Dering ponsel Sella menusuk telinga dengan rentetan panggilan yang tak berhenti. Sella mengerang, menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi kepalanya, berusaha mengabaikan. Namun, getaran di atas meja nakas itu terus berlanjut, berisik dan mendesak. "Siapa, sih..." rintih Sella. Dengan mata yang masih terpejam rapat, tangannya meraba-raba permukaan meja nakas, menjatuhkan beberapa botol kosmetik sebelum akhirnya menemukan benda pipih yang terus mengusiknya. "Halo..." suaranya parau, serak oleh sisa tangis semalam. "Sella! Ke mana saja elo, Cin?! Lihat TV sekarang, cepat!" Teriak Luna di seberang telepon. Nada feminin yang biasanya meliuk manja kini berubah menjadi bariton laki-laki yang kasar dan penuh kepanikan pada kata 'cepat'. Sella mengerutkan kening, masih memeluk bantalnya era

