“Jo…shua” Vanilla mengeja nama Joshua seperti anak kecil yang baru belajar membaca, membuat laki- laki itu terkekeh.
“Bagaimana kalau kita makan sebagai tanda perkenalan. Aku akan mentraktirmu.” Ajak Joshua dan ia sejak awal tidak meminta persetujuan gadis itu. Mereka sedikit berdebat karena gadis itu menolak. Gadis itu tidak nyaman dengan keadaannya yang setengah basah. Namun Joshua bukan orang yang bisa ditolak begitu saja.
Vanilla benar-benar tidak nyaman saat Joshua memasuki parkiran sebuah restoran mewah. Ia meraba baju dan roknya yang masih lembab. Ia berada di tempat yang salah. Ia tidak seharusnya ada di sini.
“Ayo turun.” Ia melihat Joshua yang menjulang tinggi di sampingnya setelah membukakan pintu untuknya.
“Tapi, bajuku basah.” Ia sudah keluar dari mobil dan menyadari betapa rapinya penampilan Joshua, tidak seperti karyawan kebanyakan. Ia lalu melirik dirinya sendiri dan penampilannya pasti akan memalukan pria itu.
Joshua tidak menerima alasan apapun. Ia sudah sampai di sini dan ia perlu mengisi perutnya. Ia melepaskan jasnya lalu menaruhnya di bahu gadis itu. Vanilla terdiam karena tindakan tiba-tiba pria itu.
“Ayo masuk.” perintahnya. “aku lapar.”
Setelah berpikir, Vanilla akhirnya mengekori Joshua yang sudah berjalan lebih dulu. Pria itu berjalan dalam diam. Setelah berbicara dengan pelayan yang menyambut mereka saat mereka memasuki restoran, pelayan itu mengantar mereka ke meja yang kosong.
Vanilla menyadari beberapa pasang mata sempat melirik ke arahnya. Bukan… bukan ke arahnya tapi ke arah Joshua. Vanilla baru benar-benar menyadari bahwa pria itu sangat tampan. Tidak heran beberapa orang sempat menoleh dua kali saat melihat pria itu.
“Kamu mau pesan apa?” Joshua bertanya saat mereka sudah menempati satu meja dan pelayan memberikan dua buku menu. Saat Joshua sudah mulai membolak-balik buku menu, Vanilla tidak melakukannya. Ia duduk dengan rasa tidak nyaman.
“Terserah.” Vanilla bergerak gelisah dibangkunya. Ia melihat sekeliling dan menemukan bahwa orang-orang memakai pakaian rapi sedangkan dirinya, pasti tampak kumal dengan rambut yang setengah basah dan pakaian yang lembab.
Joshua memanggil pelayan dan memesan. Setelah pelayan meninggalkan meja mereka, Joshua menatap gadis di depannya. “kenapa?” Joshua bertanya karena melihat gadis itu tampak tak nyaman di kursinya.
“Aku hanya merasa berada di tempat yang salah?” gadis itu menautkan jari-jarinya di bawah meja. Mencoba setenang mungkin. Restoran ini begitu elegan. Dihiasi oleh lampu-lampu gantung mewah dan tirai-tirai coklat muda yang membuat nyaman. Para pelayannya pun berpakaian rapi. Vanilla tidak dapat membayangkan berapa harga satu porsi makanan disini.
Joshua tersenyum kecil, “Kamu seperti kucing….” Joshua menggantungkan kata-katanya. Vanilla menatapnya heran. “yang baru saja jatuh ke sungai.” Joshua terkekeh, membuat Vanilla berdecak kesal. Ia menggertakkan giginya dan menatap tajam ke arah Joshua yang masih terkekeh
“Aku hanya bercanda. Jangan pedulikan mereka. Mereka hanya akan menatapku yang tampan ini. Tidak akan ada yang menatapmu.” Sejak detik itu, Vanilla benar-benar sadar ia tidak akan pernah menyukai pria itu.
Seorang pelayan membawakan pesanan mereka dan langsung menatanya di meja makan. Air liur Vanilla hampir saja tumpah mencium aroma yang lezat itu. Vanilla menatap dua buah plate berisi steak dan berbagai macam makanan pelengkapnya.
“Ayo makan sebelum air liurmu benar-benar jatuh.” Vanilla buru-buru mengelap sudut bibirnya dan mengamati Joshua yang sudah mulai mengambil garpu dan pisaunya. “tidak usah malu-malu, aku tahu kamu lapar.” tambahnya.
Vanilla menyerah dan mulai mengikuti gerak Joshua. Mereka makan dalam diam dan Vanilla mengagumi cara makan Joshua yang begitu elegan. Melihat bagiaman Joshua berpakaian, ia tahu bahwa pria itu bukan sekadar karyawan biasa. Pria itu pasti punya jabatan di kantor itu.
Vanilla menutup makannya dengan meneguk segelas lemon teanya hingga tersisa setengah. Makanan itu terasa sangat memanjakan lidahnya dan membuat perutnya kenyang.
Ia melirik jam tangannya dan terkejut melihat jam menunjukkan hampir setengah sembilan malam. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan kembali mengontak Aditya. Masih tidak aktif. Ia tidak sadar kalau mengucapkannya kalimat itu keras-keras. Ia mencoba menghubungi pria itu sebelum pulang dan nomor pria itu tidak aktif. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Aditya karena ia tidak pernah seperti itu sebelumnya.
“Kenapa?”
“Aku sedang menghubungi pacarku. Mungkin saja dia bisa menjemputku. Tapi nomornya tidak aktif seharian ini.” Vanilla menjawab sambil mencoba mengirim pesan pada Aditya yang jelas tidak langsung terkirim.
“Bagaimana bisa kamu menyebutnya pacar jika dia membiarkanmu dalam keadaan seperti ini. Kehujanan hingga akhirnya makan malam bersama laki-laki lain.” Vanilla langsung tersentak dan melihat seringai di bibir Joshua. Benar kata pria ini. Tapi bukan Aditya, tapi dirinyalah yang salah. Bagaimana mungkin dia bisa segampang itu diajak makan oleh orang yang baru dikenalnya. Apa kata Aditya kalau sampai dia tahu?
Setelah Joshua mengeluarkan kartu keemasan untuk membayar. Ia dan Joshua berjalan beriringan ke parkiran. Ia merasa lega karena hujan sudah mulai reda, hanya menyisakan tetesan- tetesan yang tidak seberapa. “Aku akan mencari angkutan dari depan sana.” Vanilla menunjuk keluar resto tempat mobil berlalu-lalang.
“Apa kamu tahu ini di mana?” mereka masih berdiri di samping mobil mewah Joshua. Vanilla menggeleng pelan.
“Aku bisa naik taksi.” Vanilla mencoba meyakinkan. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa takut pada pria itu. Ia hanya tahu nama pria itu Joshua, dan yang lain? Tidak ada. Dia tidak tahu apa-apa tentang pria itu. Bagaimana kalau pria itu berniat jahat?
“Aku akan memastikan kamu akan sampai tujuanmu dengan selamat.” Joshua sudah membuka pintu penumpang belakang dan melihat Vanilla masih bergeming di tempatnya.
“Bagaimana aku bisa percaya? Aku tidak tahu siapa kamu.”
“Kau tahu aku Joshua.” Pria itu berkacak pinggang.
“Hanya nama? Aku tidak pernah tahu apa kamu benar-benar karyawan di sana atau bukan. Mungkin saja kamu orang yang suka menyelinap dan …”
“Berniat menculikmu?” Joshua melanjutkan kata-kata Vanilla, lalu tertawa keras. “dasar bodoh. Apa kamu tahu kalau perusahaan itu perusahaan besar dan punya tingkat keamanan yang tinggi. Mereka tidak mungkin membiarkan orang tidak dikenal berkeluyuran di dalam kantor itu.” ujarnya. “kamu tidak perlu tau aku siapa. Yang jelas aku tidak mempunyai niat buruk sedikitpun. Justru aku takut kalau kamu tidak bisa pulang, lalu menangis dan mengomeli semua orang yang kamu temui dijalan.”
Vanilla menelan ludah. Mengingat kejadian bodoh saat ia kabur dari pesta dan bertemu Joshua. Jika wajahnya bisa lebih merah lagi, itu bisa menunjukkan betapa malunya ia akibat kejadian itu.
***
“Berhenti di gerbang putih.” Vanilla menunjuk sebuah rumah bertingkat yang dijadikan stasiun radio. Ia mulai melepaskan jas Joshua dan langsung keluar dari mobil saat kendaraan roda empat itu berhenti di depan gerbang.
“Kamu tinggal di sini?” Joshua mengamati palang bertuliskan channel stasiun radio di salah satu sisi rumah itu.
“Tidak, aku siaran di sini.” Gadis itu mundur selangkah melihat Joshua ikut keluar dari mobilnya dan berdiri di depannya.
“Siaran?” Vanilla mengangguk. “jam berapa?” Joshua menyandarkan tubuhnya di pintu mobil dan melipat kedua tangannya di d**a.
“Biasanya dari jam delapan sampai jam sebelas malam. Tapi berhubung hari ini hujan dan aku tidak mungkin sampai di sini tepat waktu, aku menggeser jamnya dengan temanku. Dari jam sebelas sampai jam dua pagi.”
“Lalu kapan kamu tidur?” Joshua menatap gadis itu dengan tatapan tidak percaya.
“Jam tidurku bukan urusanmu.” ujar Vanilla.
Joshua mengangguk, “Oke. Sampai besok.” kata Joshua. Pria itu sudah membuka pintu mobilnya saat Vanilla memanggilnya.
“Jas-mu?” ia menyerahkan jas yang sudah terlipat rapi itu kearah Joshua.
“Kamu boleh membawanya.”
Mungkin maksudnya adalah aku harus mencucinya dulu. Pikirnya Vanilla. “Terima kasih atas tumpangan dan makan malamnya.” Gadis itu menunduk sambil tersenyum. Ia jelas merasa lega karena pria itu benar-benar menepati janjinya untuk mengantaranya sampai tujuan.
***
Joshua keluar dari kamar mandinya dan langsung menyesap teh hangat yang ada di meja. Ia menjatuhkan diri, meraih ponsel dan earphonenya. Ia menutup kedua lubang telinganya dan mulai membuka menu radio dalam ponselnya.
Siaran jam segini? Siapa yang mendengar? Buang-buang waktu saja. Katanya dalam hati. Ia mulai mencari channel dan mendengar suara di seberang yang entah kenapa mulai ia hapal.
Vanilla masih bakal menemani kalian yang berniat begadang untuk belajar, mengerjakan tugas atau mungkin sedekar insomnia. Kalian boleh menceritakan hal menarik apa yang terjadi sama kalian hari ini. Kalian bisa kirim sms ke 087880490175 atau telpon ke 021-7655222. Suara lagu mulai terdengar, menenggelamkan suara merdu Vanilla. Ia mendengarkan sambil tersenyum. Ternyata dia cerewet juga, pikirnya. Dan masalah pendengar, dia salah besar. Hampir pagi-pun sms dan telepon masih banyak yang masuk dan gadis itu dengan sabar membacakan dan mendengarkan keluhan setiap orang. Saat jam menunjuk pukul hampir jam dua pagi, gadis itu menutup acaranya.
Terima kasih yang sudah turut berpartisipasi mengirimkan sms dan mengobrol di line telepon. Dan besok, Vanilla bakal kembali ke jadwal semula di-jam delapan sampai jam sebelas malam. Selamat pagi dan sampai jumpa.
Joshua tersenyum dalam keremangan kamarnya. Masih tidak menyadari bahwa ini sudah hampir pagi. Ia terlalu asik mendengarkan gadis itu mengoceh, menikmati tiap kata yang keluar dari bibir gadis itu, menikmati tawanya yang begitu lepas tanpa beban. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis cerewet itu adalah gadis yang ditemuinya tadi karena ia terlihat berbeda.
***
Vanilla keluar dari ruang siaran dan langsung menuju ke lantai atas. Ia memasuki sebuah kamar yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dibuat tidur. Dalam kamar itu, hanya ada sebuah ranjang kecil, sebuah lemari pakaian dan sebuah meja dan kursi di sudutnya. Di ruangan itu juga ada sebuah jendela besar yang langsung mengarah ke jalan.
Lantai itu punya beberapa kamar yang biasa dijadikan tempat beristirahat. Ia menjatuhkan diri di ranjang dan menoleh, menatap jas Joshua yang terlipat di samping bantalnya. Ia meraih dan mencium parfum maskulin pria itu. Ia menghirup semakin dalam karena merasa mengenali aroma itu.