Setelah menaruh kucing itu di sofa. Ia beralih ke dapur dan menyajikan minuman untuk Joshua. Ia juga membuatkannya sepiring nasi goreng. Setidaknya hanya ini yang bisa ia buat dengan bahan-bahan yang ada dikulkas.
Joshua menatap piring di depannya dan menyuapkan sendok ke mulutnya. “Tidak buruk.” gumamnya. Vanilla hanya menatap Joshua yang makan dengan elegan. Penampilannya sudah tidak karuan tapi tetap tidak mengurangi ketampananannya. Jasnya sudah dibuka, dasinya sudah dilonggarkan dengan dua kancing kemeja atas yang terbuka.
“Apa kucing itu benar-benar untukku?” Vanilla bertanya lagi untuk meyakinkan diri.
“Iya. Tapi awas saja kalau kamu membuatnya kelaparan sampai mati.” Vanilla tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sebelumnya tidak pernah ada yang seperhatian ini padanya, bahkan Aditya yang sampai sekarang tidak ada kabar.
“Aku berjanji akan merawatnya dengan baik.” Vanilla melirik jam dindingnya yang sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ia memperhatikan Joshua yang baru saja menghabiskan isi piringnya dan menyesap habis kopinya lalu merebahkan diri di sofanya. “Kamu sedang apa?” Vanilla menatap Joshua yang sibuk mencari posisi dan mengabaikan pertanyaannya.
“Joshua…”
“Ini sudah tengah malam. Aku mau tidur.” katanya tak acuh sambil meringkuk.
“Kenapa kamu tidak pulang saja?”
“Kamu tega menyuruhku menyetir dalam keadaan mengantuk. Itu berbahaya tahu.” Joshua sudah mulai memejamkan mata dan mulai terlelap.
“Padahal ia baru saja menghabiskan segelas kopi.”
***
Vanilla terbangun saat hampir subuh karena kehausan. Ia menengok ke ruang tamu dan menemukan Joshua tertidur pulas. Ia lalu kembali ke kamar dan mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh pria itu. Dasar pria menyebalkan, katanya dalam hati. Ia tidak tahu kenapa ia membiarkan pria itu tidur di rumahnya. Ini adalah pertama kalinya dan tiba-tiba saja ia merasa bersalah.
Paginya, Vanilla terbangun karena kucing baru pemberian Joshua mengganggunya. Kucing itu mendesak kulitnya dengan bulu halusnya. Ia membuka mata dan langsung melihat bulu lebat hewan itu. Ia tersenyum. Ia tidak mengerti kenapa tidak pernah berpikir untuk membeli kucing.
Vanilla keluar dan membuka tirai ruang tamunya, membuat cahaya matahari masuk dan Joshua menggeliat karena silau. Perlahan ia membuka mata dan lagi-lagi kaget melihat Vanilla di depannya. “apa yang kamu lakukan di sini?”
“Kamu lupa kalau semalam bersikeras tidur di sini? Ini rumahku, kamu ingat?” katanya sambil melempar bantal dan tepat mengenai wajah Joshua. Pria itu tersenyum dan akhirnya mengingat kejadian semalam. Joshua merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku sementara Vanilla terlihat sibuk memberi makan hewan peliharaannya. Ia melirik Vanilla yang sudah rapi dengan wangi parfum yang mengelitik hidungnya.
“Kamu sibuk hari ini?” ia bangkit dari sofa dan menyelonong ke dalam mencari letak kamar mandi.
Melihat Joshua melangkah dengan entengnya ke kamar mandi membuatnya bersyukur karena sudah membersihkan kamar mandinya. Setidaknya barang-barang pribadinya tidak berserakan di sana.
“Aku akan ke kampus dan siaran hari ini. Bisa dibilang sibuk.” Vanilla menjawab saat melihat Joshua kembali dengan wajah yang lebih segar sehabis cuci muka. Pria itu lalu kembali duduk di sofa sambil menggendong kucing ke pangkuannya.
“Kamu tidak membuatkanku kopi?” tanyanya yang langsung disambut dengan tatapan sarkastik oleh Vanilla.
“Kamu pikir ini kafe atau apa?” tanyanya sambil pergi menuju kamar untuk mempersiapkan outline skripsi yang akan ia ajukan ke ketua jurusannya. Ia meneliti isi ranselnya satu persatu dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah semuanya siap ia mengambil tasnya dan kembali ke ruang tamu hanya untuk mendengar pintunya diketuk pelan.
Vanilla terdiam. Ia menelan ludah dan kekhawatiran langsung menyelimutinya. Jangan-jangan itu Aditya. Gawat… apa yang akan dipikirkannya kalau ia melihat Joshua ada disini. Ketukan itu kembali terdengar, membangunkannya dari lamunan.
Ia langsung menarik tangan Joshua masuk ke kamarnya, tempat yang ia rasa paling aman karena Aditya tidak mungkin berani masuk ke kamarnya.
“Kamu diam di sini. Jangan sampai ada orang yang tahu kamu ada di sini.”
“Memangnya kenapa?” tanyanya heran, ada nada geli karena melihat kepanikan gadis itu.
“Pokoknya jangan keluar sebelum aku kembali.” katanya sambil menutup pintu.
Joshua yang memindai sekeliling lalu berbaring di ranjang. Menyadari bahwa ranjang ini hanya seperempat dari ranjang miliknya, ruangan itu mungkin hanya seukuran kamar mandi di rumahnya. Hanya diisi ranjang kecil, sebuah lemari tinggi dan sebuah meja belajar.
Vanilla langsung membuka pintu dan tersenyum. Namun senyumnya tertahan saat melihat seseorang yang kini berdiri dihadapannya. Seorang wanita paruh baya yang tidak akan pernah ia lupakan. Bagaimana saat ia menatap Vanilla penuh kebencian malam itu yang juga tidak membalas uluran tangannya untuk berjabat. Dia adalah ibunya Aditya.
Wanita itu memakai pakaian rapi, dengan sebuah tas yang menggantung di sebelah lengannya. Wanita itu menatapnya dengan dingin. Sorot matanya seakan bisa menembus dan mengetahui kekhawatirannya.
“Jadi benar kamu tinggal di rumah ini?” katanya sambil melihat sekeliling dengan raut jijik. Seperti mendapati Vanilla tinggal ditempat yang begitu kotor. “saya tidak mau lama-lama berada di sini. Saya cuma mau minta kamu untuk melupakan Aditya.” katanya dengan nada tegas.
Vanilla menelan ludah. Ia masih terdiam dan berusaha menjaga mimik wajahnya.
“Aditya sudah setuju bertunangan dengan Tasya. Jadi sebaiknya kamu jangan mengharapkan Aditya lagi. Lagipula, saya tidak yakin Aditya benar-benar mencintai gadis sepertimu.” Wanita itu menatap Vanilla dari atas sampai bawah dengan pandangan merendahkan.
Gadis itu menelan ludah. Lidahnya kelu dan tak satupun kata terucap dari bibirnya. “saya hapal betul wanita miskin sepertimu. Mencari laki-laki kaya karena ingin mengincar hartanya kan?” kata wanita itu lagi dan sebelah tangan Vanilla terkepal menahan marah. Jika wanita itu mau memberikan informasi mengenai Aditya, silahkah. Tapi apa perlu menghinanya juga. Seharusnya wanita itu tahu bahwa lebih baik diam dari pada berbicara yang menyakiti.
“Saya mencintai Aditya apa adanya. Bukan karena harta sama sekali.” itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Vanilla. Ia perlu memberitahu wanita itu bahwa ia sama sekali tidak seperti yang dituduhkan. Tapi wanita itu tersenyum sinis. Membaca semua perkataan Vanilla sebagai omong kosong belaka.
“Alasan klasik.” katanya sambil merogoh sesuatu dari tasnya. “saya tidak akan membuatmu sepenuhnya rugi.” katanya sambil mengeluarkan segepok uang dari amplop coklat dan menyodorkannya kepada Vanilla. Wanita itu menatap Vanilla yang terdiam. Uang ini pasti terlihat sangat besar untuk gadis itu. Uang yang akan ia dapatkan dari menikahkan Aditya dan Tasya akan jauh lebih banyak dari ini. Ia menganggap ini uang pelancar agar gadis itu tak lagi menganggu Aditya.
“Maaf, saya memang tidak kaya seperti anda, tapi saya masih punya harga diri. Jadi sebaiknya anda segera pergi dari sini.” Darah Vanilla sudah mendidih namun ia berusaha tetap tenang.
Mendengar nada pengusiran itu, wajah wanita itu merah padam. Ia tidak menyangka bawah gadis itu akan menolak tawarannya yang menggiurkan.
“Tidak usah malu. Saya tahu kalau ini adalah tujuan kamu mendekati anak saya kan?” katanya sambil melempar uang itu ke wajah Vanilla. Tepat ke wajahnya.
Dalam sekejap, uang itu jatuh tak beraturan. Dan kejadian ini seperti de javu untuk Vanilla. Ingatan bertahun-tahun lalu kembali. Ketika seseorang menghinanya dengan memberinya puluhan lembar uang kertas. Hatinya terasa diremas begitu kuat. Ia tidak bisa menahan sakit hatinya dan matanya terasa panas. Tapi ia menarik napas panjang agar tangisnya tidak pecah. Ia tidak boleh menangis. Ia akan semakin tertindas kalau ia menangis.
Jadi ini alasan Aditya tidak ada kabar akhir-akhir ini? Apa memang dirinya tidak berharga untuk Aditya? Lalu untuk apa semua kedekatannya selama ini? Dan kata-kata itu, ketika ia bilang bahwa ia lebih memilih Vanilla daripada harta. Ia seperti melambungkan Vanilla ke langit ketujuh lalu kini menjatuhkannya ke dasar jurang.
“Sekali lagi saya bilang bahwa saya tidak butuh uang anda. Jadi sebaiknya anda bawa kembali uang itu.” katanya sambil berbalik dan menutup pintu keras-keras. Ia akhirnya menangis dibalik pintu, ia terduduk lemas dan menangis tanpa suara. Menangisi hidupnya yang begitu menyedihkan, menangisi cintanya yang berbuah pahit. Apa memang ia serendah itu, mengapa semua orang kaya bersikap seolah-olah mereka bisa membeli semuanya.
Joshua yang menyaksikan kejadian itu dari celah kecil jendela ruang tamu menghampiri Vanilla dan memeluknya. Vanilla tidak menolak sama sekali, ia memang membutuhkan seseorang saat ini.
“Sudahlah, untuk apa kamu menangis. Bukankah kamu harusnya bersyukur. Aditya ternyata tidak sebaik yang kamu pikirkan.” Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Joshua di depannya. Sedikit kaget dan tidak percaya bahwa yang baru saja ia peluk adalah Joshua. Ia masih terdiam saat sebelah tangan pria itu terulur dan menyeka air mata di pipinya. “pria itu tidak pantas kamu tangisi.”
Pria itu membawa Vanilla dan mendudukannya di kursi, ia lalu menuju dapur dan kembali dengan segelas air putih.
“Minumlah.” katanya sambil membimbing ujung gelas ke bibir Vanilla. Gadis itu mungkin kelelahan karena ia langsung mengenggak habis air itu. Joshua mengusap punggung Vanilla lalu menggerakkan ujung jarinya ke dagu Vanilla. Memaksanya mengangkat wajah dan menatapnya. Cukup lama mereka bertatapan hingga akhirnya Joshua tersenyum dan mengelap bekas air mata dipipi gadis itu.
“Kau berhak mendapat laki-laki yang lebih baik.”