“Vanilla, Ada titipan untukmu.” Salah seorang temannya memberikan sebuah kotak berwarna merah muda. Resesionis menitipkan padanya saat ia baru melewati meja wanita itu.
“Apa ini?” tanyanya.
“Tidak tahu, seseorang menitipkannya di resepsionis.”
Vanilla menguliti kotak itu. Lalu dengan rasa penasarannya, ia membuka kotak itu dan menemukan sekotak cokelat di dalamnya.
Sekotak cokelat untuk wanita yang kusayang.
Salam hangat A.J
Vanila tersenyum kecut. Ia berpikir, kemarin Aditya mengirimkan mawar dan sekarang cokelat, tapi kenapa ia tidak menghubunginya sama sekali. Ia sama sekali tidak bisa membaca pikiran Aditya. Dan saat ini, ia mulai meragukan keseriusan pria itu.
Seharusnya pria itu tidak pernah memberikan harapan padanya. Seharusnya pria itu tidak pernah kembali dengan harapan bahwa ia akan memperjuangkannya dan semua pernyataan cintanya bukan main-main. Jika begitu, perasaannya saat ini mungkin lebih baik. Ia mungkin akan menghadapi hari-hari berat, namun itu harusnya lebih baik karena Vanilla tahu apa isi hatinya dan apa yang ingin ia lakukan. Bukan terus menerus berpikir apa yang Aditya lakukan, berusaha mempercayai, menunggu pesan dan teleponnya. Sungguh, itu terasa melelahkan untuknya.
Suara denting ponselnya membuat semua lamunannya buyar.
Aditya: Aku akan menjemput ke kantormu untuk makan siang.
Sampai ketemu nanti.
Diantara semua kebimbangannya, Vanilla nyatanya masih tersenyum saat mendapati pesan dari pria itu.
Saat memasuki jam istirahat, Vanilla bangun dari kursinya dan pergi keluar ruangan setelah mengambil dompetnya dari dalam laci. Teman-temannya yang lain juga berbondong-bondong dan kini berkumpul di depan lift. Vanilla menatap lift yang sedang merangkak naik, lalu di layarnya kecil di atasnya berhenti di lantai empat belas.
“Di lantai empat belas, ada divisi apa?” Vanilla bertanya pada seorang wanita yang berdiri di sebelahnya. Wanita itu rekan satu timnya, namun mereka tidak dekat. Sekali lagi, Vanilla hanya berhubungan dengan mereka untuk masalah pekerjaan.
“Legal.” jawab wanita itu.
Keluar dari kotak besi di lantai dasar, Vanilla bisa langsung melihat Aditya terduduk di lobi. Saat tatapan mereka bertemu, pria itu tersenyum. Hangat. Senyum yang seperti sudah lama tak Vanilla lihat.
“Terima kasih untuk semuanya.” Vanilla tersenyum sambil menatap Aditya di depannya dengan mata berbinar. Binar yang keluar dari matanya begitu saja. Padahal ia tidak ingin lagi berharap pada pria itu.
“Semuanya apa?” Aditya terlihat sedikit bingung. Mereka berada di kedai mie yang letaknya tepat di jalan samping kantor Vanilla.
“Bunga dan cokelat yang kamu kirim.”
“Oohh…” Aditya menjawab singkat, dengan sedikit anggukan dan senyum kecil. Aditya akhirnya memesan makanan dan mengalihkan pembicaraan. Ia bertanya mengenai skripsi Vanilla dan Vanilla menjawab antusias.
“Pria yang kemarin, apa benar yang dia bilang?” raut wajah Vanilla langsung berubah. Ia baru ingat mereka punya kesalahapahaman yang belum ia jelaskan.
“Tentu saja tidak.” kata Vanilla, “dia hanya teman kantorku. Dia tidak pernah serius dengan kata-katanya.”
“Tapi dia menciummu.” Ada nada kesal dalam kalimat itu, yang gagal disembunyikan Aditya.
Kata-kata itu membuat Vanilla benar-benar menyesal karena tidak menghajar Joshua saat laki-laki itu menciumnya. Vanilla menggeleng pelan, dengan raut wajah meyakinkan dan harapan itu dapat membuat Aditya percaya padanya.
“Aku dan dia tidak ada apa-apa, Aditya.” Aditya tersenyum kaku. Ia sebenarnya marah pada Vanilla, tapi ia juga sadar bahwa apa yang sudah dilakukannya juga tidak bisa dimaafkan. Ia telah memberikan harapan pada gadis itu, lalu menghilang dan datang sesuka hati. Ia tahu ia telah menyakiti gadis itu, dan gadis itu masih mau menunggunya.
“Terima kasih, Vanilla. Kamu masih begitu baik setelah semua yang kulakukan padamu. Aku tahu maafku mungkin tidak akan bisa menebus kesalahanku. Tapi aku berjanji akan memperbaiki semuanya.”
Vanilla tersenyum menampakkan lesung pipinya. Apa aku harus menceritakan kepada Aditya mengenai kedatangan ibunya dan apa saja yang dilakukan ibunya?
Tapi akhirnya Vanilla memilih untuk menyembunyikan semuanya. Ia kini berpikir, haruskah ia percaya pada pria itu? Haruskah ia menggantungkan harapnya lagi? Apa ia bisa menjamin bahwa Aditya tidak akan menghilang lagi?
Pertanyaan-pertanyaan itu kini memenuhi otak Vanilla, dan ia tahu ia tidak akan bisa menjawabnya sampai besok. Sampai Aditya memberikan kabar padanya lagi. Yang bisa ia lakukan hanya menunggu bagaimana besok.
***
“Aku akan menjemputmu.” Suara Joshua di seberang membuat vanilla sedikit bingung. Apa dia tidak bisa sekedar berbasa-basi terlebih dahulu. Ia berdecak kesal.
“Tidak usah, Aditya akan menjemputku.” Ada jeda selama beberapa detik dan entah kenapa Vanilla bisa merasakan aura kemarahan yang menguar dalam sosok Joshua meskipun mereka tidak bertatap muka.
“Aditya? Bukankah sudah kubilang jangan berhubungan dengannya lagi.” Nada suara Joshua meninggi dan membuat Vanilla terlihat jengkel.
“Sudahlah, berhenti mencampuri urusanku. Aku pikir kamu punya urusan yang lebih penting daripada melibatkan diri dengan semua yang kulakukan.” katanya sambil mematikan panggilan saat itu juga. Ia menghela napas kasar. Joshua pasti marah padanya. Ia tahu ia keterlaluan. Tapi, ia ingin Joshua mengerti bahwa ada hari-hari di mana ia ingin sendiri dan tidak ingin pria itu mencampuri urusannya.
Berani-beraninya dia mematikan ponselnya. Joshua yang masih berada di kantornya langsung mendorong gelas di atas meja hingga terjatuh. Membuat bunyi nyaring saat gelas itu menyentuh lantai marmer ruangan. Kamu tidak akan pernah menyangka seberapa jauh aku bisa campur tangan dalam hidupmu, Vanilla. Joshua tidak pernah tahu bahwa Vanilla memang sebebal itu. Sepertinya mulutnya sudah hampir berbusa saat bilang bahwa gadis itu berhak mendapatkan pria yang lebih baik dan Aditya adalah contoh laki-laki pengecut.
***
Joshua sedang menjalankan mobilnya membelah kegelapan ibukota, saat ponselnya berdering.
“Di mana kamu? Aku menunggu di rumah.” Suara diseberang terdengar panik, namun juga manja.
“Sudah ku bilang kalau aku sibuk. Sampaikan maafku untuk kedua orangtuamu.” kata Joshua. Moodnya sedang tidak bagus dan ia sedang tidak ingin bertemu dengan siapaupun.
“Jangan bercanda, Joshua? Aku tidak peduli kau ada di mana dan dengan siapa. Yang jelas kau harus sampai ke rumahku. Kedua orangtuaku menunggu!” Kalimat terakhir diucapkan dengan kasar dan penuh tekanan.
Lauren langsung mematikan panggilan. Tidak membiarkan Joshua berbicara. Pria itu membanting poselnya ke dasbor mobil dan meruntuk dalam hati. Dasar wanita sialan.
***
“Kamu datang juga akhirnya.” Lauren melengkungkan senyum kemenangan saat melihat Joshua berdiri di depan pintu rumahnya.
“Lain kali, kamu tidak akan bisa mengendalikanku.” Joshua berkata dengan nada sinis.
“Simpan amarahmu untuk besok.” katanya sambil menggandeng tangan Joshua memasuki rumah. Lalu menyambut kedua orangtuanya yang sudah lebih dulu duduk di ruang makan.
“Selamat malam.” Joshua mencoba tersenyum.
“Silahkan duduk Joshua, lama tidak bertemu denganmu.” Tristan tersenyum, tampak senang melihat pria itu.
“Kamu pasti sedang sibuk, ya.” Franda menuangkan minuman ke gelas Joshua yang langsung mengucapkan terima kasih.
“Bagaimana kabar orangtuamu?”
“Mereka baik-baik saja.” Joshua mencoba bersikap sebaik mungkin. Menelan makanan yang ada dipiringnya walau rasanya seperti pasir yang justru membuat tenggorokkannya sakit.
“Sepertinya kondisi perusahaanmu semakin baik.”
“Aku berjuang menyelamatnya demi menjaga nama baik keluraga.” Joshua menengguk airnya untuk membantunya menelan makanan.
“Tapi kamu tentu tidak lupa dengan apa yang aku perbuat untuk menyelamatkan perusahaanmu kan?” Joshua mulai mengerti dengan arah pembicaraan pria di depannya. Ia sedikit melonggarkan dasinya lalu menaruh sendok dan garpu di samping piringnya.
“Tentu saja, aku sangat berterimakasih. Aku juga sudah mengembalikan semua dana yang Paman pinjamkan saat itu.” Joshua peru mengatakan itu agar pria di depannya tidak lupa bahwa ia sudah tidak memiliki hutang pada mereka.
Pria di depannya mengangguk lalu menjawab. “Lupakan masalah itu, aku hanya ingin mengetahui rencana kamu ke depannya.”
Dahi Joshua berkerut dalam. Tidak mengerti dengan rencana yang dimaksud pria itu.
“Ayolah Joshua, mengenai pertunangan kita, atau menikah.” kali ini Lauren yang berbicara, membantu Joshua mengartikan maksud kata-kata orangtuanya. Suasana menjadi canggung saat Joshua sama sekali tidak bisa memberikan jawaban.
“Aku pikir kalian sudah cukup dewasa untuk membangun hubungan yang serius.”
“Maafkan aku, aku hanya masih sibuk mengurus perusahaanku. Aku meminta pengertian Lauren untuk sedikit bersabar.” Joshua tahu itu bukan jawaban terbaik dan bukan yang benar-benar ingin keluar dari mulutnya. Seharusnya ia langsung bilang bahwa ia tidak mencintai Lauren dan sama sekali tidak berpikir untuk bertunangan, apalagi menikah. Tapi ia tahu ia tidak akan bisa menyelesaikan masalah itu sendiri.
“Oke, tidak apa-apa. Aku akan membicarakan lebih jauh dengan kedua orangtuamu.”