Joshua terbangun dengan keadaan lebih baik. Panas tubuhnya sudah mulai turun dan kepalanya sudah tidak pusing lagi. Ia bangun dari posisinya dan meneguk sisa teh dari gelasnya yang sudah dingin dan bergerak mendekati jendela. Ia menyibak tirai dan menyadari bahwa ia sudah tidur terlalu lama. Hari sudah gelap dan hujan masih memuntahkan muatannya.
Ia bergerak menuju dapur karena melihat keadaan yang begitu sepi. Awas saja kalau dia berani-beraninya meninggalkanku sendirian di sini. Ia mulai melontarkan kemungkinan-kemungkinan terburuknya, tapi akhirnya berhenti merutuk saat melihat Vanilla tertidur di meja belajarnya dengan laptop yang masih menyala. Pintu kamar Vanilla yang terbuka sedikit ia buka lebih lebar sehingga bisa dilewatinya.
Ia mendekat dan menatap wajah itu lamat-lamat. Ia menarik kursi lainnya dan duduk di sebelahnya. Tangannya terulur untuk menyelipkan sejumput rambut yang menutupi wajah gadis itu ke belakang telinganya.
Joshua memindai wajah gadis itu. Dari bulu matanya, turun ke hidung hingga berakhir ke bibirnya.
Vanilla terbangun saat merasakan sentuhan di kepalanya dan kaget melihat Joshua sudah duduk di sampingnya.
“Sedang apa kamu di sini?” tanyanya sambil beringsut menjauh seakan baru saja menyadari ada bahaya didekatnya.
“Jangan berpikir yang macam-macam. Kamu pikir aku mau melakukan apa?” kursi bergeser saat Joshua berdiri dari duduknya dan akhirnya duduk di tepi ranjang.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Vanilla sambil memutar kursinya menghadap Joshua.
“Jauh lebih baik. Aku lapar. Kamu sudah makan?” kata-kata Joshua mengingatkan Vanilla kalau ia hanya makan roti seharian ini. Ia menggeleng lalu melirik ke jendela.
“Aku tidak punya stok makanan dan diluar masih hujan.”
“Aku akan delivery makanan.” Joshua keluar untuk mengambil ponselnya dan kembali ke kamar gadis itu. Ia menghubungi restoran cepat saji. “terima kasih sudah merawatku. Walau sebenarnya kamu sama sekali bukan perawat yang baik.” katanya setelah menutup teleponnya.
Vanilla mengerutkan dahi.
“Mana ada perawat yang tega mengusir pasiennya.” Joshua memperjelas dan melihat gadis itu mengerucutkan bibirnya. Membuatnya gemas dan ia ingin sekali mencubit pipi gadis itu.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” Vanilla tahu ini mungkin bukan saat yang tepat. Tapi ia perlu mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya “kenapa kemarin kamu melakukan itu?”
“Yang mana?” Joshua pura-pura bodoh. Padahal ia tahu persis apa yang dimaksud Vanilla.
“Kamu bilang bahwa aku pacarmu dan kamu…” Wajah gadis itu merona dan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Pria itu menyilangkan kedua kakinya ke atas kasur. Tampak berpikir seolah sedang mencari jawaban.
“Aku tidak suka kamu berhubungan dengannya.” jawab Joshua dengan tegas.
“Tapi… dia pacarku.”
“Kamu masih menganggapnya pacar setelah semua yang dilakukannya padamu.” Joshua berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mengerti kenapa Vanilla bisa sebodoh itu. Ia menebak bahwa Aditya adalah laki-laki pertamanya dan gadis itu berpikir bahwa Aditya adalah segalanya dan tidak akan bisa hidup tanpa laki-laki itu. Ia tidak tahu bagaimana caranya agar gadis itu membuka mata dan hatinya lebar-lebar sehingga berpikir lebih realistis.
“Tapi aku mencintaimya.”
“Tapi dia tidak mencintaimu. Tidakkah itu cukup untuk membuatmu melupakannya.”
Vanilla mendesah pelan dan ia benci membicarakan masalah ini dengan Joshua. Karena Joshua akan terus mengatainya atau mungkin dalam hati terus menertawakan kebodohannya. Tapi peduli apa, Joshua sama sekali tidak mengenal hidupnya dan seharusnya tidak banyak berkomentar mengenai pilihannya.
***
Joshua memarkirkan mobil mewahnya ke dalam garasi dan masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, ia melihat ibunya sedang menatap layar televisi yang menyala. Ia mengucapkan salam dan duduk di sebelah ibunya yang langsung memberondongnya dengan pertanyaan ke mana saja ia dua hari ini.
Joshua tak menjawab, ia hanya mengulas senyum tipis tanpa arti.
“Lauren mencarimu.” Camelia, ibunya mengatakan itu. Joshua tak memberikan tanggapan karena ia tidak peduli. “cepat hubungi Lauren. Dia pasti khawatir karena kamu tidak ada kabar dua hari ini.” perintah ibunya.
Joshua menggeleng.
“Joshua.” Camelia melotot pada Joshua yang masih saja tak acuh. “pergilah berlibur bersama Lauren. Itu akan membuat hubungan kalian kembali seperti semula.”
“Seperti semula? Hubungan kita tidak pernah benar-benar baik. Mama tahu kalau aku tidak pernah mencintai Lauren, kan.”
“Karena itu, kamu harus lebih banyak menghabiskan banyak waktu dengan Lauren agar perasaan itu bisa tumbuh.”
“Menumbuhkan perasaan tidak semudah itu, Ma.” kata Joshua. Ia sudah berkali-kali bilang pada ibunya bahwa ia sama sekali tidak menyukai Lauren. Namun ibunya tidak pernah mengerti.
“Tidak mudah bukan berarti tidak bisa, Joshua.”
Joshua menghela napas. Ia tahu bahwa membicarakan Lauren dengan ibunya tidak akan menemui titik temu. Alih-alih Lauren, wajah Vanilla yang justru terbayang olehnya.
***
Dengan ransel di punggungnya, Vanilla membuka pintu dan terkejut melihat seikat mawar merah tergeletak di depan pintu rumahnya. Ia mengambil bunga itu dan membaca note yang ada terselip di sana.
“Maafkan aku... Semoga harimu menyenangkan.” Vanilla mengerutkan dahinya saat melihat pengirim hanya menuliskan huruf “A.J” di bawah kata salam sayang.
Vanilla tersenyum karena tidak perlu berpikir bunga itu dari siapa. Aditya Johan. Ia mengendus bunga itu dan seketika aroma harum menggelitik hidungnya. Tapi ia memerhatikan mawar itu sekali lagi. Jumlah bunganya enam, tapi satu diantaranya adalah bunga plastik.
Mungkin benar kata Joshua, ia adalah wanita bodoh yang sudah dikecewakan tapi masih tetap mencintai Aditya. Karena pada kenyataannya Aditya lebih berarti dari yang bisa dibayangkannya dan melupakannya tidak semudah membalik telapak tangan. Setelah puas menatap bunga cantik itu, ia kembali ke dalam rumah dan menaruhnya di atas meja.
***
“Senang melihatmu di sini.” Vanilla baru saja keluar dari lift dan terkejut melihat Joshua keluar dari lift sebelah dan berada beberapa langkah di belakangnya.
“Senang bisa melihatmu sehat hari ini.” jawab Vanilla sambil tersenyum, membuatnya terlihat lebih manis dari biasannya. Sepertinya kiriman bunga dari Aditya benar-benar mempengaruhi moodnya hari ini. Ia melihat ke lorong yang sepi lalu memperhatikan pria di depannya. Pria itu memakai jas dan terlihat lebih rapi dari biasaya. Ia mencari-cari namun tidak menemuka ID card yang biasanya dipakai oleh karyawan yang bekerja di sana.
“Mana ID card mu?” Vanilla bertanya dan membuat pria itu terkekeh pelan.
“Untuk apa?”
“Aku ingin tahu kamu ada di divisi apa?”
Joshua tersenyum lagi. “mainlah ke lantai empat belas kalau kamu mau tahu.”
Dua orang karyawan wanita melewati mereka dan menunduk ke arah Joshua. Melihat bagaimana penampilan pria itu, Vanilla tahu bahwa pria itu bukanlah karyawan biasa. Pria itu mungkin sudah selevel manager.
“Aku ada perlu dengan tim finance.” kata Joshua saat Vanila bertanya apa yang ia lakukan di lantai itu.
Karena tidak ingin orang-orang melihat kedekatannya dengan Joshua, Vanilla pamit dan menyusuri lorong menuju ruangannya, sementara Joshua pergi ke arah berlawanan.
***
“Aku mencarimu dua hari kemarin. Kamu ke mana sebenarnya?” Lauren memandang cemas ke arah Joshua yang sedang makan di depannya. Joshua tak mengacuhkan wanita cantik di depannya. Ia memilih fokus pada isi piringnya.
“Ayolah Joshua, sampai kapan kamu seperti ini. Aku menghawatirkanmu.” Joshua menghela napas lalu memandang ke segala arah, ke setiap sudut resto, ke jalanan, ke mana saja asal tidak ke wanita yang duduk di depannya.
“Kamu menghilangkan napsu makanku. Berhentilah bersikap seolah-olah kita adalah sepasang kekasih.” Joshua muak. Ia sedikit melempar sendok dan garpunya dan menimbulkan bunyi saat benda itu menyentuh piring.
“Kenapa kamu bilang begitu?” Lauren masih dengan sifat manjanya, meski tahu bahwa Joahua membenci itu.
Pria itu melambai pada pelayan dan meminta bill.
“Aku tahu kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu. Tapi jangan sampai seperti ini.” kata Lauren saat pelayan memberikan bill yang diminta Joshua. Joshua mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dan memberikannya pada perlayan lalu pergi dari sana tanpa menunggu kembalian.
“Joshua… tunggu.” Lauren dengan cepat mengikuti langkah kaki Joshua yang lebar-lebar dan berhasil sampai di samping Joshua sebelum pria itu masuk ke dalam mobil. Ia menahan pintu agar Joshua tak bisa membukanya.
“Kamu kenapa, hah? Ayolah sayang, kau tidak benar-benar marah padaku, kan? Aku hanya menghawatirkanmu. Apa itu salah? Lagipula, aku ini calon tunanganmu.” katanya dengan nada manja sambil bergelayut di lengan Joshua. Wanita itu terus merayu bahkan saat merasakan tungkainya nyeri karena berlari menggunakan high heelsnya.
Joshua mendengus saat melihat raut wajah manja yang dibuat-buat Lauren. Ia menarik tangannya dengan kasar hingga tautan tangan wanita itu terlepas lalu masuk ke dalam mobil. Lauren buru-buru mengitari mobil dan melesak di samping pria itu.
Joshua dan Lauren memang dijodohkan oleh kedua orangtua mereka. Hal itu bermula saat orangtua Joshua terlilit hutang dengan kondisi perusahaan yang nyaris bangkrut. Saat itulah ayah Joshua memohon suntikan dana dari ayah Lauren. Tapi kini, setelah kondisi keuangan keluarga Joshua kembali membaik dan sudah bisa mengganti semua biaya yang pernah dipinjam dari orangtua Lauren, Joshua sudah ingin terikat lagi dengan Lauren. Tapi nyatanya kedua orangtuanya tidak pernah berniat perjodohan mereka. Ayah dan ibunya selalu berpikir bahwa Lauren adalah jodoh yang sangat cocok untuknya. Kedua orangtua Lauren yang kaya menjadi salah satu alasan kenapa Lauren sangat potensial dijadikan calon menantu
Masalahnya, Joshua tidak pernah menyukai Lauren sedikitpun. Tak peduli wanita itu begitu cantik, tinggi semampai dengan kulit semulus porselen. Wanita itu berprofesi sebagai model sehingga ia merawat tubuhnya dengan baik.
“Kedua orangtuaku mengundangmu untuk makan malam besok. Aku harap kamu tidak datang terlambat.” katanya sambil menatap Joshua yang selalu menampakkan wajah dingin saat bersamanya. Tapi toh ia tidak juga menyerah, ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan begitupun dengan Joshua. Ia akan mendapatkan Joshua bagaimanapun caranya.
“Aku tidak bisa, aku sibuk.” katanya ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
“Sampai kapan kamu mau terus menghindar? Kamu tidak akan bisa menghindar terus, Joshua. Pertunangan kita akan tetap terjadi.” Lauren mulia jengkel. Ia melipat keduanya di depan d**a lalu menumpuk satu tungkainya ke kaki lainnya.
“Bermimpilah sesuka hatimu. Papaku sudah mengembalikan dana yang dipinjamnya dari orangtuamu. Aku tidak terikat lagi denganmu.” Spidometer terus merangkak naik, membuat Lauren mengangkat tangan untuk memegang hand grip.
“Pertunangan ini bukan karena uang, Joshua. Ini karena kedua orangtua kita menginginkannya.” Wanita cantik itu masih terus mengungkapkan alasan-alasan kenapa pertunangan mereka harus dilakukan. Selain karena mereka berasal dari keluarga dari kelas yang sama. Tentu akan banyak orang yang akan turut berbahagia kalau pertunangan itu terjadi.