Playboy Berseragam

1774 Kata
Usai menerima sakitmu, kemarin aku resmi dilantik sebagai anggota TNI pada kecabangan Infanteru bersama Fikri. Aku tak menyangka jalan hidup kami benar-benar sama, lebih dari 16 tahun kami bersama, sekolah bersama dan ada di pekerjaan yang sama. Mungkin yang berbeda adalah kisah cinta kami dan penempatan tugas kami nantinya. Perjalanan cintanya aman-aman saja, pacaran sejak dia masuk SMK hingga saat ini tak banyak kendala, terlebih tak ada angka lima di antara mereka sebagai pembeda. “Selamat, Ta, Fik. Kapan berangkat penempatan? Di mana, sih?” tanya Risa yang aku temui di Alun-alun Karaganyar bersama Fikri hari ini. Hanya Risa sebab yang seangkatan denganku rata-rata sudah merantau ke perusahaan besar di Karawang, Cikarang, Bekasi bahkan ada yang masuk ke pertambangan Batu Bara. Aku dan Fikri yang menjadi tentara, dan Risa yang melanjutkan sekolahnya ke jenjang strata satu. “Rabu minggu depan,” jawabku. “Aku di Depok, Yonif 328.” “Aku di Bandung, Batalyon Infanteri 330.” “Alhamdulillah. Bangga sama kalian.” Kami berdua tersenyum. Bagaimana denganmu, Mbak? Apakah kamu bangga denganku, bukan, bangga dengan kami? Kuharap kamu juga ikut berbangga, Mbak. Meskipun kamu tidak tahu bagaimana kondisi kami saat ini. Namamu sudah melejit, pengikutmu sudah ratusan ribu sekarang, sampai-sampai DM Fikri pun tak pernah kamu baca. Aku? Aku jelas tidak pernah berusaha menghubungimu. Instagramku pun aku matikan, berganti akun yang orang lain bahkan tidak tahu bahwa itu akun milikku. Bukan hanya itu, semua media sosialku tidak aktif lagi, twitter, f*******:, tidak satupun. “Kalian nggak ada niat mau temuin Mbak Dara di Jogja?” tanya Risa. “Kalau iya aku ikut. Kangen banget sama Mbak Dara.” “Mbak Dara sekarang sombong  kayanya,” balas Fikri. “DM-ku nggak dibalas.” “Mbak Dara sibuk kali, pesannya juga mungkin tenggelam. Eh tapi, nomor teleponnya ganti juga kayanya. Apa dia sudah nikah ya? Jadi sibuk kan ngurus suami, ngurus tulisannya kan mau menerbitkan buku lagi, atau ngurus anaknya, mungkin baru lahiran,” tebak Risa. Sudah setahun lebih dari hari patah hatiku, tetapi tetap saja aku merasa patah setiap kali mengingatnya. Kebetulan pun aku tidak pernah lupa. “Kalau sudah nikah kok di Instagramnya nggak pernah upload foto pernikahan, Ris?” balas Fikri. “Iya juga, ya? Kayanya memang benar Mbak Dara lupa sama kita.” Aku diam saja. Apa benar kamu lupa dengan kami? Semudah itukah otakmu mereset semuanya, padahal kami masih sangat mengingatmu. “Oh, iya. April katanya mau ketemu kan sama kamu?” tanya Risa padaku. April itu teman kuliah Risa, tetapi berbeda fakultas. Dia anak Fakultas Kedokteran sementara Risa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan. Mereka bertemu pada masa ospek, lalu Risa mengenalkannya padaku. April itu cantik, berhijab, senyum manis, bertutur kata lembut. Aku suka gayanya. “Iya, nanti sore.” “Langgeng ya, Ta.” Tersenyum tipis. Apanya yang langgeng? Bahkan tidak ada hubungan apapun antara aku dan April. Bahkan rasa yang aku paksa saja tidak tumbuh dengan baik, baru kecambah saja sudah layu, ibaratkan semacam itu. Atau lebih parahnya, baru ditanam saja sudah enggan tumbuh. Siapa lagi hama yang merusak perasaan baruku jika bukan perempuan berambut pendek dengan selisih limanya yang menjadi pembeda? Iya betul, kamu, Mbak. Padahal, aku dan April terhitung intens berhubungan. Setidaknya saling berkirim pesan ketika sempat. Menjelang sore usai menghabiskan waktu dengan Risa, kami berpisah. Aku hendak menemui April, Risa hendak pulang mengerjakan tugas kuliahnya, dan Fikri hendak menemui kekasihnya. April sudah menungguku di salah satu restoran yang tak jauh dari Alun-alun Karanganyar. Katanya dia menunggu sejak 10 menit yang lalu. Mengenakan kaos oblong warna abu, celana jeans hitam, topi hitam dan sneaker abu-abu, aku datang ke restoran itu dengan sangat gagah. Ketika duduk di hadapan April, dia langsung tersenyum dan memujiku. “Setelah menjadi tentara, ketampananmu bertama seribu persen, Ta,” pujinya dan itu tak pernah aku suka. Kenapa laki-laki bisa bertambah ketampanannya 1000% setelah menjadi tentara? Padahal tidak harus jadi tentara untuk menambah ketampanan. Iya, perempuan akan mengatakan tentara tampan karena yang dia lihat adalah saat kita dinas di batalyon atau sedang main ke tempat tongkrongan. Coba saja yang dilihat saat seorang tentara dalam misinya, aku yakin tak semua perempuan mau. Laki-laki semua sama, akan bertambah tampan ketika dia mau merawat wajahnya, sama seperti perempuan. Toh kita diciptakan dari tangan yang sama, Tuhan. Mengapa harus dibedakan ketika di dunia? Ah, intinya aku tak suka pujian April hari ini, hanya karena aku telah menjadi tentara. Sepanjang memilih menu, aku tak menggubris April. Pujiannya membuatku kecewa, jadi keinginanku untuk baik-baik padanya juga luruh begitu saja. “Ta, kita ini apa sih?” tanya April tiba-tiba setelah aku memesan. “Teman, kan?” “Apa cuma aku yang berbeda?” “Maksudnya?” Membuka ponselku berusaha tidak peduli. Beginilah aku, setiap kali bertemu orang baru, aku akan membandingkan orang itu dengan dirimu, lalu aku tak suka sendiri karena yang kutemui tak pernah seperti dirimu. “Ya, kamu minta Risa untuk mengenalkan kamu denganku, tujuannya apa?” “Nambah temen.” “Ya, nambah teman buat apa? Kamu juga bisa menjumpai banyak orang di luaran sana untuk jadi temanmu, tidak perlu harus aku atau meminta bantuan Risa.” Menghela napas. “Kamu mau bilang apa?” tanyaku langsung pada pokok permasalahannya. Sejak awal 2020, Risa selalu mengenalkan aku pada banyak perempuan. Aku juga banyak berkenalan dengan perempuan lain, dan aku hafal dengan tabiat mereka pada akhirnya. Setiap perempuan yang dikenalkan atau berkenalan denganku, pasti beberapa lama kemudian mereka bertanya, apa hubungan kita yang sebenarnya. Lalu, mereka akan mengatakan bagaimana perasaan mereka terhadapku. “Kan kita sudah dekat beberapa bulan, kita sudah sering jalan bareng.” “Tidak, bukannya sudah lebih dari 3 bulan yang lalu kita tidak jalan bareng?” “Ya, itu kan karena pendidikan infanterimu. Memangnya kamu tidak ingin memberiku kepastian?” “Menikahimu?” “Ha ha ha.” April justru tertawa. “Ya, bukanlah, Ta. Aku masih kuliah, nggak enak nikah sambil kuliah, yang ngurus anak kita siapa.” “Ya, aku juga tidak berniat menikahimu.” “Hah?” “Ya, aku tidak berniat menikahimu, Pril.” “Pacaran maksudnya, Ta!” “Pacaran itu bukan kepastian. Perempuan itu mahal, kenapa murah sekali mau diberi kepastian hanya dengan kata, ‘maukah kamu menjadi pacarku?’. Yang mahal dong, mahar dan restu orang tua!” April diam. “Lagi pula, aku masih mencintai seorang perempuan. Yang pasti bukan kamu.” Dahi April mengernyit. “Lalu apa kita ini, Ta?” sepertinya dia mulai memendungkan amarah. “Teman, kan?” “Ta, buat apa deketin aku cuma buat jadi teman?” pekik April membuat dua meja di sebelah kami menolah. “Ya, aku memang cuma mau jadi teman.” “Dasar cowok PHP!” Aku menerima u*****n apapun yang akan April lontarkan. Pertama, aku sudah terbiasa. Kedua, telingaku sudah terbiasa. Ketiga, bukankah seorang playboy memang harus begitu tabiatnya? Sana-sini memberikan harapan palsu pada siapapunn perempuan yang dia ingin dekati tetapi tidak pernah ingin dia miliki. Bukankah aku berhasil? “Kalau memang tidak mau ada hubungan yang lebih, ya jangan mendekati cewek, terus ngajak kenalan!” Tersenyum masam. “Ya, kalau nggak mau diberi harapan palsu, jangan baper dong. Nggak semua laki-laki mendekati perempuan itu untuk tujuan cinta. Memangnya kaum laki-laki nggak boleh memiliki teman perempuan?” “Hishhh! Kalau tahu kamu semenyebalkan ini, kemarin-kemarin aku nggak mau kenal denganmu!” desahnya menarik tas selempang, lalu, meninggalkan aku sendirian. Tidak perlu drama yang cukup k*****s, beberapa kali drama yang aku buat dengan perempuan-perempuan itu sama dengan drama yang baru saja terjadi. Jika Mbak Dara bertanya padaku, kenapa aku sejahat itu? Karena aku belum mampu melupakanmu. Tanpa sepengetahuanmu, kamu telah berhasil menjajah dan memperbudak jiwaku. Hari ini berakhir suram, sama seperti biasanya, pulang ke rumah, tak ada teman. Sesekali saja berbincang dengan Ibu. Tetapi terkadang pembicaraanku dengan Ibu tak jauh darimu. Entah, tapi setiap kali bertemu dengan Ibu, aku ingin selalu menceritakan berita terbaru tentangmu. Mungkin sampai Ibu bosan. Kling... Telepon dari Risa, tepat ketika aku baru saja meletakkan pantatku di atas tempat tidur. Aku yakin dia akan berceramah seperti biasanya, dengan nada lembut tetapi  sumbang untuk didengar. “Ta!” teriaknya membuatku menjauhkan ponsel dari telinga kanan. “Kamu gila ya? Lagi dan lagi, ini sudah kesekian kalinya dan aku nggak akann lagi memaklumi.” Aku diam. “Kalau memang belum bisa move on nggak usah sok minta dikenalin sana-sini. Aku udah nggak mau nasihatin kamu dengan cara yang halus. Capek aku, Ta! Berapa banyak lagi pertemananku yang harus kamu rusak? Apa sih? Katanya menemukan orang lain bisa bikin kamu lupa sama Mbak Dara, tapi kenyataannya, semua perempuan yang aku kenalkan ke kamu selalu memberikan laporan bahwa kamu masih mencintai seorang Dara Laksmi Sasmita, pelatihmu sendiri. Untung nggak pada tahu kalau Dara Laksmi Sasmita itu nama aslinya penulis ternama, Andara Sasmita. Coba kalau tahu, betapa syoknya Mbak Dara dan Mas Gayuh?” “Mas Gayuh pasti juga tahu kalau aku jatuh cinta sama Mbak Dara.” “Pakai jawab lagi! Kamu gila!” “Sudah dari dulu.” “Ta!” pekiknya. “Sumpah aku kesel banget sama kamu. Sudahlah, habis ini aku nggak akan mengenalkan perempuan manapun sama kamu, sebelum kamu benar-benar move on dari Mbak Dara. Nggak usah sok merengek, aku nggak akan tergoda.” “Ris, kan...” “b******k emang kamu, Ta!” Mataku terbelalak, menjauhkan ponsel, lalu menatapnya tak percaya. “Seorang Risa berkata kasar?” gumamku. “Iya, kamu pikir aku nggak bisa? Ha!” “Oke, Risa. Aku minta maaf. Tapi aku tidak bercanda tentang keinginanku untuk move on dari Mbak Dara.” “Move on itu tidak harus dengan menyakiti orang lain. Sudahlah, kamu itu tipe laki-laki yang setia, tidak perlu sok menyakiti banyak perempuan dan jadi jahat. Ta, kamu itu Apta Priyatama, si Komandan Peleton yang punya banyak penggemar, bukan Joker yang menjadi jahat karena tersaikiti!” Menggaruk kepalaku. “Ta, kalau memang kamu masih cinta sama Mbak Dara! Temui dia, katakan, lalu pergi. Setidaknya tak ada yang mengganjal di hatimu!” Risa sudah bukan lagi Risa yang dulu, bernada lembut meskipun terkesan cempreng, hari ini dia terlalu banyak menggebu-gebu. “Kamu gila apa? Cincinnya saja melingkar erat begitu. Mungkin juga dia sudah menikah tanpa harus menggunggah fotonya di media sosial, Ris. Aku harus lenyap, tanpa dia tahu apapun tentang perasaanku.” “Justru pergi tanpa pamitmu itu yang membuatmu selalu memikirkan Mbak Dara! Banyak yang mengganjal karena belum kamu sampaikan, beda lagi jalan ceritanya kalau sudah kamu sampaikan, Ta!” Menghela napas, dan membiarkan Risa terus menerus menceramahiku. Mbak, aku bukan tak mau mengatakan. Tetapi kenyataanya aku sudah hilang kesempatan sejak satu tahun yang lalu, lebih malah. Selain itu, aku tak mau terlihat gila di depanmu. Meskipun suatu saat kamu pasti akan tahu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN