Malam ini, Adkey dan keluarganya makan malam bersama dan menghabiskan waktu cukup lama untuk bertanya tentang kegiatan masing-masing. Sebagai orang tua, ia merasa perlu mendengarkan keluh kesah anak-anaknya supaya ada keterbukaan yang terbiasa dalam diri mereka sebagai bagian dari keluarga.
Dan karena Loy juga secara kebetulan pulang sore tadi, akhirnya mereka benar-benar bisa bergabung 5 orang. Bukan hal mudah bagi mereka untuk bisa berkumpul lengkap seiring bertambahnya umur anak-anak mereka yang membuat semakin sibuk.
Joe dengan pekerjaannya yang akhirnya membuatnya sering pulang larut. Kay dengan kegiatan kampusnya yang semakin banyak dan selalu menjadikan tugas sebagai alasan untuk mengerjakan dengan temannya. Dan Loy yang kesibukannya sudah tidak bisa ditandingi lagi karena jelas bahwa ia akan lebih tidak punya waktu untuk berkumpul bersama dibandingkan kedua kakaknya.
Kesibukan Loy semakin hari jelas semakin padat dan membuat jadwalnya sulit untuk diprediksi. Ia bahkan tidak bisa menjanjikan kapan ia bisa pulang ke rumah orang tuanya karena kesibukannya tersebut. Menjadi public figur artinya Loy tidak bisa sembarangan pulang sesuai keinginannya karena ia sendiri memiliki manager untuk memanagemen kegiatannya.
"Bagaimana pekerjaanmu, Loy?" tanya ibunya. Karena Loy yang paling jarang bisa berkumpul bersama, maka Ela sering meminta pada anak-anaknya untuk memahami jika ia lebih banyak bertanya pada Loy dan berharap mereka juga melakukan hal yang sama.
"Sejauh ini aku masih bisa mengontrolnya. Aku juga tidak tahu apa yang harus dibagikan kepada kalian." ujarnya.
"Berarti tidak ada masalah yang kau hadapi dalam pekerjaanmu?" tanya Adkey menatap serius putra bungsungnya.
Loy dan yang lain langsung menatap ayahnya dengan hela nafas dari Loy dan berkata, "Apa ada pekerjaan yang tidak memiliki beban tertentu? Kalau ada, maka semua orang akan berbondong-bondong melakukan pekerjaan yang kulakukan, Ayah."
"Benar juga." angguk Adkey setuju dan membuat Ela tersenyum saat melihat hal itu. Bagi Ela, anak-anak mereka itu termasuk beruntung karena ayahnya memiliki pola pikir yang tidak pernah memaksakan apa yang ia katakan harus benar atau tidak terbantah, padahal Adkey adalah anak yang lahir di keluarga yang ayahnya sendiri memiliki ketegasan tertentu untuk beberapa pandangan yang tak bisa dibantah.
"Sekarang aku mengerti alasan Ibu bisa menyukai Ayah." kekeh Kay.
Adkey melotot, "Apa maksudmu? Ibumu lebih dulu menyukaiku dibandingkan aku menyukainya." ujarnya tak terima.
"Tapi sekarang Ayah sangat mencintai Ibu dan selalu uring-uringan saat jauh dari Ibu." sindir Loy.
"Kalian akan mengerti kalau nanti sudah menikah." kekeh Adkey sedikit malu. Dibandingkan Ela, ia memang lebih sering mengungkapkan kerinduan secara terang-terangan saat mereka sedang dalam posisi berjauhan.
"Sebenarnya saat Ayah memutuskan menikah dengan Ibu, apakah Ayah sudah mencintainya?" tanya Joe. Ia cukup penasaran dengan hal itu dan memang selama ini belum ada kesempatan untuk mempertanyakanya. Mumpung saat ini ada kesempatan, maka Joe tidak menyia-nyiakannya.
Adkey menatap istrinya sebentar dan Ela mengangguk mengerti hanya dengan pandangan Adkey yang seolah meminta izin untuk menyatakan perasaannya secara jujur di depan anak-anaknya.
Adkey berdeham sedikit berat, lalu menggelengkan kepala, "Aku sebenarnya tidak tahu apakah aku dulu sudah mencintai Ibu kalian atau belum karena aku sendiri bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Aku hanya merasa perlu memperjuangkannya karena aku menemukan kenyamanan yang tidak pernah aku rasakan pada sosok lain. Selain itu, Ibu kalian ini dulunya terang-terangan menunjukkan perasaannya padaku." jelasnya.
"Perasaan itu bisa muncul seiring berjalannya waktu. Kau tidak harus menikah dengan orang yang kau cintai, karena kenyataannya beberapa perjodohan akhirnya malah berhasil sampai tua dan kehabisan umur." tambah Adkey lagi.
"Benarkah seperti itu? Lalu bagaimana jika ternyata rumah tangganya gagal?"
"Hanya karena tidak mencintai, tidak bisa menjamin pernikahan itu akan gagal, Joe. Yang penting di sini adalah bagaimana keduanya sama-sama berjuang untuk memunculkan perasaan itu tanpa adanya perasaan lain untuk orang lainnya. Seperti Ayah kalian yang sekalipun tidak mencintaiku dulunya saat kami menikah, tapi aku yakin bahwa perasaan itu akan muncul karena dia tidak memiliki perasaan lain untuk wanita lain." jelas Ela.
Joe, Loy bahkan Kay mengangguk mengerti akan ucapan orang tua mereka. Sekalipun belum di posisi itu, tapi mereka cukup setuju dengan pandangan Ela.
"Oh ya Joe, di mana Zee? Kenapa akhir-akhir ini dia tidak pernah lagi berkunjung?" tanya Ela tiba-tiba teringat dengan keakraban anaknya itu dengan Nazeela.
"Kami sama-sama sibuk, jadi belum ada kesempatan untuk bertemu. Dia juga sedang menyelesaikan gaun untuk mendapatkan sertifikatnya dari designer terkenal pilihan orang tuanya. Kalau tidak fokus, dia mungkin bisa mengerjakan untuk waktu yang lebih lama."
"Kalau bisa kau temui dan berikan semangat." dukung Ela.
"Iya, benar. Kau bisa mengantarkan ku saat bertemu dengan Zee dan menemui wanita itu. Lagi pula kalian juga kan biasa saling mendukung satu sama lain."
"Iya iya." angguk Joe.
"Sepertinya Joe menemukan wanita lain karena tadi sore aku melihatnya berjalan dengan wanita cantik yang bukan Nazeela." ujar Loy.
"Kau memiliki kekasih, Joe?" tanya Kay cukup terkejut. Ia tidak rela calon kakak iparnya tereliminasi padahal Joe sudah cukup lama mengenal Nazeela dan Nazeela juga sudah akrab dengan keluarga mereka.
Joe menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak." bantahnya.
"Dibalik bantahan cepat biasanya ada suatu kebenaran." selidik Loy dari tatapannya.
"Ya, setidaknya belum saat ini. Aku masih fokus untuk bekerja saja." jelas Joe dengan yakin.
"Dari perkataanmu seolah mengatakan kalau nantinya kau mungkin akan bersama wanita yang dilihat Loy?" duga Kay dengan sedikit tak suka.
"Biarkan saja Kay. Kenapa seperti kau yang tidak terima sekali jika Joe bersama dengan wanita itu."
"Bukan seperti itu, aku sudah menjadi pendukung tetap Zee. Aku ingin Zee yang menjadi kakak iparku nantinya."
"Bagaimana kalau adik ipar? Aku bisa mewujudkannya untukmu, Kay." ujar Loy tiba-tiba dengan santainya dan membuat keluarganya diam dan memperhatikannya dengan tajam.
Kay melirik Loy dengan sinis, lalu bergidik ngeri, "Candaanmu membuatku merinding, Loy. Kau tidak akan benar-benar melakukannya kan?"
"Tentu saja tidak kalau Joe akhirnya akan bersama Zee. Itu kan hanya keputusan akhir sahabat, jika Joe berujung menjalin hubungan dengan wanita lain. Itu artinya aku memiliki kesempatan untuk mengencani Zee kan?" tanya Loy.
"Itu juga kalau Zee mau." ujar Ela.
Joe berdeham karena tiba-tiba suaranya menghilang begitu mendengar ucapan penuh keyakinan dari Loy yang seperti benar-benar akan menjadikan Nazeela kekasihnya jika Joe jadian dengan wanita lain.
Joe tidak mengerti apakah itu hanyalah sebuah candaan atau keseriusan dari Loy, tapi tiba-tiba saja ia merasa tak nyaman dengan pembahasan yang barusan. Itu terdengar sedikit mengganggunya.
"Tentu saja. Aku juga tidak mungkin memaksakan Zee jika dia akhirnya memilih Joe atau mungkin pria lain."
"Kau tidak sungguh-sungguh dengan perkataanmu kan, Loy?" tanya Joe meyakinkan.
Loy terkekeh, lalu tersenyum dengan sedikit picik, "Kau terlihat seperti kekasih yang cemburu, padahal jelas kalau kau tidak berencana menjalin hubungan serius dengan Zee."
"Aku tidak ingin ada pertengkaran mengenai seorang wanita diantara kalian. Ingatlah bahaa hubungan persaudaraan lebih erat dibandingkan hubungan kekasih." ujar Adkey saat melihat anaknya saling melotot dari sama lain seperti berusaha saling mengintimidasi.
"Tenang Ayah, ini tidak akan menjadi pertengkaran jika nantinya Joe sudah memutuskan akan bersama wanita yang mana." ujar Loy menenangkan dengan senyum penuh keyakinan.