Semakin hari kedekatan antara Sabrina dan Joe semakin tampak jelas, apalagi dengan adanya pekerjaan sebagai alasan untuk intensnya pertemuan mereka. Sabrina baru menyadari bahwa sebenarnya Joe itu bukan orang yang menyebalkan seperti pemikiran yang tertanam padanya selama ini.
Setelah mengenal Joe semakin dalam, ia jadi banyak mengetahui bahwa pria itu sangat baik dan dapat diandalkan. Apalagi sejak mereka pergi ke Kelab beberapa hari yang lalu, Sabrina semakin banyak membuka akses untuk kedekatannya dengan Joe.
Joe juga dapat merasakan perubahan itu sejak ia mendengar sendiri curahan hati Sabrina karena di hari mereka pergi ke Kelab, sebenarnya itu karena saat siang, Sabrina bertemu dengan ibunya Hans yang sengaja mengiriminya pesan untuk bertemu.
Sabrina pikir itu adalah kesempatan yang baik untuk lebih mengenal Hans dan keluarganya, apalagi di pertemuan pertama mereka sebelumnya, ibunya Hans menunjukkan ketidaksukaan padanya, jadi ia merasa perlu waktu untuk lebih dekat dan mengubah pandangan ibu Hans tentangnya.
Sayangnya yang ia pikirkan sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi. Ibunya Hans justru datang sambil membawa Kyle dan membuat Sabrina terpaksa minum obat depresinya untuk meneguhkan kakinya pada pertemuan itu.
Mau tak mau Sabrina akhirnya menemui mereka dan bergabung dengan dua orang yang sudah terlihat akrab itu. Bahkan kedatangannya saja sengaja diabaikan oleh mereka yang sedang melihat menu restoran. Rasanya ingin sekali Sabrina menggebrak meja agar keduanya menyadari kehadirannya.
Ia memilih menghela nafas dan duduk dalam diam, lalu dengan satu tarikan nafas, ia akhirnya bersuara, "Selamat siang, Bibi."
"Aku tidak menyadari kedatanganku." ujar ibunya Hans membuat hati Sabrina dongkol, tapi ia tetap menahannya dan menunjukkan ekspresi keramahan lewat senyumnya sekalipun itu sangat terpaksa.
Ingin sekali ia berkata pada ibunya Hans, "Iya, Bibi terlalu sibuk melihat menu makanan di restoran ini seolah tidak pernah makan di restoran sebelumnya." sayangnya ia tak berani mengungkapkannya langsung.
Niatnya sejak awal adalah mengubah pandangan ibu Hans padanya, jadi ia tambah boleh sembrono dengan ucapan-ucapan yang akan membuat ibunya Hans berpikir kalau ia adalah wanita yang buruk untuk Hans.
"Oh ya, kau bisa melihat menu dan menuliskan pesananmu."
Sabrina tidak banyak berpikir untuk memilih menu makan siangnya. Ia hanya butuh waktu satu menit untuk menuliskannya dan menyerahkan pada pelayann restoran.
Untuk sejenak, di meja itu hanya ada kebisuan karena Sabrina, Kyle maupun ibunya Hans sama-sama diam dan saling lirik-melirik. Sabrina sesekali melirik Kyle dan menundukkan kepalanya saat wanita itu meliriknya balik.
"Aku akan terus terang saja untuk pertemuan kita kali ini." ujar ibunya Hans setelah satu tarikan nafas.
Sabrima melipat tangannya di depan meja dan menatap ibunya Hans dengan penasaran,"Apa yang ingin Bibi sampaikan?" tanyanya.
"Hans sudah memiliki Kyle sebagai calon istrinya, tidak peduli itu untuk pernikahan yang diadakan 2 atau 4 tahun ke depan, tapi pilihan Hans akan tetap Kyle." jelas ibunya Hans.
Sabrina mengernyit, "Hans tidak mengatakan apa-apa padaku, Bibi. Aku bisa menanyakan hal ini lebih lanjut padanya."
"Ini bukan tentang kau dan Hans, tapi ini tentang keputusan keluarganya. Kami sudah lama menjodohkan Kyle dengan Hans untuk mempererat hubungan kami. Aku a mengatakan ini dengan baik-baik supaya kau mulai mempertimbangkan untuk menjelaskan Hans segera supaya tidak merasakan sakit yang lebih dalam. Lambat laun, Hans juga akan berubah pikiran dan mulai menerima Kyle sebagai calon istrinya. Keberadaanmu sekarang dengan hubungan kalian, itu yang membuat Hans berat untuk menyanggupi permintaan orang tuanya." jelas ibunya Hans lagi.
"Iya, lagipula aku yakin kalau hubunganmu dengan Hans tidak akan berjalan lebih lama. Hans sudah lama mengenalku dan kami jauh lebih memiliki kesempatan untuk hubungan lebih lanjut. Sesama wanita, aku tidak ingin menyakiti hatimu dengan membiarkan Hans bermain-main denganmu lebih lama. Orang tua kami akan terus memaksakan hubungan ini apapun yang terjadi, sehingga nantinya kau juga harus merelakan perpisahan dengan Hans. Maka lebih baik pergi sekarang sebelum perasaanmu semakin dalam dan harapanmu pada Hans semakin tinggi." tambah Kyle.
Sabrina meremas tangannya dan tersenyum, "Maaf, tapi sebelum Hans sendiri yang memutuskan untuk berpisah, maka aku tidak akan meninggalkannya." ujarnya dengan yakins, tidak peduli tatapan ibunya Hans padanya semakin tajam dan penuh kemarahan.
"Wanita siialan." maki ibunya Hans tiba-tiba dan membuat Sabrina menatap tak percaya mendengar kalian tersebut.
"Siapa yang Bibi maksud?" tanya Sabrina dengan pura-pura tak mengerti.
"Kau. Kau adalah wanita siialan yang sengaja mendekati anakku untuk hartanya kan."
"Memangnya anak Bibi sudah memiliki apa untuk bisa kulihat dari hartanya? Bukan semua yang dia miliki adalah milik orang tuanya." balas Sabrina.
"Kau tidak akan pernah menikah dengan anakku. Aku jelas tahu kalau kau tidak sopan sejak awal."
Sabrina terkekeh geli sendiri mendengar ucapan barusan, "Heh, Bibi mengucapkan hal itu tanpa mengoreksi diri sendiri. Sepertinya kita pun sama-sama tahu kenapa aku berani membalas perkataan Bibi seperti itu. Kalau kedatangan kalian hanya untuk memisahkan hubunganku dengan Hans, maka aku tidak berminat. Tidak peduli ibunya akan menyukaimu atau tidak, kalau Hans sudah mencintaiku, maka ia akan lebih memilihku." desis Sabrina dengan lebih tajam dan membuat ibunya Hans semakin emosi emndengar keberaniannya itu.
"Heh, kau pikir Hans akan memilihmu? Aku akan memastikan sendiri bahwa anakku tidak akan menikah denganmu, sebelum kematianku." ujar ibunya Hans.
"Baiklah Bibi. Terima kasih atas undangan makan siangnya. Aku pergi dulu karena aku ada pekerjaan. Aku sibuk bekerja demi mengumpulkan uang, supaya tidak perlu mengejar harta Hans yang berlimpah." sindir Sabrina pada ibunya Hans sebelum ia akhirnya pergi meninggalkan restoran itu dan menuju kamar mandi dengan kaki dan tubuh yang lemas.
Entah dari mana datangnya keberanian Sabrina untuk bersikap lancang seperti itu pada ibunya Hans. Ia hanya melemparkan kalimat yang muncul di pikirannya supaya wanita itu tidak meremehkannya dan menganggap bahwa ia sangat bergantung pada apa yang Hans miliki entah itu dari keluarganya ataupun kemampuannya sendiri.
Sabrina tidak akan rela orang lain berusaha menjatuhkannya seperti itu seolah ia tidak berani membantah. Ia bukan tipe orang yang membiarkan harga dirinya diinjak-injak, bahkan walaupun itu dilakukan oleh ibunya Hans yang harusnya ia mengambil hati wanita itu untuk sebuah restu berhubungan dengan Hans.
Ia yakin kalau Hans akan bisa memutuskan sendiri untuk tetap melanjutkan hubungan dengannya tanpa campur tangan ucapan keluarganya. Kalau pria itu memang mengenal dan memilih Sabrina, maka Sabrina tidak perlu menjelaskan apapun untuk menarik hati orang tua Hans.
Sabrina tahu kalau hubungan dengan keluarga itu nantinya akan sangat penting, tapi kalau orang lain tidak berusaha melihat dan menerima dirinya, maka ia tak ingin bersusah payah untuk merendahkan diri hanya untuk membuat orang itu menyukainya. Ia bukan orang bodoh. Ia sudah pernah diinjak-injak sebelumnya dan kini itu membuatnya takut diperlakukan hal yang sama, maka supaya hal itu tidak terjadi, ia harus berani mengambil keputusan untuk membalas ucapan orang lain yang menyakitinya.
Tidak ingin lagi Sabrina menjadi bodoh dengan hanya diam atau menangis ketika diinjak-injak. Ia punya mulut untuk melawan dan punya tangan untuk bertengkar. Kalau orang lain berani merendahkannya, maka ia juga bisa melakukannya.
Sabrina berhasil menemukan kamar mandi dan langsung masuk ke bilik yang kosong, lalu duduk di atas closet dan menutup wajahnya dengan penuh penyesalan atas keberaniannya. Ia yakin kalau sehabi ini tidak akan lagi ada kesempatan baginya untuk bersama dengan Hans karena ibunya Hans sendiri yang akan berusaha menyingkirkannya dari kehidupan pria itu.
Sabrina mengusap dadanya sendiri dan berusaha menguatkan dirinya dengan perkataan, "Kau sudah melakukan yang terbaik Sa. Itu bukan kesalahanmu. Kau sudah melakukan yang terbaik." ujarnya meyakinkan diri sendiri sekalipun ada air mata yang menetes di pipinya.
Ia meremas dadanya yang terasa sakit saat mulai sesak. Ia mengeluarkan botol minum kecil dan obat depresinya. Tanpa pertimbangan, ia mengambil 2 butir dan langsung memasukkannya ke dalam mulut dan meneguknya. Ia membutuhkan obat itu untuk menenangkannya meski dokter pribadinya mengatakan untuk tidak mengonsumsi lagi pil itu, tapi ia tidak punya pilihan lain supaya tenang.
Hampir satu jam Sabrina berada di sana dan membuat orang lain memakinya karena tak kunjung keluar padahal ada banyak yang ingin menggunakan toilet saat itu. Sabrina berusaha mengirimi Joe pesan untuk menjemputnya dan ia sangat bersyukur karena pria itu mau tanpa banyak pertanyaan.
Melihat Sabrina seperti sedang ada masalah, Joe mendatangi wanita itu dan bertanya. Sabrina langsung mengajak Joe ke Kelab malam untuk menenangkan dirinya dan Joe langsung setuju tanpa banyak berpikir. Joe merasa ada sesuatu yang tak beres dengan Sabrina dan akhirnya membiarkan wanita itu melupakannya dengan mengunjungi kelab pada malam hari.
Setelah minum dan berjoget di lantai dansa, Sabrina mulai banyak bicara mengenal masalahnya dan membuat Joe mengerti alasan wanita itu mabuk. Ia hanya mendengarkan sampai Sabrina puas bercerita dan melampiaskan kemarahannya. Joe tahu bahwa wanita itu butuh teman untuk tempat curhatnya karena Joe sendiri cukup yakin bahwa Sabrina tidak memiliki teman dekat wanita untuk berbagi keluh kesahnya.
Joe sudah melihat sendiri dulu bagaimana wanita itu berusaha menghindari orang lain, terkhusus keramaian supaya tidak perlu berinteraksi dengan orang lain.