You Deserve Better, Vanilla

1339 Kata
Seorang wanita cantik keluar dari mobil mewahnya. Dengan kacamata hitam yang menutupi kedua matanya, ia berjalan memasuki sebuah kedai kopi yang cukup ramai. Sebelah tangannya menenteng tas mahal dengan sepasang sepatu high heels yang menyelimuti kedua kakinya. Ia masuk melewati pintu transparan itu dan menyapu sekeliling tanpa melepas kacamata hitamnya. Setelah melihat orang ia cari, kakinya mendekat ke sebuah meja yang dihuni seorang pria dengan jaket kulit dan topi yang menutupi kepalanya. Lauren duduk di depan pria itu, menumpu tungkainya pada kaki lainnya lalu mengaduk-aduk tasnya. Ia mengambil selembar foto dan menaruhnya di atas meja. Sebelah tangan pria itu terulur untuk mengambil foto itu. Ia menatap pria dalam foto itu baik-baik, lalu membaliknya dan melihat ada nama, alamat rumah dan alamar kantor di sana. “Aku mau kamu cari semua informasi tentang dia. Semuanya, termasuk dengan siapa akhir-akhir dia menghabiskan waktu.” kata Lauren. “jika kamu dapat seseorang, cari juga tentangnya.” tambahnya. Lauren tahu bahwa ada yang tidak beres dengan Joshua. Ia tahu Joshua tidak pernah mencintainya. Namun pria itu tidak pernah hilang-hilangan. Pria mudah ditemui, kalau tak di rumah, sudah pasti di kantor. Atau biasanya, ibunya pasti tahu di mana anaknya. Kejadian dua hari Joshua tanpa kabar dan tidak diketahui keberadaannya membuatnya mulai curiga. Yang lebih aneh, sikap Joshua akhir-akhir ini terlihat lebih kasar dari biasanya. Joshua membenci pembicaraan mengenai pertunangan mereka, Lauren tahu. Tapi pria itu tidak pernah sekasar kemarin. Biasanya pria itu hanya akan mendengarkan semua omongannya yang bagi pria itu terdengar seperti omong kosong. Namun kemarin, pria itu secera tegas bilang bahwa ia tidak ingin bertunangan dengannya. *** “Terima kasih.” kata Joshua pada dua orang perempuan yang sedang duduk di ruang tamu stasiun radio itu. Joshua bertanya mengenai Vanilla dan mereka bilang bahwa Vanilla baru saja pulang dengan taksi online. Joshua kesal, namun ia tahu bahwa ia yang salah. Ia seharusnya memberi kabar pada gadis itu jika ingin menjemputnya. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan keluar dari pelataran. Jika teman Vanilla bilang kalau gadis itu belum lama, mungkin itu adalah taksi yang ia temui saat baru saja memasuki komplek. Ia perlu melihat gadis itu sehingga ia memutuskan untuk mengambil arah menuju rumah Vanilla. Perlahan, ia menaikkan angka di spidometer dan membelah jalan yang sudah sepi, berharap bisa bertemu taksi yang ditumpangi gadis itu meski ia sama sekali tidak tahu nomor platnya. Sambil melajukan mobilnya, ia mencoba menghubungi Vanilla. Panggilan pertamanya tidak mendapatkan jawaban. Ia menghubungi lagi. Terus. Berkali-kali hingga akhirnya suara Vanilla bisa didengarnya diujung sambungan. Suara pertama yang Joshua dengar adalah omelan gadis itu. Rentetan keluhan gadis itu yang selalu ingin membuatnya tertawa. Joshua sadar ia telah masuk ke kehidupan Vanilla terlalu jauh. Gadis itu risih, pasti. Belum lagi dengan beberapa sifat memaksanya yang pasti menjengkelkan bagi gadis itu. Tapi Joshua tidak punya pilihan lain. Vanilla adalah satu-satunya gadis yang ia pikir akan menjadi bagian terbaik dalam hidupnya, dan ia akan memperjuangkannya. Tidak peduli jika gadis itu masih mencintai Aditya. Meski Vanilla dan Aditya tak diterpa masalah dan baik-baik saja, ia akan tetap merebut gadis itu. “Kamu sudah sampai mana?” Joshua bertanya setelah Vanilla selesai dengan omelannya. “Perempatan.” Joshua tidak tahu mana perempatan yang dimaksud karena ada banyak perempatan yang akan mereka lalui menuju rumah gadis itu. Karena kurang spesifik, Joshua akhirnya meminta nomor plat taksi yang ditumpangi Vanilla. Gadis itu mengomel lagi, yang kali ini membuat Joshua mengulum tawa. Gadis itu bilang bahwa ia sedang sangat lelah dan tidak ingin diganggu. Tapi seperti biasa, Joshua memaksa. Ia bilang bahwa ada banyak kejahatan akhir-akhir ini. Plat nomor itu akan membantu jika terjadi apa-apa dengan gadis itu. Joshua menunggu jeda yang cukup lama hingga akhirnya mendapatkan plat nomor itu. Ia akhirnya mematikan panggilan. Di jalanan yang sepi, mobil mahalnya melesat melewati beberapa mobil dan motor di sebelahnya. Joshua tersenyum. Ia menurunkan kecepatannya dan memposisikan mobilnya di belakang sebuah taksi yang nomor platnya sama dengan yang ditumpangi Vanilla. Taksi itu berbelok dari jalan raya dan memasuki jalan yang lebih kecil. Yang lebih sepi lagi karena jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Joshua melirik spionnya. Saat merasa posisinya aman, ia mengambil posisi di samping taksi itu dan mengklakson beberapa kali. Sang supir, mulai ketakutan dan mencoba menginjak pedal gas lebih dalam. Vanilla melihat keluar dan tidak bisa mengenali mobil Joshua, juga karena jendela terlalu gelap dan ia tidak bisa melihat apapun. Taksi dan mobil itu kebut-kebutan. Vanilla tidak berani menyuruh taksi berhenti karena tidak yakin bahwa itu mobil Jushua. Ada banyak mobil seperti milik pria itu dan ia tidak mau terlalu percaya diri untuk berpikir bahwa ia memang mobil Joshua. Tapi mobil itu akhirnya berhasil menyalip dan berhenti di depan taksi yang langsung berhenti mendadak. Vanilla sudah sama paniknya. Namun saat melihat plat mobil di depan, ia sadar kalau itu mobil Joshua. “Tenang, Pak. Itu teman saya.” kata Vanilla saat Joshua keluar dari mobil. Ia jelas perlu menangkan supir taksi yang sudah ketakutan, yang berpikir bahwa orang itu akan merampoknya. Karena sudah terlanjur tak enak, Vanilla mengeluarkan uang untuk membayar ongkosnya lalu keluar dari taksi. “Apa yang kamu lakukan? Kamu membuat supirnya ketakutan.” kata Vanilla saat Joshua mendekat ke arahnya. Joshua mengabaikan Vanilla sebentar. Ia mengetuk kaca taksi. Saat kaca penumpang depan itu terbuka, ia meminta maaf, juga memberikan beberapa lembar yang ia ambil dari dalam dompetnya pada supir paruh baya itu. Ketakutan yang semula menyelimuti si supir kini berubah menjadi rasa senang luar biasa. Bagi supir, itu seperti ketiban durian runtuh. Uang yang diberikan Joshua bahkan lebih banyak dari hasil menarik penumpang seharian ini. “Maaf.” kata Joshua saat taksi itu pergi dari sana. “harusnya kamu tahu kalau itu mobilku.” “Kamu pikir hanya kamu yang punya mobil itu di dunia ini.” Vanilla berdecak sementara Joshua terkekeh ringan. “Ayo pulang. Kamu sudah makan?” Saat Joshua bertanya, pria itu sudah menggenggam tangan Vanilla dan menariknya menuju mobil. Vanilla kehilangan napsu makanya sejak tadi siang. Ia pikir bunga yang dikirim Adita bisa menjadi titik terang hubungan mereka, namun ia berharap terlalu banyak. Aditya masih menghilang dan sama sekali tidak bisa dihubungi. “Aku tidak lapar.” kata Vanilla sambil memakai safety beltnya. “Ada apa lagi?” Joshua bertanya saat ia menekan pedal gas dan keempat roda mobilnya berputar untuk melanjutkan perjalanan. Dari kaca di tengah, ia bisa melihat gadis itu menggeleng pelan. Ia melihat wajah gadis itu tampak muram. Ia tidak punya pemikiran lain selain Aditya. Ya. Pasti karena pria itu. Pria itu yang membuat wajah Vanilla selalu terlihat sedih. “Jangan memikirkan seseorang yang tidak pernah memikirkanmu.” Joshua memperingatkan. Vanilla melirik pria itu dengan malas. “kalau kamu berpikir karena Aditya adalah laki-laki pertamamu dan kamu tidak akan bisa hidup tanpa dia, kamu salah Vanilla.” jelas Joshua. “Yang harus selalu kamu ingat adalah, kamu berhak mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Aditya. Yang bisa menghargai dan memperjuangkanmu.” Meski terlihat tak peduli, ia tahu gadis itu mendengarkan kata-katanya. Vanilla melempar tatapannya ke luar jendela. Ke trotoar yang sudah sepi, namun kedai-kedai dipinggir jalan masih ramai. Meski terlihat tak acuh, kalimat-kalimat Joshua terdengar dan kini berputar-putar di otak kecilnya. Pria itu benar, tapi Vanilla tidak bisa menyerah begitu saja. Ia tahu seberapa cintanya ia pada Aditya dan tidak ingin kehilangannya. Hal yang meski ia beritahukan pada Joshua, pria itu tidak akan pernah mengerti. Ia tahu tidak akan ada yang bisa mengerti perasaannya. “Bisakah jika hanya aku yang berjuang?” Vanilla melihat Joshua yang menatapnya dengan dingin melalui kaca tengah. “Kamu tidak bisa melakukan apapun, Vanilla. Menunggu dan mencintainya tidak bisa dikatakan berjuang.” Kalimat dingin itu masuk ke gendang telinganya. “kamu bertahan, posisi Aditya yang menuntutnya untuk berjuang.” katanya lagi, “dan jika ia melakukannya, ia seharusnya melakukannya sejak awal. Seharusnya ia tidak goyah hanya karena semaua uang dan fasilitasnya ditarik oleh orangtuanya.” tandas Joshua. “Bagi Aditya, kamu tidak lebih berharga dari uang dan fasilitas yang berikan kedua orangtuanya.” Joshua tahu omongannya agak kasar. Namun ia harus menyadarkan gadis itu. “you deserve better, Vanilla.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN