadak, ia tidak akan terdorong dan menabrak orang di sebelahnya. Ia juga akan refleks merapatkan diri ke pinggir jika ada penumpang yang ingin turun. Sedangkan Joshua, pria itu benar- benar membuat Vanilla terpaksa mengulum tawa setiap saat. Joshua beberapa kali hampir menubruk tubuh Vanilla saat bus berhenti mendadak. Ia juga beberapa kali melepas pegangannya karena merasa risih harus memegang tiang yang dalam pandangannya sangat kotor atau menggerutu karena seseorang yang ingin turun dan menyenggol tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya untuk Joshua sehingga ia membiarkan Vanilla terus mengulum senyum setiap kali melihat kecerobohannya. Ia akan membiarkan gadis itu menertawakannya. Tawa gadis itu seperti candu dan jika bisa, ia ingin melihatnya setiap hari. *** Saat mereka berdua turun dari bus, Vanilla baru sadar kalau ia tidak melepaskan pegangannya pada Joshua selama perjalanan. Dengan raut wajah penuh malu, ia buru-buru melepaskan tangan pria itu dan meminta maaf. Genggaman itu tak hanya membuat Vanilla nyaman sampai ia lupa melepaskan, tapi juga bagi Joshua. Beberapa saat setelah Vanilla menarik tangannya, Joshua kembali mengambil tangan itu dan menggenggamnya, lebih erat agar gadis itu tak bisa menarik diri. Pria itu tersenyum saat Vanilla menatapnya penuh tanya. Tapi tak ada penolakan yang keluar dari mulut gadis itu. Ia bergerak di sebelah Joshua dengan kedua tangan mereka yang bertaut. Keduanya langsung pergi menuju biskop dan menatap deretan poster filmnya yang diputar hari itu. “Kamu mau menonton apa?” Joshua bertanya. Menyuruh gadis itu memilih film mana yang ingin ia tonton. Sebenarnya ini bukankah kegiatan yang biasa Joshua lakukan saat libur. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan pergi keluar kota ataupun keluar negeri. Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia menjejakkan kakinya di bioskop. Ia tidak pernah punya orang yang benar-benar dekat sehingga bisa diajak untuk melakukan kegiatan itu. Sedang baginya, menonton sendiri pasti tidak menyenangkan. Ia biasanya akan menonton film pilihannya jika film itu sudah keluar di salah satu platform streaming.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN