Marlina mendongak, menatap lekat pada dagu suaminya. Jantungnya berdegup tak keruan, seolah insting keibuannya sudah menangkap sinyal bahaya yang amat besar di balik pelukan protektif itu. “Karena apa Pa?” ucap Marlina dengan penuh penasaran sambil mendongak, menuntut jawaban yang sejak tadi disembunyikan. Aditya menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak seolah sedang mengumpulkan sisa kekuatan untuk menjatuhkan bom yang akan meluluhlantakkan kedamaian rumah mereka. “Hasil tes DNA, anak yang dikandung Sella bukan anak Jo,” bisik Aditya. Ia tidak melepaskan dekapannya, justru semakin mempererat lengan di sekeliling tubuh istrinya saat kalimat itu meluncur pelan namun mematikan. Dunia seolah berhenti berputar bagi Marlina. Seluruh kekuatan di tubuhnya menguap seketika. Kaki-kaki Mar

