Siaran

1484 Kata
“Jadi... kamu phobia gelap?” mobil Joshua sudah mulai berjalan menembus macetnya ibu kota. Gadis itu mengangguk, mengiyakan. Ia tahu Joshua bisa melihatnya dari kaca tengah “apa kamu selalu tidur dengan lampu menyala?” Gadis itu sekali lagi mengangguk. Mata Vanilla melirik ke luar jendela di mana trotoar tampak ramai dengan pejalan kaki. “Apa kamu tahu kalau tidur dengan lampu menyala bisa mengurangi kualitas tidur?” Vanilla terdiam. Ia tahu itu, tapi kegelapan justru makin membuatnya tidak nyaman. “Sejak kapan kamu peduli dengan kualitas tidur orang lain?” Alih-alih menjawab pertanyaan Joshua, Vanilla balik bertanya. Ia tidak nyaman membahas itu dan memberi sinyal agar Joshua mengubah topik pembicaraan. Tapi Joshua tidak membuka pembicaraan lagi. Ia fokus pada jalanan di depannya sementara Vanilla melirik lalu lintas yang ramai dari jendela. Pedagang-pedagang di trotoar mulai ramai. Orang-orang berjalan bergerombol. “Kamu akan menginap lagi?” tanyanya saat sampai di tempat tujuan. Ia mematikan mesin setelah mobil yang dikendarainya memasuki halaman rumah melalui gerbang terbuka lebar-lebar. “Tidak. Aku akan pulang hari ini. Aku punya ikan yang harus aku beri makan. Semoga saja mereka masih hidup.” kata Vanilla. Ikannya mungkin bisa bertahan jika sehari tidak diberi makan. Masalahnya, Vanilla lupa kapan terakhir kali ia mengganti air di akuarium itu saking sibuknya. “Kalau begitu, aku akan menunggumu.” kata Joshua saat ia keluar dari mobil. “Tidak usah. Aku akan sampai larut malam.” Vanilla menolak. Menunggu tiga jam bukan waktu yang sebentar. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kamu sampai rumah dengan selamat. Kalau kamu tidak mengizinkanku masuk, aku akan menunggu di mobil.” Joshua melirik mobilnya. Vanilla sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Joshua dan apa yang sebenarnya direncanakan. Ia kadang bisa menjadi sosok yang benar-benar menyebalkan tapi kadang bisa begitu baik. Tapi saat ini, ia mulai tak nyaman dengan sikap memaksa pria itu. “Tidak usah.” kata Vanilla dengan nada penekanan. “Ini bukan pertanyaan.” kata Joshua. “aku akan tetap menunggumu di sini meskipun kamu mengusirku.” Vanilla memindai sekeliling. Halaman itu sepi dan gelap. Beberapa mobil dan motor masih terparkir di halaman. Melihat bagaimana raut wajah Joshua, ia tahu pria itu tidak main dengan kata-katanya. Vanilla menghela napas kasar, “Ayo masuk.” kata gadis itu akhirnya. Ia tidak mau dicap tidak tahu terima kasih. Ia berjalan menuju pintu, sementara Joshua mengekor di belakangnya. “kamu boleh pulang jika bosan.” Vanilla menghela Joshua ke ruang tamu dan langsung membuat tiga pasang mata temannya menatap tanpa berkedip. “Silahkan duduk.” Vanilla menyenggol kaki teman-temannya agar mereka berhenti menatap Joshua seperti hiu melihat darah. “Joshua, kenalkan ini teman-temanku.” Joshua tersenyum sambil menjabat tangan mereka satu persatu. “kau mau teh atau kopi?” tanyanya saat teman-temannya menghilang tanpa suara. “Kopi.” Vanilla pergi ke dapur untuk menyeduh kopi. Dan ternyata teman-temannya pindah ke sana dan kini memberondongnya dengan pertanyaan seputar Joshua. “Dia karyawan di tempatku magang.” kata Vanilla sambil mengambil cangkir dari dalam lemari, juga toples berisi kopi dan gula. Ia menyendokkan gula dan kopi ke dalam cangkir, lalu menaruh cangkir itu di bawah kran dispeser. “Kamu sudah putus dengan Aditya?” salah seorang temannya bertanya dan membuat sebelah tangan Vanilla yang memegang sendok terdiam. “Belum.” Vanilla menjawab sambil menggeleng. Pasti rasanya aneh melihatnya masih berpacaran dengan Aditya tapi justru terlihat diantara oleh pria lain. Vanilla juga lengah karena telat menyadarinya. Tapi ia bisa memastikan bahwa ia dan Joshua tidak ada hubungan apa-apa. Mereka hanya teman. “kami hanya kebetulan bareng.” Vanilla mengatakan itu meski teman-temannya sebenarnya tidak peduli karena kini sibuk memuji paras Joshua. Joshua meneliti ruang tamu itu. Ruang itu tampak lowong karena hanya terisi sofa dan meja. Namun ada beberapa poster grup musik luar negeri di dinding. Di salah satu sudut, ia melihat sebuah speaker tergantung dan mengeluarkan suara yang sedang siaran di lantai atas. Vanilla kembali dengan cangkir berisi kopi yang asapnya masih mengepul. “Terima kasih.” kata Joshua saat Vanilla menaruhnya di atas meja. “Aku ke atas dulu.” kata Vanilla. “kamu boleh pulang jika bosan.” Vanilla mengatakan itu lagi. Ia tahu bahwa menunggu tiga jam pasti akan sangat membosankan. Pria itu mungkin saja lelah dan nantinya akan berpikir lebih baik tidur di ranjang empuknya. Ia ingin Joshua tahu bahwa tidak apa meninggalkannya. Joshua mengangguk dan melihat Vanilla menaik ke tangga yang ada di sana hingga menghilang dari pandangannya. Vanilla masih punya waktu lebih dari tiga puluh menit sebelum jam siarannya sehingga memutuskan untuk membersihkan diri dulu. Ia masuk ke salah satu kamar dan langsung masuk ke kamar mandi dan keluar lima belas menit kemudian. Ia mengganti kemeja dan celana panjangnya dengan sepotong kaos dan celana pendek. Setelah menyisir rambutnya, ia turun ke lantai dua. Ia melirik jam di ruangan itu lalu ke arah tangga. Vanilla akhirnya kembali menuruni tangga dan melihat Joshua masih ada di sofa. Kopi yang tadinya penuh tersisa setengah. “Mau kutambah kopimu?” Vanilla menawarkan sambil melirik ke arah cangkir gelas di atas meja. Joshua menatap Vanilla yang kini sedang mengotak-atik ponselnya. Penampilan gadis itu terlihat lebih santai, dan lebih cantik dengan rambut tergerai yang di sisir rapi melewati bahu. Gadis itu terlihat menempelkan ponsel ke sebelah telinganya, menunggu sebentar lalu menjauhkan dan kembali mengotak atik benda pipih itu. “Aditya?” Joshua menebak, namun Vanilla memilih tak menjawab. *** Vanilla terkejut saat melihat Joshua masih ada di sofa ruang tamu. Mata pria itu tampak segar dan sepertinya sama sekali belum mengantuk padahal jam sudah menunjuk pukul sebelas kurang lima menit. Pria itu sedang fokus dengan gawai di tangannya saat Vanilla duduk di depannya. “Kamu masih di sini.” “Aku bilang akan menunggumu.” Joshua menegakkan tubuhnya dan berdiri. Ia mengisyaratkan dengan anggukan kapalanya agar Vanilla beranjak dari duduknya dan mengekorinya keluar. Joshua membuka pintu penumpang untuk gadis itu. “Jangan melakukan itu lagi.” kata Vanilla ia berdiri di depan pria itu. “jangan membukakan pintu untukku. Aku bisa membukanya sendiri.” Vanila menegaskan kalimat sebelumnya saat melihat pria itu kebingungan. Joshua tersenyum kecil. “Tidak apa-apa.” katanya. "aku suka melakukannya." Ia tersenyum tulus. Perjalanan itu terasa sunyi. Dari kaca tengah, Joshua melihat Vanilla berusaha sekuat tenaga menahan kantuknya. Kedua mata gadis itu perlahan tertutup, namun terbuka lagi dengan kaget seakan benar-benar menolak tidur. Joshua tersenyum karena ekspresi gadis itu tampak lucu dalam pandangannya. “Tidur saja.” kata Joshua. Vanilla yang baru saja terjaga buru-buru menggeleng dan kini membuka matanya lebar-lebar. “kamu tidak percaya padaku?” “Bukan begitu.” Vanilla bingung bagaimana harus menjelaskan bahwa ia sangat tidak enak. Pria itu mengantarnya, menunggunya dan kini mengantaranya pulang. Bukankah ia tidak sopan jika ia malah tertidur sementara Johua menyetir. Pria itu pasti sama lelahnya dengan dirinya. Tapi pria itu terus menerus menyuruhnya tidur dengan nyaman. Memberitahunya bahwa besok ia harus bangun pagi ada ada tugas kantor yang belum ia selesaikan sehingga lebih baik menggunakan waktu sebaik-baiknya. Vanilla tak kuat lagi. Jok mahal nan empuk mobil itu terasa memijit punggungnya seraya membisikkan nyanyian yang membuatnya akhirnya memejamkan mata dan tertidur. Joshua mengulas senyum tipis. Ia kembali fokus pada sertir, juga maps yang bergerak di ponselnya untuk menuju kediaman gadis itu. Kendaraan roda empat itu memasuki sebuah komplek tak terlalu besar. Joshua menatap rumah yang berderet di sebelahnya. Rumah dengan ukuran, cat tembok dan bentuk gerbang yang seragam. Ia berbelok ke blok yang ia tuju lalu memelankan langkah sambil menatap nomor rumah yang terlihat di gerbang rumah. Ia menghentikan mesin, menoleh dan melihat Vanilla masih begitu pulas di jok belakangnya. Napas gadis itu teratur. Kaos pendeknya sudah dilapisi jaket dan tangannya memeluk ranselnya erat-erat. Tidak ada alasan seorang anak sumur Vanilla memilih pekerjaan yang bisa disambi kuliah selain karena gadis itu membutuhkan uang. Dan Joshua kini bertanya-tanya, sesulit apa hidup gadis itu. “Vanilla…” ia memanggil pelan. “Vanilla…” ia memanggil lagi, hingga lima kali hingga kedua kelopak mata itu bergerak dan akhirnya terbuka. Vanilla langsung menegakkan tubuhnya dan mengusap matanya. Gadis itu melirik sekeliling dan menyadari bahwa ia sudah sampai di rumahnya. “Terima kasih.” Vanilla mengatakan itu saat sambil membuka safety beltnya. Joshua ikut keluar dan menatap rumah sederhana di depannya. “Kamu tinggal sendiri?” tanyanya saat Vanilla mengaduk-aduk tasnya untuk mengeluarkan kunci. Gadis itu menjawab dengan anggukan. “Kenapa?” Joshua tidak ingin ikut campur, namun ia tidak bisa mengenyahkan rasa penasarannya. Ditatapnya wajah Vanilla yang tiba-tiba berubah murung. Saat itu ia tahu bahwa pertanyaannya tidak tepat. “Sekali lagi terima kasih.” Vanilla sedikit membungkukkan badan. Menolak menjawab pertanyaan pria itu dan Joshua mengangguk tanda mengerti. Vanilla masuk ke rumahnya dan mendapatkan kejutan. Ikan peliharaannya mengapung tak bernyawa. Ia menghela napas kasar dan menyesal karena tidak merawatnya dengan baik. Setelah membereskan ikannya, ia duduk di sofa dan kembali menghubungi Aditya. Namun masih juga tak membuahkan hasil. Ia menatap akuariumnya yang sudah kosong. Bingung sendiri dengan sikap Aditya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN