Akhir pekan ini adalah masa yang paling menyenangkan bagi Annie dan teman-temannya. Rasanya, tidak ada hari spesial seperti hari kebebasan saat ini. Setelah beberapa hari mereka dihadapkan dengan teror serta serangan tak terduga, kini mereka akan membayar tuntas masa-masa mengerikan itu.
Annie dan teman-temannya kini tengah asyik berlibur. Mereka mengunjungi tempat-tempat wisata sebagai pelampiasan. Saat ini mereka tengah menikmati sebuah wahana kolam renang yang besar.
"Guys! Lihat gue seluncur!" teriakan Rio dari atas papan seluncur membuat teman-temannya bersorak ria. Tawa mereka pecah saat tubuh Rio malah mendarat di kerumunan ibu-ibu berbadan besar. Padahal, niat hati ingin berada di tengah-tengah cewek-cewek seksi.
Alex dan Maya tak mau kalah. Mereka meluncur bersamaan dengan bergandengan tangan.
"Huuuuu….! soraknya girang.
"Ikutan mereka yuk!" Jay menghampiri Annie yang sedang berendam di pinggir kolam.
"Males!" jawab Annie dingin dan tak acuh.
"Aku gendong!" Tanpa aba-aba, Jay langsung membopong tubuh Annie menuju papan seluncur.
Veronica tampak tertawa melihat kakaknya yang digendong Jay. Gadis itu masih belum menceburkan diri ke kolam.
"Kamu nggak nyebur?" Nichole mengagetkannya dari belakang.
"Eh, nggak. Aku nggak bisa berenang," ujar Veronica malu-malu.
"Udah nggak apa-apa. Nanti aku ajarin!" paksa Nichole.
"Nggak, ah. Takut tenggelam." Veronica masih menolak.
"Ayolah!"
"Hai kutu monyet! Jangan macem-macem lo ya!" Suara Rio terdengar dari ujung sana. Pria memperingatkan Nichole untuk tidak menggoda Veronica.
"Siapa yang macam-macam, kodok sawah!" teriak Nichole balas mengejek.
"Terus ngapain lo deketin adiknya Annie? Dasar kucing anggora!" Rio keluar dari kolam renang dan menghampiri mereka.
"Kami hanya mengobrol biasa!" Nichole berteriak seraya tertawa. "Hati-hati kalau jalan. Lo udah kayak singa laut Haha!"
Veronica tertawa. "Kalian tuh lucu ya," serunya pada Nichole.
"Kami memang sering bercanda. Itu malah semakin mempererat pertemanan kami, hehe." Nichole terkekeh manis.
"Sialan lu!" Rio sampai pada mereka dan mencoba mengatur napasnya. "Gue tadi abis seluncur jatuh nggak sengaja di area para kundanil. Serem banget, tangan gue ditarik-tarik," adu Rio pada mereka berdua.
"Kundanil?" Veronica keheranan.
"Memangnya ada kundanil di sini?" tanya Nichole.
"Tuh!" Rio menunjuk segerombolan ibu-ibu berbadan besar yang hanya mengenakan bikini. Wajah mereka lucu-lucu.
"Hahaha. Ada-ada saja lo!"
Veronica dan Nichole tertawa geli.
Rio memandangi Veronica dengan tersenyum. "Veronica, tetaplah tertawa karena kau semakin terlihat cantik. Kau bagaikan bidadari, dan aku-"
"-iblisnya!" sahut Nichole yang langsung disambut gelak tawa Veronica.
"Lo memang b******k, Nic. Gue baru mau muji cewek lo malah jatuhin harga diri gue."
"Upz. Sorry … sorry …. Gue hanya bercanda kok." Nichole memeluk Rio. "Tapi kayaknya lo harus jatuh beneran!" Nichole membawa masuk Rio ke dalam kolam renang. Rio yang kaget, ia ikut menarik tangan Veronica. Mereka mencebur bersamaan.
"Huuuuu!!!" sorak Nichole girang. Namun tiba-tiba berhenti saat Rio dan Veronica mencipratkan air kepadanya.
Setelah asyik bermain di kolam renang, mereka mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya. Mereka pergi ke kebun binatang. Memberi makan hewan dan berfoto pada mereka.
"Nic, dicariin cewek lo tuh!" kata Rio pada Nichole.
"Mana?"
"Tuh!" Rio menunjuk seekor monyet wanita yang didandani layaknya manusia. Monyet itu memolorkan bibirnya yang berlapis lipstick itu ke arah Nichole.
"Hiii!" Nichole bergedik ngeri.
Semua teman-temannya tertawa ngakak.
"Kalau itu calon istrimu!" Alex menunjukkan seekor domba perempuan yang rias pada Rio. Dan itu berhasil membuat teman-temannya terbahak.
"Damn! Gila lo, Lex. Calon gue tuh ada di sini. Dia cantik dan sekarang lagi jalan di samping Annie," kata Rio sembari melirik Veronica yang bergandengan dengan Annie.
"Lo kaga bakalan cocok sama adek gue!" hardik Annie. "Mending lo cari aja tuh buaya-buaya. Lo kan salah satu komplotannya. Buaya darat. Hahaha!"
"Kasihan guys, Rio itu teman kita yang paling tampan, iya kan Rio?" Maya tampak membela Rio.
"Cuma elo temen gue yang paling baik, May!" Rio cengengesan.
"Iya dong. Makanya, gue bilang kalau lo paling tampan disandingkan dengan p****t sapi. Hahaha!" Maya tertawa pecah diiringi yang lainnya. Sedangkan Rio mengerucutkan bibirnya.
Jay membuka kaca matanya. "Sabar, Bro! Gue ada di pihak lo, kok!" katanya pada Rio.
"Jangan munafik deh!" Rio memutar matanya bosan.
"Eh, serius. Tapi … kalau ada traktirannya. Haha!"
"Jangan gitu lah. Kak Rio baik tau orangnya," bela Veronica.
Rio tampak gembira mendengar perkataan Veronica. "Veronica, tak peduli seluruh dunia mengejekku. Asal kau memujiku, itu sudah lebih dari cukup!" seru yang sok puitis.
"Huuu…. gombal!" sorak teman-temannya pada Rio.
Setelah cukup lama bersenang-senang mengelilingi kebun binatang, mereka semua akhirnya pulang. Malamnya, mereka pergi ke pesta. Kebetulan malam itu malam minggu, jadi banyak anak muda yang bertebaran memeriahkan pesta. Mereka semua menyanyi dan berdansa bersama.
"Cinderella, bolehkah aku berdansa denganmu?" Alex menundukkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya pada Maya.
Dengan senang hati Maya menerima tangan pacarnya itu. "Tentu saja pangeran!"
Alex dan Maya tampak berdansa romantis. Sedangkan Rio masih mencoba mendekati Veronica. Nichole asyik meminum alkohol, Jay dan Annie bernyanyi bersama.
Pagi harinya di hari Minggu mereka merencanakan untuk pergi ke pantai. Berselancar bersama dan bersenang-senang membuat istana dari pasir. Birunya laut diterjang ombak hingga ke bibir pantai. Angin sepoi-sepoi membuat nyiur melambai-lambai. Semua pengunjung pantai rata-rata bertelanjang d**a bagi cowok dan yang cewek memakai bikini.
Di sana terlihat Rio yang sedang dikubur oleh Nichole dan Veronica dengan pasir putih. Mereka tampak bercanda dan tertawa bersama.
Sementara tak jauh dari mereka ada Jay dan juga Alex yang tengah mengistirahatkan tubuhnya di pasir sembari menyaksikan Annie yang tengah bermain istana pasir bersama Maya.
"Bro, sampai kapan lo akan menyembunyikan perasaan lo itu?" tanya Alex pada Jay. "Kalau lo memang suka Annie, sudah ungkapkan saja! Sebelum terlambat!" saran Alex.
"Bener juga lo!" Jay tampak mengangguk-angguk.
"Gue dukung lo seratus persen!" kata Alex lagi, lantas pria itu berdiri dan berjalan menuju penjual es degan di bawah pohon-pohon kelapa.
Jay memikirkan cara bagaimana cara mengungkapkan semua isi hatinya pada Annie. Satu ide terbesit dalam benaknya. Jay mulai mengambil sebuah keong yang tak bernyawa, kemudian digunakan untuk menulis di pasir pantai. Ia menulis katak 'I love you'
Kemudian, pria itu berjalan menghampiri Annie. "Ann, gue mau nunjukin sesuatu sama lo!" katanya agak canggung.
"Apaan? Gue lagi buat istana pasir nih jangan gangu!" respon Annie tanpa menatap wajah Jay.
"Sebentar!" Jay langsung menarik tangan gadis itu dan membawanya.
"Apaan sih, Jay!" Annie masih bingung dengan sikap temannya itu.
"Udah ikut aja!"
Sesampainya di tempat yang tadi, Jay melepaskan pegangan tangannya. Di sana sudah ada Alex yang tengah menggambar hati di dekat tembok tulisan Jay tadi.
"Alex? Romantis sekali? Pasti untuk Maya ya?" Annie berdecak kagum saat melihat tulisan 'I love you' lengkap dengan gambar hati.
Alex berdiri dan menatap Annie. "Bukan aku yang nulis ini, tapi-"
"-May, sini! Alex punya kejutan untukmu!" Annie langsung memanggil Maya membuat Alex tak jadi melanjutkan perkataannya.
Jay menepuk jidatnya dan menatap kesal ke arah Alex. Kemudian pria itu menghampirinya. "Lo merusak rencana gue," bisik Jay pada Alex.
"Gue tadi hanya mau menambahi gambar hati saja. Lo sih, nulis ungkapan rasa cinta tapi kurang elemen terpenting," kata Alex balik menyalahkan Jay.
"Terus sekarang gimana dong!" Jay tampak geregetan.
Mendengar Annie memanggilnya, Maya langsung buru-buru menghampiri.
"Lihat deh, May. Alex nulis ini buat elo!" seru Annie.
"Oh benarkah? Thank u, My baby!" Maya langsung memeluk Alex dan mencium pipinya.
Annie tersenyum senang, sedangkan Jay menepuk jidat kesal.
***
Mereka menghabiskan hari libur mereka dengan bersenang-senang, sampai melupakan soal buku dongeng kemarin. Buatnya, kemarin hanya mimpi buruk mereka belaka. Dan sekarang mereka sudah bangun dan menjalani kehidupannya seperti biasanya.
***
TO BE CONTINUED