Ancaman dari Jakarta

1623 Kata

Zee merogoh kolong bantalnya dengan gerakan ragu, menarik keluar secarik kertas catatan dari Rita yang ia sembunyikan dengan hati yang berkecamuk tadi. Dadanya sesak, ia ingin berbagi beban ini dengan sang ayah, namun ada ketakutan besar yang membayangi setiap jengkal pikirannya. “Bapak.” Zee akhirnya memutuskan untuk memberitahukan kepada sang ayah. Suaranya kecil, hampir tenggelam oleh heningnya kamar rumah sakit. Rusdi segera bangkit dari duduknya. Zee menyodorkan catatan itu setelah Rusdi mendekat. “Ini ditinggalkan mama,” ucap Zee sambil tangannya bergetar. Kertas tipis itu tampak bergoyang karena tremor di genggaman jemari Zee yang tak bisa lagi ia sembunyikan. “Oiya mama mu?,” Rusdi baru menyadari kalau mantan istrinya sudah tidak ada di ruangan itu. Ia seolah tersadar dari lamu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN