Vanilla tersadar saat Joshua membukakan pintu penumpang belakang untuknya. Sebelah tangan Joshua mendorong bahunya dan menghela untuk masuk. Ia mendengar Joshua masuk ke belakang setir dan membanting pintu mobil dengan keras. Hujan yang masih lebat membuat rambut Vanilla basah saat menuju parkiran. Joshua sudah mulai menjalankan mobilnya, masih tetap diam dan Vanilla belum juga berani membuka pembicaraan apapun.
Keheningan menyelimuti keduanya. Vanilla menatap wajah Joshua yang tampak fokus pada jalanan. Rahang pria itu mengatup rapat. Membuat Vanilla tahu semarah apa pria itu. Tapi bukankah ia juga seharusnya marah karena pria itu menciumnya tanpa izin?
Setelah keheningan yang semakin terasa mencekam, Vanilla akhirnya membuka pembicaraan. “Maaf membuatmu menunggu terlalu lama.” kata Vanilla, namun eskpresi Joshua tetap dingin. Pria itu sama sekali tidak menerima permintaan maafnya.
Memasuki jalan raya yang lenggang, Joshua menikkan angka di spidometer. Membuat Vanilla perlu langsung mengangkat sebelah tangan untuk memegang hand grip.
“Aku ada jadwal siaran sore ini.” katanya lagi saat melihat Joshua mengarahkan mobilnya menuju rumahnya. Dan Joshua masih diam. Membuat Vanilla semakin tersiksa. “kamu mendengarku atau tidak?” kali ini vanilla mencoba meninggikan suaranya, membuat Joshua menghela nafas panjang.
“Diam atau aku akan menyuruhmu duduk di depan.” Ia menatap tajam mata vanilla melalui kaca spionnya. “dan satu lagi, batalkan semua acaramu hari ini.” perintah pria itu dengan nada penekanan yang tidak bisa diganggu gugat.
Dahi Vanilla berkerut dalam, namun ia urung membantah. Ia mengaduk ranselnya untuk mengambil gawainya dan mengirim pesan pada atasannya bahwa ia tidak bisa siaran sore ini. Gadis itu juga tidak mengerti kenapa ia semudah ini menuruti perintah Joshua.
Joshua masih terdiam saat memakirkan mobilnya di depan rumah vanilla. Ia membuka pintu mobil dan menutupnya dengan keras, memberi sinyal bahwa ia sangat marah.
Vanilla yang keluar dari mobil langsung menatap Joshua dan menyadari bahwa wajah pria itu pucat. Ia buru-buru membuak gerbang dan pintu rumahnya.
Sesaat setelah ia membuka pintu rumahnya, Joshua langsung menjatuhkan diri ke sofa. Vanilla melihat pria itu langsung meringkuk dan memejamkan matanya.
Ia akhirnya masuk ke kamarnya dan membuka lemari pakaian. Ia sama sekali tidak punya baju pria. Ia bahkan tidak pernah membiarkan seorang pria menginap di rumahnya termasuk Aditya. Tapi ia terus membongkar lemari bajunya hingga ke tumpukan terakhir dan ia menemukannya, sebuah kemeja pria dan celana kanvas yang telah ia simpan bertahun-tahun lalu. Yang mau tak mau menghadirkan kembali memori masa lalunya. Ketika ia pingsan ditengah derai hujan untuk sebuah pengakuan dari seorang keluarga kaya demi keselamatan bibinya.
Ia juga ingat ketika seorang pria yang dengan angkuhnya memperlakukaannya seperti orang miskin gila uang, bahkan tanpa ia tahu wajah pria itu. Nyeri kembali menyergapnya. Hal yang sudah bertahun-tahun yang lalu, namun seperti baru terjadi kemarin. Ia benci semua orang kaya. Semua orang kaya selalu memandang semua dari segi harta dan tidak akan segan-segan merendahkan harga diri orang dengan segala cara. Ia hampir saja menangis karena larut dalam kesedihannya, hingga akhirnya ia teringat oleh Joshua. Ia lalu bergegas ke ruang tamu dan menemukan Joshua sudah tertidur. Wajah pria itu pucat. Ia mendekatkan diri lalu menaruh punggung telapak tangannya di dahi pria itu. Panas langsung menjalar di kulitnya.
“Joshua…” ia menggerak-gerakan lengan pria itu, mencoba membangunkannya. “Joshua…” ia bisa melihat mata pria itu mulai terbuka dengan berat. “sebaiknya kamu ganti baju, badanmu panas sekali.” katanya sambil membantu Joshua terduduk dan memberikan pakaian dia tangannya.
Joshua menatap kemeja dan celana yang sudah berpindah ke tangannya. Ia meneliti benda itu seperti benda itu adalah artefak jutaan tahun lalu.
“Punya siapa ini?” kata Joshua akhirnya.
Tapi Vanilla mengabaikan pertanyaan Joshua. Ia meminta Joshua buru-buru mengganti bajunya dan bilang bahwa pria itu butuh ke dokter.
Mendengar kalimat gadis itu, Joshua dengan refleks menyentuh dahinya sendiri dan menyadari bahwa gadis itu benar. Akhir-akhir ini, ia memang sudah merasakan bahwa tubuhnya tidak sehat. Namun ia bertahan karena ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Dan saat ini, air hujan berefek lebih cepat dari biasanya karena memang tubuhnya yang sedang tidak fit.
Susah payah, Joshua bangun dari posisinya dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Ia menatap kemeja dan celana yang agak sempit, namun masih cukup nyaman untuk digunakan.
Vanilla kembali ke ruang tamu dengan semangkuk bubur dan teh hangat, juga selimut. Ia melihat Joshua sudah kembali meringkuk di sofa. Ia tahu ia salah karena membuat pria itu menunggu terlalu lama. Tapi bukankah pria itu bisa mencari tempat berteduh saat tahu akan hujan.
Ia kembali membangunkan Joshua. Sebenarnya ia tidak ingin mengganggu pria itu, tapi bagaimanapun pria itu harus makan. “Makanlah dulu. Setelah itu sebaiknya kamu ke dokter.” ujar Vanilla saat melihat kedua kelopak mata pria itu terbuka.
Joshua susah payah bangun dan mengambil mangkuk yang diulurkan gadis itu. Selama beberapa detik ia hanya memperhatikan mangkuk itu dan mengaduk-aduknya.
“Ayo makan.” perintah Vanilla.
“Aku tidak percaya kamu membiarkanku menunggu di sana seperti orang bodoh, sementara kamu asik mengobrol dengan pria b******k itu.”
“Sudah cukup. Aku kan sudah minta maaf.” Vanilla mulai terlihat kesal karena Joshua terus menerus menyalahkannya. Tapi Joshua sepertinya tidak merasa bersalah. Ia memperhatikan pria di depannya yang mulai menyuapkan sendok ke mulutnya. Melihat tangan Joshua yang gemetar dan beberapa kali mengernyit saat menelan, membuat Vanilla kembali mengulurkan tangannya, “biar kubantu.” Vanilla mengambil mangkuk itu dari Joshua dan mulai menyuapkannya perlahan.
“Apa kamu masih mencintai Aditya?” pertanyaan tiba-tiba itu membuat mangkuk dipegang Vanilla hampir jatuh. Gadis itu menatap Joshua yang tampak menantikan jawabannya. Ia mengangguk, tidak bisa membohongi diri kalau ia masih mencintai Aditya. Pria itu yang berhasil membuat Vanilla menatap hidup dengan kacamata berbeda. Di antara kesendiriannya, pria itu memberikan banyak warna dalam kehidupannya. Aditya adalah laki-laki pertamanya, yang kehadirannya membuatnya menjalani hidup dengan lebih mudah.
“Gadis bodoh.” kata Joshua dengan nada mencemooh. Vanilla diam. Pria itu benar. Ia memang bodoh. Ia tahu ia punya banyak maaf yang selalu bisa ia berikan pada Aditya.
“Kamu sudah dikecewakan sampai begitu, masih saja mengharapkannya.”
“Dia didesak kedua orangtuannya.” Vanilla tidak tahu kenapa ia masih saja membela pria itu. Joshua tersenyum sinis.
“Dia tidak lebih dari seorang pengecut yang hanya bisa bersembunyi dibalik punggung kedua orangtuanya. Apa ia pantas dijadikan pendamping hidup?” Vanilla menahan geram, bukan karena Joshua menjelek-jelekkan Aditya, tetapi karena semua kata-kata pria itu ada benarnya.
“Aku hanya mencintainya dan...”
“Jangan bodoh, Vanilla.” potong Joshua sambil menatap Vanilla tepat ke manik matanya.
Gadis itu menaruh mangkuk dimeja sambil mengembuskan napas kasar. “kalau kamu sudah lebih baik, sebaiknya kamu segera pulang.” Vanilla berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.
Dia tidak lebih dari seorang pengecut yang hanya bisa bersembunyi dibalik punggung kedua orangtuanya. Kalimat itu terus terngiang di telinga Vanilla. Seperti sengaja dibisikkan dengan nada mengejek khas Joshua. Pria itu pasti puas bisa menertawakannya kali ini.
Vanilla menarik selimut, memiringkan tubuhnya dan menatap hujan dari balik celah tirai. Tapi kamu harus tahu, Vanilla, kalau semua pernyataan cintaku waktu itu sungguh-sungguh. Aku benar-benar mencintaimu dan sama sekali tidak berniat mempermainkanmu. Aku akan mencari cara agar bisa mempertahankanmu.
Kini giliran kalimat-kalimat Aditya yang memunuhi pikirannya. Ia tidak bisa menilik kesungguhan pria itu. Namun ia tahu bahwa ia mempercayainya. Dan sekarang, apakah pria itu akan mempertimbangkan kembali perkataannya setelah melihat Joshua menciumnya dan mengakui sebagai pacarnya. Apakah pria itu akan percaya jika ia bilang bahwa itu hanya kesalah pahaman.
Sesalah apapun Aditya, ia tahu bahwa Joshua membuat semuanya menjadi lebih runyam. Hubungannya dengan Aditya belum benar-benar berakhir dan Joshua sudah mengatakan omong kosong dan melakukan tindakan yang kelewat batas. Jika Joshua tidak sakit, ia pasti sudah mengomel pada pria itu karena mencampuri urusan mereka seenaknya. Tindakan Joshua tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.