"Dengan siapa kau tadi?" tanya Antonio begitu mereka masuk ke dalam ruangan Alva.
Joe tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya, "Bukan siapa-siapa, hanya teman sekolah saja." jawabnya.
Antonio menyipitkan matanya menatap cucu pertamanya itu, "Kau ke sini untuk bekerja kan, Joe? Bukan untuk menggoda wanita? Aku tidak suka kalau kau lebih sibuk dengan percintaan mu dibandingkan pekerjaan." desisnya tanpa basa-basi.
Memang bukan hal yang baru kalau Antonio begitu mengutamakan soal pekerjaan dari pada percintaan. Ia paling tidak suka kalau orang lebih sibuk mengurus kisah percintaannya, terlebih lagi untuk Joe yang masih muda dan harusnya lebih fokus pada karirnya terlebih dahulu, bukan percintaan.
Bukan hanya Joe, semua cucu Antonio pasti sudah mengenal pria itu dan tahu bagaimana pria tua itu begitu kesal jika cucunya sibuk soal percintaan di usia muda, jadi Joe sudah cukup paham untuk tidak menunjukkan kisah cintanya di depan Antonio yang kolot.
"Tidak Kek, itu benar-benar hanya teman. Lagipula aku menunggu Kakek dan sedang tidak ada kegiatan, jadi aku menyapanya." Jelas Joe sekali lagi.
"Bagus kalau memang kau tidak menjalin hubungan dengannya. Oh ya, kau akan dipekerjakan di sini supaya Pamanmu bisa mengontrol sendiri bagaimana kinerjamu. Aku sudah mengatakan untuk membuatmu berada di Wikler Enterprise, tapi Paman dan sepupumu yang lain kurang setuju karena kau sangat baru dan tak ada pengalaman. Kau tidak masalah kan bekerja di sini bersama Pamanmu? Untuk sementara waktu, Roni akan di sini dan mengajarimu." jelas Antonio.
Joe menganggukkan kepalanya, "Tidak masalah. Aku harap aku bisa segera beradaptasi dan mudah memahami pembelajaran yang diberikan Roni." ujarnya.
Antonio menganggukkan kepalanya, "Kalau begitu, pergilah bersama Roni. Aku akan rapat bersama pamanmu dan bawahannya." ujarnya sambil melirik Roni--asistennya.
Roni mengarahkan mereka menuju ruangan lain dan meninggalkan Alva dan Antonio bersama asisten Alva yang juga berada di dalam ruangan itu. Setelah kepergian Roni dan Alva, mereka pergi ke ruang rapat.
Sejak Antonio yang sudah jarang pergi ke kantor, ia memang lebih sering mengandalkan Roni yang merupakan asistennya, apalagi Roni juga merupakan pria yang dapat dipercaya dan sudah lama bekerja padanya. Hampir setengah usia Roni dihabiskan untuk bekerja padanya dan membuat kepercayaan Antonio padanya semakin besar.
Hanya saja Roni yang juga semakin tua membuat tubuhnya kurang aktif dan cepat dalam bergerak membuat Antonio akhirnya membuat pria itu hanya bekerja di kantor saja, tidak lagi bolak-balik kantor dan rumahnya.
Untuk itulah, Antonio memberikan pekerjaan untuk Roni mengajari Joe dan berdiam di Wikler Entertaiment, meski tidak sepenuhnya. Roni mengatakan bahwa dirinya masih mampu bepergian dari Wikler Entertainment ke Wikler Enterprise.
"Memangnya apa pekerjaanku, Paman?" tanya Joe pada Roni.
Roni menoleh dan tersenyum kecil mendengar panggilan Joe padanya karena cucu Antonio yang lainnya memanggilnya dengan formal. Selama ini ia memang jarang bertemu dengan anak dari Adkey karena memang mereka jarang ada urusan penting, jadi ia cukup terkejut mendengar panggilan akrab seperti itu dari Joe.
"Aku tidak tahu bidang apa yang cocok denganmu, tapi untuk saat ini Mr. Wikler memberitahu ku untuk menyuruhmu merekap data-data trainee, pekerja Wikler Entertainment, dan artis-artisnya. Mr. Wikler juga mengatakan agar kau membuat laporan mengenai Wikler Entertaiment sejak perusahaan ini dibangun hingga sekarang."
"Bukankah datanya seharusnya sudah ada yang mengerjakan?" tanya Joe dengan bingung.
Roni menganggukkan kepalanya, "Iya, memang sudah, hanya saja Mr. Wikler ingin melihat pekerjaanmu dan membandingkan dengan pekerjaan yang lain. Oh ya, kalau pekerjaanmu bagus, Mr. Wikler mengatakan bahwa kau akan dipindahkan ke Wikler Enterprise."
"Kenapa aku tidak mulai belajar dari sana saja?" tanya Joe.
Roni menepuk bahu Joe, "Ini tidak semudah yang kau pikirkan. Mr. Wikler akan dianggap tidak kompeten jika kau masuk padahal tidak punya pengalaman dan belum mengetahui bagaimana pekerjaanmu nantinya. Orang-orang akan menggunjingkan kemampuanmu dan bergosip tentang dirimu yang masuk karena kau adalah cucunya."
"Tapi itu kan memang kenyataannya." ujar Joe.
Roni menggelengkan kepalanya, "Itu memang kenyataan, tapi kau harus nenunjukkan kemampuanmu juga untuk membungkam bibir orang lain."
"Baiklah, aku mengerti."
Hampir selama 4 jam Joe fokus pada pekerjaannya sambil banyak bertanya pada Roni mengenai kebingungannya. Ia melakukan peregangan pada tubuhnya begitu melihat jam makan siang dan bertanya pada Roni, "Apakah aku bisa beristirahat dulu?" dan diangguki oleh Roni yang kebetulan juga akan membelikan makan siang untuk Antonio.
***
Di kantin lantai 2, Joe segera menghampiri Sabrina yang ia lihat duduk sendirian. Sebenarnya Sabrina bukan terbiasa sendiri, hanya saja teman dekatnya biasa makan sedang membawa bekal karena alergi dengan banyak makanan luar, jadilah Sabrina akhirnya makan sendirian di kantin.
"Hei." sapa Joe sambil membawa makanannya ke meja wanita itu. Sabrina menoleh dan tersenyum paksa.
"Apa kau tidak punya teman juga di sini?" tanya Joe melirik sekelilingnya, apakah akan ada yang datang ke meja mereka atau tidak.
"Kau ada di sini." ujar Sabrina.
Joe menganggukkan kepalanya sambil terkekeh, lalu mulai menyantap makanannya sendiri, "Itu artinya aku teman kan?"
"Yeah, walaupun itu agak sedikit terpaksa."
"Tenang saja, aku tidak menggigit kok. Aku hanya ingin berteman saja. Untuk beberapa waktu aku akan bekerja di sini, jadi kita pasti akan lebih sering bertemu. Kalau kau kesepian, aku bisa menemanimu kapan saja." ujar Joe sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kenapa kau bekerja di sini? Bukan di Wikler Enterprise?" tanya Sabrina. Ia jelas tahu perusahaan raksasa Wikler yang cukup terkenal. Ia juga tahu kalau Wikler Entertainment adalah anak perusahaan yang beda bidang.
"Oh hanya sedang belajar saja. Doakan saja aku terus bekerja di sini dan merasa nyaman, supaya kita bisa dekat terus." ujar Joe.
"Tidak perlu."
"Hei, ini juga berat untukku karena harus bekerja tanpa mengenali siapapun, jadi aku juga butuh seorang teman."
"Aku juga bekerja di sini tanpa kenalan sama sekali sebelumnya, jadi itu memang hal biasa kan bagi anak baru. Setidaknya kau mengenal bos di ini." sindir Sabrina.
Bagaimana mungkin Jos mengatakan ia tidak memiliki kenalan, sementara Alva saja adalah bos di sini dan merupakan paman Joe. Saat Sabrina mulai bekerja di Wikler Entertainment, ia bahkan tidak mengenal siapapun dan benar-benar harus beradaptasi sendiri.
"Ah iya juga, itu pasti berat untukmu. Tidak masalah, yang penting sekarang aku punya teman sepertimu."
"Hmm." Sabrina hanya bergumam singkat sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Oh ya, aku sama sekali tidak mengetahui kalau kau adalah cucu dari pemilik Wikler Enterprise dan Entertainment."
"Untuk apa kau perlu mengetahuinya? Lagipula itu bukan milikku, jadi aku juga tidak bisa memamerkannya."
"Tidak, hanya saja itu cukup mengejutkan karena kau tidak membanggakan keluargamu yang kaya." ujar Sabrina cukup kagum karena Joe bukan tipe orang yang memamerkan kekayaan bahkan sejak mereka kenal di bangku Sekolah menengah.
Padahal dulu teman-temannya berlomba menjadi terkenal dengan membawa nama keluarganya, tapi Joe sama sekali tidak membiarkan hal itu diketahui orang lain. Atau mungkin dulu Sabrina saja yang tidak mengetahui fakta itu karena tidak akrab dengan Joe.
"Nanti kalau aku punya kekayaan seperti itu sendiri, aku mungkin akan memamerkannya dan kalau itu bersamamu." jelas Jos sambil bercanda.
Sabrina mendengkus kesal mendengar candaan tak lucu itu sambil tertawa paksa atau lebih tepatnya mengejek, "Kau tidak merasa berat mengatakan hal seperti itu kepada orang yang sudah memiliki hubungan dengan temanmu?"
"Memangnya kenapa? Apa kau yakin kalau nantinya kau benar-benar akan menikah dengan kekasihmu yang sekarangm" tanya Joe menantang.
"Ya setidaknya kami memiliki kemungkinan lebih besar dari orang yang tidak menjalin hubungan apapun." ujar Sabrina.
"Belum tentu. Kau tahu, Ibuku dulu menjalin hubungan dengan orang lain, lalu putus dan bertemu dengan Ayahku tanpa sengaja dan akhirnya mereka menikah dan memiliki anak 3. Bahkan dulu Kakekku tidak merestui hubungan mereka hanya karena Ibuku bukan dari keluarga yang kaya raya."
Sabrina menoleh ke kanan dan krii untuk melihat keamanan di sekitarnya, lalu mencondongkan tubuhnya pada Joe dan berbisik, "Oh, itu terlihat dari cara Kakekmu memandang ku tadi."
Joe terkekeh tanpa merasa tersinggung dengan ucapan Sabrina barusan sekalipun perkataan wanita itu jelas seperti menjelekan kakeknya, tapi faktanya itu memang benar. Ia sendiri menyadari pandangan kakeknya yang memang agak berbeda.
"Iya, itulah Kakekku. Dia langsung mengira kalau kita ada hubungan hanya karena aku membantumu tadi. Pikiran Kakekku memang sedikit kolot soal percintaan, jadi dia tidak memaklumi orang yang lebih sibuk mengurus kisah cintanya."
"Itu memang bagus, lagipula kita masih terlalu muda untuk sibuk pada percintaan saja." ujar Sabrina setuju.
Joe menyipitkan matanya, "Lalu kenapa kau sendiri berkencan kalau menurutmu itu tidak begitu penting di usia muda seperti ini?"
Sabrina menggelengkan kepalanya tanpa menjawab. Ia juga tidak menemukan alasan yang tepat untuk menyanggahnya, hanya saja ia merasa tepat berhubungan dengan Hans.
Hans adalah orang yang tepat untuk menjadi teman sekaligus kekasih baginya. Ia tidak menemukan alasan apapun untuk melepaskan hubungannya dengan Hans dan menurutnya Hans memang orang yang tepat untuk menerima dirinya apa adanya.
Seandainya ia tidak menemukan Hans, ia mungkin saat ini hanya sibuk pasa pekerjaannya saja dan belum fokus pada percintaan, tapi menemukan Hans membuatnya bisa fokus pada pekerjaan dan tidak monoton pada percintaan saja.
"Memang omongan wanita tidak bisa dipegang dan dipercaya." ejek Joe.
Sabrina menatap pria itu dan melotot dengan kesal, "Bukankah itu kata-kata untuk mencemooh pria."
"Kenyataannya kau tidak melakukan apa yang kau katakan, jadi omonganmu adalah omong kosong." desis Joe, lalu meneguk minumnya dan meninggalkan Sabrina dengan kesal.
Memang ia sudah selesai makan, tapi meninggalkan wanita itu sendirian adalah keputusan yang agak berat. Ia masih ingin berbincang dengan Sabrina, hanya saja ia sedikit kesalahan ketika mendengar Sabrina memberi pesan agar tidak fokus pada percintaan di usia muda, padahal diri yang sendiri tidak melakukan apa yang dikatakan.