Aditya: Aku ada di kedai tepat di samping kantormu. Kita makan siang bersama, ya.
Vanilla tersenyum saat mendapati pesan itu. Setelah memasuki jam makan siang, ia menenteng dompetnya dan bergegas keluar dari ruangannya.
Ia turun menggunakkan lift bersama beberapa orang lain lalu menyebrangi lobi dan keluar dari kantor. Langkah kaki membawanya ke samping kantor di mana tempat makan berderet rapi dan selalu ramai saat makan siang.
Ia memindai deretan kedai itu dan melihat Aditya melambai padanya melalui dinding kaca salah satu kedai. Ia tersenyum lalu melangkah masuk dan duduk di depan pria itu.
“Aku mulai mencari pekerjaan hari ini dan kebetulan lewat sini.” katanya saat Vanilla duduk di depannya.
“Lalu, bagaimana hasilnya?” Vanilla melihat sekelebat keputus-asaan dalam raut wajah kekasihnya. Wajah pria itu terlihat kelelahan.
Pria itu mengangkat bahu. Benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan dihadapkan oleh kesulitan seperti ini. Sejak pagi, ia sudah pergi dengan angkutan umum. Ia kepanasan dan kulitnya terasa lengket.
“Lebih sulit dari yang aku kira. Aku masih harus menunggu beberapa hari lagi.” Vanilla tahu bagaimana beratnya mencari uang. Apalagi untuk Aditya yang terbiasa meminta kepada kedua orangtuanya.
“Kalau kamu bekerja. Bagaimana dengan kuliahmu?”
“Aku bisa mengambil cuti atau mungkin pindah ke malam.”
Aditya tidak tahu bagaimana hati Vanilla teriris mendengarnya. Mengingat semua ini demi dirinya. Ia kasihan melihat pria itu harus bersusah payah padahal pria itu sudah terbiasa menikmati hidupnya yang serba mudah.
“Aku berjanji akan selalu ada di sampingmu apapun yang terjadi.” kata Vanilla. Berusaha membuat pria itu percaya bahwa mereka bisa melewati semuanya. Ia ingin membuat pria itu percaya bahwa semua usaha pria itu tidak akan sia-sia.
Sekali lagi Aditya tersenyum kecut. Merasakan kebimbangan besar dihatinya. Suara tangisan anak kecil yang sedang digendong ibunya yang baru saja masuk ke kedai itu sedikit mengalihkan perhatian mereka berdua.
Sementara Vanilla sibuk dengan makanan yang baru saja disajikan di depan mereka, Aditya mengarahkan pandangan ke luar jendela. Menatap jalanan yang baru dia sadari sangat keras dan kejam. Hari ini, ia merasakan bagaimana panasnya terik matahari nyaris membakar kulitnya. Debu, polusi udara menempel di wajahnya dan membuat efek lengket. Semua yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya. Dia akhirnya merasakan betapa selama ini ia kedua orangtuanya memberikan keistimewaan yang mungkin tidak didapatkan oleh orang lain. Dan ia malah menyia-nyiakannya. Disaat orang lain menginginkan hidup mewah, ia malah merelakannya demi Vanilla. Ia menggeleng, ia tidak akan pernah menyesali keputusannya. Dilihatnya gadis di depannya. Gadis itu yatim piatu, sebatang kara dan tetap bisa menjalani hidup dengan sangat baik. Ia tidak ingin gadis itu melihatnya yang begitu lemah. Ia ingin bisa membuktikan bahwa ia adalah pria yang bisa diandalkan
***
Disaat semua karyawan sudah mulai beranjak pulang, Vanilla masih sibuk di mejanya. Pekerjaannya kali ini urgent karena harus diselesaikan hari ini. Besok data itu akan dijadikan dasar untuk membuat laporan sebagai bahan meeting pagi. Jadi pagi-pagi ia harus menyerahkannya pada seniornya agar seniornya punya waktu untuk mengecek. Ia melirik jam di mejanya dan berpikir bahwa sebelum petang harus sudah selesai, supaya ia tidak harus menggeser jam siarannya lagi. Satu persatu orang-orang di ruangan itu berdiri dari duduknya dengan tas di tangan mereka. Manajer akunting keluar dari ruangannya dan meminta Vanilla untuk melanjutkan perkerjaan besok pagi. Pria itu bilang bahwa ia bisa datang lebih pagi untuk menyesaikan pekerjaan itu. Vanilla hanya tersenyum dan bilang ia akan menyelesaikannya. Ia tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Perlahan, ruangan itu kosong hingga menyisakan dirinya sendiri.
“Kenapa masih di sini?” Vanilla mendongak dan melihat Joshua berdiri di depan pintu. Penampilannya sudah lebih santai dari biasanya. Jasnya sudah dibuka dan dasinya sudah dilonggarkan.
“Menyelesaikan data untuk meeting besok pagi.” Ia melihat Joshua mendekat dan duduk di kursi tak jauh dari mejanya. Pria itu tampak memindai sekeliling, hanya untuk memastikan bahwa hanya tinggal gadis itu yang ada di ruangan itu.
“Kamu sendiri? Belum pulang?” Vanilla bertanya meski tidak melepaskan pandangannya dari layar komputer di depannya.
“Tentu saja belum. Kalau sudah, aku tidak akan ada di sini.” jawab Joshua. Ia melihat gadis itu menghela napas.
“Maksudku… kenapa belum pulang?”
“Bukan urusanmu.” Mendengar jawab itu, Vanilla melirik sinis ke arah Joshua yang justru terkekeh.
“Kalau kamu datang untuk menggangguku, sebaiknya kamu pergi. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya.” Vanilla kembali fokus ke komputernya. Sebelah tangannya menggeser mouse lalu mengklik. Lalu kedua tangannya menari di atas papan ketik dan menimbulkan bunyi beraturan.
“Kamu berbeda sekali.” Pria itu kembali membuka suara, tampak tidak peduli dengan peringatan Vanilla.
Mendengar itu, Vanilla menghentikan gerakan tanganya di atas papan ketik. Ia menoleh dan menatap Joshua yang tersenyum dan tampak senang mengejeknya. “Berbeda bagaimana?”
“Saat siaran kamu begitu ramah dan menyenangkan. Sedangkan aslinya, begitu menakutkan.”
“Jangan menggangguku.” Vanilla memperingatkan kembali, saat mendengar apa yang dimaksud pria itu.
Joshua melirik jam analog di pergelangan tangannya lalu berdiri. Ia menghampiri gadis itu dan berdiri di sebelah mejanya. Ia melirik laporan yang sedang dikerjakan Vanilla.
“Kamu berani di sini sendirian?” Joshua masih berdiri di samping meja saat mendengar gadis itu mendengus.
“Tentu saja. Aku bukan penakut.” jawab Vanilla dengan nada lantang. Joshua menggangguk lalu mulai berjalan menjauh.
“Aku pernah mendengar dari beberapa security yang suka jaga malam, kalau di lantai ini sering terdengar wanita menangis dan anak-anak tertawa.” Joshua mengatakan itu dengan nada lirih.
Vanilla menghentikan gerakannya. Ia terdiam, meneguk salivanya. Ia tidak tahu kebenaran kata-kata Joshua, tapi ia tidak bisa memungkiri kalau bulu kuduknya berdiri karena kalimat pria itu.
“Jangan menakut-nakutiku.” Ia menoleh dan menatap Joshua dengan tatapan menantang. Saat ia mencoba menunjukkan tampang beraninya, Joshua justru terkekeh ringan.
“3…2…” Joshua menghitung mundur, “1…” tepat saat ia mengatakan itu, seluruh lampu di lantai itu padam. Keadaan mendadak menjadi gulap gulita. Cahaya satu-satunya berasal dari komputer Vanilla yang masih menyala.
Vanilla menjerit. Ia langsung berdiri dan berlari menyusul Joshua saat gelap menyelimutinya. Ia sempat menabrak ujung meja namun tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berlari hingga akhirnya menabrak tubuh tegap pria itu.
Tubuh Vanilla menegang saat menyadari ia berada di atas tubuh pria itu. Perlahan ia membuka kedua matanya dan mata serupa jelaga itu langsung menyapanya. Posisi mereka yang sangat dekat membuat Vanilla bisa merasakan napas hangat pria itu.
“Cepat berdiri… kamu pikir tubuhmu tidak berat?” sentakan itu menyadarkan Vanilla. Ia berdiri dari posisinya dan mengusap bagian tubuhnya yang nyeri karena menabrak ujung meja.
“Kamu kenapa?” Joshua bertanya saat menyadari bahwa respon gadis itu terhadap gelap sangat berlebihan. Ia mengusap celananya yang baru saja mendarat di lantai keramik itu.
“Aku takut gelap.” Vanilla tanpa sadar berada terlalu dekat dengan Joshua hingga lengan mereka bersentuhan.
“Kemari.” Vanilla termenung saat merasakan lengan Joshua melingkar di pundaknya. Pria itu menuntunnya kembali ke mejanya. “lain kali, kamu harus menelepon teknisi di lantai empat kalau ingin lembur. Biasanya jam segini mereka memang secara serentak mematikan lampu kecuali yang menelepon untuk lembur.” papar Joshua.
“Duduklah, aku akan menelepon sebentar.” Vanilla duduk sementara Joshua memindai mejanya dengan bantuan cahaya yang keluar dari komputer di meja gadis itu. “Apa di mejamu tidak ada telepon?” Vanilla hanya menggeleng pelan, ia memegang pinggiran kemeja pria itu. “biarkan aku mencari telepon. Kamu diam saja di sini.”
“Jangan tinggalkan aku.” Vanilla melirih. Joshua harus tahu betapa bencinya ia pada gelap.
“Ayolah, aku hanya ke ujung ruangan mencari telepon. Jangan berisik atau kamu akan membangunkan penghuni ruangan ini.” kalimat itu membuat Vanilla semakin mencengkeram kemeja pria itu.
Joshua menghela napas. “kamu mau melanjutkan pekerjaanmu atau tidak? Kalau tidak lebih baik kita pergi dari sini.” kata Joshua akhirnya.
“Tanggung… tinggal sedikit lagi.” katanya dengan suara bergetar.
“Kamu bisa melanjutkannya besok.”
“Tapi data itu akan dipakai untuk meeting besok pagi.”
“Kamu bisa datang lebih pagi.” Joshua memberi saran. Ia menatap Vanilla yang tampak berpikir.
Vanilla akhirnya mengangguk. Ia sudah dalam keadaan tidak mood melanjutkan pekerjaannya sehingga memilih untuk mengikuti saran pria itu. Ia buru-buru menyimpan pekerjaan di komputernya lalu mematikan perangkat itu. Setelah itu ia membereskan barang-barang pribadinya dan menyantelkan tali tas ke sebelah bahunya.
Joshua menyalakan flashlight dalam ponselnya untuk menerangi jalan keduanya sampai di depan lift. Vanilla masih menarik pinggiran kemeja Joshua karena takut tiba-tiba pria itu berlari dan meninggalkannya.
Saat masuk ke lift yang bercahaya, Joshua baru tahu betapa ketakutannya gadis itu. Wajah gadis itu benar-benar pucat. Gadis itu melepas pegangannya lalu berdiri agak jauh setelah tidak merasa takut lagi.
“Apa lihat-lihat?” Vanilla mengatakan itu saat melihat Joshua menatapnya dan tampak mengulum senyum. Joshua menggeleng.
Joshua memberi jarak semakin lebar dari Vanilla saat melihat pintu lift berhenti dan terbuka. Dua orang karyawan masuk dan menunduk saat melihatnya. Joshua hanya mengulas senyum tipis lalu melirik Vanilla yang berada di sisi lift yang berlawanan dengannya. Gadis itu menunduk dan menatap kakinya sendiri.
Dua orang yang baru saja masuk turun di lantai tiga, meninggalkan Joshua dengan Vanilla di kotak besi itu.
“Jangan lakukan itu lagi.” kata Joshua saat lift sudah mulai kembali merangkak turun.
Vanilla menoleh dan menatap pria itu dengan raut wajah kebingungan.
“Kamu memelukku dan hampir menciumku.” Joshua mengatakan itu dengan raut wajah tenang sementara rona merah mulai merambat di pipi Vanilla.
“Aku tidak sengaja.” kata Vanilla. Menolak tuduhan pria itu seakan-akan ia sengaja menabrak tubuh laki-laki itu dan hampir menciumnya karena jarak mereka yang sangat dekat.
“Tetap saja. Kamu hampir mencuri cium dariku.” Joshua mengulum senyum saat Vanilla menatapnya dengan raut wajah kesal yang sangat ketara. Sepertinya gadis itu benar-benar ingin memberitahunya bahwa ia sangat kesal dengan kata-katanya.
“Aku minta maaf.” kata itu akhirnya keluar dari mulut gadis itu. Ia kembali menunduk dan menatap sepasang flatshoes yang menghiasi kakinya.
“Aku akan memaafkanmu jika kamu biarkan aku mengantarmu siaran.” Joshua kembali menutup pintu saat pintu itu terbuka di lantai dasar.
“Aku bisa pergi sendiri. Aku sudah terlalu sering menyusahkanmu.” kata Vanilla saat melihat lift mulai turun ke basement.
“Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak merasa disusahkan, kecuali kamu mencoba mencuri lagi dariku.” Mendengar itu, Vanilla menginjak kaki kanan Joshua tapi malah membuat pria itu tertawa. Keduanya keluar dari lift dan menyusuri basement yang sepi.
“Ayo.” Joshua membukakan pintu penumpang belakang dan mempersilakan gadis itu untuk masuk.