Sembilan

1403 Kata
Sabrina tersenyum-senyum manis sejak tadi dan kini bahkan ia tidak dapat menahan bibirnya untuk tidak menyunggingkan senyum yang begitu menarik perhatian orang lain. Kecantikkannya semakin bertambah dengan senyum yang ia pamerkan, apalagi matanya yang berbinar menunjukkan betapa tulus perasannya. “Ada kabar menggembirakan apa sampai senyummu sudah selebar itu?” tanya teman sepekerjanya, Alice. Sabrina menoleh dengan masih tersenyum, “Ah, tidak.” Ujarnya. “Oh ya, kau sudah membuat susunan acara yang diminta oleh Jiny?” tanya Alice. Sabrina mendengkus mendengar pertanyaan itu, “Aku sudah mengusahakan sebaik mungkin dan kuharap Jiny tidak protes lagi.” ujarnya sambil bergidik membayangkan atasan mereka yang bernama Jiny itu akan mengamuk lagi. “Sabrina?” Sabrina menoleh ketika dirinya dipanggil oleh seseorang dari belakangnya. Alice juga melakukan hal yang sama karena tertarik untuk mengetahui siapa yang memanggil teman kerjanya itu. “Kenapa Damian memanggilmu?” tanya Alice sambil menatap Sabrina. Damian adalah sekretaris dari Alva yang bekerja khusus di Wikler Entertaiment. “Aku tidak tahu. Aku ke sana dulu.” Ujar Sabrina dan segera menghampiri Damian. “Mr. Wikler ingin kau datang ke ruang audisi.” Sabrina membulatkan matanya karena terkejut, “Aku? Kenapa? Sekarang?” tanyanya kebingungan. “Iya, sekarang. Mr. Wikler sudah ada di sana bersama dengan beberapa trainee. Dia minta kau menjadi juri dari audisi hari ini.” “Benarkah?” tanya Sabrina sangat tertarik. “Iya, pergilan ke ruang 012 lantai 2.” Ujar Damian. Sabrina segera mengangguk dan pergi. Ketika tiba di lantai 2 dan di depan ruang 012, ia langsung menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara teratur karena saat ini jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan menjadi juri di waktu secepat ini. Ceklek Ketika ia masuk, semua orang menatapnya karena tidak ia duga kalau ruang 012 jauh dan jauh lebih besar dari ruangan lainnya. Ia membungkukkan tubuhnya di depan Alva dan segera mendekati pria itu, “Mr. Damian bilang kalau Mr. Wikler memanggil saya.” Ujarnya. “Ah, iya, duduklah di sini.” Alva menepuk kursi yang tak jauh darinya, tapi tak juga begitu dekat, “Kau bisa bergabung untuk hasil evaluasi hari ini.” Jelasnya. “Tapi kenapa ya, Mr. Wikler?” tanya Sabrina bingung. Ia bahkan sempat melirik seniornya yang duduk di kursi lainnya. “Karena aku ingin tahu penilaianmu dan lagi pula kau sudah pernah dibayar untuk choreograpgy yang buat sendiri. Jadi aku ingin melihat pengetahuanmu soal dance. Kau keberatan?” ‘Ah, tidak tidak. Tidak sama sekali. Saya akan melakukan sebaik mungkin.” Ujar Sabrina, lalu duduk dan tersenyum lega. Ia menatap penuh binar keinginanan ketika melihat beberapa trainee yang akan evaluasi hari ini. Mereka akan dibagi untuk mengetahui mana yang unggulan dan mampu menjadi artis baru. Dulu, semasa remaja, Sabrina sangat berharap kalau dirinya bisa menjadi aktris, penyanyi, atau bahkan dancer saja, tapi hal itu terhalang oleh hal pribadi yang tak bisa ia ungkit karena masa lalu yang menyakitkan, dan sekarang pun ia terhalang oleh masa lalu itu. Ia hanya bisa berangan-angan saja, tapi sambil menggeluti pekerjaan di bidang entertainment, sehingga ketertarikkannya pada dunia hiburan bisa sedikit terlampiaskan dengan melihat orang lain. *** Sore ini Sabrina pulang lebih cepat dan segera meninggalkan kantor untuk menju supermarket dan membeli beberapa kebutuhan pokoknya dalam sebulan ini. Ia sudah kehabisan banyak barang dan tidak bisa menunda lagi, jadi ia memutuskan untuk pergi sendiri dan berbelanja. Hans sudah mengatakan kalau ia akan menemani Sabrina, tapi gadis itu memilih berbelanja sendiri karena tidak ingin merepotkan jadwal kerja Hans. Hans dengan pekerjaannya dan Sabrina dengan pengertiannya. Sabrina sama sekali tak masalah membiarkan Hans dengan kesibukannya karena pria itu pun sedang berjuang untuk menjadi pria karir dan pekerja keras. Lagipula Sabrina bukanlah gadis manja yang harus ditemani oleh kekasih hanya untuk berbelanja. Ia bisa melakukannya sendiri dan ia pun tak ingin ketergantungan dengan perhatian Hans dan nantinya malah terus mengandalkan pria itu untuk hal mudah seperti itu. Selagi ia bisa sendiri, ia pasti tidak akan mau repot-repot menunggu Hans ada waktu menemaninya. Secara kebetulan, ketika Sabrina sedang memilih peralatan mandinya, ia bertemu dengan Joe yang juga berada di sana dan sedang memutari rak. Raut wajah keduanya sangat berbanding terbalik. Joe dengan senyum manisnya ketika melihat Sabrina, sementara gadis itu dengan tatapan tajam dan kesal secara bersamaan. “Kenapa harus bertemu dia lagi?” bisiknya pada dirinya sendiri. Ia memilih dengan cepat, dan mengurangi bentuk pertimbangan agar segera pergi dari supermarket itu. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau tinggal di daerah sini?” tanya Joe sambil menatap jajaran sabun yang sedang dipilih oleh Sabrina. “Menyingkirlah, aku membutuhkan sampo.” Ujar Sabrina dengan sinis dan ketus. Joe terkekeh geli, tapi tetap menggeser posisinya, “Belanjaanmu baru sedikit, perlu kubantu untuk mencari perlengkapan yang kau butuhkan?” tanyanya. Sabrina abai dan memilih mencari apa yang ia butuhkan dalam diam, meski rasa ingin mendorong tubuh Joe agar menjauh sangat kuat. Tapi ia tidak ingin membuat pria itu tersenyum puas karena jika ia menanggapi, maka Joe akan melakukan lebih banyak cara untuk ditanggapi terus-menerus. “Sepertinya kau butuh sunblock lotion agar kulitmu sedikit lebih cerah.” Ujar Joe sambil menarik satu sunblock yang sepertinya sering ia lihat di kamar Kay. Sabrina membulatkan matanya saat Joe memasukkan sembarangan ke dalam trolinya. Tadinya ia memang ingin memasukkan sunblock itu karena miliknya juga sudah hampir habis, tapi karena Joe yang memasukkannya, ia memilih untuk mencari merk lain saja agar pria itu tidak tinggi hati karena ia memakai pilihannya. “Apa parfum mu sudah habis?” tanya Joe. Pria itu kemudian melangkah lebih dekat ke Sabrina dan mendekatkan indra penciumannya ke sekitar leher Sabrina hingga wanita itu bisa merasakan hembusan nafasnya dan terpaku sejenak. “Kau menjauhlah.” Sabrina mendorong Joe agar menjauh darinya. Ia tidak suka perlakuan kurang ajar Joe tadi. Joe terkekeh dan memegang dadanya yang sempat didorong oleh Sabrina, sambil menatap gadis itu dengan picik, ia berkata, “Apa deru nafasku membuat sesuatu yang lain menjadi basah?” tanyanya. Sabrina segera menarik trolinya dan menjauh, menghindari Joe adalah cara paling aman saat ini. Ia tidak ingin menanggapi apapun perkataan Joe karena pria itu hanya ingin membuatnya kesal saja. Joe membawa keranjangnya sambil mendekati Sabrina. Lantas ia meraih tisu dan meletakkan lagi di troli belanja Sabrina, “Aku rasa tisumu juga pasti habis. Tidak perlu mengembalikannya. Itu akan membuatmu kesulitan sendiri nanti kalau di rumah.” Ujarnya sebelum Sabrina kembali meraih apa yang Joe masukkan dan mengembalikan ke tempatnya. “Aku tidak membutuhkannya.” Ujar Sabrina dan kembali mengembalikan apa yang Joe masukkan ke trolinya. Joe menggelengkan kepalanya, “Kalau begitu, aku akan memasukkan banyak bahan pokok supaya kau mengembalikannya ke tempat semula dan ketika di rumahmu, kau akan merutuki perbuatanmu sendiri karena telah menolak niat baikku.” Ujarnya dengan pintar, lalu mengambil kebutuhan pokok seperti minyak, roti, berbagai selai bahkan hingga camilan-camilan lainnya. Masih tetap berusaha menjaga harga dirinya, Sabrina benar-benar mengembalikan barang-barang yang Joe ambil dengan tangannya sendiri. Orang-orang yang juga berbelanja dan beberapa pelayaan supermarket memperhatikan itu dengan bingung sekaligus sinis. Hal itu jelas sangat menarik perhatian orang, apalagi dengan beberapa keributan yang mereka sebabkan. Joe terkekeh ketika menangkap basah tatapan sinis pelayaan supermarket dan menundukkan kepalanya dengan canggung, “Ah, maafkan istriku. Dia sedang hamil, jadi sedikit sensitif dan kini sedang marah padaku.” Jelasnya dengan santai. Sabrina melotot menatapnya, lalu menggelengkan kepala sambil memberikan penjelasan kepada pelayaan supermarket, “Apa yang dia katakan tidak benar. Dia hanya orang gila yang sedang sok akrab denganku,” “Tuh kan, dia memang sedang merajuk padaku.” Tunjuk Joe setelah Sabrina pergi menjauh darinya. Ketika Joe akan berbelok dari lorong rak belanja, Sabrina dengan sigap langsung menginjak kaki pria itu dengan tumitnya hingga Joe tanpa sengaja berteriak mengaduh kesakitan. Sabrina dengan puas langsung berlari ke kasir dan menyerahkan belanjaannya meninggalkan Joe yang masih berusaha mengusap kakinya. Ia tidak peduli kalau perbuatannya tadi terlalu kejam dan membuat kaki pria itu sakit, tapi yang pasti ia ingin memberikan peringatan agar Joe tidak terus mengusik dan mengganggunya. Ia tidak ingin ada orang lain yang merupakan kenalannya menangkap mereka sedang bersama dan berakibat salah paham hingga sampai kepada Hans yang pencemburu berat. Yang ada nantinya Hans akan menghajr Joe habis-habisan tidak peduli itu hanya alasan saja ataupun kebenaran. Gosip terlalu mudah menyebar ke mana saja dan Sabrina tidak siap menerima kemarahan Hans nantinya saat ngambek padanya karena ia tertangkap sedang berduaan atau berbincang dengan Joe. Sabrina menghargai Joe dan sangat ingin menjaga perasaan pria itu, jadi ia tak ingin ada kesalahpahaman sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN