"Boleh aku duduk? Kebetulan, kursiku tepat di sampingmu." Suara itu menghantam kesadaran Zee. Ia tersentak, kepalanya menoleh dengan gerakan patah-patah. Di sana, berdiri seorang pria dengan jaket yang sangat ia kenali. "David?" Napas Zee tertahan di kerongkongan. David tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis, dan dengan tenang mendudukkan dirinya di kursi sebelah. Kehadirannya seketika membuat kabin pesawat yang luas terasa menyempit bagi Zee. "Kau... kau mau ke Surabaya juga?" tanya Zee dengan nada sangsi. Ia mencoba mencari logika di balik kebetulan yang terasa mustahil ini. "Iya," jawab David singkat, masih dengan senyum tipis yang sulit dibaca. "Untuk urusan apa?" kejar Zee, matanya menatap tajam, mencari kejujuran di balik manik mata pria itu. "Me

