Jangan Menyakiti Diri Sendiri, Vanilla

1355 Kata
Vanila kembali memulai semuanya dari awal bersama Aditya. Awalnya, Vanilla sudah bersiap dengan semua kekecewaan yang akan ia dapat. Ia tidak lagi benar-benar mengharapkan akan ada perubahan dalam hubungannya dengan Aditya. Ia telah berpikir panjang bahwa jika ia harus merelakan Aditya, maka ia akan melakukannya. Ia tahu posisi pria itu sangat sulit dan mungkin sudah waktunya untuk menyerah. Jika ia menyerah, pria itu mungkin akan lebih mudah meninggalkannya. Jika ia berhenti berharap, pria itu mungkin akan lebih mudah melepaskannya dan menata hidupnya yang baru. Vanilla tidak berhak menuntut apapun dari pria itu. Semakin hari, ia merasa ia justru semakin menghancurkan pria itu. Ia tidak ingin seperti itu. Aditya pantas mendapatkan semua yang terbaik dalam hidupnya. Tapi kali ini, Aditya menepati janjinya. Setiap hari selalu ada kiriman yang tidak pernah diduganya. Bunga, cokelat, boneka dan hal-hal lain yang selalu membuatnya bahagia. Aditya kembali menjadi sosok yang dulu. Pria yang hangat dan penuh perhatian. Aditya benar-benar menepati janjinya untuk mencoba memulai semuanya dari awal. Aditya tidak pernah absen mengantar dan menjemputnya. Ia juga membantu Vanilla dalam skripsinya. Bagaimana mungkin Vanilla bisa membenci Aditya meski semua yang dilakukannya membuatnya sakit hati? Dalam rentang waktu Aditya kembali ke hidup Vanilla, Joshua sering uring-uringan karena Vanilla perlahan menjauh darinya. Pesannya jarang terbalas. Setiap ia menelepon untuk mengantar atau menjemputnya, gadis itu selalu bilang bahwa ia akan pergi bersama Aditya. Jika ia datang ke rumahnya tanpa pemberitahuan, gadis itu selalu tidak ada di rumah. Joshua terus menerus kesal karena ia tidak bisa bebas bertemu gadis itu meski mereka ada di gedung yang sama. Namun akhirnya Joshua mendapatkan kesempatan itu. Ia yang baru saja keluar dari ruang finance menyusuri lorong menuju lift. Saat ia sedang menunggu lift, ia melihat Vanilla keluar dari toilet wanita yang letaknya tak jauh dari lift. Dengan langkah cepat namun pelan, Joshua mengejar Vanilla. Saat melihat lorong itu sepi dan ruang meeting di sebelahnya kosong, ia langsung membekap mulut Vanilla dan menariknya ke ruang meeting lalu menutup pintunya dengan rapat. Vanilla yang kaget langsung berontak, namun sedikit tenang saat melihat jika yang membekap mulutnya adalah Joshua. Sebelum menarik tangan dari mulut Vanilla, Joshua menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, memberi isyarat agar gadis itu tak berisik. “Apa yang kamu lakukan?” Vanilla menatap pria di depannya dengan tatapan jengkel luar biasa. “Apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini? Pesanku tidak pernah dibalas.” Joshua tak kalah jengkel. “Itu…” Vanilla bingung harus memulai ceritanya dari mana. Namun pria itu pasti tahu kalau ia dan Aditya sudah baik-baik saja. “Kamu kembali lagi dengan Aditya?” tanya Joshua, masih dengan suara pelan. “Kembali? Kita tidak pernah benar-benar putus.” ujar Vanilla. Ia melihat pria di depannya mengembuskan napas kasar. Pria itu tampak frustrasi. “Aku tidak mengharapkan apapun kali ini.” kata Vanilla. Saat ia mengatakan itu, Joshua tengah melirik arah pintu di mana tiga orang karyawan baru saja melewati ruangan itu. Ruangan itu memang sebagian dindingnya kaca dua arah, sehingga dari dalam, kita bisa melihat apa yang ada di luar dan tidak sebaliknya. “Tidak mengharapkan apapun?” Ada nada mengejek dalam kalimat itu. Vanilla mengangguk, “aku pikir kalau kali ini Aditya masih suka hilang tanpa kabar, aku akan melepaskannya. Aku tidak ingin membuat hidupnya semakin sulit. Jika aku tidak mengharapkannya, aku pikir akan lebih mudah baginya untuk melepaskanku.” “Lalu kenapa kamu masih bersamanya?” “Karena dia menepati janjinya. Dia bilang ingin memperbaiki semuanya dan dia melakukannya.” Joshua tertawa sinis. Dilihatnya gadis di depannya. Ia seharusnya tidak berada di sini untuk mendengarkan omong kosong gadis itu. Jika saja Aditya ada di depannya, ia tidak akan berpikir panjang untuk menonjok pria itu. “Yakin dia akan selamanya seperti itu? Yakin dia tidak akan menghilang lagi?” Joshua berkacak pinggang dan menatap Vanilla yang kebingungan. Gadis itu memilin jari-jarinya dan mengigit bibir bawahnya. Gadis itu tidak yakin, pikir Joshua. Gadis itu tahu bahwa ini hanya masalah waktu. Gadis itu tahu bahwa ia tidak bisa mempercayai Aditya sepenuhnya. Gadis itu hanya… penasaran. “Jangan menyakiti diri sendiri, Vanilla.” suara Joshua kali ini lembut. Ia maju dua langkah hingga benar-benar dekat dengan Vanilla. Sebelah tangannya terulur untuk mengusap pipi gadis itu. “Aku hanya…” Vanilla tidak melanjutkan kata-katanya karena bingung. Juga karena yakin Joshua tidak akan pernah mengerti perasaannya. “Kamu punya pilihan untuk mundur. Jangan lagi ikuti permainan Aditya.” Ibu jari pria itu mengusap ujung bibir Vanilla yang masih terdiam. “Aku akan menerima semua konsekuensinya.” kata Vanilla. Lagi, Vanilla tidak bisa berbohong bahwa membaiknya hubungan dengan Aditya membuatnya senang. Sejak awal, ia sudah tak lagi menggantungkan harap. Ia pikir ia sudah siap jika memang Aditya kembali menghilang. Ia pikir ia tidak ingin membuang kesempatan untuk bisa bersama pria itu, meskipun mungkin tak akan lama. Rahang Joshua mengatup rapat. Ia menghela napas panjang untuk mengurai amarahnya. “Terserah…” kata Joshua akhirnya. “tapi, jangan pernah mengabaikan pesan dan teleponku.” kata Joshua akhirnya. Joshua akhirnya keluar dari ruang meeting. Selama beberapa saat, Vanilla masih di dalam, menyandarkan punggungnya ke dinding. Kalimat-kalimat Joshua lagi-lagi menamparnya, dan bodohnya, ia masih tetap pada pendirinannya untuk memberikan Aditya kesempatan. Saat ia keluar dari ruangan itu, Joshua sudah ada di depan lift. Vanilla kembali ke ruangannya dan mengempaskan tubuhnya ke kursi. Tubuhnya tiba-tiba terasa lelah dan sepertinya ia tidak punya kekuatan sama sekali untuk melanjutkan harinya yang masih panjang. Berbicara dengan Joshua terasa menyedot semua tenaganya. *** Vanilla menatap Aditya di depannya. Mereka mampir di sebuah tempat makan pinggir jalan dalam perjalanan pulang. Saat itu sudah hampir jam dua belas malam. Mereka mampir ke tukang nasi goreng yang letaknya tak jauh dari rumah Vanilla. Vanilla menatap Aditya yang sedang fokus makan di depannya. “Ada apa?” Aditya bertanya saat melihat Vanilla menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Ia masih mencacah nasi goreng di dalam mulutnya. “Tidak apa-apa.” kata Vanilla. Ada terlalu banyak pertanyaan di otaknya. Terlalu rumit sehingga ia bingung apakah ia perlu mengurainya dan menanyakannya. Vanilla ingin tahu bagaimana rencana pertunangan pria itu. Aditya tidak pernah memberitahu apakah rencana itu batal atau tidak. Pria itu hanya bilang ingin memperbaiki semuanya, tanpa memberitahu bagaimana rencana pertunangannya. Aditya masih belum seratus persen membuka diri. Ia tahu Aditya masih belum punya rencana yang jelas. Pria itu hanya ingin menghiburnya. Atau hanya ingin memberikan harapan. Pria itu tahu ia akan selalu memaafkan. Bukankah ia terlihat sangat menyedihkan. Suara dering ponsel terdengar sesaat setelah Vanilla mengosongkan isi piringnya. Sebelah tangannya mengaduh-aduk ranselnya untuk mengambil benda pipih itu. Ada nama Joshua di layarnya. Ia melirik Aditya yang kini tengah menatapnya dengan tatapan penasaran. Jangan pernah mengabaikan pesan dan teleponku. Ia ingat kalimat Joshua, namun akan canggung jika harus mengangkat telepon pria itu di depan Aditya. Tapi akhirnya Vanilla menslide layar untuk mengangkat panggilan itu. Suara Joshua terdengar di ujung sambungan. Suara Joshua tenang, namun entah kenapa Vanilla menangkap sebaliknya. Seperti air tenang yang sebenarnya sangat dalam. Pria itu bertanya ia di mana, bersama siapa, sudah sampai rumah atau belum. Vanilla menjawab sekadarnya sambil menatap Aditya yang raut penasarannya belum hilang dari wajahnya. Vanilla berusaha menjawab setenang mungkin. Mengimbangi Joshua yang kali ini terdengar lebih bersahabat. *** Joshua melempar ponsel ke sisi ranjangnya dan menatap langit-langit kamarnya. Ia harus membiarkan mereka untuk sementara waktu. Ia harus membuat Vanilla menyadari kesalahannya. Ia akan membuat gadis itu sadar bahwa semua yang ia katakan bukalah sebuah bualan. Ia akan menunggu dan membiarkan mereka menikmati waktu mereka. Ia tidak pernah ingin membuat Vanilla bersedih, makanya selalu meminta gadis itu mundur. Namun gadis itu sama sekali tidak pernah mendengarkannya. Gadis itu terlalu naif dan mudah dimanipulasi oleh Aditya. Setelah semua yang terjadi, ia tidak mengerti kenapa gadis itu masih bisa percaya pada pria itu. Meski Joshua ingin sekali memukul wajah Aditya, ia akan menahan diri. Ia akan membiarkan mereka menikmati waktu yang mereka punya. Ia sudah tahu akan seperti apa akhirnya. Pria seperti Aditya sangat mudah ditebak. Ia hanya perlu menunggu hingga pria itu menghilang kembali. Dan saat itu, ia berharap Vanilla menyudahi semuanya. Ia berharap Vanilla bisa membuka mata dan hatinya. Semua yang terjadi seharusnya cukup untuk membuat gadis itu mengerti bahwa Aditya memang tidak akan pernah memilihnya sampai kapanpun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN