“Vanilla, aku sudah ada di depan rumahmu, tapi sepertinya kosong. Apa kamu tidak ada di rumah?” suara di seberang terdengar panik. Ia lupa memberi kabar kalau ia menginap kemarin. Tidak, Aditya yang sejak kemarin tidak ada kabar.
“Aku tidur di kantor semalam. Kamu ke mana saja? Aku mencoba menghubungimu dari siang tapi ponselmu tidak aktif.” kata Vanilla dengan nada mengeluh.
“Maaf. Aku akan menjemputmu di sana. Bye sayang.” Setelah mengucapkan salam dan menutup panggilan, ia melempar ponselnya ke ranjang lalu kembali mematut diri di cermin. Ia membuka matanya lebar-lebar, mencoba menahan kantuk karena hanya tidur kurang dari empat jam. Setelah memastikan penampilannya rapi, ia keluar dari kamar dan menyantelkan tali ransel ke sebelah bahunya.
Buat yang sudah siap-siap untuk berangkat sekolah, berangkat kerja, maupun yang sudah bermacet-macet ria dijalan. Yoga dan Dania bakal menemani kamu dengan lagu-lagu yang kalian boleh request di 087880490175 atau telpon ke 021-7655222.
Vanilla masuk ke dapur dan langsung disambut oleh suara temannya yang keluar dari pengeras suara yang ada di sana.
“Selamat pagi.” Sebuah senyum menyambutnya.
“Pagi.” balasnya sambil tersenyum.
Vanilla mengobrol ringan dengan beberapa temannya yang tengah berada di dapur dengan sepotong roti di tangan kanannya, sambil menunggu kedatangan Aditya. Vanilla sangat jarang ada di sana saat pagi sehingga ia sangat senang berkumpul dengan teman-temannya pagi itu. Mereka membicarakan banyak hal. Mengenai kantor, gosip terhangat atau apapun yang sedang viral di media sosial.
Di tengah obrolan, ponsel Vanilla berdenting. Ia mengambil ponsel yang ia taruh di atas meja dan membaca pesan yang masuk. Pesan itu dari Aditya dan pria itu bilang bahwa ia sudah ada di depan. Vanilla pamit pada teman-temannya dan berjalan mendekati pintu utama.
Mata Vanilla memicing saat melihat pria itu mengendari motor yang berbeda dari biasanya.
Aditya memberinya sebuah senyum tipis saat Vanilla mendekat.
“Motor siapa?” Gadis itu bertanya saat ia sampai di depan pria itu.
“Motor teman. Ayo naik.” kata Aditya sambil menyerahkan helm pada gadis itu.
Vanilla merasa ada yang berbeda dari pria itu. Dan benar saja, selama perjalanan, Aditya lebih banyak diam dengan raut wajah yang terlihat gusar. Ia telah berusaha membuka obrolan namun pria itu menjawabnya dengan singkat. Saat ia menanyakan apakah sesuatu yang buruk terjadi, pria itu menggeleng dan bilang bahwa semua baik-baik saja.
Meski menyerah, Vanilla jelas tidak percaya begitu saja. Ia mengenal Aditya dengan baik dan tahu saat pria itu dalam keadaan tidak baik. Pria itu bukan tipe orang yang pintar menyembunyikan perasaannya. Raut wajah pria itu sudah cukup memberitahunya bahwa pria itu dalam masalah. Vanilla hanya perlu menunggu hingga pria itu siap menceritakan masalahnya. Pria itu mungkin perlu waktu.
***
Aditya duduk di depan kedua orangtuanya. Ia menatap wajah kedua orangtuanya yang menatapnya dingin tanpa ekspresi. Ia tahu bahwa cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Ia tahu bahwa perjodohannya dengan Tasya adalah sesuatu yang serius dan kedua orangtuanya tidak akan pernah menerima apapun alasan penolakannya.
“Kamu sudah punya pilihan? Kamu hanya tinggal pilih masa depanmu.” Suara ayahnya menggema dalam keheningan. Meminta Aditya memilih salah satu pilihan yang sudah ia tawarkan. Aditya memilin jari-jarinya. Ia kebingungan. Ia tahu bahwa pilihan itu sangat berat dan ia tidak ingin memilih.
Tapi, ia harus memilih. Kedua orangtuanya tidak akan membiarkan ia memiliki keduanya. Ia menarik napas lalu mengeluarkan dompet dari sakunya dan menaruhnya di atas meja. Tak cukup, ia juga mengeluarkan kunci mobil dan kunci motornya.
“Aku mencintai Vanilla dan tidak akan meninggalkannya.” lirihnya. Ia bisa melihat mata kedua orangtuanya membulat. Ibunya bahkan menggertakkan giginya karena tidak menyangka bahwa ia akan memilih Vanilla dan meninggalkan semua yang ia punya.
Ibunya marah dan memberitahunya bahwa ia akan menyesal dengan keputusannya. Ibunya bilang bahwa Vanilla tidak akan mau menerimanya lagi karena ia sudah tidak memiliki apapun. Ibunya bilang bahwa Aditya tidak akan sanggup hidup tanpa fasilitas yang selama ini memanjakannya.
Ia menjauh dari hadapan kedua orangtuanya. Takut akan berubah pikiran. Takut kalau ternyata cintanya akan kemewahan lebih besar daripada cintanya pada Vanilla. Ia tidak tahu akan menyesali keputusannya atau tidak. Tapi yang jelas, ia mencintai Vanilla dan tidak ingin kehilangannya. Tapi apa ia siap? Apa ia siap meninggalkan semua kemewahannya demi Vanilla? Apa ia bisa hidup tanpa semuanya mulai hari ini?
***
Aditya sadar ia tidak bisa menyembunyikan keadaannya dari Vanilla. Ia harus memberitahukan gadis itu bahwa ia kini sudah tak mempunyai apapun. Ia perlu tahu apakah gadis itu akan tetap bersamanya atau tidak.
“Aku sudah tidak punya apa-apa lagi, Vanilla.” kata Aditya akhirnya. Ia menoleh pada Vanilla dan mengambil kedua tangan gadis itu. Mereka sedang sarapan di sebuah kedai tak jauh dari kantor Vanilla.
“Maksudmu?” Vanilla bertanya dengan nada kebingungan.
Pria itu mengeratkan genggamannya dan menatap Vanilla dalam-dalam. “Orangtuaku menyuruhku memilihmu atau wanita yang dijodohkan denganku. Aku memilihmu dan mereka mencabut semua fasilitas dariku. Mobil, motor, credit card dan yang lainnya.” jelas Aditya akhirnya. Gadis itu perlau tahu bagaimana keadaannya sekarang.
Vanilla terdiam. Sama sekali tidak menyangka bahwa kalimat itu yang akan keluar dari mulut Aditya. Dilihatnya wajah Aditya yang tampak gelisah sejak tadi. Ia tidak tahu bahwa pria itu baru saja mengambil keputusan yang begitu besar di hidupnya. Dan pria itu memilihnya.
Ia tahu tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Ia senang tapi juga sedih. Ia senang karena Aditya menunjukkan bukti cintanya. Namun ia sedih karena pria itu harus kehilangan semua kemewahan dalam hidupnya karena dirinya.
“Kamu tidak akan meninggalkanku jika aku seperti ini kan?” Aditya bertanya. Ia perlu tahu bahwa semua yang ibunya katakan sama sekali tidak benar. Ia yakin Vanilla bukan gadis itu seperti itu, namun ia perlu diyakinkan lebih lagi.
Vanilla menggeleng pelan. “Tidak akan. Aku sama sekali tidak peduli dengan hartamu. Aku hanya butuh kamu.” kata Vanilla dengan nada meyakinkan.
Menurutnya, tidak ada yang bisa membuatnya bahagia selain Aditya. Ia tidak akan menyesali apapun walau pada kenyataannya Aditya sudah tidak memiliki apa- apa lagi. Ia terbiasa hidup susah, ia tidak pernah melihat pria dari berapa harta yang ia punya. Ia tidak peduli jika Aditya masih belum bisa menghasilkan uang karena masih melanjutkan program S2nya.
Ia terbiasa hidup sendiri, yang ia inginkan hanya mempunyai pasangan hidup yang mencintainya. Dan ia tahu Aditya adalah orang yang tepat.
“Mulai besok aku tidak bisa mengantarmu. Tapi aku janji akan mengabarimu.” Vanilla mengangguk sambil tersenyum. Ia mengerti. Ia akan mengerti keadaan pria itu setelah pria itu menjelaskan semuanya.
“Tidak apa-apa. Apa kamu bisa membiasakan diri hidup seperti ini?” Vanilla bertanya. Aditya terdiam, menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Vanilla tahu ini bukan hal mudah untuk Aditya. Ia terlahir dengan kemewahan dan dibiasakan bergelimang harta. Ia yakin Aditya membutuhkan waktu untuk melakukan segala penyesuaian.
“Aku akan mencoba.” jawabnya. “besok aku akan mencoba mencari pekerjaan. Sepertinya aku akan banyak belajar darimu.” pria itu tersenyum kecut. Menunjukkan wajah getir karena seperti sulit menerima kenyataan.
***
Esok harinya, Vanilla mampir ke tempat laundry sebelum berangkat ke kantor. Ia ingin mengambil jas milik Joshua dan berniat mengembalikannya hari ini. Walaupun ia ragu apakah bisa bertemu dengan pria itu atau tidak, karena ia tidak tahu apakah jabatan pria itu di kantornya.
Vanilla memasuki pintu utama kantornya dan tersenyum pada resepsionis yang berdiri di balik meja besar di lobi. Langkah kaki membawanya ke lift yang ada di ujung ruangan. Ia berdiri di depan kotak besi itu setelah menekan tombol ke atas.
“Kamu terlihat jauh lebih baik.” Vanilla menoleh dan mendapati Joshua berdiri di belakangnya. Tepat saat itu, pintu di depannya terbuka. Keduanya masuk ke dalam kotak besi itu dan berdiri sejajar.
“Kebetulan sekali. Ini jasmu. Terima kasih.” Gadis itu mengulurkan paper bag dalam tangannya saat pria itu menekan tombol angka empat belas.
“Kamu ke lantai berapa?” tanya pria itu setelah ia mengambil kantong yang diulurkan Vanilla.
“Sembilan.”
“Accounting atau finance?”
“Accounting. Dan kamu? Lantai empat belas, ruang apa di sana?” Vanilla bertanya saat kotak besi itu masih merangkak naik.
“Kamu boleh mampir kalau kamu ingin tahu.” Joshua mengerling.
Vanilla bingung kenapa pria ini suka sekali menyembunyikan identitas dirinya. Namun ia tidak ingin memikirkan itu. Ia sama sekali tidak penasaran.
“Aku duluan… sekali lagi terima kasih.” Vanilla keluar di lantai sembilan dan meninggalkan Joshua sendirian di kotak besi itu.