Pada Suatu hari

808 Kata
Annie tampak murung di dalam kelas. Gadis itu asyik melamun sampai mengabaikan dosen yang sedang menjelaskan di depan kelas. Pikirannya masih sama, tentang mimpi buruk semalam. "Annie! Apakah kamu sakit? Kalau kamu sakit kamu bisa meninggalkan kelas!" Suara dosen membuat Annie menyadarkan dirinya. "Eh, sorry, Sir. I am Okay!" jawab Annie tersenyum sumbang. "Kalau begitu perhatikan di depan!" "Ok, Sir!" Annie buru-buru menata dirinya untuk fokus ke depan. Sudah banyak penjelasan di layar proyektor yang belum ia catat. Gadis itu menepuk jidat kemudian lekas mengambil buku catatan di dalam tasnya. Namun, Annie tiba-tiba berhenti saat matanya terfokus pada buku dongengnya. Ia sengaja membawa buku tersebut karena ia bimbang apakah harus mengatakan semuanya pada teman-temannya atau menyimpannya sendiri. Annie terus memperhatikan buku dongeng tersebut. Ia merasa, seolah buku dongeng itu berbisik padanya dan meminta untuk diambil. Perlahan, gadis itu mengambil buku dongeng itu dari tasnya. Ia memperhatikan dengan seksama. Kemudian, ia mulai membukanya. Annie terkejut bukan main setelah melihat dalam buku itu. Buku dongeng yang awalnya kosong kini muncul tulisannya dengan sendirinya. Ia membaca tulisan itu dalam hatinya. "Dongeng yang sebenarnya sudah dimulai!" "Apa maksudnya ini? Bagaimana buku ini bisa muncul tulisan dengan sendirinya?" gumam Annie bertanya-tanya. Tulisan baru muncul kembali. Annie membacanya pelan. "Pada suatu hari … di sebuah universitas Oxstandvard, terdapat sebuah kasus pembunuhan berantai…" Annie molotot kaget, saat menyadari kalau nama universitasnya terpampang di buku dongeng tersebut. Gadis itu buru-buru membereskan tasnya dan berdiri dari tempat duduknya. Semua teman sekelasnya menoleh ke arahnya dengan heran. Tak peduli, gadis itu malah berjalan menuju pintu keluar begitu saja. "Annie, kamu ke mana?" Dosen bertanya padanya, namun gadis berambut firank itu tak menghiraukannya. Annie berjalan cepat sembari terus memperhatikan buku dongeng yang dibawanya. Tangan satunya memegang ponsel dan ia gunakan untuk menelpon temannya "Jay!" Annie berkata spontan begitu Jay menerima panggilannya. "Jay, cepat ke sini! Ini penting! Cepat datang ke ruang serba guna yang dekat fakultas bahasa!" pinta Annie dengan panik. "Panggil juga teman-teman yang lainnya!" "Iya … iya tunggu!" ujar Jay dari seberang telepon. Setelah telepon dimatikan, terfokus pada buku dongengnya lagi. Gadis itu terkejut saat buku itu memunculkan tulisan lagi. "Akan ada salah satu mahasiswa di universitas Oxstandvard yang mati pada hari ini. Kematiannya sangat keji, sehingga akan menjadi kasus pembunuhan berantai terkeji sepanjang sejarah di universitas Oxstandvard." "Ann!" Jay memanggil Annie yang saat itu sedang panik. Gadis itu menoleh, memandang Jay dan Alex yang berjalan di menghampirinya. Annie buru-buru memapak mereka berdua. "Jay, Alex, yang lain mana?" tanyanya dengan panik. "Ann, ada apa? Kenapa lo terlihat panik?" ujar Jay balik tanya. Jidatnya itu berkerut tanda terheran. Alex melirik tangan Annie yang memegang sebuah buku. Seketika wajah pria itu menjadi menenang. "Ann, buku dongeng itu-?" "-iya!" Annie memotong perkataannya cepat. "Buku dongeng ini datang kembali, Lex, Jay!" Suara Annie terdengar gemetar. Jay juga terkejut melihat buku dongeng tersebut yang Annie pegangi. "Bagaimana bisa?" tanyanya heran. "Gue semalem mimpi buruk. Setelah bangun, ada yang menyalakan bel rumah. Ketika aku membukanya, tidak ada orang. Tapi, aku menemukan sebuah box. Waktu aku buka, aku terkejut mendapati buku dongeng ini di dalamnya. Tapi…" Annie memotong perkataannya begitu saja. Ia mengerjap. "Tapi apa, Ann?" tanya Alex dan Jay serentak. "Aku bukunya isinya kosong. Tapi, baru tadi buku dongeng ini muncul tulisannya dengan sendirinya!" ujar Annie mantap. "Lihat!" Annie menunjukkan buku dongeng itu pada mereka berdua. Jay dan Alex terkejut bukan main. Apalagi setelah membaca tulisan di dalamnya. "Oxstandvard university? Itu kan universitas kita, Ann," kata Jay. "Iya, di sini!" Annie membenarkan. "Akan ada pembunuhan berantai di sini? Sebentar, ini sulit untuk dimengerti." Alex tampak bingung. "Aku takut…" Annie tak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat buku dongeng itu mengeluarkan tulisan dari darah segar lagi. Mereka bertiga fokus pada tulisan itu dan membacanya. "Pelaku pembunuhan itu adalah mahasiswa universitas Oxstandvard!" "Itu artinya … korban dan juga pelaku adalah mahasiswa universitas Oxstandvard sendiri?" Alex berkata pada kedua temannya. "Tapi siapa?" tanya Annie heran. Buku itu kembali memunculkan tulisan. "Korbannya masih misteri. Tapi nama pelakunya sudah diidentifikasi. Pelakunya memiliki hubungan erat dengan dongeng ini." Setelah membacanya, mereka bertiga tampak berpikir keras. "Pelakunya memiliki hubungan erat dengan dongeng ini? Siapa?" Jay bertanya-tanya. "Bentar. Selama ini yang memiliki hubungan dengan buku ini hanya di antara kami. Tidak ada mahasiswa sini yang selain kita-kita yang tahu soal buku ini. Itu artinya…" "-Itu artinya pelakunya adalah kita?" Annie memotong perkataan Alex. Jay ikut menyahut. "Siapapun di antara kita akan menjadi pelakunya. Kita bertiga ada di sini, jadi kita tidak mungkin menjadi pelaku. Itu artinya …" "Maya! Nichole! Dan Rio bisa saja menjadi pelaku!" kata Alex panik. "Veronica juga!" tambah Annie mantap. "Kita harus segera mencari mereka! Kalau kita bersama-sama, kita tidak akan melakukan hal itu. Kita bisa mengawasi satu sama lain dan mencari solusi," saran Jay. "Sekarang yang terpenting adalah mencari keberadaan mereka!" ucap Annie mantap, disambut anggukan Jay dan Alex. *** TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN