Bab 2 : Homeless

999 Kata
- Chika - Diusir dari rumah orang lain rasanya tidak begitu menyakitkan, namun jika diusir dari rumah sendiri? Ini lebih seperti kalian kehilangan alasan untuk tetap bertahan hidup di dunia ini. Seperti yang Chika rasakan saat orang-orang yang tidak dikenal menyeretnya paksa keluar dari rumahnya sendiri. "Tolong berikan sedikit waktu, saya berjanji akan segera menemukan Ayah saya dan melunasi semua hutang yang ada." Demi mempertahankan apa yang ia miliki, Chika tidak peduli jika harus merendahkan harga dirinya di depan mereka semua, berlutut pada orang-orang berjas hitam yang saat ini tengah sibuk mengangkut barang-barang yang menurut mereka berharga jual tinggi untuk dibawa ke tempat lelang. "Dengar, Nak, walaupun Ayahmu ditemukan, itu sama sekali tidak mengubah apa pun karena dia tidak akan bisa membayar semua hutang-hutangnya!" sahut salah satu dari mereka. Sial! Memangnya seberapa banyak sih hutang Ayah pada mereka? "Kami pasti akan melunasinya!" Chika mencoba meyakinkan kembali, ia masih belum mau menyerah. Seseorang yang mengepalai aksi perampasan di rumahku ini tengah tergelak sesaat setelah mendengar omong kosongnya. "Dengan apa? Menjual organ tubuh kalian?" Lancang sekali! Mulut gadis itu baru saja bersiap untuk kembali menyalak namun pria itu lebih dulu memotong ucapan ku. "1.2 Milyar, kau punya uang sebanyak itu? Kalau kau memang punya, cepat bayar kami saat ini juga lalu kami akan pergi dari sini." "Sa-satu koma dua mi-milyar? Anda bercanda? Mana mungkin Ayahku meminjam uang sebanyak itu pada kalian." Ya, jelas tidak mungkin. Logikanya, untuk Apa Ayahnya meminjam uang sebanyak itu pada rentenir di saat mereka berdua hidup dengan berkecukupan? "Mana kami tahu uang itu digunakan untuk apa. Itu bukan urusan kami selagi dia memberikan jaminan yang sepadan dengan uang yang dipinjam." Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa tiba-tiba saja Ayahnya memiliki banyak hutang dan kenapa pula dia kabur? Jika memang keadaannya sangat genting, setidaknya dia harus memberitahunya dan mengajaknya kabur bersama kan? Chika menatap bangunan di depannya dengan perasaan marah, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Terlebih lagi saat kedua matanya melihat sebuah banner bertuliskan “RUMAH INI DISITA” membentang di depan pintu masuk dan pagar rumah membuat harapannya hancur berkeping-keping. Rumah itu memiliki banyak kenangan tentang masa kecilnya. Rumah pertama yang kedua orangtuanya bangun dengan hasil kerja keras mereka, dan satu-satunya rumah yang ia miliki untuk bernaung kini telah dirampas. Jika saja bisa, dia ingin memberontak kalau jumlah mereka tidak banyak dan dia ingin sekali menampar mulut dan wajah mereka dengan sekoper uang kalau saja ia punya. Sialnya Chika sama sekali tidak memilikinya, jangankan uang sebanyak 1.2M, sepuluh ribu rupiah saja dia tidak punya. “Ayah sialan!” hanya sebuah umpatan yang bisa lolos dari mulutnya sebagai bentuk rasa kecewa. “Kalau mau kabur, seharusnya Ayah membawaku juga bersamanya, bukan malah menjadikanku sebagai alat pelunas hutang dan menjadi target kejaran orang-orang berbadan besar!” Dia kembali menggerutu seraya mengeratkan pegangan tangan pada koper, sedangkan tangan satu lagi memeluk erat bingkai foto keluarga, satu-satunya barang yang dapat aku bawa dari dalam rumah selain pakaian di dalam koper, tentu saja. “Sedang lihat apa?!” pria yang tadi sedang melotot ke arahku. “Cepat masuk ke dalam mobil, bodoh!” omelnya lagi seraya menunjuk sebuah mobil van putih yang terparkir tidak jauh dari gerbang rumah. Masuk ke dalam mobil itu? Tck, jangan harap! Dari pada masuk ke dalam mobil lalu dibawa ketempat yang dia tidak tahu atau parahnya dijual ke rumah pelacuran, lebih baik dia kabur walau nanti akan menjadi gelandangan sekalipun. “Hey, kau tidak deng-“ si kurus membalikkan badannya, Chika yang semula tengah mengendap-endap menjauh dari sana lantas terkesiap. Langkah yang sebelumnya pelan kini telah berubah menjadi berlari sekencang mungkin. “Hey! Jangan kabur!” "Bicara saja pada perut buncit mu, sialan!" umpatnya sebelum melemparinya dengan batu yang sebelumnya dia pungut untuk dijadikan senjata. . . . - Demon - “Kau benar-benar sudah mengawasinya selama tiga hari ini?” Demon bertanya sambil membuka dokumen berisi hasil pengamatan Lucas selama beberapa hari ini di area kediaman Lera. Lucas adalah seseorang yang ia pekerjakan secara khusus untuk perihal mencari informasi tentang apa pun yang ingin ia tahu. Ya, Lucas adalah seorang detektif yang kami bayar mahal untuk bekerja di Estan Company. “Ya, saya bisa menjamin hal itu.” jawab Lucas dengan sangat percaya diri seperti biasanya. Tidak, bukannya ia tidak percaya dengan apa yang Lucas laporkan, dia selalu bekerja dengan baik dan tidak pernah membuat kesalahan atau mengecewakannya yang sudah membayarnya mahal. Akan tetapi ini Lera, sosok gadis manja yang tidak betah jika berlama-lama di rumah. Mall adalah satu dari sekian puluh tempat favorit gadis itu untuk membunuh waktu. Dan apa yang Lucas laporkan? Lera bahkan belum keluar dari rumah sejak tadi pagi? Demon menatap keluar jendela, siapa tahu sebentar lagi akan terjadi badai. “Apa limit kartu perusahaan sudah habis?” Demon kembali bertanya karena kemungkinan yang terlintas di otaknya hanya ada dua hal. Pertama, limit kartu sudah habis makanya Lera mendekam di kediamannya karena tidak bisa berbelanja. Kedua, terjadi sesuatu pada kaki gadis itu yang membuatnya sampai tidak bisa berjalan. “Tidak, masih di nominal yang sama.” Jawab Lucas seraya menyerahkan berkas lainnya. "Dan ... kabar terbaru yang saya dengar, party yang akan diadakan nanti malam telah dibatalkan oleh Nona Lera." Lera membatalkan party super megah untuk bersenang-senang dengan teman-temannya? Rasanya sangat mustahil menilik bagaimana gadis itu mencintai hal-hal yang mewah dan suka pamer. Tapi bagusnya dana perusahaan sedikit terselamatkan. Tapi kalau dipikirkan kembali, bukankah ini aneh? Apa yang sebenarnya sedang dan coba Lera lakukan? Apakah terjadi sesuatu pada gadis itu? “Bawa aku ke tempat Lera.” Pada akhirnya Demon menyerah untuk bermain tebak-tebakan. Dia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri apa yang terjadi pada gadis itu. Dia tidak meninggal, kan? Entah bagaimana bisa pikiran gila itu terlintas di otaknya dan buru-buru dia enyahkan. Kalau sampai itu menjadi kenyataan maka Nenek dan Pamannya akan menggila. Lucas mengangguk, “Saya akan menyuruh seseorang untuk menyiapkan mobil-“ Demon mengangkat tangan sebagai tanda kalau dia tidak setuju dengan usul itu. "Gunakan mobilmu saja karena Lera akan tahu kalau aku memakai mobilku sendiri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN