Biarkan Aku Tetap di Sini

1457 Kata
Jam menunjukkan pukul delapan malam saat Vanilla membuka mata. Ia melirik ke arah jendela kamarnya dan menyadari bahwa di luar masih gerimis. Pandangannya mengitari sekeliling dan menemukan kucingnya tertidur pulas di atas bantal yang memang khusus Vanilla belikan untuk kucing itu. Ia bangun dari posisinya saat mengingat bahwa sebelumnya Joshua ada di ruang tamunya. Mungkin Joshua sudah pulang, pikirnya. Tapi saat ia sampai di ruang tamu, ia kaget karena melihat pria itu masih meringkuk dengan gelisah di sofanya. Ia mendekat dan menyadari bahwa tubuh pria itu bergetar karena menggigil. “Panas sekali.” katanya saat menyentuh dahi laki-laki itu. Badannya lebih panas dari tadi siang. “kamu harus ke dokter, Joshua… Joshua...” pria itu membuka mata perlahan. Pandangannya kabur karena kepalanya pusing, tapi ia bisa melihat Vanilla yang memandangnya dengan cemas. “kamu harus ke dokter.” Vanilla mengulang kalimatnya sambil membantu Joshua bangun dari posisi tidurnya. “Kita ke dokter ya.” Joshua menatapnya dengan sayu lalu mengambil kunci mobil yang ia taruh di meja dan mengulurkannya kepada Vanilla. Vanilla mengernyit. Ia tidak bisa mengendarai mobil karena ia mempunyai trauma di masa lalu. Semenjak kecelakaan taksi yang merenggut kedua orang tuanya di mana ia duduk di depan bersama ayahnya ia, ia tidak bisa duduk dibangku penumpang depan, apalagi menyetir. “Kamu tidak bisa?” tanya Joshua dengan nada lemah. “Aku akan mencarikan taksi. Kamu tunggu di sini sebentar ya.” Vanilla bergegas kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel dan memesan taksi. *** Vanilla hanya membawa Joshua ke sebuah klinik kecil yang paling dekat dari rumahnya. Setelah membayar ongkos taksi, Vanilla menuntun Joshua ke dalam. Ia merasakan bahwa bobot pria itu bertumpu kepadanya. Sepertinya Joshua memang sudah tidak sanggup menumpu tubuhnya sendiri. Setelah membantu Joshua duduk di ruang tunggu, ia menghampiri resepsionis dan mendaftarkan nama pria itu. Setelah ia mengisi formulir dengan informasi seadanya, ia diminta menunggu. Sambil menunggu nama Joshua dipanggil, ia melirik pria itu yang menyandar di bahunya. Ia bisa merasakan panas tubuh pria itu dibarengi dengan bau obat yang menguar di ruangan. Lima belas menit kemudian, nama Joshua dipanggil. Ia dengan sigap langsung berdiri dan menuntun Joshua menuju ruang periksa. Di dalam, seorang pria paruh baya berjas putih khas seorang dokter dengan sebuah stetoskop yang melingkari lehernya menyambut mereka. Dokter yang diketahui Vanilla bernama “dr. Dave” itu menanyai apa yang dirasakan pasiennya. Joshua hanya menjawab singkat. Pria berkacamata itu mengangguk pelan dan menyuruh Joshua berbaring di ranjang. Ia mulai memeriksa dengan stetoskopnya, lalu menyuruh Joshua membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidahnya. Setelah itu, dokter menuliskan resep untuk pria itu. “Ini semua gara-gara kamu.” Joshua berbisik kepada Vanilla yang berada di sampingnya. “Bukankah aku sudah minta maaf? Kenapa kamu terus mengungkit hal itu?” Vanilla menahan jengkel dan menatap mata sayu pria itu. “Karena aku mau, kamu sadar bahwa kamu adalah penyebab aku begini.” “Kamu seharusnya tahu kalau akan hujan. Bagaimana bisa orang dewasa sepertimu kehujanan padahal ada banyak tempat meneduh di dekat sana.” Vanilla tak mau kalah. “Aku berjanji akan menunggumu di tempat itu, makanya aku menepati janjiku dan tidak pergi ke mana-mana. Tapi ternyata kamu malah asik mengobrol dengan pria tidak tahu diri itu.” Joshua dan Vanilla masih terus beradu argumen. Tidak menyadari bahwa suara mereka yang tadinya pelan sudah kembali ke volume normal dan dokter itu kini menatap keduanya dengan tatapan bingung. “kalian sudah selesai?” tanya dokter itu dan langsung membuat Vanilla dan Joshua mengatupkan mulutnya rapat-rapat. “Ini resep untuk obat demam dan antibiotiknya. Antibiotiknya dihabiskan, ya. Dan jangan sampai telat makan.” “Terima kasih, dok.” Vanilla keluar dari ruang pemeriksaan dan Joshua mengekor di belakangnya. “kamu tunggu di sini ya, aku menebus obat dulu.” Vanilla menyusuri lorong menuju apotek. Setelah menyerahkan resep dokter, ia kembali menunggu di kursi yang disediakan. Ia melirik sekeliling, ke orang-orang yang juga sedang menunggu obat. Di depannya ada seorang ibu muda yang sedang menggendong balitanya yang sedari tadi tidak berhenti menangis. Di sebelahnya seorang pria tua terduduk lemah, menampakkan raut wajah jengkel seakan terganggu dengan suara balita di sampingnya. Lima belas menit kemudian Vanilla kembali dan langsung menuntun Joshua ke taksi untuk pulang. “Kepalaku pusing sekali.” kata Joshua saat Vanilla kembali dengan bubur yang tadi ia buat. “Makanlah, lalu minum obat.” kata Vanilla setengah memaksa. Dengan sabar ia menyuapkan sedikit demi sedikit bubur itu ke mulut Joshua. “Sudah.” Joshua berkata lemah saat Vanilla masih saja menjejalinya dengan bubur yang masih tersisa. “Tapi ini belum habis. Kamu harus menghabiskannya.” Vanilla tidak mau kalah tapi tetap mencoba selembut mungkin. “Kalau kamu terus memaksa, aku akan muntah.” kali ini ia benar-benar merasa mual. Vanilla mengalah. Ia mengulurkan gelas berisi air dan melihat pria itu menyesapnya pelan. “Bukankah sebaiknya kamu pulang? Mungkin orangtuamu menghawatirkanmu.” “Kamu tega menyuruhku pulang dengan keadaan seperti ini?” Vanilla mengulurkan obat yang sudah ia kumpulkan di tangannya dan melihat pria itu menelannya dengan bantuan air. “Bukan… bukan itu maksudku. Hanya saja, aku pikir orangtuamu akan menghawatirkanmu kalau kamu malam ini tidak pulang lagi.” Vanilla berusaha tidak membuat pria di depannya tersinggung, tapi Joshua malah terlihat tak acuh dan malah sibuk mencari posisi agar tidurnya nyaman. “lagipula, sebelumnya aku tidak pernah membiarkan seorang pria menginap di rumahku. Dan ini sudah kedua kalinya kamu menginap di sini” papar gadis itu. “Kamu tidak perlu khawatir. Kemarin aku sehat saja, aku tidak akan berani macam-macam denganmu, apalagi saat aku sakit begini.” katanya, “aku mengantuk” lanjutnya sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. *** Suara dering ponsel menggema memenuhi ruangan. Vanilla terbangun karena suara itu dan menyadari itu bukan berasal dari ponselnya. Setengah sadar, ia keluar kamar dan masuk ke dalam kamar mandi. Selama di kamar mandi, dering itu terdengar samar-samar, membuat Vanilla terpaksa memangkas waktu mandinya. “Kenapa kamu tidak meminta tolong.” kata Vanilla saat ia ke ruang tamu dan melihat Joshua mengulurkan tangannya, susah payah mencoba meraih ponsel yang ada di atas meja. “Tubuhku masih lemas. Aku pikir kamu masih tidur.” Benda pipih itu berpindah tangan. Joshua menslide layar untuk mengangkat panggilan itu. “Iya… aku di rumah teman, aku baik-baik saja… kamu tidak perlu tahu… sudahlah Lauren jangan ganggu aku.” Dari dapur, Vanilla bisa mendengar Joshua membanting ponselnya. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Vanilla sambil meletakan secangkir teh hangat di meja. “Belum membaik.” jawab Joshua sambil menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut dan kembali meringkuk. “Ayolah Joshua, aku harus siaran hari ini.” “Apa kamu tidak bisa meminta libur?” katanya pelan, suaranya teredam oleh selimut. “Aku sudah libur kemarin. Mana mungkin aku minta libur lagi.” Vanilla mulai bingung kenapa Joshua jadi mengambil kendali atas dirinya. Joshua bukan siapa-siapanya dan ia tidak seharusnya menuruti semua permintaan pria itu. “aku akan bersiap-siap. Aku akan mencarikanmu taksi nanti.” Sambil berjalan Vanilla memikirkan kata-katanya. Apa ia kejam kalau menyuruh Joshua pulang dalam keadaan sakit seperti itu, sedangkan pria itu sakit juga karena dirinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir kegelisahan dan rasa bersalah yang tiba-tiba datang. Setelah mengganti baju dan membereskan barang-barangnya, ia menyentelkan tali tas ke sebelah punggungnya dan keluar dari sana. “Oh come on.” Ia meruntuk dan mendekati Joshua yang bergelung di balik selimutnya. Ia kembali menyentuh dahinya yang belum juga mereda panasnya. “Biarkan aku tetap di sini.” Ia memegang sebelah tangan Vanilla dan menggenggamnya erat. “aku akan mengganti semua biaya kerugian yang kamu keluarkan karenaku. Tapi kumohon biarkan aku di sini dan kamu jangan pergi.” Vanilla menelan ludah. Ini bukan semata kerugian seperti yang dibicarakan Joshua. Ini mengenai kewajibannya. Kewajiban yang harus dijalaninya. “Tidak ada yang bisa menjagaku di rumah.” kata pria itu lagi dengan nada yang lebih memelas. Mencoba membangkitkan rasa belas kasihan gadis itu. Vanilla menatap pria itu yang pucat sambil berpikir. Ia akhirnya mengalah. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah satu teman siarannya. Memberitahukan kalau hari ini ia kembali berhalangan. “Apa yang kamu rasakan?” tanya Vanilla saat selesai menyuapkan semangkuk bubur dan membantu Joshua meminum obatnya. “Kepalaku masih pusing dan badanku lemas.” lirihnya. “Sini… biar kupijat.” Vanilla dengan canggung menaruh kedua jari-jarinya di kepala pria itu dan memijatnya pelan. Kedua mata pria itu terpejam. Vanilla memindai wajah pria itu. Ke bulu matanya yang tidak lebat namun lentik, tulang hidungnya yang tinggi dan rahangnya yang tegas. Pria itu tampan, katanya dalam hati. Jemarinya terus memijat hingga napas pria itu teratur. Sebelah tangannya terulur untuk menarik selimut tebalnya hingga menutupi leher Joshua dan meninggalkannya di ruang tamu. Ia memilih masuk di kamarnya dan mulai mengerjakan skripsinya. Ia hanya membuat roti isi untuk makan siangnya karena hari ini hujan deras kembali turun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN