Nazeela menatap ponselnya berulang kali dan menghela nafas saat pesannya tak jua mendapat balasan dari orang yang ia rindukan. Ia sudah mengirimi Joe pesan beberapa kali, tapi pria itu tak membalas pesannya bahkan tidak membacanya sama sekali.
Akhir-akhir ini Joe sibuk lebih dari biasanya, sampai tidak bisa membalas pesannya lagi seperti waktu sebelumnya. Ia tahu bahwa mereka bukan lagi anak kecil yang kerjaannya hanya memainkan ponsel seharian penuh dan sempat berbalas pesan kapan saja.
Ia dan Joe sudah sama-sama dewasa dan mereka samasama memiliki pekerjaan tertentu yang membuat mereka lebih fokus pada kegiatan masing-masing.
Tapi, Nazeela benar-benar merasa kehilangan karena ia sudah hampir sebulan ini tidak bertemu dengan Joe dan pria itu seperti sengaja mengabaikannya. Entah apa salah jika pria itu membaca pesannya dan mengatakan kalau dirinya sibuk, supaya Nazeela memakluminya?
Nazeela tak ingin berharap banyak, tapi ia juga tidak mungkin memaksakan kehendaknya pada Joe. Akhirnya untuk mengobati kerinduannya, Nazeela sering menghubungi Kay dan bertanya pada gadis itu mengenai Joe.
Meski begitu, Nazeela juga tidak mungkin bisa leluasa dan seenaknya bertanya kapan saja kepada Kay. Ia takut kalau gadis itu nantinya menjadi terganggu dengan pertanyaannya dan membuat Kay sebal padanya.
Tapi memendam kerinduan itu rasanya sangat berat dan Nazeela tak suka perasaan itu. Ia tidak suka dengan perasaan tak tenang ini. Ia sadar kalau dirinya bukan siapa-siapa di mata Joe, tapi ia ingin menjadi prioritas pria itu.
Dirinya terlalu posesif karena ingin pesannya dibalas oleh Joe sekalipun ia tahu kalau ia tak memiliki hubungan spesial yang mengharuskan Joe mengiriminya pesan. Nazeela memang kekanakan, ia mencintai orang yang salah dengan menuntut banyak hal.
Dengan gerakan cepat, Nazeela mengganti bajunya dan memilih pergi ke salah satu kelab malam menggunakan mobilnya. Bukan hal baru, tapi Nazeela bukan termasuk peminum yang baik. Saat terlalu stress, ia memang pergi ke kelab malam untuk melampiaskannya.
Di perjalanan, Nazeela memainkan ponselnya dan mengirimi Nah la dan Zayya pesan yang mengundang kedua temannya itu untuk datang menemaninya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama baginya di perjalanan. Nazeela sampai dan memarkirkan mobilnya. Ia mengambil ponselnya dan tas mininya untuk dibawa ke dalam.
Suara musik dengan bass yang cukup kuat seharusnya mengganggu Nazeela yang galau, tapi kenyataannya ia malah semakin bersemangat untuk mabuk. Ia ingin melupakan sejenak perasaan bodohnya pada Joe.
Ia memesan segelas alkohol yang langsung dilayani oleh bartender, tapi karena di meja bartender sudah penuh, maka Nazeela terpaksa mencari meja lain untuk duduk. Ia duduk di salah satu sudut karena kebetulan ada sepasang kekasih saja yang duduk di sana dan ia bisa bergabung di sofanya.
"INI BENAR-BENAR PERTAMA KALINYA UNTUKMU KE SINI?" ujar suara pria dengan cukup lantang supaya wanita di sampingnya dapat mendengarnya.
Nazeela bahkan sampai menoleh dan melihat ke sumber suara itu sangking merindukan Joe. Ia bahkan sampai merasa kalau dirinya sudah gila karena mendengar suara Joe di kelab malam ini, padahal ia tidak yakin dengan kemungkinan seperti itu karena ia tahu kalau Joe bukan orang yang suka ke kelab.
"Joe?" serunya saat ia benar-benar melihat pria itu. Jujur, Nazeela bukan wanita yang kuat minum, tapi ia belum mabuk hanya karena minum seteguk alkoholnya. Ia benar-benar merasa sadar kalau yang ia lihat adalah Joe.
"Dengan siapa?" pikirnya saat melihat seorang wanita berjalan di samping Joe. Nazeela melihat langkah keduanya menuju lantai dansa dan menari bersama.
"Sabrina?" seru Nazeela saat melihat jelas wajah wanita itu sekalipun cahayanya tidak begitu terang.
Nazeela sekali lagi membuka ponselnya dan berharap bahwa Joe sudah membaca pesannya, tapi ternyata belum. Pesannya masih terabaikan begitu saja dan kini pria itu sedang sibuk menggoda kekasih orang.
"Hai Zee." Nazeela mendongak dan melihat seseorang yang menyapanya tiba-tiba.
"Abbas?" tanya Nazeela setelah ingat pria bernama Abbas yang bekerja di restoran orang tuanya Joe.
Abbas tak menduga kalau ternyata Nazeela mengenalnya dan mengetahui namanya. Secara kebetulan tadi ia melihat wanita pujaan hatinya itu berada di kelab itu dan sedang sendirian, jadi Abbas memilih menghampirinya saja.
"Iya, syukurlah kalau kau mengenal ku." ujar Abbas.
"Ada apa?" tanya Nazeela.
Abbas menggelengkan kepalanya, "Aku hanya menyapa saja."
Nazeela menatap kembali ke lantai dansa dan menemukan Sabrina dengan Joe sedang bersenang-senang. Ia melihat bagaimana Joe berusaha menempelkan tubuhnya ke tubuh Sabrina seperti bersikap posesif dan itu membuatnya terbakar api cemburu.
"Kau ingin ke lantai dansa?" tanya Abbas yang ternyata belum pergi dari tempatnya berdiri menyapa Nazeela tadi sampai Nazeela sendiri terkejut mendengar suaranya.
Nazeela menggelengkan kepalanya dan meneguk alkoholnya hingga tandas satu gelas, lalu menghampiri meja bartender lagi dan memesan kembali. Abbas mengikuti wanita itu di belakangnya, tapi tidak berusaha menghentikan Nazeela.
"Kenapa kau minum, Zee?" tanya Abbas.
Nazeela memutar kepalanya dan menatap Abbas, "Menurutmu kalau pria tidak membalas pesanku, apa itu artinya dia tidak menyukaiku?" tanyanya.
Abbas mengerjap beberapa kali mendengar pertanyaan itu, terlebih karena posisi Nazeela yang sangat sekat dengan wajahnya ketika berbicara, "Tidak sepenuhnya seperti itu. Mungkin dia sedang sibuk."
"Bagaimana kalau ternyata dia sibuk menggoda kekasih orang lain?" tanya Nazeela lagi.
"Ya, itu mungkin memang karena dia terlalu sibuk dengan wanita itu, jadi tidak membalas pesanmu." jelas Abbas, lalu menatap Nazeela lagi, "Kau tidak membahas Joe kan, Zee?" tanyanya
Nazeela terkejut, "Kenapa kau berpikir ini mengenai Joe?" tanyanya.
"Aku tahu beberapa dekat kalian hanya dengan melihat beberapa kali, tapi terakhir Joe bekerja di restoran, ia mengatakan bahwa kalian tidak memiliki hubungan spesial dan bersedia mendekatkanku denganmu."
"Joe mengatakan seperti itu?" tanya Nazeela tak percaya.
Saat Abbas mengangguk, ia memutar kepalanya untuk melihat Joe yang sedang bersama wanita lain dan tertawa seolah mereka sangat bahagia. Nazeela meremas gelasnya dengan kecewa. Ternyata mereka memang tidak sespesial itu sampai Joe sendiri ingin mencomblangkannya dengan Abbas.
"Abbas, aku minta maaf, tapi aku tidak memiliki perasaan apapun untukmu." tolak Nazeela dengan cepat.
"Maaf Zee, tapi aku belum berjuang, jadi aku tidak menerima penolakan. Entah nantinya aku akan ditolak atau tidak, tapi untuk sekarang aku belum melakukan apapun dan tidak ingin berhenti." jelasnya.
Nazeela mengangguk saja, tapi ia memilih meninggalkan Abbas sambil menuju lantai dansa dan berjoget dengan mengabaikan orang lain. Ia berusaha mengambil posisi cukup jauh dari Joe dan Sabrina.
Kepalanya mengikuti seirama musik dan tubuhnya bergoyang bebas dengan rambut terurai yang membuatnya tampak cantik dan seksi secara bersamaan. Nazeela menggoyang tubuhnya untuk melupakan semua hal yang memberatkannya. Ia dengan berputar-putar berjoget ke sana kemari dan tanpa sengaja malah berakhir dengan menyenggol Joe dan Sabrina.
Untuk sesaat mereka saling bertatapan, terkhusus Joe yang terkejut melihat kehadiran Nazeela. Ia menatap rambut dan pakaian Nazeela yang sedikit berantakan, lalu melihat mata wanita itu yang sedikit sayu.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak melihat dan terlalu asik sendiri." ujar Nazeela sambil membungkukkan tubuhnya seolah meminta maaf, lalu ia pergi ke tengah lagi dan berjoget ria seolah tidak mengenal Joe dan Sabrina.
Joe masih menatap Nazeela yang berjoget-joget sendiri dengan cukup bingung karena wanita itu mengabaikan pertemuan tanpa sengaja mereka seolah mereka memang tidak saling kenal.
Nazeela berjoget sangat asik sekali, tapi air matanya hampir menetes karena Joe tidak menghampirinya dan menegurnya. Pria itu malah diam dan masih fokus pada wanitanya sendiri.
Sepertinya keberadaan Sabrina sangat berpengaruh besar pada pria itu sampai Joe saja tidak berusaha menemui Nazeela dan itu sangat membuat Nazeela kecewa. Ini lebih mengecewakan dibandingkan Joe yang tidak membalas pesannya.
"Nazeela bodoh, berani-beraninya kau berpikir bahwa Joe akan mendatangimu." ujarnya.
"Hai cantik." sapa seorang pria muda pada Nazeela. Nazeela berhenti dan menatap pria di sampingnya itu sejenak.
"Hai." sapanya membalas setelah melihat wajah yang tidak begitu buruk.
"Aku melihatmu sendirian saja, meski awalnya aku ragu karena wanita secantik dirimu sedang sendiri di sini."
Nazeela mengangguk, "Tapi maaf, aku bukan wanita yang bisa kau pakai. Aku tidak tidur dengan sembarang pria." jelasnya tanpa basa-basi karena ia yakin kalau pria itu sedang mencari teman tidur.
Untuk menghindari pria itu, Nazeela memilih mencari meja kosong lainnya dan duduk untuk beristirahat sejenak. Ia cukup lelah hanya karena berjoget-joget, sampai memutuskan mengikat rambutnya yang panjang.
Nazeela melihat sekelilingnya sambil mencari keberadaan Joe dan Sabrina, tapi ia tidak berhasil menemukannya. Ia melihat ke lantai 2 dan tanpa sengaja melihat bahwa mereka sedang berjalan menuju kamar studio di kelab itu.
Nazeela merasa jantungnya teremas dan sakit sekali sampai ia memutuskan untuk berdiri dan keluar dari kelab. Melihat mereka berjalan di lantai 2 saja sudah membuat Nazeela kepanasan, apalagi jika menyelidiki lebih lanjut. Ia sudah bisa membayangkan percintaan panas seperti apa yang bisa terjadi karena sentuhan Joe yang memabukkan.
Di dalam mobil, Nazeela meremas setirnya sendiri dan berusaha menghilangkan pemikiran tentang kegiatan tidur Joe dan Sabrina. Nazeela ingin menghubungi Hans dan memberitahukan perihal kekasihnya yang sedang berduaan dengan Joe, tapi ia memilih membiarkan mereka berdua karena itu bukan urusannya.
Nazeela bersandar di mobilnya sambil menatap pintu keluar kelab sambil mencari tahu apakah Joe dan Sabrina akan keluar sebentar lagi atau tidak. Ia masih berusaha berpikir positif dengan mengingatkan bahwa Joe pasti tidak sebrengsekk itu sampai menyentuh kekasih temannya sendiri.
Hampir satu jam barulah Joe dan Sabrina keluar dan Nazeela masih betah dengan penantiannya. Ia melihat bagaimana pria itu sangat romantis dengan membukakan pintu mobil untuk Sabrina masuk. Ia juga melajukan mobilnya begitu mobil Joe meninggalkan parkiran.
"Apa mereka akan ke hotel? Atau justru ke apartemen Sabrina?" pikirnya sambil mengikuti mobil Joe.
"Kenapa sebenarnya aku mengikuti mereka? Padahal aku tahu rasanya sakit dan tidak nyaman." ujar Nazeela meremas setirnya dengan bodoh. Sejak tadi ia ingin berhenti mengikuti, tapi kebodohannya membuatnya sampai sejauh ini.
"Sepertinya permainan satu jam sudah cukup bagi mereka." ujar Nazeela saat melihat Joe hanya mengantarkan Sabrina saja ke apartemen wanita itu.
Begitu Sabrina masuk ke dalam gedung apartemen, Joe langsung keluar dari mobilnya dan membuat Nazeela bingung, terlebih ketika pria itu mendekati mobilnya.
Tok tok tok
"Aku tahu kalau itu dirimu, Zee."
Nazeela melirik ke jendela mobilnya karena Joe mengetuknya. Sepertinya pria itu tahu kalau ia mengikutinya sejak tadi. Tanpa berpikir dua kali, Nazeela segera mundur tanpa peringatan dan membuat Jeo menjauh dari mobilnya.
Dengan cukup panik, ia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi dan pergi begitu saja dengan perasaan terluka mengingat Joe yang mengetahui aksi menguntitnya. Ia tidak ingin menemui pria itu karena rasanya sangat sakit.