Nazeela membuka pintu dan terkejut saat mendapati 2 sahabatnya datang ke apartemennya, yaitu Nahla dan Zayya. Mereka sudah lama tidak bertemu karena sudah sama-sama sibuk dengan rutinitas masing. Nahla sibuk mengurus kelanjutan kuliahnya untuk menempuh S2, sementara Zayya sibuk mencari pekerjaan ke berbagai perusahaan.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Nazeela sangking terkejutnya.
Nahla memutar bola matanya malas dan mendorong tubuh Nazeela agar bergeser dari pintu dan ia masuk tanpa permisi. Zayya menyusul Nahla sambil melintasi Nazeela yang sedang meringis sambil mengutuk mereka. Bahunya jadi sedikit sakit karena menabrak pintu.
Nahla duduk di sofa, “Aku ingin minum. Tidak perlu repot-repot, tapi kami tidak ingin air mineral saja.” Ujarnya.
Nazeela menatap sinis Nahla dan Zayya. Zayya mengangkat bahunya karena ia tidak melakukan apapun, hanya Nahla yang bersifat menyebalkan, ia hanya diam saja, tapi diamnya membuat Nazeela justru lebih gemas lagi.
Ketika minumnya sudah tersedia, Nahla segera duduk dan menyesap minum buatan Nazeela. “Burb… siall.” Ujarnya sambil menatap Nazeela yang sedang menghindari tatapannya. Nazeela sengaja mengerjainya dengan menaruh penyedap rasa ke minumananya hingga menjadi asin.
Zayya memutar bola matanya, “Aku sudah menduganya.” Ujarnya, itu sebabnya ia tidak langsung meminum minuman yang disodorkan oleh Nazeela.
“Kalian datang di waktu yang tidak tepat. Aku sedang pusing dan tidak membutuhkan tamu.” Ujar Nazeela. Tadi ia sedang menggambar desain untuk gaun pernikahan, oh lebih tepatnya masih menggambarkan dalam pikirannya saja, karena nyatanya ia hanya menghayalkan gaun pengantin.
“Pusing memikirkan bagaimana menarik perhatian Joe.” Sindir Nahla.
“Aku tidak sedang memikirkan itu, tapi memikirkan bagaimana masa depanku. Aku butuh pencerahan untuk masa depan yang cerah, bukan gelap seperti saat melihat kalian.” Desis Nazeela.
“Sepertinya masa depan Nahla akan cerah.” Ujar Zayya langsung mendapatkan pelototan dari Nazeela dan pemilik nama.
“Kalian jelas tahu kalau aku mengincar kakak kelasku di sana.” Ujar Nahla.
“Lalu apa bedanya kau dengan Zee?” desis Zayya.
“Zee masih mengejar seorang pengangguran, sementara aku mengejar pria yang sudah mapan.” Ujar Nahla membela diri, padahal ia sendiri sadar kalau dirinya juga tak berbeda jauh dengan Nazeela yang mengejar seorang pria.
Zayya menoyor kepala Nahla, “Hanya karena sekarang Joe pengangguran dan priamu itu sudah bekerja, bukan berarti kehidupan di masa mendatang mereka posisinya akan tetap seperti itu kan? Bisa jadi Joe ternyata jauh lebih mapan dari pria itu, apalagi Joe juga pria yang pekerja keras.”
Nazeela tersenyum bangga ketika Zayya menyebutkan keunggulan Joe dan membelanya, tapi setelah itu ia sedikit berpikir dan menatap Zayya, “Kenapa aku merasa seperti kau sudah memperhatikan Joe sebanyak itu ya?” tanyanya.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak pernah menyukai Joe, apalagi memperhatikannya diam-diam.” Desis gadis itu sambil mendorong bahu Nazeela yang berusaha mendekatinya untuk menyelidikinya lewat tatapan.
“Oh ya, ngomong-ngomong soal Joe, sebenarnya akhir-akhir ini Ibuku sering melarangku untuk sering bertemu dengannya. Aku bahkan sampai bertengkar dengan Ibuku karena ia banyak membicarakan yang buruk soal Joe.”
“Apa karena Joe belum punya pekerjaan sendiri?” tanya Nahla.
Nazeela mengangguk, “Iya, Ibuku mengatakan kalau nantinya ia akan membawa pengaruh buruk padaku, dan aku tidak terima karena Joe selama ini tidak memberikan pengaruh buruk apapun.”
Zayya berdecih sinis, “Pengaruh buruk bagaimana? Di matamu saja dia adalah penyemangat hidup. Kalau bukan karena Joe, aku rasa saat ini kau tidak sibuk merancang gaun, tapi merancang rencana kencan dengan pria yang berbeda tanpa tertangkap basah oleh pacar lainnya.”
Nazeela dan Nahla sama-sama tertawa karena perkataan sahabat mereka itu, tapi itu adalah kenyataan. Zayya dan Nahla adalah bukti bagaimana Nazeela dengan segala rencananya untuk kencan bersama pacar pertama tanpa ketahuan oleh pacar kedua dan juga sebaliknya. Dan itu pun terjadi bukan hanya sekali saja, tapi sepanjang bangku sekolah menengah mereka.
“Ayahku juga mendukung hubungan pertemananku dengan Joe karena menurutnya Joe membawa dampak positif dan karena itulah perdebatanku dengan keluargaku semakin lama.”
“Tidak apa-apa, itu hal wajar jika orang tuamu saling tak memahami dengan pola pikir yang berbeda, tapi itu tergantung bagaimana kau menunjukkan pengaruh yang dibawa oleh Joe.” Jelas Nahla dengan bijak sampai Nazeela dan Zayya menganga tak percaya setelah mendengar ucapan gadis itu.
“Ah, entahlah.” Aku kembali pusing ketika mengingat perdebatan terakhir dengan keluargaku.
Flashback On
Aku masuk ke dalam rumah dan langsung memeluk ayah dan ibuku karena mereka baru saja pulang dari perjalanan luar negara. Ketika mereka berlomba mengabari aku dan mengatakan mereka sudah pulang, aku segera pergi ke rumah untuk memastikan kebenarannya dan ternyata mereka memang tidak berbohong.
“Miss you.” Aku memeluk ibuku dan mengusap punggungnya.
“Tidak merindukanku?” tanya ayah sambil membuka tangannya untuk menyambut pelukanku. Aku segera berpindah dari pelukan ibu dan memeluk ayah dengan jauh lebih berat, apalagi setelah menyadari bahwa tubuh itu semakin kurus dan rambutnya semakin banyak berwarna putih.
“Sangat merindukanmu, Yah.” Ujar Nazeela sampai menangis dalam pelukan ayahnya.
“Kau sibuk mengejar Joe sampai tidak sempat menghubungi Ayahmu sendiri.” ujar ibu Nazeela.
“Aku tidak seperti itu.” elak Nazeela.
“Jordan bilang kau baru-baru ini mempublikasikan sebuah postingan kalau kalian merayakan ulang tahun Ibunya Joe.” Ujar ibu Nazeela sambil menyebutkan nama salah satu keponakannya. “Memangnya hubungan pertemanan mana yang sampai menghadiri acara ulang tahun orang tua temannya. Itu sudah terlalu spesial.”
“Biarlah, lagipula Zee juga sudah besar untuk hal seperti itu.” ujar ayah Nazeela membelanya.
“Ini bukan masalah Zee sudah besar atau belum, tapi aku ingin pria yang berada di sekitar Zee itu sudah memiliki sesuatu untuk dibanggakan, bukan seorang pengangguran seperti Joe itu.”
“Pertemanan yang luas itu perlu. Menghadiri acara keluarga Joe seperti itu bukan berarti hubungan mereka harus spesial kan?”
“Yang pasti, tidak usah terlalu dekat dengan Joe. Aku tahu kalau Zee itu menyukainya dan aku tidak ingin rencana masa depan Zee jadi berantakan karena bergaul dengan Joe yang tidak punya rancangan masa depan.” Kekeuh Moana—ibu Nazeela.
“Ibu, lagipula aku sudah berteman dengan Joe 2 tahun. Coba sebutkan, hal apa yang membuatku menunjukkan perilaku buruk setelah bergaul dengannya?” tanya Nazeela menantang ibunya agar wanita paruh baya itu membuka sedikit saja pemikiran sempitnya.
“Tidak ada, Zee. Sejauh ini, kalau pun kau melakukan kenakalan, itu memang sifatmu dan tidak terpengaruh dari Joe. Ibumu hanya berusaha mencari kesalahan pemuda itu kalaupun dia menemukan jawabannya.” Ujar Bradson—ayah Nazeela.
“Terima kasih, Ayah. Kau memang yang terbaik.” Nazeela mengacungkan jempolnya sebagai tanda bahwa ia mengakui ayahnya sebagai yang paling mengerti dirinya. Ia kemudian pergi masuk ke kamarnya.
“Zee, aku belum selesai bicara.” Ujar Moana.
“Maafkan aku Ibu, tapi kasihan telingaku kalau aku sudah mendengar kerewelanmu.”
Flashback Off
Nahla menyenggol bahu Nazeela dengan tatapan menyelidik, “Jadi, sudah sejauh mana kau dengan Joe?”
Nazeela tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya sambil memeletkan lidahnya, “Itu hal rahasia.”
Nahla mengangguk, “Oh, jadi sudah sejauh itu. Apakah Joe bisa memuaskanmu?”
“Nahla, kau ini. Apa yang kau pikirkan sampai bertanya seperti itu.” tegur Nazeela malu sendiri. Pertanyaan kurang ajar itu membuat pikirannya jadi melayang-layang dan memikirkan tentang bagaimana Joe menyentuh dirinya sampai seluruh bagian dari tubuhnya menjadi terbuai dan lemah. Ia jadi sering membayangkan kalau Joe akan mendatanginya lagi dan membawanya pada fantasi yang lebih liar.
“Ah, pikiran kotor sialann.” Desis Nazeela sambil mengibaskan tangannya di depan wajah untuk menghilangkan bayangan kotornya.
“Ah, jadi begitu. Ternyata sentuhan Joe sampai membuatmu jadi seperti ini hanya karena membahasnya. Apa itu artinya dia terlalu nikmat dan ahli?”
Zayya menyenggol lengan Nahla setelah meletakkan ponselnya yang baru saja ia pegang karena perlu membalas pesan penting, “Memangnya sopan membahas hubungannya sampai sejauh itu. Kau sendiri sudah sejauh mana dengan pria itu?
Nahla menatap Zayya dengan mata menyipit, “Kau ini tim pendukung siapa? Nazeela atau aku? Kenapa dari tadi seolah kau membela Zee terus.”
“Ya, mau bagaimanapun, aku penasaran dengan hubungan kalian, jadi kalau kau bertanya pada Zee, sebagai gantinya, aku juga akan bertanya padamu.”
“Perjalanan kisahku akan lebih lambat dari Zee. Pria siialan itu sudah punya tunangan.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Menyerah? Sudah pasti tidak kan. Aku tidak pernah melihat ada kata menyerah bagi Nahla kalau soal mendapatkan seorang pria.” Ujar Nazeela.
Selagi mereka sibuk membahas pria-pria, bunyi bel apartemen Nazeela berhasil membuat ketiganya diam mendadak dan Nazeela segera ke pintu untuk melihat tamunya. Ia mengernyit bingung ketika melihat Hans ada di luar pintu apartemennya.
Dengan cepat, Nazeela langsung membuka pintu, “Hai Hans? Apa yang membuatmu berkunjung ke apartemenku?” tanyanya tanpa basa-basi. Bukan hal yang sangat wajah untuk Hans berkunjung ke apartemennya. Apalagi mereka juga tidak pernah begitu dekat. Mereka hanya sekadar kenal saja, itupun perkenalan lewat teman-teman.
“Oh hai, Zee. Aku perlu bicara denganmu.”
“Mengenai apa?”
“Kau tahu kan kalau aku berkencan dengan gadis bernama Sabrina. Akhir-akhir ini komunikasi kami agar buruk, itu juga karena aku sibuk, tapi saat aku tanpa sengaja melihat Sabrina, aku melihat Joe ada bersamanya. Aku tahu kalau mereka mungkin hanya berteman saja di masa sekolah dan berbincang adalah hal biasa.”
“Lalu? Apa mereka melakukan sesuatu yang buruk seperti…” Nazeela membentuk tanda kutip dengan dua jarinya pada tangan kanan dan kiri, “Selingkuh mungkin?” tanyanya.
Hans menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak berpikir bahwa Sabrina akan berselingkuh, apalagi dengan temanku, tapi aku sedikit terganggu dengan kedekatan mereka. Karena kau adalah kekasih Joe, jadi aku merasa perlu mengatakan ini supaya kau juga melarang Joe menemui Sabrina lagi.”
Nazeela menatap cukup terkejut saat mendengar Hans berpikir kalau ia adalah kekasih Joe, lalu menggelengkan kepala, “Aku tidak menjalin hubungan kekasih dengan Joe, jadi aku merasa tidak berhak untuk melarangnya bergaul dengan siapapun.” Jelasnya, sekalipun ia sedikit banyak terpengaruh dengan kenyataan bahwa Joe mendekati gadis lain dan itu adalah kekasih Hans, temannya sendiri.
“Oh, kalau begitu, sepertinya aku yang perlu melarang kekasihku untuk dekat dengan Joe. Kalau begitu, aku permisi, Zee. Aku harap harimu menyenangkan.”
“Kau juga Hans.” Ujar Nazeela sambil melambaikan tangannya. Ia kembali masuk ke apartemennya dengan penuh pemikiran mengenai Joe yang dekat dengan gadis lain selain dirinya.