Mbak, aku sedang dalam perjalanan ketika mulai menulis bagian ini. Bagaimana denganmu? Katanya sudah pulang sejak kemarin, ya? Sampai jumpa nanti. Maaf, aku terlambat karena baru mendapatkan surat perjalanan dari Komandan. Ah, mungkin kamu juga tidak sedang menantiku, aku saja yang tidak sabar ingin menemuimu. Meskipun kata Fikri, kamu juga ingin menemuiku. Pasti, pasti kamu ingin meminta pertanggungjawaban atas enyahnya diriku dari hadapanmu.
Turun dari taksi, dengan topi lusuh di tanganku, mengambil napas yang dalam, lalu meghembuskannya pelan. Sungguh aku merasa selangkah lagi untuk memilikimu. Setelah semalam suntuk aku khawatir tentang laki-laki yang saat ini dekat denganmu, meski Fikri bilang tak ada siapapun. Aku berharap, tak ada lagi yang menghalangiku.
Sempat menatap nanar gerbang sekolah yang bentuknya tak banyak berubah, hanya cat yang sepertinya baru kering, tulisan SMKN 2 pun tak berubah. Baliho besar tentang prestasi sekolah yang berubah, lebih menarik. Pohon beringin juga masih utuh, taman yang semakin indah. Semua tempat di sini punya kisahnya masing-masing tentang dirimu. Lalu aku mulai melangkah masuk.
Aku yang awalnya melangkah pelan menjadi tidak sabaran, kupercepat menuju dirimu. Fikri bilang, kamu sudah datang sejak tadi, aku saja yang terlambat. Semakin kupercepat, dan semakin cepat.
Tepat di barat lapangan upacara, aku melihat tiang bendera yang masih putih bersih, belum ternoda oleh karat besi. Namun kosong tanpa bendera merah putih, mungkin karena ini hari libur, tak ada yang memasang bendera di pagi hari dan menurunkannya di sore hari. Aku tersenyum tipis, ingat sebuah pelukan erat pada malam itu.
Kembali melanjutkan langkah cepatku, semakin tak sabar, kuganti langkah biasaku menjadi lari. Lari dan berlari secepat mungkin, seperti sedang berlari dari kejaran musuh yang tak mampu dilawan seorang diri.
“Aduh maaf, telat, Dik. Masih jalan, kan?” tanyaku pada Ketua Patriakara yang masih aktif saat ini. Selagi mengatur napas, lirik mataku menangkap gambaran dirimu. Memakai hijab yang sisanya cukup panjang menggantung di bahu, celana warna cream, dan baju warna hijau tua.
“Masih, Mas,” jawab adik kelas di depanku, tetapi aku menoleh mengikuti gerak langkahmu. “Tadi aku yang sambutan, sama Mas Pras. Agak ribet, Mas. Banyak alumni yang bawa anak, anaknya pada rewel. Mas Apta sih, katanya mau bantuin dan mau datang lebih awal. Malah terlambat, lama banget lagi.”
“Itu tadi Mbak Dara bukan?”
“Ha?”
“Mbak Dara, alumni.”
“Mbak Dara yang alumni kan ada dua, Mas?”
“Ha? Masa?”
“Iya, yang angkatan kemarin baru lulus, sama yang angkatan berapa ya? Yang penulis itu pokoknya.”
“Ya, yang penulis itu. Yang itu tadi, kan? Yang lari ke sana?”
“Iya.”
Aku langsung melangkah, mengejarmu dan berusaha menebak ke mana arahmu pergi.
“Mas, ini gimana? Nggak masuk dulu?”
“Nggak, kamu urus dulu!"
Orang mungkin tahu, selama ini aku selalu bertanggungjawab dengan apa yang telah orang percayakan padaku, tetapi dengan alasan kamu. Bahkan aku memperlihatkan diriku yang sebenarnya pada dunia, bahwa aku tidak sesempurna itu sebagai seorang laki-laki dan pemimpin.
“Eh, tahu nggak, alumni yang pakai jilbab, celana cream, baju ijo?” tanyaku pada seorang adik kelas, aku kehilanganmu.
“Oh, Mbak Andara?”
“Ya, iya, penulis itu pokoknya.”
“Ke kamar mandi bengkel ototronik, Mas.”
Aku tak mengucapkan apapun dan langsung melangkah. Menunggumu di depan pintu kamar mandi dengan gelisah, sesekali memainkan cincin di dalam sakuku. Rasanya lebih menegangkan daripada sekadar menjadi Komandan Peleton dalam perlombaan tingkat provinsi. Mungkin karena ini penentu 8 tahunku yang menyiksa.
Krekkk...
Suara pintu kamar mandi yang kenopnya sudah hampir rusak. Dari baliknya muncul wajah cantikmu yang nampak layu. Benar kata Fikri, Mbak. Kamu masih cantik, hanya satu yang berubah, binar mata dan wajahmu yang nampak sendu. Dan kantung matamu yang tidak mau bersembunyi di balik make up tipismu.
“Astagfirullah! Ya Allah, kamu, Ta! Bikin Mbak jantungan!” jeritmu memegang dadamu sendiri.
Aku tersenyum. “Aku rindu.” Seandainya aku bisa mengatakan itu sekarang.
“Kamu, masyaAllah, seriusan jadi tentara, Ta? Mbak bangga sama kamu.” Mencengkram bahuku.
Jujur, aku jatuh, kamu masih memperlakukanku seperti adikmu. Cengkraman bahu itu tidak dilakukan perempuan pada laki-laki yang memang dia anggap laki-laki. Tapi yang aku bisa lakukan hanyalah tersenyum, sebab tak ada yang lebih membahagiakan lagi dari kesempatan untuk dapat bersuara.
“Masih ingat topi ini?” Kutunjukkan topi lusuh di tanganku, seharusnya warna hitam, tetapi telah pudar akibat sinar matahari selama latihan.
“Ha ha ha, topi lusuh semacam ini buat apa? Ishhh, susah jadi tentara juga, pakai lah topi raidermu itu, atau topi Kostradmu!”
“Topi lusuh ini adalah saksi bisu aku jatuh cinta padamu. Ketika panas terik di tengah lapangan tenis. Ketika aku begitu bersemangat melakukan langkah tegap sambil melirikmu.”
Aku tahu ada urat-uratmu yang menegang, itu jelas sekali. Tapi, Mbak, aku jujur. Topi ini masih kusimpan dengan baik, karena hanya topi ini, yang apabila dia diberikan mulut, dia akan menjelaskan semuanya tanpa kurang satu kejadian pun.
Lalu kamu sedikit tergugah, berubah dengan raut marah. Kamu memberondongiku dengan segala macam pertanyaan serta bentuk protesmu perihal kepergianku tanpa pamit. Tentang kamu yang katanya tidak bisa menghubungiku, tentang kamu yang tidak tahu apa-apa tentangku, kamu marah. Sayangnya marahmu bukan kerena kamu rindu sebagai seorang perempuan pada laki-lakinya, tetapi seorang kakak pada adiknya.
Sedikit kurapikan ujung pashminamu yang jatuh. “Aku cuma punya satu pertanyaan untuk membungkam semuanya.” Lantas kamu singkirkan tanganku, laiknya orang sedang marah.
Sejenak menghela napas, menyaksikanmu begitu dekat dan hangat. “Maukah kau menikah denganku?”
Akhirnya, apa yang telah aku pasung dengan paksa, hari ini bebas juga. Laksana burung dalam sangkar yang akhirnya lepas bebas berbahagia.
“Ha ha ha, Ta, Ta.” Kamu menyingkir dari hadapanku.
Semua yang kudengar dan kulihat, sesuai dengan prediksiku sebelum mengeluarkan pertanyaan pamungkas itu. Mau sampai kapan aku hanya dianggap sebuah lelucon? Sampai Timnas Indonesia juara Fifa World Cup? Namun, aku tak akan menyerah atas dirimu.
Aku merogoh ke dalam sakuku, mengambil cincin yang benar-benar tanpa tempatnya, hanya cincin. Tak ada surat-suratnya tak ada labelnya yang bergelantung kecil. Tentu bukan karena ini cincin ilegal, karena kusimpan semuanya.
Dengan posisi tanganku seolah hendak merangkulmu dari belakang, aku menunjukkan cincin itu, seraya berkata, “Aku serius.”
Tak ada lelucon atau bercandaan lagi saat ini. Cukup sudah aku diperbudak oleh cinta yang hanya sendirian. Sudah cukup juga aku hanya diam dan tidak memperjuangkan. Jika datang kesempatan, mengapa aku tak boleh ambil tindakan?
Kamu menoleh, menghela napas panjang. “Kamu kaya Fikri juga, mau minta restu sama Mbak buat nikahin cewek? Terus ini simulasinya, kan?”
Menggeleng. “Aku tidak paham, kenapa meski sudah lewat delapan tahun, aku selalu dianggap bercanda? Apa karena aku selalu jadi anak kecil di matamu? Heh, aku sudah sangat dewasa untuk memilih perempuan.”
Hening sejenak.
“Kamu mungkin menganggap 2019 adalah tahun di mana kamu bercanda sesukanya denganku. Tapi aku tidak sebercanda itu dengan hatiku. Kalau kamu pikir aku jatuh hati denganmu sebagai seorang adik pada kakaknya, kamu salah besar. Aku jatuh hati sebagai laki-laki normal pada seorang perempuan manis di tepi lapangan tenis, dengan rambut pendeknya yang sesekali tertiup angin.”
Air matamu terjatuh dan jari-jarimu saling beradu. Kamu sedang dalam keadaan kaget, dan bingung.
“2019, aku jatuh cinta. 2019, aku patah hati. 2019, aku ingin melupakan. Dan 2019 sampai 2027, aku tidak bisa mencapai keinginanku untuk melupakanmu. Delapan tahun aku seperti orang gila yang mengharap keajaiban, dan mengharap kesempatan pada ketidakmungkinan.”
Menghela napas.
“Sekali lagi, Dara Laksmi Sasmita, maukah kau menikah denganku?”
Tidak ada jawaban yang aku terima, sama sekali tidak ada. Kamu justru pergi begitu saja dengan tangismu yang bahkan belum sempat kuhapus. Aku sempat mengikutimu, namun tak bisa jika aku langsung memaksa dan berbicara lebih panjang denganmu. Aku juga tahu kamu akhirnya bersama dengan Fikri di lapangan tenis. Maka, aku biarkan sahabatku itu sedikit menjelaskan.
Maaf, Mbak, mungkin kenyataan yang kamu terima begitu mengagetkan dan memalukan, tetapi itulah adanya. Tidak ada yang aku lebih-lebihkan, justru banyak yang aku kurangi saking malunya aku pada dirimu. Aku terlalu bucin kalau kata anak milenial.
Aku mencoba memperhatikanmu dari kejauhan, entah apa yang kamu bicarakan dengan Fikri tapi tangismu tiada henti. Sesekali, ingin rasanya mendekat dan mendengar apa yang kamu katakan, tapi aku harus sedikit menahan untuk waktu yang tepat.
Sekian lama sampai akhirnya aku tidak tahan sendiri, aku melangkah mendekat, pelan-pelan, selangkah demi selangkah. Hingga kudengar, “Aku juga rindu sama Apta, Fik. Tapi..."
“Jadi kita saling merindukan?” sambarku tak ingin kehilangan momentum terlalu banyak.
Kamu menoleh dan mengatakan bahwa kamu juga rindu denganku, tapi kamu melarangku memberimu lebih dari rindu. Apa salahnya? Padahal sebelum rindu itu tercipta berkubik-kubik banyaknya, aku telah lebih dulu jatuh cinta. Sesuatu yang kamu sebut lebih dari rindu.
Kita sedikit berdebat hari ini, Mbak. Sampai Fikri rela meninggalkan kita berdua. Tuhan memberiku kesempatan untuk berjuang, dan ini sebenar-benarnya perjuangan. Jika saja harus jatuh, aku akan menerima karena aku memang hanya meminta satu kesempatan pada Allah Swt., Tuhanku. Aku bisa minta lebih banyak, tapi terlalu lancang untuk aku yang masih sering melupakan-Nya.
“Mbak?” Aku berusaha menarikmu agar tidak pergi dari hadapanku.
Katamu, kamu harus segera kembali ke Bandung. Aku tawarkan jasa antarku tapi kamu pun menolaknya. Semua yang aku beri kamu tolak mentah-mentah tanpa memikirkannya lebih dulu, tentu, karena aku hanya anak kecil bagimu. Cinta, rindu, jasa antar, bahkan pertanyaanku pun terkesan tidak sesuai dengan usiaku.
Berbagai cara aku coba untuk menahanmu, tapi tak mampu. Kamu tetap melangkah pergi dengan tangismu.
“Mbak, aku harus bagaimana lagi? Kalau kamu punya cara agar aku bisa melupakanmu, kamu bisa kasih tahu aku dan aku akan lakukan saat ini juga!” Langkahmu berhenti. “Kalau kamu tahu caranya biar aku bisa menghentikan perasaan delapan tahunku, kasih tahu aku, aku pasti lakukan itu!”
Menghela napas sejenak. Aku sendiri merasa sesak untuk terus berbicara, tetapi waktu tidak pernah berhenti mencekat kesempatan yang telah ada.
“Pernah kamu bertanya pada Tuhan, kenapa Mas Gayuh pergi dari kehidupanmu? Bukan, bukan karena kamu egois dan pemimpi yang ambisius, tapi karena Tuhan beri aku satu kali kesempatan. Apa kamu juga pernah bertanya pada Tuhan, kenapa sampai usia tiga puluh tahun kamu belum menikah? Bukan karena kamu tidak laku, itu karena Tuhan mendengar doa-doaku. Pernah kamu berpikir semacam itu? Tuhan hebat dalam menakdirkan.”
Kamu kembali melangkah, memperanjang jarak antara kita.
“Kalau Nabi Muhammad Saw. yang jauh-jauh lebih mulia daripada aku bisa menikahi perempuan yang jauh lebih tua daripada kamu. Mengapa aku yang kerdil ini tidak bisa? Apa kamu terlalu hebat untukku yang biasa ini? Atau karena aku lebih rendah daripada Mas Gayuh? Ya, aku cuma prajurit Kostrad, bukan Pasukan Khusus. Ya, aku bukan laki-laki yang menemani semua masa susahmu sebelum ini. Apa karena itu aku tidak memiliki kepantasan?” Aku sampai harus mengeraskan suaraku agar kamu mendengarnya dengan baik, dan benar, kamu menoleh dan kembali mendekatiku.
“Bukan kerena kamu tidak pantas. Satu, karena kamu adiknya Mbak Dara. Dua, karena kamu pantas dapat yang jauh lebih baik dari Mbak Dara. Mbak Dara terlalu tua untuk kamu.”
“Kamu punya banyak alasan tidak mau menerimaku. Coba cari satu saja alasan untuk menerimaku."
“Karena memang kamu tidak bisa, Ta.”
“Kalau kamu tidak yakin, apa aku bisa membimbingmu atau tidak? Aku bisa. Kalau kamu ragu, apa aku hanya bisa manja sama kamu? Tidak, aku akan memimpinmu,” tegasku karena aku merasa, kamu tidak mau denganku karena aku hanya anak kecil, tidak pantas untukmu yang lebih dewasa dengan selisih lima.
Kamu usap kedua lenganku, persis seperti kakak pada adiknya. “Mbak Dara yakin kamu bisa, tapi bukan sama Mbak Dara.” Lalu kamu benar-benar pergi, menghilang dari pandangku. Aku biarkan kamu pergi.
Setelah acara reuni selesai, aku mampir ke rumahmu. Aku ingin tahu, kapan keberangkatanmu ke Bandung, dan yang kutemui pertama ialah ibumu, tunggu, seingatku kamu memanggil beliau dengan Mama. Aku pun masih memintamu, berulang kali memintamu. Hanya satu yang membuatku berpikir sedikit bodoh, ternyata aku melupakan ibuku sendiri untuk memilihmu. Kamu mengingatkanku, bahwa setelah aku memperjuangkanmu di hadapan Tuhan, aku harus memperjuangkanmu di hadapan ibuku.
Mbak, akan aku lakukan itu, segera. Tunggulah, jangan pergi meninggalkanku sebelum aku benar-benar menyerah atas dirimu.