Tujuh Belas

1326 Kata
Joe menatap 2 orang yang sejak tadi sudah ribut dengan kegiatan mereka tak jauh dari sofa, tempat Joe duduk sambil menonton televisi. Dua orang itu sedang sibuk mengukur ukuran pinggang dan sebagainya, lalu melihat-lihat desain gaun yang telah Nazeela buat. Keduanya benar-benar ribut dan membuat Joe mau tak mau malah lebih tertarik memperhatikan mereka dibandingkan menonton televisi. “Bukan Zee. Seharusnya lingkar dadaaku tidak sekecil itu.” protes Kay tak terima. “Benar Kay, aku sudah mengukurnya sebagaimana mengukur orang lain.” Ujar Nazeela kekeuh. “Tidak. Memangnya aku sekurus itu?” “Tidak apa-apa kau kurus, tapi itu memang cocok dengan tubuhmu.” “Baiklah, segera ukur bagian lain.” Ujar Kay dan memilih pasrah saja menerima ukuran tubuhnya yang ia rasa sangat kecil. Ketika selesai, Kay meminta untuk mengukur Nazeela gentian sebagaimana Nazeela mengukurnya tadi. Lalu saat mengukur bagian dadaa, Kay cukup terkejut dan berkata, “Sepertinya kau tambah berisi di bagian ini, Zee.” Tepat saat itu pula, Joe menoleh dan penasaran dengan pembahasan mereka. Nazeela langsung menunduk saat ia menoleh pada Joe dan menemukan pria itu sedang menatapnya. Ia tersenyum malu, lalu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu.” “Wah, Zee, kalau aku adalah pria, aku pasti tidak akan melepaskan ini.” Kekeh Kay sambil menunjuk dadaa Nazeela. “Hush, kau ini. Sudah cepat selesaikan.” Kay sesekali mengukur dan menuliskan ukuran tubuh Nazeela di buku catatan yang selalu Nazeela gunakan, lalu melirik sebentar ke Joe dan Nazeela secara bergantian. Ia tampak berpikir untuk beberapa saat sebelum menyampaikan pertanyaan yang ada di pikirannya pada Nazeela. “Zee, kau belum memiliki kekasih?” Nazeela menggelengkan kepalanya dengan kernyitan yang tercetak jelas di keningnya, “Belum. Kenapa kau bertanya seperti itu?” Kay menyerahkan catatan Nazeela dan duduk di lantai. Nazeela ikut duduk sambil membandingkan ukuran tubuh mereka yang tak berbeda jauh, tapi tetap saja tampak ukuran Nazeela lebih menunjukkan bahwa wanita itu lebih berisi dari Kay yang memang cukup langsing. Kay menoleh sebentar pada Joe, lalu mendekati Nazeela dan berbisik, “Kau masih menunggu Joe juga?” “Entahlah, sejauh ini aku juga belum berniat menjalin hubungan dengan pria lain. Joe terlalu lama, dan sepertinya aku tidak bisa terus menunggu.” “Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Kay dengan cukup antusias mendengar ucapan Nazeela tersebut. Ia tertarik dengan kedekatan Joe dan Nazeela sejak awal, jadi ia selalu penasaran bagaimana kelanjutan hubungan mereka, tapi sampai saat ini belum juga ada kemajuan. Karena Kay yang menyukai Nazeela, jadi ia juga banyak berharap bahwa Joe memiliki perasaan yang sama untuk wanita itu, tapi sayangnya sampai sekarang pun Joe belum juga peka. Kay sadar bahwa perasaan itu tak bisa dipaksakan, apalagi Joe juga sudah dewasa, itu sebabnya ia hanya menunggu saja dan berani mengungkapkan penasarannya pada Nazeela. Mereka sama-sama perempuan dan mereka saling mengerti satu sama lain, jadi Nazeela juga tidak malu terbuka padanya meski sangat lambat. “Mencari pria lain.” Jawab Nazeela, lalu tertawa kencang saat melihat wajah cengo Kay setelah mendengar ucapannya. “Kau benar-benar akan melakukan itu?” tanya Kay terkejut dan sedikit tak terima dengan sikap menyerah calon kakak iparnya. Nazeela mengangguk masih dengan kekehan geli “Iya. Memangnya kau pikir sampai kapan aku akan menunggu Joe peka sementara ia sangat lambat seperti itu. Setelah menunggu pun, aku takut kalau ternyata ia belum tentu memiliki perasaan yang sama. Atau justru yang lebih menyebalkan lagi kalau ia justru menyukai gadis lain.” Desisnya. “Siapa yang menyukai gadis lain?” tanya Joe bergabung secara tiba-tiba dengan dua perempuan itu. Kay dan Nazeela sama-sama menoleh karena terkejut. “Teman kencanku.” Ujar Kay dengan cepat. “Memangnya ada?” tanya Joe penasaran. “Kau jelas tidak mungkin tahu karena kau saja tidak peka pada apa yang ada di sekitarmu.” Desis Kay dengan sinis. Joe terkekeh dan mengacak rambut Kay dengan gemas, “Aku itu peka, hanya saja pada hal-hal yang kuinginkan saja.” Jelasnya. Nazeela menghela nafas pelan mendengar ucapan Joe, lalu ia kembali berbaring di lantai dan menggambar sketsa untuk gaun yang akan ia buat. Gurunya memberikan tugas sebuah project membuat gaun pernikahan yang sederhana tapi tampak elegan agar Nazeela bisa mendapatkan sertifikat dan jadilah Nazeela meminta Kay menjadi modelnya untuk membuat gaun pernikahan itu. Meski hasilnya nanti bukan untuk Kay, tapi Kay senang karena Nazeela akan membuatkan gaun untuk ukurannya. Ia juga ingin memiliki gambaran akan gaun pernikahan di masa depannya, jadi Kay terima-terima saja dirinya menjadi patung untuk gaun yang Nazeela buat. Sejauh ini mereka sudah sama-sama melihat hasil desain Nazeela yang ada pada buku catatannya dan Kay menyukainya. Setelah melihat bagaimana hasil seni yang Nazeela buat, Kay malah semakin kagum dan benar-benar berharap kalau Nazeela akan menjadi kakak iparnya. Ia melihat ada banyak sekali nilai positif yang ada pada Nazeela sebagai seorang wanita. Kay sering kali berpikir, kalau saja ia pria, ia jamin kalau dirinya akan memperjuangkan Nazeela apapun yang terjadi. “Tapi kau tidak apa-apa kan Kay kalau nantinya aku sering memintamu untuk datang ke apartemen atau butik?” tanya Nazeela. Kay mengangguk, “Tidak masalah. Usahakan kau membuat gaun yang sangat cantik Zee, supaya aku bisa menggunakannya untuk pernikahanku.” Joe menoyor kepala Kay, “Kau ini masih kecil saja sudah banyak memikirkan pernikahan.” “Itu penting. Rencana itu penting disusun sekarang supaya aku bisa memiliki waktu untuk mewujudkannya di masa depan. Kau juga perlu memikirkan rancangan pernikahan dengan Zee.” Kekeh Kay sambil melirik Nazeela dan Joe untuk melihat ekspresi keduanya. “Kay.” Tegur Nazeela, sementara Joe hanya diam saja sambil melirik Nazeela dan tersenyum kecil. “Joe saja diam, Zee. Itu artinya dia setuju. Tidak apa-apa, kalian juga sudah saling mengenal. Setidaknya kalau kau dengan Joe dan sebaliknya, kalian sudah sama-sama mengenali sifat masing-masing. Lebih sulit untuk memahami orang baru dan belum tentu juga kalian nantinya akan cocok dengan orang lain, tapi kalau sudah dengan yang sekarang kalian kenal, kalian akan lebih mudah cocok satu sama lain.” Kay mengacungkan jempolnya pada Joe, lalu melihat Nazeela dan mengedipkan sebelah matanya. “Kau ini sudah seperti yang paling ahli, padahal masih kecil.” Desis Joe. Kay mendorong tangan Joe menjauh dari kepalanya, “Aku ini sudah dewasa, Joe. Jangan berpikir kalau aku ini anak kecil terus menerus. Sepertinya aku bahkan lebih dewasa dari dirimu. Aku lebih peka terhadap perasaan orang lain.” “Kau ini sejak tadi membahas peka-peka. Memangnya perasaa siapa yang perlu kupahami?” tanya Joe. “Tuh kan, kau saja tidak tahu dan malah bertanya padaku. Padahal orangnya sudah jelas-jelas ada di sini.” “Siapa? Zee? Atau kau?” tanya Joe. “Ayo cepat Kay, pilih desain yang menurutmu bagus, supaya aku bisa mulai memikirkannya.” Ujar Nazeela supaya Joe dan Kay tak perlu lagi membahas lebih jauh pembicaraan mengenai peka-pekaan segala. Joe tidak akan paham, tidak perlu diharapkan. “Aku juga boleh memilih kan? Aku juga mau melihat hasil desainmu, Zee.” Ujar Joe sambil ikut berbaring telungkup dekat Nazeela. Kini posisi Nazeela jadi di tengah, diantara Kay dan Joe. Nazeela membolak-balik tiap gambar yang ada pada bukunya dan membiarkan Kay dengan Joe menilai apa yang ia gambar. Dengan senyum kecil, ia melirik Joe sesekali dan mereka bertatapan dalam diam. “Menurutku yang ini bagus.” Ujar Joe menunjuk salah satu desain yang Nazeela buat. “Itu tidak bagus sama sekali, Joe, sepertinya kau perlu memeriksakan matamu.” Desis Kay sinis. “Aku juga suka, apalagi warnanya yang cukup simpel.” Ujar Nazeela membuat Kay membelalak tak percaya padahal menurutnya apa yang dikatakan Joe tadi kurang bagus. “Itu kurang bagus, Zee.” Protes Kay. Joe menoyor kepala Kay, “Sudahlah, kau tidak bisa menilai dengan benar, Kay. Seleraku dengan Zee ternyata cukup sama.” Kay memutar bola matanya dengan malas, “Itu bukan karena selera kalian yang sama, tapi Zee yang berusaha menyukai seleramu.” Desisnya dan memilih meningglkan mereka dengan alasan mengambil minum dan camilan di dapur, padahal ia hanya memberikan kesempatan untuk mereka berduaan setelah mendapati kode dari Nazeela yang menyenggol lengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN