Baca Dongengnya!

1841 Kata
Alex membuka matanya perlahan. Ia mengulas senyum saat pertama kali melihat melihat wajah Maya. "Good morning, Baby!" sapa Maya sembari tersenyum. Ia meletakkan sebuket bunga di atas meja dan duduk di sebelah Alex. "Good-" Alex hendak terbangun namun rasa nyeri di tubuhnya menahannya. "Aduh! A-apa yang terjadi padaku?" tanyanya tak mengerti. "Sayang, kamu sudah bangun?" Bahkan ibu Alex, Maria ada di sana. "Dok, apakah dia baik-baik saja?" tanyanya pada seorang pria berseragam putih. Alex keheranan, ia bangun tidur sudah disambut Maya. Bahkan, di samping ranjangnya itu ada ibunya dan seorang dokter. Lantas, Alex melirik tangannya yang diperban, juga rasa sakit di keningnya yang juga diperban. "Keadaan Alex sudah membaik. Dia bahkan nanti sudah boleh pulang. Beruntungnya lukanya tidak terlalu parah. Dia hanya butuh banyak istirahat. Kami sudah mengobati luka-lukanya itu," kata Dokter berbicara pada Maria. "Mari, Bu. Ikut saya selesaikan formalitasnya sebelum meninggalkan rumah sakit?" ajak Dokter. "Baik, Dok!" jawab Maria. "Mama keluar sebentar ya!" Maria mengelus tangan pipi Alex penuh kasih sayang dan kemudian keluar ruangan bersama dokter. Kemudian, disusul dua orang masuk ke ruangan. Mereka Annie dan Jay. "Bagaimana kabarmu, Lex?" sapa Annie lebih dahulu. "Lo nggak apa-apa, kan?" tanya Jay. "Tenang, aku nggak apa-apa, kok!" kata Alex sembari mencoba menyadarkan tubuhnya. "Sebentar, aku bantu!" Maya membantu pacarnya itu menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. "Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Jay mendahului Annie dan Maya. Alex melihat tangannya yang terbalut perban, kemudian ia mengingat kejadian tadi malam. "Tadi malam, setelah pulang dari rumah Maya, jalanan utama macet dan aku leeat jalan pintas yang sepi. Tapi mobilku tiba-tiba mogok. Lalu aku menelpon bengkel dan ada tiga orang yang datang. Dan aku…." Alex mengehentikan ucapannya begitu saja. Ia baru ingat kalau ia yang mengambil buku dongengnya dan menyembunyikan pada teman-temannya. "Lalu setelah itu?" Maya tak sabar mendengar cerita selanjutnya. "Setelah itu … aku membaca buku dongeng itu," kata Alex sembari memejamkan mata. "Buku dongeng?" tanya Annie keheranan. "Bukannya buku dongeng itu hilang?" Tatapan mereka bertiga kini terfokus pada Alex. Semuanya menatap heran dan menunggu jawaban dari Alex. "Okay!" Alex menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Lantas matanya terfokus pada Maya. "May, sorry. Sebenarnya … aku yang mengambil buku itu. Saat kalian sibuk mencari-cari, aku menemukannya dan menaruhnya di dalam mobil. Dan ya…" "Dan lo membaca bukunya tadi malam." Jay melanjutkan perkataan Alex. "Kemudian lo diteror, iya kan?" "Dongeng apa yang lo baca?" tanya Annie cepat. "Aku membaca dongeng pengembala dan serigala. Sebelum aku membacanya sampai selesai, aku terkejut melihat orang-orang pekerja bengkel itu menatapku aneh. Saat aku mendekat dan berniat memberinya upah, dia malah mengiris tanganku dengan gergaji," jelas Alex sembari melihat tangannya yang terbalut perban. "Awalnya aku berhasil lolos dari mereka. Tapi kemudian mereka datang lagi di jalanan. Mereka mulai memburuku lagi, aku berusaha membebas diri, aku bahkan menabrak mereka dan membuat mereka terluka. Lalu mobilku menabrak pohon dan semuanya menjadi gelap." Alex menarik napas dan membuangnya. "Aku tidak ingat lagi setelah itu," imbuhnya. "Polisi menemukanmu tadi malam. Kami terkaget saat tadi pagi-pagi sekali Tante Maria mengabari kami. Kami langsung ke sini," kata Maya. Kemudian dia tersenyum dan mengelus pipi Alex. "Syukurlah lukamu tidak cukup parah." "Polisi menemukanku? Apakah mereka juga menemukan orang-orang yang menyerangku?" Giliran Alex yang bertanya. "Kami dengar, nggak ada siapapun yang terlibat kecuali kamu, Lex. Dan polisi menduganya ini kasus kecelakaan biasa. Mereka mengira kamu mengantuk saat menyetir dan menabrak pohon," ujar Maya. "Tapi, Honey … aku ingat ada tiga orang tadi malam. Mereka semua mati aku tabrak, dan lukanya itu sangat parah. Bagaimana mereka menghilang begitu saja?" Alex keheranan. "Karena mereka bukan manusia!" sahut Annie mantap, membuat mereka menatap ke arahnya. "Memang iya kan. Yang kita alami memang nggak bisa dinalar, dan itu terjadi setelah kita membaca buku dongeng itu!" imbuh Annie. "Annie benar!" kata Jay membenarkan ucapan Annie, disambut anggukan Maya. Alex mengerjap sejenak dan berkata, "Aku minta maaf karena tidak mempercayai kalian sebelumnya. Sekarang, aku sudah percaya kalau buku itu memang buku terkutuk." "Terus … sekarang buku dongengnya di mana?" tanya Maya kemudian. Alex berusaha mengingat-ingat buku dongeng itu. "Tadi malam, saat seorang pria mengiris tanganku dengan gergaji, aku tak sengaja menjatuhkan buku itu begitu saja. " "Itu berarti, bukunya ada di tempat kejadian?" sahut Annie bertanya. "Sudahlah… lupakan saja soal buku itu. Yang terpenting, buku itu sudah tidak bersama kita lagi," ujar Jay. Ketika mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba dua orang pria memasuki ruangan. Mereka Nichole dan Rio. "Hi, guys!" sapa Nichole sembari masuk bersama Rio. Pandangan mereka langsung beralih ke arah mereka berdua. "Bro, sorry ya. Kami baru dateng," kata Nichole pada Alex. "Abis si Rio aku jemput masih molor. Tapi lo nggak apa-apa kan? Maksudnya nggak parah kan lukamu?" tanya Nichole lagi. "Hehe … sorry, Lex. Tadi malem gue mabuk soalnya," kata Rio cengengesan. "Gue baik-baik saja, kok. Gue dah sembuh! Lagian, ini cuma luka ringan!" kata Alex tampak meremehkan. "Tapi, lo kenapa bisa kayak gini, Lex?" tanya Nichole. Alex membuang napas sebelum menjawab. "Sama seperti lo dan yang lainnya, gue juga diteror." "Buku dongeng itu lagi?" Suara Rio terdengar bosan. "Kami semua sudah merasakannya, apakah lo masih menganggap kami berbohong?" timpal Annie pada Rio. "Beruntung lo nggak ngalamin, karena buku itu sekarang sudah hilang!" sahut Maya. "Syukurlah kalau begitu!" ujar Nichole sembari melipat tangan dan mendongak ke atas. "Ya nggak asik dongg!" canda Rio. "Lo mau diteror juga?!" tanya Jay dengan nada tinggi. "Gue doain deh nanti malam giliran lo yang diteror. Hahaha!" candanya. "Eh kok lo gitu?" Rio menelan ludah. "Wah kalian sudah pada ngumpul semua?" Seorang wanita memasuki kamar dan membuat mereka menatapnya. "Kalau kalian menjenguk semua seperti ini, Alex pasti cepet sembuh. Iya kan, Nak?" Ibu Alex itu tersenyum pada mereka. "Selamat pagi, Tante!" sapa Rio dan yang lainnya. Maria tersenyum. "Alex sebentar lagi sudah boleh pulang loh. Tapi, tergantung dianya. Mau di sini terus atau pulang ke rumah," serunya. "Mama apaan sih. Ya tentu aku mau pulang lah. Bosen Ma di sini mencium obat-obatan mulu," ujar Alex. "Iya … iya … sebentar lagi kamu akan pulang," seru Maria pada putranya. *** Setelah Alex diantar pulang, teman-temannya pun ikut balik pulang. Annie yang saat itu pulang diantar Jay, mereka tampak mengobrol di dalam mobil. "Jay, bagaimana kalau kita pergi ke tempat kejadian saat Jay diserang. Aku ingin memastikan, apakah buku dongeng itu memang ada di sana atau tidak," kata Annie pada Jay. "Memangnya kamu tahu di mana tempatnya?" tanya Jay sembari asyik mengemudikan mobil. "Nggak tahu pasti sih. Tapi, gue kayaknya pernah lewat situ. Karena waktu jalanan macet, aku juga lewat situ!" ujar Annie. "Sebentar, gue tanya Alex dulu. " Annie pun mulai mengoperasikan ponselnya dan bertanya pada Alex lewat aplikasi w******p. "Gue tahu, Jay tempatnya!" kata Annie setelah mendapat balasan pesan dari Alex. "Di mana?" tanya Jay. "Pokoknya lo ikutin intrupsi gue. Sekarang putar balik mobilnya!" perintah Annie yang langsung dijalankan Jay. Mereka pun mulai menyisir jalanan yang sepi dan kecil. Di pinggirnya diapit pepohonan besar nan rindang. "Stop!" Annie berkata tiba-tiba membuat Jay menghentikan mobilnya mendadak. "Kayaknya di sini tempatnya," imbuhnya. "Yakin lo?" kata Alex tampak tak yakin, karena melihat jalanan itu yang agak gelap. "Gue yakin, Jay!" ujar Annie sembari menengok ke kaca mobil yang terbuka. Annie pun keluar mobil disusul oleh Jay. "Terus bukunya mana?" Jay celingukan mencari buku itu. "Sebentar!" Annie melihat sebuah plang dan kursi panjang di pinggir jalan. Lantas ia pun berjalan ke sana. Jay membuntutinya. "Jay, lihatlah plang ini. Ini hanya sebatas plang peringatan kalau jalan ini rawan kecelakaan, tidak ada iklan bengkel atau semacamnya." Annie memandangi plang itu dengan heran. "Berarti, yang menyerang Alex tadi malam bukan manusia dong?" Alex keheranan. "Bisa jadi." Annie mengangguk-angguk. Lantas gadis itu menengok ke arah pohon besar di seberang jalan. Terdapat sosok mengenakan jubah hitam yang berdiri di bawah pohon. Perlahan, sesosok itu berjalan ke belakang pohon dan menghilang. Annie mencoba mengejar namun Jay menariknya. "Kamu mau ke mana, Ann?" tanya Jay tak mengerti. "Gue lihat orang berjubah hitam tadi di sana, Jay!" kata Annie yakin. "Mana? Nggak ada apa-apa tuh di sana." Jay menerawang pohon itu namun tak menemukan siapapun. "Kita pergi aja, yuk dari sini. Gue takut nih, jangan-jangan itu bukan orang lagi. Sejak kejadian kemarin, gue jadi percaya hal begituan. Semua itu gara-gara buku dongeng itu." "Ya sudah kita pergi saja. Lagian bukunya kita cari juga nggak ada." Mereka pun akhirnya memilih untuk pergi dari sana. *** Rio tampak termenung di kamarnya. Pria itu mulai memikirkan teman-temannya yang diteror secara misterius setelah membacanya sebuah buku dongeng. Suara dering ponsel tiba-tiba mengagetkan lamunan pria itu. Ia menengok ke ponselnya, dan menyadari ibunya sedang menelepon. Namun, bukannya mengangkatnya, pria itu malah menolak panggilannya dan mematikan ponselnya. Ia menyadarkan punggungnya di kursi dan mengangkat kakinya di atas meja kecil. Kemudian membuang napas kesal. "Kenapa sih, wanita itu terus meneleponku lagi!" umpat Rio kesal. Rio Vernando. Itu adalah nama lengkapnya. Ibunya bernama Verna dan ayahnya bernama Nando. Namun, malangnya Rio merupakan anak hasil hubungan gelap mereka. Saat itu Verna yang tengah mengadung Rio, sedang dijodohkan oleh ayahnya. Hal itu tentu membuat Nando sakit hati. Karena tidak ingin diusir dari keluarganya, Verna terpaksa menyerahkan Rio setelah kelahirannya kepada Nando, dan Verna memutuskan untuk putus dengan Nando dan pergi dari kehidupannya selama-lamanya. Saat ini Rio tinggal bersama ayahnya dan juga keluarga pamannya di kota. Ia hidup tanpa ibu sejak ia masih bayi. Namun akhir-akhir ini, ibunya itu muncul kembali dan ingin memiliki Rio. Verna juga ingin menikah dengan Nando lagi karena suaminya meninggal. Lagi pula, selama mereka menikah, Verna tidak bahagia dengan suaminya itu. Dia masih mencintai Nando bahkan sampai saat ini. Rio yang mengetahui ternyata ibunya masih ada di dunia, ia malah marah pada ibunya itu. Ia berpikir ibunya itu telah menelantarkan dirinya juga ayahnya, dan sekarang malah mengemis ingin meminta maaf? Rio anak yang sangat keras kepala sehingga dia belum bisa menerima Verna sebagai ibu kandungnya. Sejak kecil ia sudah diberitahu oleh ayahnya kalau ibunya itu sudah meninggal. Nando melakukan hal itu juga karena terpaksa. "Bulshit! Dunia ini hanya omong kosong belaka!" Rio turun dari kursinya dan menyambar segelas alkohol di mejanya. Ia meminum alkohol itu sampai habis. Ketika ia hendak bergerak ke arah lain, sesuatu membuatnya berhenti. Mata Rio terfokus pada sebuah buku lusuh bersampul hitam. Buku itu, dongeng kematian! Rio mendekat ke arah buku tersebut. Merabanya sembari menyudutkan senyumnya. Ia mengingat kemarin malam saat ia mabuk. Tak sengaja ia melihat buku itu tengah jalan memungutnya. "Mereka mengira pasti buku ini hilang dengan sendirinya." Rio menyudutkan senyumnya lagi. "Padahal, buku ini ada bersamaku. Aku yang menemukannya di jalanan itu." Rio berjalan membawa buku itu di atas ranjang. "Mereka terlalu lebay menanggapi tentang buku ini. Padahal, buku ini hanya buku biasa," kata Rio meremehkan dengan mengamati setiap sisi buku tersebut. "Buku terkutuk? Itu yang mereka bilang. Dongeng kematian? Haha!" Rio tertawa kecil. "Paling, judulnya saja yang horor, isinya paling juga dongeng-dongeng anak kecil!" Pria itu tampak meremehkan isi buku tersebut. Rio menata bantalnya untuk ditaruh didekat sandaran ranjang. Kemudian ia rebahkan tubuhnya di sana sembari memegangi buku dongeng itu. "Sekarang … mari kita baca buku dongengnya!" *** TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN