Restu Ibu

1462 Kata
Pulang dari rumahmu, ketika bulan tak bulat sempurna sedang indah-indahnya. Ibuku ada di ruang tamu, menanti ayah yang juga belum pulang dari perkumpulan RT. Aku duduk, diam, belum sempat menengok kamar, belum pula menyentuh nasi yang hangat. Lalu, kumulai ceritaku dari awal hingga aku jatuh cinta denganmu. Ibu tentu kaget, aku tahu tangannya bergetar. “Ibu sudah lama menakutkan hal ini, karena kamu selalu bercerita tentang Mbak Dara setiap kali pulang dan menemui Ibu.” Menahan air bah di ujung matanya.  “Maaf, kalau itu membuat Ibu kecewa. Dan.” Menelan ludahku sendiri. “Dan, Apta pengen Ibu mau merestui keputusan Apta untuk menikahi Mbak Dara, Bu.” Ibu menoleh dengan matanya yang bulat sempurna penuh dengan air. “Ibu ndak tahu.” “Apta mohon, Bu,” rengekku menggenggam tangannya yang bergetar. “Mbak Dara baik banget kok orangnya, keibuan, wawasannya luas.” “Terus kamu minta Mbak Dara ngemong kamu, gitu?”  Menggeleng. “Bu, ya suami yang bakalan ngemong istri.” “Ibu ragu.” “Ibu ragu sama anak sendiri?” “Iya,” jawab ibuku tepat saat air matanya jatuh. “Tapi, Bu, delapan tahun Apta kaya orang gila. Alasan Apta belum menikah bukan karena karir militer, karena memang belum bisa melupakan Mbak Dara, dan Apta sudah punya kesempatan sekarang. Apta mohon, mungkin kalau ibu yang minta, Mbak Dara mau, Bu.” Sekali lagi Ibu menoleh. “Jadi Mbak Dara itu tidak mau sama kamu?” Giliranku menunduk dan bungkam. “Untuk apa kamu minta kalau dia sendiri sudah tidak mau?” Diam. “Assalamu’alaikum,” sapa salam dari ayahku. “Ini kenapa, pulang-pulang kok disambut tangis?” “Anakmu,” jawab Ibu. “Kenapa?” “Dia mau menikahi perempuan yang biasa dia ceritakan.” “Mana ada? Dia tidak pernah menceritakan perempuan manapun, kecuali,” menoleh padaku. “Ya sudah, kalau memang dia maunya begitu. Anak ini sudah besar, sudah tahu baik buruknya, sudah tahu risikonya apa.” “Yah!” protes Ibu sedikit keras.  “Ibu malu sama tetangga kalau Apta menikahi perempuan yang lebih tua?” Diam. “Untuk apa malu sama tetangga? Mereka bukan yang ngasih makan kita,” sahut Ayah, beliau memang sedikit cuek. “Bukan itu,” Ibu menimpali. “Tidak enak saja rasanya. Mas Apta, rasanya seperti kamu menikahi ibumu sendiri.” Sekali lagi Ibu menghapus air matanya.  Menghela napas. “Bu, Mbak Dara kan cuma berjarak lima tahun dariku.” “Terus apa Mas Apta bisa jadi imam yang baik buat dia?”  “Insyaallah, bisa.” “Sudah dua puluh lima tahun, seharusnya sudah bisa. Kalau belum bisa, percuma dia hidup sejauh ini, belajar apa? Ya, kalau masih ada kekurangan ya, namanya manusia, pasti nanti sambil belajar juga bisa,” seru Ayah duduk di depan televisi, disusul adikku yang bisa jadi penasaran dengan perdebatan kami, makanya dia keluar dari kamar.  “Ya, Bu, ya? Besok mintain Mbak Dara buat Apta,” rengekku menggenggam tangan Ibu.  “Jam berapa?” tanya Ibu pasrah. Aku tahu Ibu belum sepenuhnya ikhlas. “Pagi ya, Bu? Takutnya Mbak Dara keburu balik ke Bandung.” “Ya, Mas bilang sama dia untuk menunggu, kita mau berkunjung.” Aku diam. “Atau sebenarnya kamu ini sudah ditolak, Mas?” tanya Ayah menoleh padaku. Bungkam.  “Memanglah, anakmu ini!” Ibu pergi dan masuk ke dalam kamarnya dengan sisa air mata. Suasana desa khas tahun 2027, motor-motor keluaran terbaru, jalanan yang rata, anak-anak berangkat ke sekolah dengan gawai pintar di tangannya. Banyak teknologi yang digunakan manusia, mengubah suasana desa yang biasa dipenuhi pejalan kaki ataupun orang-orang tua mengayuh sepedanya, laiknya masa kecilku dulu. Sekarang, semua menghilang.  “Ayo, Bu,” ajakku pada Ibu yang masih santai di meja makan bersama ayah dan adikku. “Nggak sabaran!” sindir adikku.  “Makanya, kalau sudah ditolak itu ndak usah banyak tingkah,” seru Ibu.  Aku hanya diam. Matahari masih malu-malu di balik Gunung Lawu saat aku dan Ibu menuju rumahmu. Dengan tekad, dengan keraguan Ibu, bermodalkan keyakinanku. Pikirku saat ini hanya satu, memanfaatkan kesempatan yang telah Allah Swt. berikan. Aku sudah menyerah 8 tahun lalu, tetapi Allah Swt. ternyata masih memberi cahaya. Bagaimana bisa aku menyia-nyiakannya? Saat ibumu menyapu di halaman rumah, dengan tubuh bungkuknya, pandangan mata yang harus dibantu kacamata, aku datang, mengucap salam dan bertanya di mana anak sulung tercintanya. Apakah ada? Aku berniat berbicara dengan ibumu lebih serius lagi. "Mbak Dara sudah berangkat ke Bandung pagi-pagi buta tadi, Mas," kata ibumu membuatku panik bukan kepalang. Sungguh, tiada kesempatan yang ingin kubuang.  "Maafkan anak saya, Bu. Ia tidak sopan dengan keinginannya, seharusnya ia dapat menerima kenyataan. Maaf membuat ibu dan keluarga tidak nyaman," ujar ibuku saat aku masih mematung, berpikir harus berbuat apa.  "Tidak, saya yang meminta maaf. Mungkin ibu tersinggung karena anak saya jauh lebih tua daripada anak ibu. Tak apa. Menyerahlah, Mas." Ibumu bahkan semakin membuatku jatuh.  "Tidak, saya tidak akan menyerah. Ibu, izinkan Apta mengejar Mbak Dara kali ini saja. Andaikata benar-benar tidak bisa, Apta akan menyerah. Bu," rengekku pada Ibu.  Ibuku menghela napas. Beliau tidak begitu ikhlas, aku tahu, tetapi beliau tetap mengantar anaknya untuk menemuimu, mengejar cintanya.  Kecepatan laju kendaraanku mungkin tak secepat laju perasaanku untukmu, bagaimana letupan-letupan meriah di setiap degup jantungku, bagaimana indahnya perasaan yang melesat cepat dalam waktu yang lama. Aku menikmati setiap perasaanku untukmu. Percayalah, aku sedang menuju ke arahmu untuk kesekian kalinya. Mohon diam atau aku akan terus mengejarmu hingga aku mati.  Sampai di Stasiun Balapan, Solo. Kamu tahu apa yang aku lakukan? Berlari begitu mobilku ada di tempat yang tepat. Aku tidak mengatakan apapun pada Ibu. Beliau hanya menunggu di dalam mobil, tidak akan mengikutiku karena pasti masih dengan keraguannya.  Betapa leganya diriku ketika melihatmu masih ada di luar stasiun, dengan napas terengah-engah aku menarik tanganmu. Mengatur napas sejenak lalu mengatakan, "Mau ke mana sih? Mau menghindar dariku? Aku bisa kejar ke manapun kamu pergi. Tapi, apa semenjijikan itu aku di matamu, sampai kamu memilih menghindar?" Terkadang aku merasa terlalu dianggap rendah olehmu, karena usiaku muda, karena aku hanya anak didikmu di Patriakara. Karena itu semua aku seperti bangkai dengan belatung yang tidak ingin kamu sentuh. Begitu kah? "Aku nggak tahu lagi harus bagaimana. Aku hanya ingin menyempurnakanmu dan kamu menyempurnakanku." Kamu justru memanggilku "Adik", mencengkram bahuku kuat, dan mengatakan bahwa jalanku masih panjang, karir militerku masih panjang dan amat sangat penting. Kamu memintaku fokus. Serta masih banyak perempuan cantik yang bisa aku dapatkan. Aku tahu itu, aku tahu, mau yang seperti apapun aku bisa memikat, meski tanpa ketulusan cinta. Tetapi aku balik sekarang pertanyaanku, bagaimana jika yang aku inginkan hanya dirimu? Selain itu, kamu juga mempermasalahkan omongan orang nantinya. Aku bahkan tidak peduli orang mau bilang apa. Hidup ini kita yang menjalani, mereka juga tidak memberikan kita makan, tidak memberikan kebahagiaan yang kita inginkan, mengapa pula harus mendengarkan komentar mereka? Cukup rumit memintamu menemui ibu, dengan alasan keretamu lima menit lagi berangkat. Tetapi ibu sudah menunggumu, seharusnya tak kamu gunakan alasan keretamu sebagai langkah untuk kembali menghindariku. Beruntungnya, setelah kukatakan ibu sudah menunggumu di mobil, kamu berlari cepat menemui ibuku. Aku tahu, kamu begitu penyayang pada siapapun orang tua yang kamu kenal. Tak mungkin tega kamu membiarkan ibuku menunggu.  Terik matahari semakin ganas, ketika kamu saling sapa dengan ibu. Membicarakan masa lalu, mengingatkan pada hari-hari itu, hingga ibu bertanya apakah kamu mencintaiku. Dan jawabanmu, "Maaf, Bu." "Berarti kalian tidak bisa bersama." Kupikir ibu akan membantuku karena beliau telah berjanji dalam perjalanan akan mencoba meyakinkanmu. Tetapi ternyata tidak, ibu masih dengan ketidakikhlasannya.  "Tapi kalau dengan kalian bersama, Apta bisa bahagia. Maka lakukanlah. Karena bagi seorang ibu, kebahagiaan anaknya adalah yang utama. Kalau dia memaksa, mau bagaimana lagi?" "Tidak, Bu. Apta pantas bahagia dengan perempuan yang usianya sama. Apta itu seperti adik dan anak bagi saya. Saya tidak mau Apta menjadi gunjingan teman-teman, tetangga, dan lain sebaginya. Tentu dia tidak akan bahagia bersama saya. Akan banyak tekanan yang ia terima." "Dengar kan, Mas?" "Bu, tapi..." Belum sempat aku membujuk ibu, kamu sudah berpamitan dan pergi meninggalkan kami. Aku berusaha mengejarmu, tetapi tidak bisa. Pada loket pembelian tiket, terlalu sesak tertutup kerumunan orang-orang dengan tas carrier, ketika hendak masuk pada bagian lobi, aku terhalang tiket tidak ada di tangan, dan melihatmu masuk ke dalam gerbong kereta.  Aku kembali ke mobil dengan patah hati yang kesekian kalinya, Mbak. Masih kucoba membujuk ibu, tetapi ibu terus mengingatkan bagaimana dirimu menolakku. Menyakitkan.  "Carilah perempuan lain," ujar Ibu.  "Tidak bisa, Bu. Apta sudah mencoba sejak 8 tahun yang lalu dan selalu gagal." "Dia tidak mau denganmu, untuk apa dikejar?" "Untuk perasaan Apta yang tidak bisa mati." Diam, hening.  Aku telah gagal memanfaatkan kesempatan atau mungkin kesempatan ini memang tidak diberikan untukku. Restu ibu pun sulit aku dapatkan. Kita mungkin tidak ditakdirkan bersama, kita mungkin akan hidup masing-masing. Tidak semua perasaan memiliki pemiliknya, kata ibu begitu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN