Dia Pacarku Sekarang

1398 Kata
Vanilla mencoba tersenyum walau kesakitan tidak dapat disembunyikan dari sorot matanya. Bertahun-tahun lalu, ia ingat betul sosok laki-laki yang berdiri tegap membelakanginya, memberikan puluhan lembar uang ke padanya yang bahkan tidak sempat dilihat wajahnya, dan beberapa menit yang lalu, kejadian itu terulang. Ia tidak akan pernah melupakan bagaimana ibu Aditya memandangnya dengan tatapan begitu rendah dan menjijikkan. “Katanya kamu mau ke kampus. Ayo, aku akan mengantarmu.” Perlahan, Joshua mulai mengembalikan kesadaran Vanilla. Sekali lagi, Vanilla menatap pria di depannya. Ia pasti terlihat sangat menyedihkan saat ini. Gadis itu akhirnya mengambil tas, map tempat outlinenya dan merasakan Joshua menggenggam tangannya erat. Joshua membantu Vanilla mengunci pintu dan menghelanya masuk ke kursi penumpang di belakang. Selama perjalanan hanya hening yang mendominasi. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Vanilla hanya bicara saat Joshua bertanya di mana kampusnya. Selebihnya, Vanilla hanya menatap kosong ke luar melalui jendela. Sesekali Joshua melirik Vanilla melalui kaca spionnya. Tertawa sinis melihat tingkah gadis itu. “Sudah sampai, Tuan Putri.” kata-kata itu membuat Vanilla tersentak dan seketika sadar dari lamunan panjangnya. Ia menatap Joshua yang sudah membukakan pintu untuknya dan wajahnya tiba-tiba memerah. Malu atas sikapnya yang seperti ini. “Kamu sampai jam berapa di sini?” tanyanya sambil menghela Vanilla keluar dan menutup pintu mobilnya. Ia bersandar dan melihat mata vanilla yang masih saja berkaca-kaca. “Aku hanya sebentar. Hanya menyerahkan outline dan berkonsultasi dengan dosen.” “Kalau begitu aku akan menjemputmu nanti. Aku akan pulang dan mandi dulu.” Vanilla langsung menggeleng mendengar kata-kata Joshua. “Tidak... tidak usah, kamu sudah terlalu baik.” “Tidak apa-apa. Kamu pasti butuh teman di saat seperti ini. Kamu harus janji kalau kamu akan menungguku di sana,” katanya sambil menunjuk ke taman di depan fakultasnya. Vanilla mengangguk pelan, tidak mampu membantah. “atau aku yang akan menunggumu di sana.” lanjutnya lagi. “tergantung siapa yang sampai duluan.” “Terima kasih.” katanya saat Joshua hendak masuk ke mobilnya. Pria itu membalas dengan sebuah senyuman. Vanilla melangkah gontai ke ruangan yang ada di ujung koridor lantai satu. Vanilla ingin ini secepatnya selesai. “Maafkan aku.” Suara itu terdengar saat Vanilla baru saja keluar dari ruangan kaprodi. Ia menengadah dan melihat Aditya berdiri di belakangnya. Ia benar-benar tidak berharap bertemu dengan laki-laki itu saat ini. Sungguh. Laki-laki itu pasti bisa membaca matanya yang sedang tidak baik-baik saja. “Maafkan aku.” Aditya mengatakan itu lagi saat mereka berada di kantin dan duduk di salah satu meja yang kosong. Vanilla yang semula menunduk kini menengadah dan melihat raut penyesalan dalam tatapan laki-laki itu. Kejadian akhir-akhir ini kembali berputar di pikirannya. Saat Aditya tak ada kabar, sampai ibunya yang mendatanginya pagi ini. Daripada melihat laki-laki itu, ia lebih ingin menangis. Matanya sudah berkaca-kaca saat Aditya mengulurkan selembar tisu. Ia mengambil lalu mengelap sudut matanya, mencoba menahan desakan untuk meminta penjelasan pada Aditya karena ia tahu bahwa itu hanya akan semakin menyakiti hatinya. Apakah Aditya tahu kalau ibunya mendatanginya dan memperlakukannya seperti wanita rendahan yang gila uang. “Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Aku minta maaf kalau kamu harus mengalami ini semua. Aku… aku pikir aku bisa berjuang hidup sendiri, tanpa kedua orangtuaku, tanpa uang, tapi ternyata… aku tidak bisa Vanilla. Semuanya tidak semudah yang kubayangkan.” papar Aditya. Vanilla semakin terisak. Tidak memedulikan tatapan Aditya yang begitu tersiksa, juga tatapan aneh dari orang disekitarnya. “Tapi kamu harus tahu, Vanilla, kalau semua pernyataan cintaku waktu itu sungguh-sungguh. Aku benar-benar mencintaimu dan sama sekali tidak berniat mempermainkanmu.” Aditya menggenggam kedua tangan Vanilla di atas meja, menyatukannya sementara Vanilla hanya menunduk. “Aku akan mencari cara agar bisa mempertahankanmu.” Vanilla mengangkat wajahnya. Mencerna baik-baik kata-kata yang baru saja masuk ke gendang telinganya. Aditya akan mencari cara untuk mempertahankannya? Berarti Aditya benar-benar tidak tahu kalau ibunya sudah memberitahukan semuanya, bahwa ia setuju bertunangan dengan wanita yang dijodohkan oleh orangtuanya. Setelah semua yang terjadi, laki-laki itu masih saja ingin memberinya harapan. Harusnya ia memercayainya kali ini? *** Angin dingin mulai menyelimuti dan Joshua bisa memastikan kalau dalam kurun waktu beberapa menit hujan akan turun dengan derasnya. Ia menghirup udara dalam-dalam. Merasakan angin dingin menyusup memenuhi rongga paru-parunya. Ia masih menunggu di taman itu. Sudah hampir satu jam ia di sana dan mulai ragu kalau Vanilla masih menemui dosennya. Bukankah tadi ia bilang hanya sebentar? Hanya memberikan draft dan berkonsultasi? Kenapa jadi selama ini? Berkali-kali ia menghubungi ponsel gadis itu tapi tidak ada jawaban sama sekali. Kaki Joshua bergerak gelisah di tempatnya. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya berkali-kali. Joshua menahan diri. Ia mencoba sabar dan berpikir banwa ada beberapa hal yang membuat Vanilla belum juga terlihat. Ia menenangkan perasaannya yang entah kenapa terasa tak karuan. Ia menghela napas saat merasakan rintik hujan mulai membasahi rambutnya. Ia melihat beberapa anak yang tadi berada di taman berlari tunggang-langgang mencari tempat berteduh. Sialan… rutuknya dalam hati. Ia berdiri dan pergi ke halte. Satu-satunya tempat yang bisa ia gunakan untuk berteduh. Ia mengusap rambutnya yang sudah basah, juga sebagian kemejanya karena hujan langusng turun dengan intensitas lebat. Sebelumnya tidak ada yang pernah membuatnya menunggu sampai selama ini tanpa kabar sedikitpun. Tanpa kabar. Joshua tidak mengapa menunggu jika memang gadis itu punya hal lain yang perlu dilakukan di kampusnya. Tapi paling tidak harus mengabarinya. Setelah menahan geram, ia memutuskan untuk masuk ke fakultas gadis itu. Menyusuri tiap lorong dan mengacuhkan tatapan-tatapan mahasiswa dan mahasiswi yang melihatnya keheranan. Ia bisa merasakan air hujan yang entah kenapa mulai membuatnya mengigil. Setelah menyusuri semua tempat dengan kebingungan, ia akhirnya berhasil menemukan Vanilla dan Aditya di kantin. Tubuhnya menegang di ambang pintu kantin. Beberapa anak sudah menatap ke arahnya dengan raut kebingungan. Rahang pria itu mengatup rapat dengan kedua tangan yang mengepal kuat-kuat. “Kamu membiarkanku menunggumu sampai kehujanan seperti orang bodoh, sedangkan kamu malah asik-asikan bersama pria tidak tahu diri ini?” tidak butuh waktu lama karena sentakan Joshua langsung memenuhi ruangan dan menarik seluruh penghuni kantin. Vanilla melihat wajah Joshua yang memerah karena marah dan sebagian kemejanya yang basah. Ia menyadari kalau ia membiarkan Joshua menunggu terlalu lama. Joshua menatap tajam ke arah Aditya yang kebingungan. Pria itu mengambil tangan vanilla, lalu setengah menyeretnya menjauh. “Vanilla tunggu.” Dengan gerakan cepat, Aditya menyambar sebelah tangan Vanilla yang bebas dan berhasil menahannya. Membuat gadis itu meringis kesakitan. “Aku sedang berbicara dengan pacarku. Siapa kamu?” Aditya memandang Joshua dengan tatapan tak kalah membara. Mereka semakin menjadi tontonan di sana. Orang-orang mendekat dengan rasa ingin tahu. Mendengar kata-kata Aditya, Joshua tersenyum sinis lalu merenggangkan pegangannya dan bergerak mendekati pria di depannya. “Pacar katamu? Setelah kamu berhari-hari tidak ada kabar. Setelah seseorang mendatanginya dan memperlakukannya seperti w************n. Kamu masih berani bilang kalau dia pacarmu?” Aditya melepaskan genggamannya pada vanilla dan mulai mencari arti dalam kata-kata Joshua. Aditya menatap Vanilla seraya meminta penjelasan. “Dia pacarku sekarang.” Joshua berkata lantang lalu melirik ke arah Vanilla yang hanya menatap dua pria di depannya dengan wajah kebingungan. “Pacarmu? Vanilla, jelaskan padaku siapa pria ini?” Aditya melirik vanilla dan melihat gadis itu kebingungan. Tapi belum sempat ia menjawab, Joshua sudah menghela tubuh vanilla ke pelukannya dan dengan cepat mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu. Vanilla menatap mata Joshua yang seakan tersenyum dan merasakan tubuh basah Joshua yang dingin. Selama beberapa detik Vanilla hanya bisa terpaku merasakan dinginnya bibir Joshua yang menempel dibibirnya. Orang di sekeliling tercekat. Darah Aditya mendidih. Kedua tangannya terkepal kuat-kuat. “Perlu bukti lagi?” Joshua melepaskan ciumannya dan kini melirik ke arah Aditya yang wajahnya memerah. Ia tahu bagaimana amarah itu sudah menguasai Aditya. “jadi, sebaiknya kamu jauhi Vanilla atau kamu akan berhadapan denganku.” katanya sambil menggandeng tangan Vanilla dan menerobos kerumunan orang yang sama sekali tidak disadarinya begitu banyak. Joshua berjalan cepat di depannya sehingga Vanilla hampir terseok-seok mengikutin genggamannya. Aditya menatap punggung keduanya yang menjauh. Ia memilih untuk tak mengejar, karena ia tahu bahwa kesalahannya tidak bisa dimaafkan. Bagiamana jika benar Vanilla telah membuka hatinya untuk pria itu. Meski belum ada kata putus, semua perilakunya yang tidak memberi kabar dan pasti membuat gadis itu cemas sama sekali tidak bisa dibenarkan. Sebelah tangan Vanilla yang bebas memegang bibirnya. Apa yang barusan ini nyata? Tapi, mengapa Joshua mengakuinya sebagai pacarnya dan kenapa ia menciumnya. Apa Joshua marah karena membiarkannya menunggu terlalu lama. Tubuhnya bahkan basah karena hujan. Tiba-tiba ia merasa begitu bersalah karena membiarkan Joshua menunggunya sementara ia membiarkan dirinya mendengarkan omong kosong Aditya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN