Dua Puluh Satu

1308 Kata
Hari ini Kay mengunjungi apartemen Nazeela seperti janji mereka di hari yang lewat untuk bertemu karena Kay penasaran bagaimana gaun yang sedang dikerjakan oleh Nazeela dan ingin segera melihat hasilnya. Kejadian kemarin membuat perasaan Nazeela sedikit kurang baik, apalagi saat mengingat Joe dan wanita lain bersama, itu membuatnya merasa berantakan. Jika pria itu memang menginginkan wanita, kenapa bukan dia? Nazeela bahkan bersedia menjadi pemuas nafsu Joe jika memang pria itu menginginkan sentuhan seperti itu. Ia bisa mengimbangi Joe, asal bukan Joe meminta wanita lain bersamanya. Ia tidak rela dan hatinya merasa sakit menyaksikan itu sendiri dengan matanya. Ia sudah mencoba untuk tidak menjadi wanita bodoh, tapi Joe berhasil membuatnya merendahkan diri seperti ini. Ia tidak ingin menjunjung tinggi dirinya jika itu di hadapan Joe. Ia begitu berharap bahwa pria itu akan memandangnya sekali saja sebagai wanita bukan teman. "Zee, bantu aku membukanya." ujar Kay sambil memunggungi Nazeela untuk menurunkan resleting gaun itu. "Kay?" Nazeela berseru memanggil nama Kay hingga gadis muda itu menatap Nazeela penasaran. "Apa?" "Apa baru-baru ini Joe pernah mengajak wanita lain ke rumah kalian?" "Tidak." jawab Kay cepat karena memang tidak ada wanita asing yang berkunjung ke rumah belakangan ini. Tidak ada yang berkunjung ke rumah mereka, bahkan Nazeela sekalipun. "Kau takut Joe sedang dekat dengan wanita lain?" tanyanya lagi. Nazeela menggelengkan kepalanya, "Tidak, itu haknya pribadi kan." "Aku tidak menduga kalau Joe selamat ini. Tapi aku sebenarnya penasaran dengan sesuatu." ujar Kay sambil memperhatikan Nazeela lebih intens. "Penasaran soal apa?" tanya Nazeela. "Sebenarnya kau memang menyukai Joe atau bercanda?" Nazeela menatap Kay terkejut karena pertanyaan seperti itu, "Kau juga merasa kalau perasaanku ini hanya candaan seperti Joe?" tanyanya. Kay menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia sama sekali tidak pernah berpikir kalau itu adalah candaan Nazeela, tapi setelah teringat dengan ucapan Joe, ia jadi penasaran dan ingin memastikan sendiri bahwa dugaan Joe tentang perasaan Nazeela itu salah. "Aku sangat yakin kalau perasaanmu pada Joe sungguh-sungguh, hanya saja aku ingin memastikan." "Kay, sebenarnya kemarin aku melihat Joe jalan dengan wanita lain." "Benarkah?" "Iya, sepertinya dia menyukai wanita itu." ujar Nazeela terdengar cukup menyedihkan. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau tidak ingin mengakui perasaanmu pada Joe? Dia sedikit lambat soal perasaan, jadi kau tidak mungkin terus menunggu kan, Zee." "Jadi kau menyuruh ku mengakui perasaanku lebih dulu?" "Itu hanya saran saja, aku tidak memaksa. Walau bagaimanapun, kau mungkin merasa itu terlalu merendahkan dirimu sebagai wanita, tapi di zaman sekarang ini sepertinya sedang trend wanita mengungkapkan lebih dulu jika prianya lambat." ujar Kay meyakinkan Nazeela. "Aku sudah sering mengungkapkannya, Kay, tapi Joe menganggapnya candaan semata." "Itu karena kau nengungkapkannya memang lewat candaan , Zee. Cobalah mengungkapkan di waktu yang lebih tepat dengan serius seratus persen. Tidak boleh tampak seperti kau sedang bercanda lagi." "Sebenarnya aku pesimis, Kay. Joe seperti tidak memiliki perasaan apapun untukku. Aku bisa merasakan tatapannya yang berbeda pada wanita yang ia sukai dengan saat menatapku." "Aku juga tidak bisa melakukan apapun untuk itu sekalipun aku mendukung hubunganmu dengan Joe." "Tidak masalah. Oh ya Kay, ini sudah jam 5, bukankah tadi kau bilang ada janji dengan temanmu?" Kay melirik arloji yang menempel di tangan kirinya dan menepuk jidatnya, "Astaga, bisa-bisanya aku lupa. Aku pergi dulu kalau begitu." pamit Kay dengan terburu-buru mengambil tas dan ponselnya, lalu membawanya keluar dari apartemen Nazeela. Ketika Nazeela sedang sibuk membereskan kekacauan di ruang menjahitnya, ponselnya bergetar beberapa kali dan membuatnya penasaran dengan notifikasi itu. Ia menatap bingung menemukan ada spam chat dari Kay yang baru 5 menit lalu keluar dari apartemennya. Kay *Zee *Hei *Joe datang ke apartemen mu, kami berselisih jalan. *Sepertinya dia sangat terburu-buru Nazeela tiba-tiba saja merasa gugup hingga ia langsung keluar dari ruang menjahitnya dan merapikan penampilannya agar tidak se berantakan sebelumnya. Ia bahkan memoles bibirnya dengan lipstik tipis agar tidak terlihat begitu pucat. Dan ketika belum apartemennya berbunyi, ia segera membuka pintu dan benar saja, Joe berada di depan pintunya. "Apa yang kau lakukan di sini, Joe?" tanya Nazeela berpura-pura tidak menduga kehadiran Joe. Joe menatap Nazeela dari atas hingga ke bawah, "Kau tidak sakit?" tanyanya. Nazeela nengernyit bingung, tapi tetap menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, "Tidak. Memangnya kenapa?" "Kay siialan, dia mengabariku dan mengatakan kau sedang sakit." Benarkah Kay mengatakan hal seperti itu pada Joe? Padahal sedari tadi Kaya tidak memegang ponsel, tapi ternyata tanpa sepengetahuan Nazeela, gadis itu membuat skenario sendiri. Dasar Kay nakal. "Kau baru pulang bekerja?" tanya Nazeela sambil memperhatikan tubuh Joe yang berbalut pakaian kerja yang agak kusut. Joe menganggukkan kepalanya, "Iya. Boleh aku menumpang di kamar mandi mu sebentar?" "Tentu saja." Nazeela menggeser posisinya berdiri dan mempersilahkan Joe masuk dan pergi ke kamar mandinya. Ia menikmati harum yang tersisa ketika Joe meninggalkannya. Pria itu benar-benar harum bahkan disaat sudah sesore ini. Ketika Joe keluar dari kamar mandi, Nazeela segera berdiri dan menatap pria itu, "Kau mau minum dulu?" tanyanya. Joe menatap Nazeela sebentar, lalu berlalu menatap arlojinya, "Tidak usah. Aku langsung pulang saja. Tadi aku datang hanya untuk memastikan ucapan Kay, tapi ternyata kau sehat. Dia pasti sengaja mengerjaiku." "Joe." seru Nazeela saat pria itu berbalik dan akan segera meninggalkannya. "Hm?" Joe menoleh. "Bagaimana pekerjaanmu? Apa kau menyukainya?" tanya Nazeela bertanya sambil menahan kepergian Joe karena ia masih ingin berada di dekat pria itu. Pria itu terlalu terburu-buru ingin pergi tanpa menyempatkan waktu untuk berbincang sedikitpun dengannya. Joe terkejut mendengar pertanyaan tak biasa itu, "Ah iya, aku menyukainya walaupun itu agak memberatkan awalnya. Aku hanya perlu menyesuaikan diri sampai saat ini." "Apa rekan kerjamu juga baik?" tanya Nazeela dengan sengaja. Joe mengangguk lagi, "Mereka banyak membantu. Bagaimana pekerjaanmu?" Nazeela menggelengkan kepalanya, "Seperti biasanya, semuanya berat dan membutuhkan waktu yang lama. Otakku butuh hiburan sedikit." "Itu sebabnya kau kemarin ke Kelab?" tanya Joe. Nazeela tidak menduga Bahwa Joe akan membahas hal kemarin dan menyadari pertemuan dengannya. Pria itu bahkan belum membalas pesannya sampai sekarang meskipun mereka sempat bertemu dan Joe memergoki Nazeela mengikutinya. "Ah itu, iya." ujar Nazeela dengan kikuk, padahal kemarin ia pergi ke kelab bukan karena itu adalah bentuk hiburan dari pekerjaan, tapi dari kegalauannya karena hubungannya dengan Jos semakin dibentang oleh jarak dan waktu. "Dengan siapa kau pergi kemarin?" Kenapa sekarang pria bersikap seolah perduli dengan Nazeela padahal semalam saja, Joe berusaha menghindarinya dan sengaja tidak menemuinya langsung. "Sendiri. Kau tidak membalas pesanku, jadi aku tidak mengajakmu. Lagi pula kau juga bersama temanmu kemarin." ujar Nazeela. "Dan kau mengikutiku mengantar Sabrina ke apartemennya." ujarnya. Nazeela masih merasa malu atas kejadian itu, tapi ia berusaha menunjukkan wajah baik-baik saja dan tambah begitu peduli dengan dirinya yang ketahuan semalam membuntuti Joe. "Ah iya, Sabrina, itu kekasih Hans." ujar Nazeela sengaja berkata seperti itu untuk menyindir Joe yang mengajak kekasih orang kencan. "Oh iya, aku pergi dulu Zee. Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama mampir di apartemen mu." "Joe?" "Ya?" Nazeela menatap Joe dengan ragu, lalu berkata, "Aku juga bisa digunakan sebagai pelampiasan. Aku hanya ingin memberitahukan itu." Joe mengerjap beberapa kali sambil berusaha memahami ucapan Nazeela, lalu menatap wanita itu dengan tajam, "Kenapa kau berkata seperti itu?" tanyanya tak suka. Nazeela menggelengkan kepalanya dengan senyum kecil, "Aku hanya ingin memberitahumu saja. Kalau pekerjaanmu menjadi beban tersendiri, aku bersedia jadi pelarian, Joe. Aku rasa tubuhku tidak begitu mengecewakan." ujarnya dengan sangat santai dan membuat Joe sangat terkejut mendengarnya. "Apa yang kau katakan, Zee? Kenapa berkata seperti itu?" "Tidak apaapa, Joe. Pergilah kalau memang kau sibuk." ujar Nazeela sambil mendorong tubuh Joe keluar dari apartemennya. Setelah Joe berhasil keluar dan Nazeela menutup pintu apartemennya, ia langsung bersandar di balik pintu dan meremas rambutnya. "Kenapa aku semurahan itu melemparkan diriku pada pria yang jelas-jelas tidak mengharapkan diriku. Bodoh sekali." rutuknya. Sabrina bisa mendapatkan Joe dengan mudah tanpa melemparkan dirinya seperti seorang jallang, tapi Nazeela butuh perjuangan untuk menurunkan harga dirinya agar Joe bisa menatapnya bahkan dengan cara terendah sekalipun. Cinta memang terkadang sebodoh itu dan Nazeela menjadi salah satu korban kebodohan cintanya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN