Aku telah menghilang dari semua jarak pandang yang ingin kamu ciptakan. Aku selalu bersembunyi di tempat terbaik agar tidak lagi menatap mata berbinarmu yang mematikan detakku. Aku selalu mencari alasan untuk tidak merindukanmu, bahkan meski terlalu menggebu untuk diredam. Entah sudah berapa bulan aku lakukan itu.
Saat semua temanku sibuk mencarimu, menemuimu, memberimu selamat atas gelar sarjana dan memberimu selamat atas bertambahnya usiamu, aku hanya diam tanpa melakukan apapun. Ketika kamu berusaha menghubungiku, mengucapkan selamat ulang tahun padaku, aku bahkan berusaha tidak acuh pada yang kamu sampaikan. Aku telah benar-benar memutuskan untuk menghilang, berdamai dan/atau melupakanmu.
“Ta, kemarin dicari Mbak Dara. Kenapa sih, nggak pernah mau menemui Mbak Dara? Aku pikir semua orang di sini sayang sama Mbak Dara. Ternyata cuma kamu yang omong kosong!” celetuk Risa ketika kami semua sedang bersendagurau di sela rapat penentuan jadwal latihan.
Bungkam, menghela napas panjang.
Teruntuk Risa, sahabat baruku di masa SMK. Bahkan rasa sayangmu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa yang kamu punya. Bagaimana bisa kamu menghakimiku semacam itu? Aku menghindar tentu dengan alasan, bukan tanpa alasan.
“Ris, Ris, nggak usah sok tahu!” Fikri yang menanggapinya. “Ada sesuatu yang belum kamu mengerti dalam hal ini.”
“Apa?” Risa penasaran.
“Nggak apa-apa,” seruku menghela napas.
“Aku tahu,” sambar Febri, teman satu jurusanku.
Kami semua menoleh pada Febri.
“Caramu jatuh cinta, caramu patah hati, dan caramu lari untuk penyembuhan itu cara paling basi yang dilakukan semua orang, paling tidak, pernah dilakukan.”
Aku justru tidak paham.
“Nah!” Fikri yang paling sejalan. “Caranya jatuh cinta itu lurus saja, dan jelas. Iya kan, Feb?”
Febri mengangguk. “Caranya dia pergi untuk melupakan pun jelas. Kamu boleh tidak banyak berbagi cerita denganku, Ta. Tapi aku ini tidak bodoh-bodoh amat untuk menilai. Sejak kapan jatuh cinta sama Mbak Dara?”
“Hah?” Risa, Yahya, Nandar, dan semua teman seangkatanku di Patriakara, kompak.
Aku memejamkan mata. “Siang bolong memang paling asyik omong kosong!” kataku sedikit menggeser posisi dudukku.
Maksudku, aku ini sedang berusaha menjauh dan/atau melupakanmu, tapi kenapa harus diungkit lagi perihal waktu jatuh cintaku? Itu semua sudah habis, sudah habis masanya dan terganti oleh masa patah. Biarkan rasanya itu enyah, dan biarkan aku berdamai dengan caraku.
“Sumpah aku gemeteran!” Risa menatap jari-jemarinya sendiri. “Kamu seriusan, Ta?”
“Nggak!”
“Ya, lebih baik jujur dan kita semua akan membantu. Daripada kamu terus menghindar sendirian, Ta,” usul Fikri.
Tetap saja aku memilih untuk bungkam.
“Jadi kamu beneran oedipus complex, Ta?” tanya Nandar.
“Mbak Dara juga nggak setua itu, Nan,” balasku membuat yang lainnya menjadi bungkam.
Ya, sekarang mereka tahu perasaanku padamu, Mbak. Bukan aku malu atas perasaanku, aku hanya malu pada mereka karena mencintai perempuan yang sudah menjadi tunangan orang lain. Aku hanya malu karena selama ini aku memilih bungkam.
“Oke, setelah ini kita akan cari alasan setiap kali Mbak Dara mencarimu,” ucap Risa membuatku lega.
Entah, katanya mereka selalu mengatakan yang aneh-aneh selama ini. Katanya mereka juga membenciku karena jarang datang ke lapangan tenis, terlebih jika ada kamu. Aku jarang berkumpul dengan mereka dan lebih banyak menghindar. Sekarang mereka tahu alasannya dan mereka tahu bagaimana caranya membantuku.
Lalu, sekian hari kemudian aku menolak datang ke lapangan tenis lagi, tempat kami biasa berlatih. Teman-temanku mengerti, tak ada yang protes satupun. Mereka justru membuat alibi bahwa aku sedang mengikuti les tambahan untuk persiapan ujian tahun depan, padahal aku hanya berolahraga di GOR RM Said. Tetapi, ternyata hari ini kamu berpamitan, katanya kamu pindah ke Yogyakarta, ada pekerjaan sebagai editor di salah satu penerbit di sana. Semua mengucapkan kata pamit dan sampai jumpa lagi, kecuali aku.
“Mbak Dara kangen sama kamu, katanya pengen pamitan, ditelepon juga nggak pernah diangkat, malah semalam sudah tidak bisa lagi dihubungi. Kita sampai bingung harus gimana sama Mbak Dara, Ta. Mau bilang kalau nomor teleponmu ganti juga pasti dia minta yang baru, mau bilang kalau kamu jatuh cinta sama dia juga tidak memungkinkan. Jadi kami bilang kalau kamu memang sudah jarang peduli dengan Patriakara,” jelas Risa ketika teman-teman yang lain menemuiku di GOR usai latihan dan menerima kata pamitmu.
“Harusnya kamu temuin Mbak Dara hari ini, Ta. Mbak Dara datang ke kehidupan kita dengan baik-baik tapi kamu pergi tanpa pamit. Iya, aku tahu kamu yang paling terluka dalam kisah ini, tapi kan, lebih baik lagi kalau kamu juga megucapkan pamit. Toh, setelah ini Mbak Dara nggak ke sekolah lagi, sibuk sama kerjaannya di Jogja,” tutur Febri.
Fikri menghela napas. “Aku tuh nggak kurang-kurang nasihatin dia, tapi sudah nggak bisa.”
Air mata bening itu mengalir tanpa aku sadari. “Kalian nggak akan ngerti rasanya jadi aku karena kalian tidak pernah di posisiku. Aku merasa gila karena jatuh cinta dengan perempuan yang 5 tahun lebih tua dariku, aku merasa sangat kerdil ketika ingin memilikinya, dan aku harus patah karena aku hanya mikroba yang tak nampak di mata burung Cendrawasih. Perasanku sendiri saja sudah menyiksa.”
Risa mengusap punggungku. “Ya, sudah. Mbak Dara sudah pergi, belajar move on sekarang.”
Aku mengangguk saja. “Gila, baru Dara Laksmi Sasmita perempuan yang membuatku menangis selain Ibu. Kenapa jadi cengeng banget sih, aku? Ha ha ha,” tawa kecil mengubur pilu. “Ris, kenalin aku ke temen cewekmu dong!”
Semua yang awalnya mengikuti tawaku jadi menoleh heran padaku.
“Aku mau jadi playboy.”
“Ha?” semua kompak.
“Iya, laki-laki playboy tercipta dari laki-laki baik yang tersakiti.”
“Panas nih anak!” Fikri menepuk dahiku.
“Dan aku mau daftar tentara, ayo, Fik!”
“Ha?” Fikri tak menyangka. Mungkin dia kaget tiba-tiba sahabatnya ini memiliki cita-cita.
Kata orang, cara move on terbaik bukanlah melupakan tetapi berdamai dan bertemu orang lain. Bukankah tepat jika aku bertemu banyak perempuan agar aku dapat berpindah dari alamatmu? Jika suatu saat aku menemuimu dan aku telah berdamai dengan semuanya, jangan mencoba untuk menasihatiku perihal kesetiaan, karena jika itu terjadi, aku akan mendongengkan ulang apa yang membuatku menyukai banyak perempuan. Kuharap kamu memahamiku, Mbak, kamu yang membuatku terkesan jahat.