Tuhan Menjawab

1512 Kata
Bertahun-tahun setelah aku hanya bisa menyaksikan kesuksesanmu melalui media sosial, beberapa novel tulisanmu yang mulai diadaptasi dalam bentuk web series, dan kudengar kabar wara-wirimu sebagai pembicara dalam beberapa workshop di kampus-kampus. Terakhir yang aku dengar kamu ada di salah satu penerbit mayor di Bandung, sebagai editor dan penulis tentunya. Aku bangga, pelatih baris-berbarisku masa itu kini menjadi orang besar, menjadi orang yang satu kalimatnya mampu merubah pikiran jutaan pembacanya. Hidupmu berubah begitu banyak, tetapi hidupku masih sama saja. Aku lelah, Mbak. Lelah rasanya selalu dihantui oleh perempuan sepertimu, cantik, anggun, tegas, tetapi milik orang lain. Usiaku sudah hampir 25 tahun, sudah berpangkat Sertu di tahun lalu, Ibu sudah mulai bertanya kapan pulang membawa menantu. Tetapi aku sendiri, melupakanmu saja aku tak mampu. Aku ini fakir cinta yang terlalu dermawan untukmu. Sekarang, ada satu cara yang aku pikirkan untuk sedikit melupakanmu. Atas saran dari Risa bertahun-tahun yang lalu, dia tak pernah bosan membantuku untuk berdamai dengan perasaan terhadapmu, begitupun Fikri. Bukan, bukan dengan cara mengenalkan perempuan padaku, mereka berdua sudah tidak mau mengenalkan siapapun, mereka hanya mendorongku untuk jujur. Setidaknya aku merasa lega, kemudian berjalan maju tanpa bayang-bayangmu. Jika aku harus menemuimu, mengatakan semuanya dengan bahasa retorika yang teoritis atau banyak basa-basi, aku yakin aku tak mampu. Kenyataanya, menemuimu saja aku sudah tidak mampu, apalagi harus merangkai kata indah di hadapanmu. Kupikir, kenapa tidak aku tulis saja? Maka, mulai saat ini, kisah “Untukmu Dara Laksmi Sasmita” akan aku tulis, semampuku, dan sebisaku. Aku bukan penulis hebat sepertimu, mampu membuat sebuah plot, outline ataupun kerangka pikiran seperti penulis hebat lainnya. Karena sejatinya tulisan ini tidak ditujukan untuk pembaca w*****d, Blog, Dreame, w*******l, Majalah atau apapun itu. Tulisan ini ditujukan untuk Dara Laksmi Sasmita, atau penulis dengan nama pena Andara Sasmita. “Ta,” panggil Fikri, menemuiku di barak bujangan saat aku sedang menulis tulisan ini di laptop temanku. “Aku bawa kabar baik. Sudah aku pastikan dan itu benar adanya.” Ini awal bulan September tahun 2027, ketika teknologi semakin menguasai dunia, dan perempuan berpendidikan tinggi semakin merajalela. Fikri dengan seragamnya menemuiku, senyum yang sangat bahagia, entah apa maksudnya. “Kenapa sih? Oh iya, aku sudah tahu caranya berkata jujur sama Mbak Dara. Gila, aku juga pengen nikah, nggak cuma bisa mencintai istri orang!” “Cara apa?” tanya Fikri duduk di depanku. Kami di teras barak bujangan, Yonif 328. “Aku nggak mungkin bisa menemui istri orang, ya, aku tidak mampu. Jadi, aku tulis saja semuanya, nanti aku kirim ke penerbit tempat Mbak Dara kerja. Dia editor, kan? Pasti dia baca. Sudah lumayan panjang.” “Nggak perlu repot-repot, Ta! Mbak Dara belum nikah!” “Ha?” Terhitung bulan November yang akan datang, usiamu 30 tahun. Mana mungkin kamu belum menikah? Ditambah lagi, kamu sudah lamaran sejak tahun 2019. Selama itukah waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan pernikahan? “Apa maunya Mas Gayuh? Tinggal menikahinya saja susah. Fik, ini sudah lama banget dari jaraknya dia lamaran loh!” Fikri menghela napas. “Mbak Dara yang kita lihat sempurna itu bukan yang sesungguhnya. Dia tetaplah manusia biasa yang hanya berpikir tentang dunianya saja.” “Maksudmu?” “Bukan Mas Gayuh yang salah, tapi Mbak Dara. Dia terlalu mengejar karir, setiap kali ingin dinikahi selalu saja mendahulukan pekerjaannya. Selalu bilang nanti, nanti dan nanti untuk urusan duniawi.” “Mbak Dara seperti itu?” Mengangguk. “Dia bukan hanya gila kerja, tetapi juga gila impian.” Aku diam. “Dia sudah ditinggalkan Mas Gayuh sejak empat tahun yang lalu. Mas Gayuh sudah menikah dengan perempuan lain, dan Mbak Dara sedang tidak bersama siapapun. Dia semakin gila kerja, dia banyak mengeluarkan buku akhir-akhir ini, mungkin karena itu, karena dia sendiri, tidak sedang ditemani siapapun.” Sedikit tak percaya. “Mbak Dara sekarang berhijab, cantik, masih sama anggunnya, tapi sorot matanya tidak lagi seperti dulu. Dari ceritanya dan sorot matanya, aku yakin dia tertekan, kesepian, dan penuh penyesalan. Ya, gimana sih, Ta? Rumah Mbak Dara di Karanganyar juga kan bukan yang di daerah perkotaan banget, usia tiga puluh belum menikah apalagi perempuan, pasti kan jadi bahan gunjingan. Dia sepertinya sudah tidak ingin gila kerja, tetapi keadaan memaksanya untuk tetap gila kerja.” Penjelasan Fikri itu sedikit menyesakkan, tetapi menjadi kabar yang amat sangat menggembirakan bagiku. Maaf, Mbak, tetapi kabar patah hatimu adalah kabar terbaik yang ingin sekali aku dengar. “Ya, aku hanya ingin menceritakan itu. Mungkin kamu masih ingin berjuang sekali lagi, tapi kalau memang sudah tidak ingin, ya, itu keputusanmu.” “Kita adakan reuni lintas generasi, Fik!” “Ha?” Aku langsung mengambil ponselku, guna menelepon adik kelas yang masih aktif di Patriakara. “Dik, ini Mas Apta, yang bulan April ke sekolah nengokin kalian latihan, yang lulus tahun 2020.” “Oh iya, Mas.” “Tolong rencanakan reuni lintas generasi ya? Nanti soal biaya biar Mas Apta yang koordinasi sama yang lain, kalian di sekolah mempersiapkan perizinan tempat dan pematangan acara aja.” “Lah? Kok mendadak, Mas?” “Enggak, nggak ada yang mendadak. Bulan-bulan Desember saja, pas waktunya alumni yang rantau cuti juga.” “Tapi, Mas...” “Bisa,” kataku menekan. Yang di Karanganyar bungkam. “Dik, nanti biar aku yang koordinasi sama alumni lain. Aku ketuanya, aku yang bertanggungjawab!” Penuh pemaksaan pada awalnya, namun berakhir dengan keikhlasan mereka. Toh mereka bilang, mereka juga ingin bertemu dengan alumni yang selama ini selalu berbincang dengan mereka melalui grup w******p. “Gila kamu, ya?” Fikri menegurku usai menutup telepon. “Kenapa?” “Ya, ngadain reuni lintas generasi? Kamu itu cuma alumni biasa, di atasmu masih banyak alumni yang lebih senior.” “Memangnya kamu pikir alumni yang lebih senior dari kita akan banyak waktu untuk memikirkan reuni? Bahkan Mas Pras saja yang pendiri Patriakara tak sempat nimbrung di grup karena urusan rumah tangga dan anak-anaknya. Mumpung aku yang sempat, dan dengan bantuanmu pastinya.” Fikri menghela napas. “Orang aku ke sini mau ngasih tahu kalau Mbak Dara belum nikah. Malah aku dijerumuskan dalam urusan reuni. Tugas kita jaga negara saja menjadikan kita tak banyak waktu buat keluarga, malah mau ngurus reuni Patriakara.” “Ya, memangnya kamu pikir reuni ini untuk apa?” Diam, Fikri nampak berpikir keras. “Jangan bilang reuni ini kedok?” Tersenyum. “Aku ingin menemui Mbak Dara.” “Tapi kamu bisa langsung menemuinya ke Bandung. Aku tahu alamat kosnya.” “Aku terlalu malu, kalau tiba-tiba aku menghubunginya, lalu meminta bertemu. Bukankah lebih terlihat natural ketika kita bertemu di reuni?” Menghela napasnya. “Ta, kamu korbankan kita semua hanya buat kedokmu itu?” “Memangnya semua nggak pengen ada reuni? Kamu nggak pengen? Gila, tahun 2012, Patriakara mulai aktif, tahun 2017 nama Patriakara disematkan secara resmi, sepanjang itu nggak ada yang namanya reuni lintas generasi. Ini sudah 2027. Nggak pengen kamu kumpul sama semua alumni, sama adik-adikmu yang sekarang juga?” Fikri diam. “Sudahlah, ini juga tidak sepenuhnya kedok.” “Terus apa yang kamu mau perbuat, Ta?” “Aku mau menikahi Mbak Dara.” “Ha? Gila kamu ya?” “Sudah sejak jatuh cinta dengan Mbak Dara, kamu paham betul dengan itu. Kenapa masih sok kaget?” “Ibumu gimana?” “Kenapa? Kamu habis pulang kan? Nengok ibuku juga kan? Beliau masih baik-baik saja kan?” “Maksudku, Ibumu bisa menerima Mbak Dara? Ya, memang aku ke sini mau kasih tahu Mbak Dara belum menikah. Tapi kupikir juga tidak  secepat itu kamu mau ngajak Mbak Dara menikah. Kamu nggak mempersiapkan strategi perjuangan dulu? Bahkan latihan kita pun perlu persiapan strategi, bukan hanya maju jalan dan tak gentar. Ini soal hidupmu yang akan datang, jangan asal ngomong.” “Fik!” Aku menepuk bahu kanannya. “Kamu tahu, delapan tahun yang lalu aku hilang kesempatan? Kamu tahu, delapan tahun ini aku seperti orang gila, berusaha menjadi playboy tetapi move on saja tidak bisa? Kamu tahu, delapan tahun ini aku bahkan belum berani menikah hanya kerena kepikiran sama Mbak Dara? Kamu tahu, delapan tahun ini aku tak lebih dari b***k cinta? Delapan tahun aku diperbudak, lalu datang kesempatan, apa aku harus mengulur-ulur lagi kesempatanku? Sampai kapan aku menjadi pecundang dan b***k yang mencintai sendirian?” Fikri menelan ludahnya, aku lihat jakunnya bergerak. “Fik, bagaimana kalau Tuhan hanya menjawab satu kali dari semua doa-doaku?” “Maksudnya?” “Aku pernah berdoa agar Mbak Dara patah hati, dan saat itu, akulah yang akan datang. Sekarang Tuhan menjawab doaku itu. Apakah aku harus tidak peduli dengan jawaban Tuhan?” “Kamu gila?” “Fik, iya aku gila!” “Kamu doain perempuan yang kamu cintai patah hati, dan patahnya lebih dari patah yang kamu rasakan! Ini hal paling gila yang pernah kamu lakukan! Sebuta itu kamu jatuh cinta sama Mbak Dara. Apa sih yang membuatmu sampai segininya sama Mbak Dara?” “Tidak tahu, coba kamu tanya sama Tuhan.” Fikri menghela napas untuk kesekian kalinya. Begitulah pada akhirnya tulisan ini aku lanjutkan, Mbak.  Sejujurnya sudah ingin aku hentikan pada bagian Playboy Berseragam, tetapi sepertinya ada kisah yang belum usai antara kita berdua. Sampai bertemu di reuni lintas generasi, Mbak.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN