Enam Belas

1564 Kata
Hans melirik ke arah Sabrina beberapa kali. Seusai makan malam tadi dan kediaman keluarga Hans dikunjungi oleh Kyle, Sabrina jadi diam dan minta diantarkan pulang oleh Hans. Ia tiba-tiba tidak ingin berlama-lama di kediaman keluarga Hans. "Kau kenapa?" tanya Hans padanya tadi, tapi Sabrina memilih menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, lalu diam lagi. Kepalanya terasa dengan segala bayangan yang tiba-tiba muncul dan membuatnya takut, tapi ia tidak menunjukkannya pada Hans karena tak ingin membuat pria itu semakin banyak bertanya. "Mau kuantarkan pulang?" tanya Hans saat menyadari bahwa suasana hati Sabrina tidak begitu bagus. Ia memang tidak mengetahui alasannya, tapi ia cukup peka dengan perubahan sikap Sabrina yang selalu kelihatann. Apapun yang wanita itu rasakan, ia akan menunjukkannya dari wajah dan sikapnya. Sabrina menoleh pada Hans dan segera mengangguk menerima penawaran pria itu. Ia juga ingin segera meninggalkan rumah Hans agar tak perlu menahan perasaan tak nyaman setelah melihat keberadaan Kyle di sekitarnya. Ia tidak ingin ada interksi lagi entahpun itu berupa tatapan karena itu membuatnya takut. "Iya, aku mau pulang saja." ujar Sabrina cepat. Sebenarnya Hans agak bingung, tapi ia memilih diam dan menurut keinginan Sabrina. Melihat wanita itu tak merasa nyaman juga membuatnya merasa bersalah karena membuat Sabrina berada pada keadaan yang seperti itu. "Baiklah, kita pamit pulang saja pada orang tuaku." ajak Hans. Mereka kembali ke ruang makan dan memilih berpamitan pada keluarga Hans. Orang tua Hans mempersilahkan dan berpesan supaya hatihati di jalan, sekalipun lebih tepatnya pesan itu disampaikan oleh ayah Hans saja. Sementara ibu Hans hanya menatap Sabrina dengan sinis dan menganggap bahwa Sabrina tidak sopan karena langsung meninggalkan mereka padahal belum sempat menyapa Kyle yang baru tiba di rumah itu. Noam hanya mengangguki dan tak begitu peduli dengan kisah percintaan adiknya itu. Lagi pula Hans juga sudah cukup dewasa kan untuk mengerti hubungannya sendiri. Dan Noam juga tidak begitu mendukung Hans harus dengan siapa, yang penting adiknya itu nyaman saja. Mereka langsung pergi keluar begitu orang tua Hans mengizinkan mereka pergi. Sabrina langsung menyandarkan tubuhnya begitu masuk ke dalam mobil dan menggunakan seatbelt. Ia memijat pelipisnya sebentar, lalu menoleh saat Hans ikut masuk ke kursi sebelahnya. "Kalau ada apa-apa katakan padaku." ujar Hans saat mereka akan berangkat menuju apartemen Sabrina. Sabrina mengangguk, "Aku tidak apa-apa Hans. Hanya saja tadi tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan tubuhku menjadi lemah." jelasnya. "Bukan karena Kyle? Kau mengenalnya?" tanya Hans seperti menangkap gelagat yang berbeda setelah kedatangan Kyle tadi. Ia seperti menyadari bahwa perubahan tingkah laku Sabrina itu berhubungan dengan kedatangan Kyle. Ia mungkin hanya menduga-duga tapi kepekaannya memang cukup bagus. Lagi-lagi, Hans memperhatikan Sabrina untuk melihat reksi wanita itu ketika nama Kyle disebutkan dan memang Sabrina terlihat agak berubah ketika nama Kyle disebutkan. Sabrina menoleh dan langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku benar-benar hanya merasa tiba-tiba kepalaku pusing saja." jelas Sabrina lagi. Hans mengangguk dan kembali diam sambil mengamati jalanan yang cukup ramai. "Hans?" seru Sabrina. Hans menoleh tepat ketika mobil mereka berhenti karena lampu lalu lintas. "Hm? Kau butuh sesuatu?" tanya Hans. "Tidak. Aku hanya ingin bertanya." "Bertanya apa?" tanya Hans sambil melirik sebentar. Sabrina hanya diam sambil mempertimbangkan apakah tak apa jika ia bertanya kepada Hans atau itu akan membuat Hans curiga. Saat tangan Hans menyentuh punggung tangannya, barulah akhirnya Sabrina buka suara untuk bertanya. "Siapa Kyle itu? Apa dia sepupumu?" tanyanya cukup takut kalau sampai Hans menganggukinya. Itu artinya ia mungkin akan lebih sering bertemu dengan Kyle jika sampai nantinya hubungannya berlanjut ke arah yang lebih serius dengan Hans. "Oh tidak, dia hanya anak dari teman Ibuku." Jawab Hans cepat. "Ibumu menyukainya dan menyuruh kalian untuk bersama?" duga Sabrina terang-terangan. Kalau tidak untuk alasan itu, untuk apa Kyle berada di sana? Sudah biasa juga kan kalau orang kaya ingin anaknya menikah dengan anak dari rekan kerja ataupun sahabatnya yang juga kaya raya. Hans pun mengangguk karena tak ada gunanya juga ia berbohong pada Sabrina. Ia tidak ingin nanti wanita itu tahu sendiri atau malah Kyle yang memberitahukannya dan membuat Sabrina merasa kecewa karena tidak ada kejujuran diantara mereka. "Lalu kau tidak menyukainya?" tanya Sabrina. Hans menatap Sabrina dengan cukup tajam, "Lalu kau pikir aku akan meninggalkanmu hanya karena orang tuaku menyuruhku bersamanya. Aku kan sudah mnenyukaimu. Memangnya kau tidak cemburu kalau aku menyukai Kyle?" "Aku tidak cemburu, hanya saja kalau kau memilihnya, maka tidak ada kesempatan apapun lagi bagi kita untuk melanjutkan hubungan ini." "Oh ya, lalu kapan kita akan bertemu dengan keluargamu?" tanya Hans tiba-tiba. Sabrina langsung membuang pandangan dari pria itu dan berdecak kesal karena harus membahas tentang orang tuanya. "Aku tidak begitu suka dengan pembahasan mengenai keluargamu, Hans. Aku sudah pernah mengatakannya padamu kan." "Baiklah, aku tidak akan membahas mereka kalau kau tidak menyukainya." ujar Hans mengalah. Padahal ia juga ingin mengenal keluarga Sabrina dan ingin hubungan mereka benar-benar berlanjut ke arah yang lebih serius walaupun untuk saat ini mereka masih sama-sama sibuk meniti karir dalam bidang pekerjaan. Entah sampai kapan Sabrina akan menutupi keluarganya dari Hans, tapi sebenarnya pria itu ingin sekali memaksakan Sabrina untuk berada dalam pembahasan itu. Ia ingin melihat sikap serius Sabrina dari keinginan wanita itu mengenalkannya pada orang tua masing-masing. Kini giliran Sabrina, tapi wanita itu malah menolak terang-terangan hanya untuk membahas orang tuanya. Begitu tiba di basement apartemen, Hans memilih ikut masuk ke dalam sekalipun Sabrina menolaknya dengan alasan bahwa wanita itu butuh waktu sendiri, tapi kali ini Hans memaksakan kehendaknya karena ia ingin menemani Sabrina. Akhirnya Sabrina pasrah karena tak ingin banyak berdebat. Kepalanya pusing dan ia kehilangan tenaga jika berdebat dengan Hans sekarang. Ketika Sabrina mengganti bajunya menjadi lebih santai, Hans menunggunya di tempat tidur karena ia tahu kalau Sabrina akan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang ketika merasa sangat lelah dan tidak dalam suasana hati yang bagus. Wanita itu selalu menjadikan tempat tidur sebagai pelampiasan terbaik. Hans menepuk tangannya yang terbuka agar Sabrina merebahkan kepalanya di sana. Tanpa berkata apapun, Sabrina menurut karena memang itu tempat yang nyaman baginya. Ia tidak akan menolak jika Hans mengajaknya bermesraan seperti itu. “Apa beban di kepalamu begitu besar setelah bertemu dengan Kyle? Suasana hatimu memburuk setelah melihatnya tadi.” “Tidak apa-apa, Hans.” “Apa kau masih tidak nyaman untuk terbuka padaku? Apa aku masih tidak bisa menjadi tempat bersandar dan mencurahkan semua yang ada dalam pikiranmu?” tanya Hans sambil mengusap kepala kekasihnya. Sabrina menggelengkan kepalanya dan masuk lebih dalam ke pelukan Hans. Ia menikmati setiap harum yang menyerbak dari tubuh pria itu dan menghirupnya dalam-dalam, lalu mendengarkan detak jantung yang berdebar tidak teratur dari Hans. “Aku hanya belum siap, Hans. Bukan masalah pada siapa aku bisa terbuka, tapi memang berat bagiku untuk menceritakannya.” “Ya sudah, tidak apa-apa. Aku juga tidak akan memaksamu. Tidak perlu merasa bersalah dan tidak nyaman atas permintaanku.” “Bagaimana nanti kalau Kyle yang akan menjadi calon istrimu? Bagaimana kalau ibumu memasakan kehendaknya pada masa depanmu?” tanya Sabrina mengangkat kepalanya dan menatap Hans. “Tidak perlu memikirkan hal sejuah itu. Aku tidak akan menikah dengannya sekalipun ibuku memaksa.” Jawab Hans dengan yakin. “Menurutmu hubungan kita akan bertahan lama?” “Menurutmu kita akan memiliki berapa banyak anak?” tanya Hans memilih mengubah topik pembicaraan. Ia tidak merencanakan putus dengan Sabrina apalagi menikah dengan wanita lain, jadi ia tidak ingin melanjutkan pembahasan itu. Sabrina memukul d**a Hans, “Kau belum menjawab pertanyaanku. Tidak perlu sampai membahas anak, itu terlalu jauh. Kita bahkan belum tentu bersama.” “Kita bersama atau tidak, itu kita sendiri yang menentukan. Kalau kau bertahan pada hubungan ini dan akupun memperjuangkanmu, maka kita pasti akan bersama.” “Sekalipun semesta berusaha memisahkan kita dengan cara apapun?” “Sepertinya semesta mendukung hubungan ini.” Ujar Hans dengan yakin. Sabrina tersenyum kecil melihat wajah meyakinkan pria itu, padahal nada bicaranya terdengar sedikit ragu saat mengatakannya. “Kurasa ibumu tidak begitu menyukaiku.” Ujar Sabrina dengan hati-hati. Ia memperhatikan bagaimana raut wajah Hans begitu ia mengatakan kalimat seperti itu. Hans menganggukkan kepalanya, “Ibuku memang terlalu keras kepala, Sa. Setiap keinginannya harus dituruti, karena kalau tidak, ia akan marah dan sedikit sinis. Tidak usah ambil hati. Biarkan saja ibuku seperti itu.” “Mana bisa aku membiarkan ibumu tetap seperti itu sementara kalau aku menikah denganmu nanti, aku pasti akan sering berinteraksi dan berkomunikasi dengannya.” “Apa kita perlu pindah negara supaya jarang bertemu dengan ibuku?”’ “Ini tentang komunikasi, Hans, bukan soal pertemuan saja. Aku butuh sosok orang tua yang menganggapku.” Ujar Sabrina dengan suara yang cukup pelan. Hans mengangkat dagu wanita itu dan menatapnya lekat, “Memangnya orang tuamu tidak menganggapmu?” “Bukan begitu, hanya saja aku ingin orang tua dari suamiku nantinya menerima aku bagaimana diriku sesungguhnya dan kurasa Ibumu sudah memberikan tanggapan tidak enak sejak awal.” “Kau tidak mengatakan ini karena mulai menyukai pria lain dan ingin memutuskan hubungan kita secara perlahan kan, Sa?” tanya Hans menyelidik. Sabrina menggelengkan kepalanya dengan dengkusan tak terima atas tuduhan tersebut, “Aku tidak akan menyukai pria lain saat aku memilikimu.” “Perasaan orang tidak ada yang tahu, Sa. Kita bahkan tidak bisa mengendalikan perasaan kita sendiri. Aku tidak tahu, entah sikapku ada yang salah dan membuatmu marah, lalu kesal dan berpaling ke pria lain yang menurutmu lebih pengertian. Menyukaimu pun tidak ada dalam rencanaku ketika kita berteman di sosial media karena itu hanya iseng. Semuanya mengalir begitu saja dan hubungan kita bertahan sampai sejauh ini, itu sangat hebat.” “Lebih hebat lagi kalau kita benar-benar mewujudkan harapanmu untuk memiliki beberapa anak.” “Kita sudah bisa mengusahakannya sejak sekarang.” Goda Hans. Sabrina menepuk d**a pria itu, “Dasar m***m, perbaiki isi pikiranmu.” Omelnya dan membuat Hans terkekeh geli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN