Kenapa Kamu Sensitif Sekali?

1491 Kata
“Kamu sakit kemarin?” Yoga mendekati Vanilla yang sedang terduduk di sofa ruang tamu dengan sepotong kue yang didapatnya dari kulkas. “Tidak, aku hanya punya beberapa urusan. Maaf karena kamu harus menggantikanku. Tapi kamu bisa kapan saja mengandalkanku. Kalau kamu berhalangan, aku akan senang hati menggantikanmu.” katanya sambil tersenyum. Tapi Yoga menjawab bahwa ini tidak semata masalah ia yang menggantikan Vanilla, tapi lebih karena ia mengkhawatirkan gadis itu. Ia tahu bagaimana hidup gadis itu. Di saat orang-orang seusianya sedang asik-asiknya menikmati hidup dengan pergi berjalan bersama teman-teman atau hal-hal lainnya, Vanilla malah harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. “Kamu dijemput Aditya?” Yoga bertanya. Vanilla menggeleng pelan. Walaupun Aditya mengiriminya bunga tadi pagi, tapi Aditya sama sekali tidak menghubunginya. Vanilla berpikir pria itu butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Ia sadar posisi pria itu memang benar-benar sulit. “kalian baik-baik saja?” tanyanya lagi. Vanilla terdiam dan akhirnya menceritakan semuanya pada Yoga. Mengenai Aditya dan ibunya. “Kamu serius?” Yoga melihat Vanilla mengangguk. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia pikir hal-hal seperti itu hanya ada di sinetron-sinetron di televisi. “Aku pikir aku tidak sepenuhnya menyalahkan kedua orangtua Aditya. Mereka berasal dari keluarga kaya dan pasti menginginkan seorang menantu yang sepadan juga, dan Aditya… aku pikir juga dia tidak sepenuhnya salah. Dia terbiasa dimanjakan dengan uang, lalu tiba-tiba hidup tanpa uang? Tentu saja pasti sulit.” Vanilla menutupi semua sakit hati dalam sebuah senyum dan omong kosong itu. Ia tidak bisa mengungkapkan betapa bencinya ia kepada semua orang kaya yang dikenalnya. “Lalu sekarang?” “Kemarin aku bertemu dengannya dan dia bilang dia benar-benar mencintaiku. Dia juga bilang kalau ia akan mencari cara agar bisa kembali bersamaku dan tidak harus bertunangan dengan pilihan kedua orangtuanya.” “Kamu masih berharap padanya?” Raut wajah Vanilla berubah penuh keraguan. “Aku pikir, ya. Aku mencintainya dan kamu tahu pasti bagaimana Aditya mengubah hari-hariku. Aku tidak bisa melupakannya begitu saja.” Ia berdiri, bergerak ke arah kulkas dan menuangkan air dingin ke gelasnya lalu membiarkan air dingin itu mengaliri tenggorokkannya. “Aku hanya ingin kamu bahagia, Vanilla. Bukan bahagia yang semu. Aku pikir sudah waktunya kamu meninggalkan Aditya. Bukankah ibunya bilang kalau Aditya sudah bersedia bertunangan dengan wanita pilihannya. Lalu Aditya, kalau dia ingin benar-benar memperjuangkanmu, kenapa tidak dari awal. Dan dia juga mengakui kalau ia tidak bisa hidup tanpa kedua orangtuanya, tanpa uang? Apa yang bisa kamu harapkan darinya?” kalimat-kalimat itu menohok Vanilla hingga ia hanya diam. Tidak ada satu kalimatpun yang bisa ia ucapakan pada Yoga. “Aku pikir banyak pria diluar sana yang akan lebih menghargaimu dibanding Aditya.” Vanilla akhirnya mengubah topik pembicaraan. Sama seperti saat berbicara dengan Joshua, membicarakan Aditya dengan Yoga tidak akan membuat mereka berada di titik yang sama. “Ayo pulang. Aku akan mengantarmu.” Yoga berdiri dan pergi ke lantai atas untuk mengambil ranselnya. Vanilla mengambil ponselnya yang berbunyi di atas meja. Ia melihat nama Joshua di layarnya. Ia menslide layar untuk mengangkat panggilan itu. “Iya… apa? Bisakah kamu tidak menggangguku sehari saja.” Vanilla beranjak dari tempatnya duduk dan mendekati jendela. Ia menyingkap tirai dan melihat Joshua berdiri di depan mobilnya. Pria itu tersenyum dan melambai ke arahnya, seakan-akan senang melihatnya. “Kamu tidak ingin pulang?” suara itu masih terdengar melalui ponselnya. Vanilla menjauhkan ponsel dari telinganya lalu mematikan panggilan. “Aku akan pulang bersama temanku.” katanya saat sampai di depan Joshua. “Siapa?” tepat saat Joshua bertanya, Yoga keluar dan menghampiri mereka. Vanilla mengenalkan mereka berdua yang langsung berjabat tangan. “Aku datang untuk menjemput Vanilla,” Joshua mengatakan itu. “tapi dia bilang kamu akan mengantarnya pulang.” “Tadinya memang. Tapi karena kamu sudah terlanjur sampai sini, sebaiknya kamu yang mengantarnya.” kata Yoga yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Vanilla, sementara Joshua mengulum senyum. “kasihan, temanmu sudah sampai di sini.” kata Yoga pada Vanilla yang menunjukkan raut wajah sebal. “aku duluan.” Yoga menepuk pundak Vanilla dan menitipkan Vanilla pada Joshua yang langsung berjanji akan mengantarkan gadis itu selamat sampai rumah. “Kamu baru pulang?” Vanilla bertanya karena ia melihat Joshua masih memakai kemejanya. Pria itu terlihat mengangguk. “Apa saja yang kamu kerjakan di sana sampai selarut ini?” tanya gadis itu lagi. “Aku ini orang sibuk. Jadi jangan pernah tanya apa saja yang aku kerjakan di kantor.” Vanilla mendengus lalu kembali ke dalam dan keluar dengan tasnya. “Aku tidak akan mengizikanmu menginap di rumahku lagi.” kata vanilla saat berhasil mendudukkan diri di bangku penumpang belakang. “Siapa yang mau tidur di rumahmu? Kamu pikir tidak pegal tidur semalam disofa.” Joshua mulai menyalakan mesin dan perlahan mobilnya mulai meninggalkan tempat siaran. “Lalu kenapa kamu bersikeras menginap kemarin?” kata Vanilla dengan nada jengkel. “Karena aku terpaksa.” Joshua menatap Vanilla dari kaca spion dan tersenyum melihat gadis itu mengerucutkan bibirnya. Suasana mendadak hening karena tak lagi ada yang membuka pembicaraan. “Kapan kamu bisa duduk di depan?” Joshua kembali membuka pembicaraan. Vanilla langsung mengalihkan tatapannya dari jalan dan menatap Joshua yang fokus pada jalanan. “Maksudmu?” “Kamu pikir aku senang menjemputmu dan kamu duduk di belakang. Aku seperti supir, kamu tahu?” Joshua tidak tahu kalau ia baru saja memantik api. “Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku punya trauma? Lagipula, aku tidak pernah memintamu menjemputku. BERHENTI…” Vanilla setengah berteriak. Gadis itu jengkel karena Joshua berkata seolah-olah ia yang meminta pria itu menjemputnya. Joshua yang refleks langsung menghentikan mobilnya. “Kenapa?” Setelah menyadari mobil Joshua benar-benar berhenti, ia menarik diri keluar dari mobil itu dan berjalan di jalanan yang sepi. Joshua yang kebingungan ikut turun dan mengejar Vanilla yang berjalan semakin cepat. “Kamu kenapa?” Joshua menarik sebelah tangan gadis itu hingga gadis itu berbalik menatapnya. “Kamu masih bertanya? Kamu tidak sadar apa yang baru saja kamu katakan? Kamu berbicara seolah-olah aku yang mengemis untuk minta dijemput olehmu. Kamu pikir kamu siapa?” Vanilla bisa merasakan matanya panas hingga akhirnya sebutir airmata jatuh ke pipinya. Ia tidak mengerti kenapa ia menjadi sesensitif ini saat berhadapan dengan Joshua. “Kenapa kamu jadi sensitif sekali?” Joshua tidak pernah ingin menyakiti Vanilla. Sungguh, ia tidak menyangka jika respon gadis itu akan seperti itu. “Sensitif kamu bilang? Apakah kamu tidak pernah berpikir sebelum berbicara? Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan orang yang kamu ajak berbicara.” Vanilla menarik napas panjang lalu cepat berbalik, tapi sebelum Vanilla sempat melangkah, Joshua sudah lebih cepat menarik tangan Vanilla hingga tubuhnya kembali berbalik dan jatuh ke pelukan pria itu. “Aku minta maaf.” katanya sambil menelusurkan jari-jarinya ke rambut Vanilla. Vanilla bisa mencium aroma maskulin pria itu, juga pelukannya yang posesif. “Lepaskan aku.” Vanilla mulai berontak. Tapi Joshua sepertinya tidak ingin menyianyiakan kesempatan yang dimilikinya. Ia justru memeluk Vanilla semakin erat. “Kamu harus memaafkanku dulu.” bisiknya. Ia mencium aroma wangi dari rambut gadis itu dan mengecup kepala gadis itu pelan. “Tidak mau.” sentak gadis itu “Kalau begitu aku tidak akan melepaskanmu.” katanya sambil merengkuh tubuh Vanilla semakin erat seakan bisa meremukkannya detik itu juga. “Lepaskan sebelum aku berteriak!” “Teriak saja sampai kamu lelah. Tidak akan ada yang mendengarmu.” Vanilla baru menyadari bahwa mereka ada di sebuah jalan yang sangat sepi. Dan berteriak sekuat tenagapun sepertinya tidak akan banyak membantu. “Kamu benar-benar ingin membunuhku, ya?” tanyanya dengan nada jengkel, masih berusaha berontak sekuat tenaga. Tapi tentu saja tenaga Joshua jauh lebih kuat, sehingga usahanya sia- sia. “Maafkan aku dulu.” pinta Joshua. Setelah meruntuk dan mencaci sebisanya, Vanilla menyerah “Baiklah, aku maafkan.” “Kamu serius?” “Cepat lepaskan aku.” Saat itulah Joshua mulai merenggangkan pelukannya hingga Vanilla benar-benar terlepas. Ia menatap tajam ke arah Joshua yang malah menampakkan wajah geli. “Jangan pasang wajah seperti itu di depanku.” kata Vanilla sambil merapikan rambutnya yang diacak-acak pria itu. “Kamu temperamen sekali. Ayo pulang.” katanya sambil menggandeng tangan Vanilla dan memaksanya masuk ke kursi belakang. *** “Kamu tidak menyuruhku mampir?” Joshua membuka kaca mobilnya dan melihat Vanilla yang tengah membuka kunci gerbangnya. “Sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat. Terima kasih atas tumpangannya.” Vanilla mencoba terlihat biasa saja, tapi justru mengundang tawa Joshua. “Kamu masih marah? Bukankah aku sudah minta maaf dan kamu sudah memaafkanku?” Joshua akhirnya keluar dari mobil dan berdiri di samping gadis itu yang baru saja akan membuka gerbang. Joshua mengambil tangan Vanilla dan menahan gadis itu. “Senyum dulu.” pinta Joshua yang langsung membuat Vanilla menatapnya kesal. “Tolonglah. Aku lelah Joshua.” kata Vanilla. Joshua melirik jam analog di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam dua belas malam. “Selamat malam.” Joshua mengecup dahi gadis itu lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Vanilla masih diam di tempatnya. Sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh dahinya yang baru saja dikecup lembut pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN