Pada zaman dahulu, di sebuah perbukitan dekat dengan sebuah desa yang indah pemandangannya, ada seorang pengembala yang sedang menggembalakan ternak dombanya. Pengembala itu selalu menggiring dombanya setiap hari di perbukitan yang memiliki rerumputan yang hijau.
Sambil menunggu domba-dombanya yang sedang memakan rumput, pengembala itu berteduh di bawah rindangnya pepohonan. Karena merasa jenuh, pengembala itu memiliki ide untuk bersenda gurau. Pengembala itu pun mulai berteriak minta tolong kepada warga desa.
"Tolong… tolong... ada serigala… ada serigala!"
Mendengar teriakan pengembala, membuat para penduduk kedengaran. Tak lama kemudian tiga warga desa berduyung-duyung mendatangi sang penggembala dan menanyakan di mana serigala itu berada.
"Wahai pengembala, kami mendengar ada yang berteriak meminta tolong, apakah itu kau?" tanya salah satu warga.
“Maaf Tuan, aku tadi hanya bercanda untuk mengurangi kebosananku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," kata sang pengembala tanpa bersalah.
"Baiklah. Ayo Tuan-tuan, kita lanjutkan lagi pekerjaan kita!"
Tiga orang pria itu pun kembali menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.
“Hehe… wah ternyata asik juga yah, berteriak minta tolong dan warga desa datang menghampiri aku." Sang penggembala sangat senang bisa mendatangkan warga desa datang menghampirinya, walaupun tidak ada kejadian apa-apa yang terjadi terhadap dirinya dan ternak gembalanya.
Pengembala itu pun berencana melakukannya lagi. "Kalau aku lakukan sekali lagi, pasti seru ya!" Pengembala itu terkekeh. Akhirnya, pengembala itu pun memulai leluconnya lagi.
"Tolong… tolong …. ada serigala di sini. Tolong… tolong!" teriak Sang pengembala sembari menahan tawa.
Tak lama penduduk desa pun datang lagi. Masih orang yang sama, yaitu ketiga pria tadi.
"Wahai pengembala? Kau kah yang meminta tolong lagi?" tanya salah satu penduduk desa itu.
"Hahaha… aku sedang menipu kalian. Kalian memang mudah sekali tertipu, hahaha!" Pengembala itu tertawa tanpa dosa. "Baik-baiklah. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Keterlaluan. Ternyata kau hanya mempermainkan kami!" penduduk desa itu tampak kesal.
"Mari Tuan-tuan, kita pergi lagi. Masih ada pekerjaan yang harus kita lakukan!" ajak salah satu penduduk desa.
Mereka bertiga pun kembali melanjutkan perkataannya lagi. Sedangkan sang pengembala hanya tertawa girang. Dia sangat puas bisa mengerjai penduduk desa itu. Dan itu cukup menghiburnya.
"Kalau aku lakukan sekali lagi, pasti akan seru. Wajah mereka pasti akan memerah. Hahaha." Pengembala itu tampak gembira. "Aku kerjain mereka lagi, ah!!"
"Tolong … tolong … ada serigala di sini. Tolong … tolonggg…. serigala ingin memangsa domba-dombaku!" teriak Sang pengembala dengan menahan tawa.
Tiga penduduk desa pun datang kembali.
"Serigala? Di mana?" tanya penduduk itu.
Tak menjawab, pengembala itu malah tertawa terbahak-bahak sampai guling-guling di rerumputan.
"Apa kau mengerjai kami lagi?" Penduduk desa itu tampak marah.
"Kalian memang payah. Sudah tahu aku hanya bercanda, kalian malah menganggapnya serius. Haha dasar payah!" Bukannya meminta maaf pengembala itu malah mengejek penduduk desa.
"Kurang ajar, kau! Sekali lagi kau membuat drama, kau akan menyesalinya!" kata penduduk desa itu marah.
"Biarkan saja pengembala ini dimakan serigala. Dia memang pantas mendapatkannya!" sahut penduduk desa satunya.
"Mari kita lanjutkan pekerjaan kita lagi. Sebentar lagi hari sudah mulai usai. Jangan hiraukan pengembala jahil ini!"
Ketiga penduduk desa itu pun kembali lagi.
"Mereka memang payah dan mudah marah. Biar aku kerjai lagi!" ujar pengembala seraya tersenyum sinis.
"Tolong … tolong… ada serigala di sini! Tolong … serigala ingin memangsa domba-dombaku… tolong ….!
***
"HAHAHA!" Alex tertawa setelah membaca dongeng itu. Belum juga ia membaca sampai akhir tapi dia sudah tertawa membayangkan kejahilan pengembala itu.
Alex terpingkal sampai tawanya itu kelepasan. Namun, tawanya seketika mengerut saat ia melihat tiga pria berdiri menatapnya tajam. Mereka adalah pekerja bengkel yang membantunya memperbaiki mobilnya yang mogok.
Alex menelan ludah. Ketiga orang itu terus menatapnya tajam, tanpa berbicara. Di tangan mereka masing-masing membawa benda-benda perkakas miliknya. Satunya membawa palu, satunya membawa tang, dan satunya lagi membawa kunci gergaji.
"P-pak? Apa mobilku sudah selesai diperbaiki?" tanya Alex canggung.
Ketiga pekerja bengkel itu tak merespon. Mereka hanya berdiri terdiam dan terus menatap tajam ke arah Alex. Seolah, tatapan matanya itu menunjukkan kebencian yang mendalam.
Alex merasa ada yang tidak beres ketiga orang itu. Lantas, ia pun memberanikan diri untuk menghampiri mereka.
"Apakah ada kerusakan yang cukup parah pada mobilku, Pak?" tanya Alex lagi saat sudah berada di depan pria yang menyongsong gergaji.
Pria itu tidak menjawab. Namun, tangan kirinya bersaksi. Ia mengulurkan tangannya pada Alex.
Alex pun kebingungan. "Apa Bapak minta upah?" tanyanya.
Tak basa-basi, Alex pun langsung merogoh sakunya untuk mencari uangnya. Sepertinya ia sudah mulai merasa ada yang tidak beres dengan ketiga orang itu. Mungkin, setelah ia memberinya uang, ketiga orang itu akan pergi.
"Ini, Pak, upahnya!" Alex menyodorkan uang seratusan ribu tiga lembar pada pria itu.
Namun, reaksi pria itu bertolak belakang dengan apa yang seharusnya. Bukannya menerimanya, pria itu malah mengayunkan gergajinya dan mengiris telapak tangan Alex dengan paksa.
Kress!
"Ahhhh!" Alex pun menjerit histeris. Ia spontan menjatuhkan buku dongengnya begitu saja, dan memegang tangan satunya yang mulai mengucur darah.
"f**k you!" Alex mengumpat kesal.
Pria pembawa palu melangkah ke arah Alex. Pria itu memukul kening Alex hingga keningnya bocor mengucur darah.
"Ahh! s**t!!" Alex menahan sakit sembari berlari menuju mobil. Ia memasuki mobil dengan tergesa-gesa dan langsung menutup pintunya.
Beruntungnya mobil itu sudah bisa menyala lagi. Alex buru-buru mengemudikannya dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang terluka ia sedot daerahnya.
Tirr!!
Sebuah tang berukuran cukup besar mendarat di kaca mobil Alex hingga kaca itu retak. Alex terkejut bukan main saat wajah datar dengan tatapan tajam seorang pria tampak dari kaca mobilnya.
"Oh Gosh!" Alex berusaha mengemudikan mobilnya untuk pergi dari sana.
Namun di depannya itu dihalangi oleh orang yang membawa gergaji. Alex ketakutan bukan main. Ia memilih terus melaju dan menabrak pria tersebut.
Brakk!!!
Pria pembawa gergaji itu tiba-tiba hilang begitu saja. Alex mulai panik. Ia melihat dari spion mobilnya, menampilkan dua orang di belakang mobilnya tengah berdiri dengan tatapan amarah.
Brak!! Tiba-tiba di depan mobilnya itu muncul pria pembawa gergaji lagi. Pria itu jatuh menaiki mobil Alex dan mulai memperlihatkan gergajinya yang tajam. Pria itu mulai menggergaji kaca mobil Alex bagian depan.
Alex semakin panik. Ia menyetir mobilnya dengan memutar bermaksud membuat pria itu terjatuh dari mobilnya. Beruntungnya itu bekerja. Pria pembawa gergaji itu menggelinding jatuh.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Alex memutar-mutar kemudinya. Ia melajukan mobilnya kencang.
Sudah berjarak sepuluh meter dari tempat kejadian tadi. Namun Alex belum sampai di jalan utama. Malahan, kini jalanan semakin sunyi dan malam semakin meninggi. Hawa dingin mulai menyesap kulit. Dengan menahan pedih dan rasa sakit di tangan serta keningnya, Alex terus mengemudikan mobilnya.
Sembari itu, Alex mencoba mencari ponselnya. Ia hendak meminta pertolongan teman-temannya, namun tiba-tiba sekelebat bayangan hitam membuat mobilnya berhenti.
Alex memperhatikan terus bayangan itu. Dari sorot lampu depan, mulai terlihat sesosok pria bertopeng serigala dengan benda tajam di tangan kanannya. Sebuah gergaji. Sedangkan di tangan kirinya memegang seekor anak domba yang terus meneteskan darah.
Mungkinkah itu pria yang tadi?
Alex memutar kemudinya, bermaksud memutar arah. Namun ia menghentikan aksinya saat tiba-tiba sebuah benda menghantam kaca depan mobilnya. Seekor domba yang mati mengenaskan. Sedangkan darahnya membekas di kaca depan mobil dan membentuk sebuah tulisan.
"DONGENGNYA BELUM SELESA!"
Tiirr!! Satu kaca mobil lagi pecah. Pria pembawa palu yang melakukannya. Pria itu tersenyum sadis dari samping Alex.
"Hah!" Alex menjerit histeris.
"Sekarang, dongengnya akan seru jika pengembalanya mati bersama domba-dombanya!" Suara dari samping mengagetkan Alex. Pria bertopeng serigala dan pembawa tang yang mengatakannya dengan beringas.
"Tidak! Tolong jangan sakiti aku!" Alex menjerit panik.
"Sekarang, mari menyelesaikan dongengnya!" Pria pembawa gergaji di depan itu berlari dan langsung meloncat di depan mobil Alex. Ia mulai menggergaji kaca mobilnya dengan sadis. Satu persatu gigi runcing gergaji itu mulai menembus kaca.
"Tidak, jangan!" Alex terus mengemudikan mobilnya. Namun mobilnya itu mendadak mogok lagi dan tidak bisa bergerak.
Pria pembawa palu mulai menghancurkan kaca-kaca mobil bagian samping hingga mengenai wajah Alex. Alex bereaksi, ia menendang pintu mobilnya dengan kuat hingga membuat pria pembawa palu itu terpental.
Pria pembawa tang mulai menjalankan aksinya. Dia berusaha masuk ke dalam mobil. Alex meludahinya, dan itu membuatnya semakin marah. Pria itu memukul kepala Alex dengan tangnya membuat Alex tersungkur di antara kursi-kursi mobil.
"Tolong jangan lakukan ini padaku!" mohon Alex.
"Kau telah memanggil serigala, dan kini serigalanya sudah datang!" pria pembawa tang itu hendak memaksa masuk ke dalam mobil namun Alex buru bangun. Ia menjepit tangan pembawa tang itu di dalam, sedangkan tubuhnya di luar. Lantas, Alex berusaha melajukan mobilnya lagi.
Mobil berhasil melaju. Alex mengemudi cepat sekali membuat pria pembawa gergaji di atas mobilnya geram. Tinggal beberapa lagi kaca di depannya itu sudah bisa ditembus.
Alex semakin panik. Sedangkan pria pembawa tang terus berusaha masuk. Akhirnya pria itu berhasil masuk dan hendak melukai Alex. Alex dengan cepat menendangnya hingga pria itu terjatuh. Kepalanya meyentuh permukaan tanah, sedangkan tubuhnya berada di dalam mobil. Alex terus mengemudikan mobilnya dengan cepat membuat kepala pria itu bergesekan dengan aspal. Darah mulai memuncrat hebat dan lama kelamaan kepala pria itu mulai hancur menipis. Seluruh wajahnya rusak parah.
Alex tak memedulikan hal itu, sekarang tersisa satu lagi. Yaitu pria pembawa gergaji. Namun sialnya gergaji itu berhasil menembus kaca-kaca dan kini kaca depan mobil sudah bolong tak tersisa.
Alex menjerit panil saat pria pembawa gergaji itu mulai mengarahkan gergajinya pada lehernya. Alex mengencangkan mobilnya. Ia melihat sebuah pohon dan berencana untuk menabrak pohon tersebut agar pria bertopeng serigala yang saat ini berdiri di atas mobil bagian depan ikut tertabrak.
Brak!!!
Mobil itu berhasil menabrak pohon sebelum gergaji itu melukai leher Alex. Pria bertopeng serigala itu terpental mengenai pohon, dan kepalanya mengenai sebuah ranting runcing hingga membuat kepalanya itu bolong. Tubuh pria itu menggantung di pohon.
Alex membuang napas panjang. "Aku terbebas. Aku selamat. Ya! Aku selamat!" Alex tampak senang. Namun …
Brak!!! Tubuh pria itu jatuh di atas mobil Alex dan darahnya memuncrat hebat. Alex panik dan tanpa sengaja menabrakkan mobilnya untuk kedua kalinya pada pohon besar itu.
Brak!!! Brak!!!
Alex tak sadarkan diri.
***
Seorang pria tampak mabuk di jalanan. Ia melihat sebuah buku bersampul hitam dan mengambilnya. Buku itu adalah buku dongeng kematian yang Alex jatuhkan di jalanan tadi.
***
TO BE CONTINUED