Dongengnya Ada Di Tanganku!

1378 Kata
Brak!!! Suara dari bawah mengagetkan Annie dan teman-temannya. Mereka semua bergegas keluar kamar dan menuruni tangga. Tiba di tengah tangga, mereka kaget mendapati pembantu Maya yang berusaha membereskan pecahan pot. "Bibi? Kenapa, Bi?" tanya Maya pada pembantunya itu. Seorang wanita itu menengok ke atas. "Ma-maaf, Non. Tadi nggak sengaja pot tanaman roboh dan pecah," ujar Bibi merasa bersalah. "Ya udah, Bi, nggak apa-apa," kata Maya. "Oh iya, Bi. Bibi tadi masuk ke kamarku nggak? Bibi lihat buku berwarna hitam nggak?" tanya Maya kemudian. "Tadi Bibi cuma lihat kamar Non terbuka dan berantakan. Terus Bibi panik, Non aku panggil juga nggak merespon. Terus aku nyuruh penjaga rumah untuk telepon polisi," jelas wanita itu. "Aku juga sudah kasih tahu nyonya kalau Non hilang tadi," imbuhnya. "Aduh, Bibi. Ngapain pake bilang segala sih." "Maaf, Non. Tapi aku sudah kabarin nyonya lagi kok, kalau Non Maya sudah pulang kembali." "Ya udah, Bi. Itu tolong dibersihkan ya. Dan tolong siapkan minuman untuk teman-teman ku dan juga cemilan," pinta Maya. "Iya, Non." Setelah mengobrol dengan pembantu rumahnya, Maya mengajak kembali teman-teman ke atas lagi guna mencari buku dongeng yang menghilang secara tiba-tiba. "Guys, kita coba cari lagi buku itu!" ajak Maya. "Honey, aku keluar sebentar ya. Sepertinya ponselku ketinggalan di mobil. Aku ambil sebentar ya!" kata Alex langsung beranjak begitu saja. "Okay!" ucap Maya. "Ayo guys, mari kita ke atas!" ajaknya pada teman-temannya. Sesampainya di kamar, mereka mulai mencari-cari lagi buku dongeng itu namun tetap nggak ketemu. "Gue yakin, pasti ada di sekitar sini. Nggak mungkin kan bukunya bisa berpindah tempat?" kata Maya sembari mencari di antara buku-buku besar kuliahnya. "Tapi, bisa buku itu menghilang dengan sendirinya. Kemarin, aku juga sudah menaruhnya di dalam rak dan menguncinya, tapi tiba-tiba saat aku terbangun buku itu ada di sampingku," ujar Annie yang saat itu ikut sibuk mencari. "Apa ada yang mengendalikan buku itu? Semacam roh gitu?" heran Nichole. "Gue nggak tahu apa-apa soal buku itu jadi gue nggak mau komen." Suara Rio terdengar santai. "Mungkin, buku itu memang sudah tahu rencana kita yang akan membuang buku itu!" sahut Jay. "Sudah ketemu bukunya?" tanya Alex yang saat itu berada di ambang pintu. "Belum," jawab Maya. "Ya udahlah, Guys. Ngapain kita sibuk cari buku itu. Kan emang bagus kan kalau buku itu hilang. Jadi kalian nggak akan diteror lagi," ucap Alex sembari masuk ke dalam kamar. "Exactly! Mending, kita bahas soal party yang kita rencanakan kemarin," usul Rio. "Gue juga mau lupain soal teror dan buku sialan itu." Jay membuang napas. "Okay!" Maya menghela napas. "Kayaknya Bibi udah siapin minuman, deh. Kita turun yuk!" ajaknya pada teman-temannya. Mereka pun beranjak. *** Malam itu Alex berpamitan dengan Maya. Teman-temannya yang lainnya sudah pulang dari rumah Maya sejak siang tadi, namun Alex masih memilih untuk menemani pacarnya itu dan baru pulang sekarang. "Hati-hati ya, Baby!" seru Maya pada Alex. "Siap! Kamu juga, take care ya! Kalau ada apa-apa langsung call aku, Ok?" Alex mengecup kening Maya dan tersenyum padanya. "Aku pergi dulu, ya!" "Iya!" Alex pun meninggalkan teras rumah Maya dan menuju mobilnya. Setelah sampai, pria itu segera masuk dan mengemudikannya meninggalkan pekarangan rumah. *** Alexander Mathew Cristian. Itu adalah nama lengkap Alex. Cristian adalah nama ayahnya, yang saat ini harus mendekam di jeruji besi karena kasus korupsi. Ibunya Maria, harus mengurus putra semata wayangnya sendirian sejak Alex berumur lima belas tahun hingga saat ini. Karena hal itu, Alex sangat membenci ayahnya. Bahkan ia tidak pernah mau jika diajak ibunya menjenguk ayahnya di penjara. Saat ini, Alex tengah asyik mengemudi mobilnya, menyusuri jalanan yang sepi di malam hari. Setelah balik dari rumah Maya tadi, ia terjebak macet total di jalan utama sehingga sekarang ia memilih untuk melewati jalan pintas. Namun, sayangnya jalan pintas itu sangat sepi dan minim kendaraan yang lewat. Bahkan, kanan kiri jalan hanya ada tetumbuhan dan pohon-pohon cukup besar. Tak ada rumah penduduk maupun gedung-gedung. Alex memanfaatkan lampu mobilnya untuk melihat keadaan di depannya. Hingga tiba-tiba, mobilnya itu mendadak berhenti membuat Alex terlonjak ke depan. Brak!!! "Sial!" Sebuah buku tampak terjatuh dari kursi mobil. Alex melirik buku itu, dan membaca judulnya dari dalam hati. "DONGENG KEMATIAN" Alex baru ingat kalau tadi dia yang sengaja membawa buku itu dari kamar Maya. Ia mengingat saat Maya dan yang lainnya sibuk mencari buku dongeng itu di kamar, Alex sudah lebih dahulu melihatnya. Namun pria itu tidak langsung memberitahukannya pada teman-temannya dan memilih menyembunyikannya di dalam jaket. Kalau Alex mengatakan pada teman-temannya saat itu, mungkin buku itu sudah akan dibuang. Dan Alex tidak ingin itu terjadi. Dia melakukan sandiwara ikut mencari buku itu, dan pada saat ia berpamitan untuk mengambil ponselnya di mobil, Alex menaruh buku dongeng itu di dalam mobil. Alex sengaja melakukan hal itu karena dia penasaran dengan cerita teman-temannya tentang buku itu. Apakah benar kalau buku itu memang buku terkutuk, atau tidak? Alex mengambil buku itu dan memperhatikannya. Lantas, ia menaruhnya di samping stir mobil. Kemudian ia bermaksud mengemudikan mobilnya kembali. Namun, nasib malang menimpanya. Mobilnya itu tidak bisa berjalan kembali. "Ada apa sih dengan mobil ini?" Alex membuka pintu mobil dan turun keluar. Angin malam langsung menyapanya. Walau tubuhnya itu terbalut jaket kulit tebal, namun angin malam tetap mampu menembus hingga ke kulit Alex. Rasa dingin bak dalam kulkas membuat kulit Alex bereaksi dan membangunkan bulu romanya. Dilihatnya suasana saat itu sedang sepi tak ada satupun kendaraan yang lewat. Kebetulan langit juga gelap, dan sepertinya ada gumpalan awan hitam yang berdiam di atas sana. "Sialan. Mobil pake mogok segala, mana jalanan udah sepi banget." Alex melihat arloji yang mengikat di tangannya. "Haduh, sudah pukul sepuluh malam." Alex mencoba melihat kerusakan pada mobilnya itu, namun sepertinya ia tak tahu apanya yang rusak. Padahal, kalau dilihat semuanya baik-baik saja, dan baru seminggu yang lalu ia membawa mobilnya itu di bengkel. "Kenapa pakai mogok di sini sih lo!" kesal Alex sembari menepuk kencang bagian depan mobilnya. Pria itu menengok ke kanan dan ke kiri, mencari bengkel terdekat namun sepertinya nihil. Hingga, matanya itu menangkap sebuah plang di pinggir jalan. Di sampingnya juga ada kursi panjang. Alex berjalan ke sana. Beruntungnya, di plang itu tertulis nama bengkel dan juga ada nomor teleponnya. Alex langsung merogoh ponselnya dari sakunya dan menelpon pihak bengkel itu. *** Sepuluh menit berlalu, Alex mondar-mandir di depan mobilnya sembari mengusir hawa dingin yang mencoba mendekapnya. Hingga sebuah bayangan muncul dari jarak lumayan jauh. Alex berhenti dan memperhatikan bayangan yang berjumlah tiga itu. Bayangan itu menyerupai bayangan manusia dan terus berjalan ke depan. Setelah dekat, baru bayangan itu mulai kelihatan kalau mereka memang manusia. "Itu pasti pihak bengkel yang aku telepon tadi," tebak Alex saat melihat salah satu dari mereka membawa sebuah koper. "Bapak yang mau memperbaiki mobil saya ya?" tanya Alex pada orang-orang itu setelah mereka tiba di sana. Mereka bertiga seorang pria dan bertubuh besar. Namun, anehnya pandangan mereka seperti kosong dan terus menghadap ke depan. "Iya." Salah satu pria itu menjawab datar. "Kalau begitu cepat, Pak. Soalnya saya harus buru-buru pulang. Kasihan ibu saya di rumah sendirian," kata Alex pada mereka. "Apanya yang rusak?" tanya salah satu dari mereka. Lagi-lagi suaranya datar. "Aku juga nggak tahu, Pak. Tiba-tiba mobil ku mogok di sini," jawab Alex. "Di sini memang sudah langganannya. Dia memang suka mengganggu pengendara." salah satu ketiga pria itu berbicara dengan pelan. "Apa? Bapak barusan ngomong apa?" tanya Alex yang tidak mendengar jelas ucapan pekerja bengkel itu. Ketiga pria itu tidak menjawab dan mulai mengerjakan tugasnya. Mereka menghampiri mobil Alex, sedangkan yang satunya membuka kopernya yang berisi perkakas-perkakas. Alex hanya bisa memandang heran dan mencoba untuk bersikap bodo amat, yang terpenting mereka bisa memperbaiki mobilnya. Alex berjalan mendekat ke mobilnya dan membuka pintu depannya. Ia mengambil buku dongengnya berniat untuk dibaca sembari menunggu mereka memperbaiki mobil. Ketika Alex membawa keluar buku itu, salah satu dari mereka memandang buku dongeng itu dengan tatapan tajam. "Kenapa, Pak?" tanya Alex heran. "Dongengnya sangat menarik," jawab pria itu datar. "Maksudnya, judulnya ya, Pak?" tanya Alex. "Iya sih, Pak. Dongeng kematian hehe," imbuh Alex terkekeh. Namun ia terdiam seketika saat ketiga orang itu menatap tajam ke arahnya. Tak mau memperpanjang, Alex memilih beranjak dari sana berjalan menuju kursi panjang di dekat plang tadi. Ia berniat membaca buku dongeng itu di sana. *** TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN