Vanilla terbangun sebelum alarmnya berbunyi, dan itu karena suara ponselnya yang sudah menjerit tanpa ampun dan terasa memekakkan telinga. Ia melirik jam di atas nakas dan menutup kepalanya dengan bantal saat tahu ia masih punya waktu lima belas menit lagi sebelum jam bangun biasanya.
Namun penelepon tidak tahu diri itu tidak mau menyerah. Meski panggilannya tidak terangkat, ia terus menghubungi dan membuat si gadis berdecak kesal. Mimpi Vanilla buyar sudah dan tidak bisa diselamatkan.
Vanilla mengucek matanya dan melihat nomor baru dilayar ponselnya. Dengan rasa kantuk yang masih mendominasi, ia bangun dari posisi tidurnya menjadi setengah duduk.
Sinting. Siapa orang yang menghubunginya sepagi ini.
Vanilla masih terus berpikir hingga akhirnya panggilan itu mati, dan tak lama alarmnya menjerit. Ia beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi. Ia baru mengambil handuk saat ponselnya kembali berbunyi. Karena kesal tapi juga penasaran, ia akhirnya menekan tombol answer. Ia baru saja ingin marah-marah saat suara di ujung sambungan sudah terdengar lebih dulu dengan intonasi tinggi.
“Kenapa lama sekali… dasar pemalas. Kamu belum bangun, ya?” Suara itu masuk ke gendang telinganya. Suara laki-laki. Ia yang sudah ingin marah langsung mengatupkan rahangnya rapat. Ia menjauhkan benda pipih itu dari telinga untuk menatap nomor asing itu. Ia bingung karena pertanyaan laki-laki itu seperti mereka sudah sangat akrab.
“Vanilla… kamu masih di sana? Cepat keluar.” Vanilla masih tak berbicara. Namun ia melangkah pelan menuju ruang tamu dan menyibak tirai. Di depan gerbang rumahnya, ia melihat kepala Joshua menyembul lengkap dengan pelototan tajam.
“Apa yang kamu lakukan?” Ia menyingkap tirainya lebih lebar dan menyadari bahwa matahari masih mengintip malu-malu. Ia melihat Joshua melambai. Ponsel masih menempel di sebelah telinga masing-masing.
“Buka gerbangnya. Tidak sopan membuat tamu menunggu terlalu lama.”
“Kamu pikir sopan bertamu ke rumah orang sepagi ini?” ia melihat Joshua menyeringai. Tubuhnya yang tinggi menjulang melebihi gerbangnya yang hanya setinggi d**a. “aku akan mandi dulu. Kamu tunggu saja di luar.” Gadis itu ganti menyeringai lalu masuk ke kamar mandi.
Hampir setengah jam Joshua menunggu di depan rumah Vanilla hingga suara pintu dibuka akhirnya terdengar. Ia kembali melongok ke dalam dan melihat Vanilla sudah berpakaian rapi. Gadis itu mendekat dan membuka gerbang untuknya. “Kamu mandi atau tidur? Lama sekali.”
“Terserah. Apa yang kamu lakukan di sini?” Vanilla berkacak pinggang. Ia hanya menggeser gerbang sedikit dan berdiri di selanya, tidak membiarkan Joshua masuk.
“Biarkan aku masuk.” Dengan cepat Vanilla memegang pinggir gerbang kuat-kuat. Ia tidak akan membiarkan pria itu masuk sebelum mengetahui apa tujuan pria itu datang sepagi ini, dan bagaimana dia bisa tahu nomor ponselnya.
“Jadi aku tidak boleh masuk?” Joshua kini berkacak pinggang dan menatap Vanilla yang mengangguk.
“TIDAK.” jawabnya lantang. “sebelum aku tahu apa yang kamu lakukan sepagi ini, dan dari mana kamu dapat nomor ponselku?”
“Biarkan aku masuk dulu.” kata Joshua dan ia melihat gadis itu menggeleng. “Bagaimana kalau aku memaksa?” Joshua semakin mendekat ke arah Vanilla. Semakin dekat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti. Tubuh menjulang pria itu tampak mengintimidasi Vanilla yang menciut di bawah tatapan tajamnya.
Garis bibir pria itu naik dan ia semakin merapatkan diri pada Vanilla. Ia memiringkan kepalanya lalu berbisik. “kamu benar-benar ingin merasakan ciumanku, ya?” mendengar kata-kata itu, Vanilla dengan reflek menonjok perut Joshua hingga pria itu meringis dan mundur beberapa langkah.
“Jaga mulutmu.” katanya sambil mundur dan masuk ke dalam rumah. Sambil menahan sakit, Joshua terkekeh dan mengekori gadis itu masuk.
“Silahkan duduk tapi jangan sentuh apapun yang ada di sini.” Ia tetap mengatakan itu meski sadar bahwa ia tidak punya barang antik ataupun berharga lainnya.
Joshua melirik sekeliling. Ruangan mungil ini hanya diisi meja, sofa, dan meja kecil tempat akuarium kosong. Ada bingkai berisi foto Vanilla dan Aditya. Dan beberapa foto keluarga di dinding saat Vanilla masih sangat kecil.
Vanilla kembali dan menaruh satu cangkir berisi kopi di atas meja.
“Kamu bilang kamu punya ikan. Kenapa akuarium ini kosong?” Joshua melirik akuarium di sebelahnya.
“Dia mati.” jawabnya singkat
“Kejam sekali. Kamu pasti tidak merawatnya dengan baik” Joshua berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku sibuk akhir-akhir ini sehingga belum sempat mengganti airnya.”
“Apa dia pacarmu?” Joshua kini melirik bingkai foto di depan akuarium.
Vanilla mengangguk dan lagi-lagi teringat Aditya yang sampai saat ini tidak memberi kabar. Semalam ia berusaha menghubungi nomor Aditya tapi tidak aktif. Panggilannya selalu masuk ke kotak suara.
Ia melirik jam dindingnya. Masih jam enam lewat. Ia lalu menatap Joshua dan kembali bertanya, “jadi, apa yang kamu lakukan pagi-pagi dan dari mana kamu mendapatkan nomor ponselku?” Vanilla mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.
Joshua memutar bola matanya dan tampak berpikir. “aku mau mengajakmu berangkat bersama. Dan nomormu ku dapat dari managermu.” jawabnya.
“Kenapa harus sepagi ini?”
“Karena aku tidak tahu biasanya kamu berangkat jam berapa?”
Vanilla tidak ingin mendebat. Ia berdiri dan masuk ke dapur untuk membuat sarapan saat merasakan perutnya mulai lapar. Ia mengeluarkan telur, roti tawar dan selada dari kulkas kecilnya. Ia lalu menyalakan kompor dan menceplok telur itu. Setelah telurnya matang, ia memanggang roti tawar itu dengan mentega. Setelah itu ia menaruh telur ceplok dalam roti beserta daun selada juga saus dan menutupnya dengan lembar roti tawar lainnya.
“Kamu membuat sarapan sendiri?” Johsua bertanya saat Vanilla kembali dengan piring berisi dua buah tangkup roti isi.
“Hanya roti.” Vanilla memang sebarnya lebih suka memasak dibanding membeli maknan. Selain karena memang ia hobi masak, itu juga bisa menekan pengeluarannya.
Vanilla sudah mengambil satu tangkup roti itu saat Joshua justru menatap Vanilla dengan tatapan tidak terbaca. Pria itu sibuk menilai gadis di depannya. Mahasiswi tingkat akhir, bekerja, tinggal seorang diri. Joshua sadar ada banyak orang seperti Vanilla di luar sana. Tapi ia benar-benar penasaran bagaimana hidup gadis itu sampai hidup seorang diri seperti ini.
“Kenapa? Kamu takut aku meracunimu?” kata Vanilla saat Joshua masih juga terdiam.
***
Vanilla melanjutkan pekerjaan yang semalam saat ia sampai di kantornya. Ruangan itu masih sepi, baru ada dua orang saat ia datang dan sudah sibuk di mejanya masing-masing. Ada banyak data yang harus diinput dan dicek hari ini sehingga gadis itu benar-benar sibuk. Ia baru makan siang jam setengah satu siang.
Di samping kantor itu, ada banyak penjual berderet dari ujung ke ujung. Vanilla ke luar seorang diri karena memang tidak terlalu dekat dengan teman-teman kantornya. Vanilla juga sebenarnya tidak terlalu suka sering-sering behubungan dengan mereka selain karena pekerjaan. Mereka semua adalah cerminan karyawan hedon yang setiap berkumpul selalu membicarakan harga outfit, gadget-gadget terbaru sampai tempat-tempat nongkrong yang bagus dan mahal. Vanilla sebagai orang yang biasa-biasa saja menyadari bahwa ia tidak akan cocok dengan mereka.
Jam menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit saat ponselnya di atas meja berdenting. Vanilla mengambil dalam satu sentakan dan membaca pesan yang masuk.
0813245259xxx: Hari ini tidak usah siaran. Aku menunggu di rumahmu.
Vanilla memicingkan matanya. Bingung siapa yang berani mengirim pesan memerintah dan tidak sopan seperti itu. Tapi kenapa nomornya tidak dikenal. Ia mengingat sesuatu dan langsung membuka daftar panggilan. Menyocokkan nomor itu dengan nomor Joshua yang pagi ini menghubungin dan ternyata sama.
Vanilla: Tidak mau. Jangan suka seenaknya.
Vanilla mendengus lalu melihat pesannya langsung terbaca. Ia tidak mengerti kenapa pria itu selalu saja memaksa. Kedua ibu jarinya mengetuk layar untuk menyimpan nomor pria itu.
Joshua: Terserah kalau kamu memang mau membuatku menunggu di sini.
Vanilla membuka pesan itu tanpa membalasnya lagi. Ia pergi ke tempat siaran seperti biasa. Joshua mulai terlupakan karena ia sibuk memikirkan Aditya. Nomor pria itu masih tidak aktif sampai sekarang. Semua pikiran burukpun berkecambuk dalam otak kecilnya. Dorongan untuk datang ke rumah Aditya begitu kuat. Namun ia tahu bahwa ia tidak akan sanggup bertemu dengan ibunya. Bayangan saat wanita itu menatapnya dengan tatapan mencemooh dan jijik seakan ia adalah kotoran yang perlu dijauhkan masih sangat menyakiti hatinya.
“Vanilla, kamu mau pulang atau menginap?” salah seorang temannya, Yoga, bertanya saat melihatnya keluar dari ruang siaran. Pria itu sudah menyantelkan ransel di kedua punggungnya dan bersiap untuk pulang.
Vanilla berfikir sejenak, besok hari sabtu dan ia biasanya menginap. Tapi tiba-tiba wajah Joshua terlintas di pikirannya. Apa mungkin Joshua benar-benar menunggunya.
“Kalau kamu mau pulang, biar kuantar.” mendengar kata-kata itu, ia langsung mengangguk sambil tersenyum.
“Aditya apa kabar? Sepertinya sudah lama tidak mendengar kabarnya?” Gadis itu tersenyum miris mengingat Aditya. Ia dan Yoga memang terkenal dekat. Pria itu yang kadang menjadi tempat curhatnya mengenai hari-harinya.
“Dia baik-baik saja.” jawabnya cepat. Memilih untuk tidak memberitahu apa yang terjadi.
“Lalu laki-laki kemarin, siapa?” Yoga bertanya lagi.
“Temanku.” Ia sama sekali tidak ingin membahas siapapun kali ini. Vanilla bisa melihat Yoga tersenyum kecil.
“Tapi dia sepertinya menganggapmu spesial?” gadis itu berdecak saat mendengar Yoga mengatakan itu.
Vanilla memilih tidak menimpali lagi.
***
Vanilla turun dari motor dan langsung bisa melihat mobil Joshua terparkir tepat di depan rumahnya. Setelah mengucapkan terima kasih pada Yoga, ia mendekati mobil dan melihat Joshua tak ada di dalamnya. Ia mendekati gerbang dan melihat pria itu duduk di bangku panjang rotan yang ada di depan rumahnya.
Bagimana dia masuk? Vanilla merogoh saku ransel untuk mengeluarkan kunci gerbangnya. Ia mendekat dan melihat pria itu tampak pulas. Sudah berapa lama ia menunggu di sini? Pikirnya saat ia melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya dan menyadari bahwa sudah jam setengah dua belas malam.
“Joshua...” Ia menyentuh lengan pria itu yang malah semakin meringkuk mencari posisi lain. “Joshua bangun.” Ia menggerakkan tubuh Joshua lebih keras. Hingga akhirnya laki-laki itu membuka mata dan terkejut.
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Joshua yang langsung terduduk saat melihat Vanilla, tapi gadis itu malah mengulum senyum.
“Harusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan disini.”
Joshua mengucek-ucek matanya dan akhirnya teringat bahwa ia tertidur saat punggungnya terasa sakit.
“Kamu benar-benar keterlaluan, ya? Kamu membuatku menunggu sampai selarut ini.” kata Joshua sambil melirik arloji di pergelangan tangannya. Nada suanya terdengar kesal.
“Tidak ada yang menyuruhmu menunggu sampai selarut ini.” Vanilla tak kalah dongkol saat mendengar Joshua menyalahkannya. “bagaimana kamu bisa masuk?”
“Tentu saja memanjat. Aku tidak punya keahlian menembus benda.”
“Bagaimana kalau ada yang melihat dan kamu digebuki?” mata Vanilla melebar, tidak percaya pria itu melakukannya.
Tapi Joshua tidak menjawab. Ia malah meminta Vanilla buru-buru membuka pintu karena ia sudah kelaparan.
“Pulang saja. Aku tidak punya makanan.” kata Vanilla.
“Kamu harus bertanggung jawab, aku kelaparan karena menunggumu.”
Vanilla menganga. Kalau saja Vanilla tidak punya rasa kasihan, mungkin ia sudah mengusir pria itu dari rumahnya.
“Tunggu sebentar.” kata Joshua.
“Apalagi?” tanyanya saat ia mulai membuka pintu.
“Puss…puss.” Joshua mendekati pot-pot bunga milik Vanilla juga ke halaman samping. Ia tersenyum melihat seekor kucing berbulu putih lebat sedang tertidur pulas dibelakang pot tanaman. Perlahan Joshua mengangkat kucing itu dalam pelukannya. Vanilla terpana melihat binatang itu bergelung di tangan Joshua.
“Ini kucing untukmu, supaya kamu tidak kesepian.” Dalam hitungan detik kucing itu berpindah tangan.
“Kamu serius?” Mata Vanilla membulat. “terima kasih.” katanya saat Joshua mengangguk.