Sabrina menarik nafas dan menghembuskannya beberapa kali dan itu sudah ia lakukan sejak tadi, ketika Hans datang ke apartemennya untuk menjemputnya. Jantung Sabrina sejak tadi merasa tidak tenang, apalagi karena rencana Hans yang tidak terduga ini. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba saja Hans mengajaknya untuk menemui orang tua pria itu, padahal sebelumnya mereka tak pernah membahas pertemuan seperti itu.
Saat Sabrina bertanya, “Mengapa tiba-tiba sekali?”. Hans hanya menjawab supaya orang tuanya mengenal kekasihnya, tapi menurut Sabrina hal itu masih sangat aneh.
Bukan Sabrina tidak senang dengan ajakan Hans itu, apalagi itu membuktikan keseriusan Hans terhadap hubungan mereka, hanya saja karena ia tidak punya persiapan dan ia takut kalau orang tua Hans tidak menyukainya.
Tapi apa boleh buat, Hans juga tak memberinya pilihan untuk mengiyakan atau menolak ajakan pria itu. Pria itu langsung menyuruhnya bersiap-siap dan pergi ke rumah orang tua pria itu sesegera mungkin. Setidaknya Sabrina sudah merasa dirinya tidak begitu buruk untuk bertemu dengan orang tua Hans.
Hans melirik Sabrina dan terkekeh geli, lalu tangannya mengambil tangan kiri Sabrina dan mengecupnya sekali, hingga Sabrina langsung menoleh dan tersenyum paksa. “Tidak perlu gugup. Orang tuaku tidak menyantap daging manusia.” Ujarnya entah itu menenangkan atau malah membuat Sabrina semakin takut.
Sabrina menghela nafas kasar dan memukul lengan Hans dengan kesal, “Aku jelas tahu itu, tapi aku gugup. Aku tidak yakin kalau orang tuamu akan menyukaiku.” Ujarnya terdengar ragu.
Hans mengusap tangan Sabrina untuk menenangkan, “Tidak apa-apa, lagi pula yang akan menikah denganmu itu aku bukan orang tuaku, jadi tidak perlu ambil pusing pendapat mereka.”
“Aku tahu, tapi walau bagaimanapun, mereka itu kan orang tuamu.” Ujarnya.
“Ya sudah, percaya saja kalau orang tuaku tidak mungkin bersikap buruk padamu.”
Sabrina menatap lurus, “Mereka orang tuamu, tentu saja tidak akan bersikap buruk padamu, tapi kalau pada orang asing sepertiku, mereka tidak mungkin bisa berperilaku sama seperti ke anaknya sendiri.”
“Kalau orang tuaku membuatmu tidak nyaman, kita bisa langsung pulang saja. Kau hanya perlu mengatakannya padaku.” Ujar Hans.
Sabrina menatap Hans, lalu melihat bangunan di depannya dengan cukup takjub sekaligus ragu. Ia kembali melihat Hans yang menurunkan jendelanya dan menyapa penjaga gerbangnya yang terbuka otomatis.
“Ini rumah keluargamu?” tanya Sabrina.
Hans mengangguk, sambil memutar setirnya dan berhenti di barisan mobil yang terparkir dengan rapi di garasi mobil keluarga Hans. Sabrina keluar dari mobil masih dengan mata yang terpukau sekaligus tidak menyangka bahwa Hans sekaya ini. Ia tahu kalau orang tua Hans memang kaya, tapi tidak ia duga kalau ternyata lebih kaya dari yang pernah ia pikirkan.
Lagipula Hans memang cukup tertutup mengenai keluarganya sendiri. Sejak masuk bangku sekolah bahkan hingga kuliah, Hans terbilang jarang membahas keluargnya bahkan kepada teman dekatnya sendiri dan kepada Sabrina. Apalagi dengan keadaan Hans yang tinggal di apartemen berbeda dengan orang tuanya, itu membuat Hans lebih leluasa untuk menutupi keluarganya.
“Ayo.” Ajak Hans sambil meraih tangan Sabrina untuk ia genggam.
Sabrina memilih untuk menunjukkan sikap biasa saja sekalipun sebenarnya ia menutupi perasaan tak nyaman. Tiba-tiba saja ia merasa kecil setelah berada di depan rumah Hans yang cukup besar. Oke, itu sebenarnya sikap rendah hati Sabrina karena ia pun berasal dari keluarga kaya, hanya saja ia tidak memiliki kesempatan untuk mengakui kekayaan itu kepada Hans.
“Selamat malam, Tuan muda.” Sapa asisten rumah tangga pribadi untuk Hans.
“Malam Ross. Di mana Ayah dan Ibu?” tanyanya.
“Mereka sedang makan malam.” Jawab Ross dan tersenyum ketika melirik Sabrina dan memperhatikan tangan keduanya yang saling bertautan.
Sabrina menahan Hans, “Apa penampilanku tidak berlebihan?” tanyanya sambil mengamati pakaiannya sendiri. Ia memakai baju potongan berwarna putih dan disandingkan dengan rok mini berwarna biru bermotif bunga-bunga yang cukup menunjukkan betapa jenjang kakinya yang mulus itu.
Hans tersenyum kecil dan ikut memperhatikan penampilan kekasihnya itu sejenak, lalu menatap mata Sabrina dan menggelengkan kepalanya, “Tidak ada yang salah dengan penampilanmu. Sangat cantik.” Puji Hans puas melihat penampilan Sabrina.
Sabrina akhirnya memiliki kepercayaan diri setelah mendapat pujian dari kekasihnya itu dan segera membenahi rambutnya ketika ia mulai mendengar suara denting sendok ke piring meski tidak begitu nyaring. Pelayan dari ruang makan nampak memberikan salam kepada mereka ketika Sabrina dan Hans masuk.
Sabrina tiba-tiba meneguk ludahnya saat melihat keluarga Hans langsung menatapnya. Ia berusaha tersenyum sekalipun rasanya cukup sulit karena sekarang ini benar-benar canggung untuknya. Ia menurut saja ketika Hans menarik tangannya dan menarikkan satu kursi untuknya duduk di samping orang yang Sabrina duga bahwa itu adalah Ibunya Hans.
“Sambil makan, aku akan memperkenalkan kekasihku. Dia adalah Sabrina Bon. Aku tidak akan menikah dengan wanita lain selain Sabrina, itu saja.” Ujar Hans lalu duduk.
Sabrina menunduk malu mendenga perkenalan diri Hans yang sangat aneh kepada keluarganya. Apa yang akan mereka pikirkan setelah mendengar ucapan Hans yang seperti tadi, sementara Sabrina saja merasa geli sendiri mendengar pengakuan Hans yang mengatakan kalau pria itu tidak akan menikah dengan wanita lain selain Sabrina. Yang benar saja.
“Oh ya, Sa, biar aku perkenalkan keluargaku.” Ujar Hans. Sabrina memperhatikan setiap kali tangan pria itu menunjuk keluarganya, “Itu Ayahku, Shadrach. Yang duduk di sampingmu adalah Ibuku, Nancy. Pria yang duduk di depan Ibuku, itu adalah satu-satunya saudara laki-lakiku, namanya Noam.”
Sabrina hanya meremas tangannya saat mendapati tatapan dari ayahnya Hans. Ia tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya pada Ayah Hans.
“Apa Ayahmu adalah Barto Bon?” tanya Ayah Hans.
Sabrina terpaku mendengar pertanyaan itu, lalu ia mengangguk pelan dan hanya sebentar, tapi itu sudah cukup membuat ayah Hans menemukan jawabannya.
“Siapa itu?” tanya ibu Hans.
“Itu salah satu teman bisnisku, meski kami tidak begitu akrab.” Ujar ayah Hans menjelaskan.
“Apa pekerjaanmu?” tanya ibu Hans pada Sabrina.
“Aku bekerja di Wikler Entertaiment sebagai Content Creator.” Ujar Sabrina.
“Kenal Hans di mana?”
“Kami kenal lewat sosial media.” Ujar Sabrina dengan ragu hingga suaranya mengecil. Hans terkekeh geli dan mengusap tangan Sabrina sambil memperhatikan ekspresi keluargnya yang langsung melihat ke arahnya setelah mendengar jawaban Sabrina.
“Sudah berapa lama kalian berkencan?” tanya ayah Hans.
“Sudah 2 tahun.” Jawab Hans sambil bertatapan dengan Sabrina dan sama-sama tersenyum kecil.
“Wow, ternyata sudah cukup lama ya.” Aku Noam cukup terkejut mengetahui hubungan adiknya sudah selama itu dan baru dikenalkan pada keluarga malam ini.
“Oh ya, Kyle akan datang ke rumah sebentar lagi.” ujar ibu Hans.
Ayah Hans berdecak, “Kenapa harus mengundangnya terus-terusan, Zuwi? Dia juga punya kesibukan yang lain. Lagipula Hans kan sudah bilang tadi siang kalau dia mau mengajak kekasihnya kemari, lalu kenapa mengundang orang lain?” tanyanya.
“Siapa itu?” tanya Sabrina sambil berbisik pada Hans.
Hans menggelengkan kepalanya, “Bukan siapa-siapa. Hanya anak dari kenalan Ibu dan dia suka datang ke rumah ini sambil mendekatiku.” Ujarnya,
Sabrina menatap Hans dengan tajam, lalu mencubit perut pria itu, “Dasar kepedean.” Ujarnya. Hans tertawa hingga keluarganya memperhatikannya dan hanya menggelengkan kepala, kecuali ibunya yang melirik dengan cukup sinis.
Sabrina segera menundukkan kepalanya ketika melihat Kyle masuk ke dalam ruang makan dengan arahan dari pelayan di rumah Hans. Ia meremas tangannya sendiri dengan keringat yang cukup membanjir secara tiba-tiba. Ia menutup matanya kuat-kuat, lalu menatap Hans, “Di mana letak kamar mandi?” tanyanya.
Hans menatap kekasihnya dengan cukup bingung ketika melihat keringat yang cukup banyak di wajah Sabrina, tapi ia tetap menjawab pertanyaan Sabrina, “Pergilah bersama Ross, biar dia yang mengarahkanmu.” Ujarnya. Lalu menoleh pada asisten pribadinya, “Ross, tolong antarkan Sabrina ke kamar mandi.”
Ross mengangguk dan segera menunggu Sabrina untuk berdiri. Sabrina tiba-tiba saja merasa lemas pada bagian kakinya untuk berdiri hingga ia hampir terjatuh ketika memundurkan kursi supaya bisa lewat. Pelan di ruang makan segera membantu Sabrina dengan menarik kursi mundur.
Hans menoleh dan melihat Sabrina dengans cukup khawatir, “Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Sabrina menggelengkan kepalanya, tapi menjawab, “Aku tidak apa-apa.” Jawabnya seadanya dan meminta bantuan Ross agar ia bisa berpegangan. Hans memilih berdiri dan memegang tangan Sabrina, “Biar aku antarkan.” Ujarnya.
“Hans, sapa Kyle terlebih dahulu.” Tegur ibu Hans.
“Nanti juga masih bisa menyapa Kyle, Zuwi, tidak perlu berlebihan.” Ujar ayah Hans saat melihat Sabrina merasa kesulitan untuk menopang tubuhnya sendiri. Ayah Hans tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia memilih diam saja sambil memperhatikan Hans yang membantu Sabrina pergi ke kamar mandi.
“Ah, paling itu hanya pura-pura saja, supaya mendapat perhatian lebih dari Hans.” Ujar ibu Hans dengan ketus.
“Biarkan saja, lagipula Hans itu kekasihnya. Urusan dia mau bermanja-manja atau mendapat perhatian lebih, itu urusannya.” Ujar ayah Hans.
“Itu tadi kekasih Hans, Bibi?” tanya Kyle.
“Iya, tapi kau tidak boleh menyerah untuk mendekati Hans. Aku yakin kalau hubungan mereka tidak akan bertahan lama. Bibi hanya mendukung hubungan Hans jika itu denganmu.”
“Aku mendukung hubungan Hans dengan siapapun asal dia suka. Tidak perlu memaksakan kehendakmu pada Hans. Dia juga sudah dewasa untuk bisa menentukan pilihannya sendiri.” ujar ayah Hans.
Kyle diam dan berpikir sejenak saat ia melihat wajah Sabrina tadi, lalu berkata kepada dirinya sendiri, “Wajahnya seperti tidak asing.” Ujarnya.