Mereka menghabiskan hari libur dengan bersenang-senang, hingga melupakan soal buku dongeng kemarin. Buat mereka, hari kemarin hanyalah mimpi buruk mereka belaka. Dan sekarang, mereka sudah bangun dari mimpi buruk itu dan menjalani kehidupannya seperti biasanya.
Hari senin mereka kuliah seperti biasa. Semua menjalani kehidupan dengan normal. Annie tampak mempresentasikan tugasnya di depan dosen dan mahasiswa-mahasiswa sekelasnya. Gadis itu sangat antusias dan terlihat bugar. Teman sekelasnya memberikan tepuk tangan karena telah menyajikan prestasi dengan sangat baik. Bahkan, ia telah diberi nilai 'A' oleh dosen.
"Thank you for your appreciation!" seru Annie seraya menundukkan kepala.
Sementara Jay juga lebih aktif belajarnya. Ia mengerjakan tugas-tugas kuliah dan mengejar materi yang sempat tertinggal.
***
Di hari Selasa, merupakan hari yang cerah bagi Nichole. Sebagai mahasiswa jurusan fisika ia disibukkan dengan praktikum-praktikum. Seharian penuh ia berada di dalam lab sehingga tak sempat untuk berkumpul dengan teman-temannya. Meskipun begitu, sehabis kuliah mereka tetap berkumpul di cafe sekedar menghilangkan penat setelah belajar seharian di kampus.
***
Hari Rabu adalah hari yang paling berwarna bagi Rio. Hari ini pria yang terkenal playboy itu berencana untuk mengungkapkan rasa cintanya pada Veronica. Saat itu ia tengah menunggu di depan kelas Veronica dengan sebuket bunga lavender yang dihias rapi. Hidungnya terus mengendus dan bibirnya menciumi lavender itu. Ia tahu betul, kalau Veronica sangat suka sekali dengan bunga lavender.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dosen mengakhiri perkuliahannya. Semua anak-anak tampak beruntun keluar dari pintu. Rio selalu memperhatikan siapa saja yang keluar. Hingga akhirnya, gadis pujaannya itu keluar dari pintu.
"Ini untukmu!" Rio langsung menodongkan sebuket lavender itu pada Veronica.
Veronica memandangi Rio sebelum menerimanya. "Lavender? Untukku?"
Rio mengangguk berkali-kali seraya menarik bibirnya lebar.
"Bagus sekali!" Veronica tersenyum memandangi sebuket lavender itu dan menerima lavender itu dengan senang hati. "Thank you!" serunya pada Rio.
"Ikut aku!" Rio menarik tangan Veronica dan membawanya bersamanya.
"Kita mau ke mana?" tanya Veronica.
"Sudah, ikut aja!"
Sesampainya di taman kampus, tepat di dekat air mancur dan taman bunga, Rio menggandeng tangan Veronica. Pria itu merendahkan tubuhnya, menekuk lututnya dan mendongakkan kepalanya. Tangannya itu masih memegang tangan lembut Veronica.
"Veronica, I love you! Will u be my girlfriend?" Mata Rio tampak berbinar-binar setelah mengatakan perasaannya pada Veronica.
Veronica terkejut. Ia tak menyangka kalau Rio akan mengatakan hal itu. Namun, saat ini wajah gadis itu sangat memerah. Ia tersipu malu dibuatnya.
"Veronica? Please answer me!" Rio mencium tangan Veronica dengan lembut.
Veronica tersenyum, namun ia melepaskan pegangan tangannya dari Rio. Lantas, gadis itu membalikkan tubuhnya. Senyumnya masih lebar. Wajahnya kini benar-benar malu-malu kucing.
"Veronica, mau kah kau menjadi kekasihku?" tanya Rio sekali lagi.
Bukannya menjawab gadis itu malah menoleh ke arah Rio dan tersenyum. Lantas, ia berlari meninggalkan Rio.
"Veronica! I love you!" teriak Rio dengan senang.
***
Di hari Kamis, Alex tengah asyik berpacaran dengan Maya. Mereka berdua tengah duduk berdua di taman kampus yang penuh dengan bunga-bunga. Maya duduk seraya memeluk tubuh Alex. Mereka tampak begitu bahagia.
"Setelah lulus kuliah aku berjanji akan bertamu ke keluarga Christopher dan meminangmu," seru Alex pada Maya.
"Oh ya? Secepat itu?" Maya tampak gembira.
"Aku takut kalau kamu menjadi milik orang lain. Jadi, mending langsung aku lamar aja biar kamu nggak bisa lepas dariku, hahaha."
"Aku juga tidak akan membiarkanmu menjadi milik cewek manapun, Sayang. Jadi, di hari kau melamarku… aku akan senang hati menerimanya!" seru Maya.
Alex memeluk Maya erat dan menciumnya.
"Uhuk! Uhuk!" Suara batuk mengagetkan mereka berdua.
Alex dan Maya menoleh, tersenyum saat melihat Jay dan Annie datang menghampirinya.
"Pacaran mulu? Nggak masuk kelas?" tanya Jay seraya berjalan ke arah mereka.
"Udah dong. Kita udah nggak ada kelas lagi, jadi bebas berduaan. Hahaha," balas Alex yang disambut goresan senyum Maya.
"Kalian, sudah selesai kuliahnya?" tanya Maya pada mereka.
"Aku sih sudah. Kalau orang ini, nggak tahu. Paling juga bolos," sindir Annie pada Jay.
"Ishh… Annie, gue tuh sekarang nggak pernah bolos," bela Jay. "Ya memang gue belum selesai kuliahnya, cuman kata dosen diganti kelas sore nanti," lanjutnya.
"Hi guys!" Nichole memanggil mereka dan berjalan menghampirinya.
"Nic, Rio mana? Biasanya kalian berdua mulu!" tanya Maya.
"Nggak tahu. Mungkin masih di dalam kelas kali. Gue sebenernya juga masih ada kelas praktek, tapi lihat kalian lagi ngumpul ya nimbrung aja," ujar Rio. "Enak ya, hari-hari kita sekarang. Sudah seminggu setelah kita membakar dongeng itu, kita menjadi bebas dan buku sialan itu sudah tidak menganggu kita lagi."
"Lo bener, syukurlah kita sudah melenyapkannya," sahut Jay.
"Kita memang harus melenyapkannya!" kata Alex mantap.
Tanpa sengaja, Sammy yang kebetulan lewat di sana mendengar perkataan Alex.
"Dia sudah sangat menganggu kita, dan kita memang harus melenyapkannya!" ujar Alex lagi membuat Sammy yang diam-diam menguping terlihat kaget.
"Melenyapkannya? Siapa?" gumam Sammy dalam hati.
"Lo betul, Bro!" sahut Nichole "Dengan begitu kita bisa bebas tanpa harus merasa sesak!"
Maya mengangguk dan berkata, "Dan kita bisa menjalani kehidupan kita tanpanya!"
"Tanpa penganggu itu!" Annie menekankan.
Sammy mengeryitkan dahi mendengar pembicaraan mereka. "Penganggu? Siapa? Melenyapkannya? Siapa? Apa yang sebenarnya mereka bahas dan siapa yang dilenyapkan?" gumamnya dalam hati.
"Pasti mereka menyembunyikan rahasia besar!"
Sammy celingukan mencari-cari saudara tirinya. "Biasanya mereka selalu bersama, tapi kenapa sekarang Kak Rio tidak ada? Mereka benar-benar aneh. Sejak aku berkenalan, mereka juga seperti menyembunyikan sesuatu. Dan sebuah buku yang tempo hari mereka bawa, apa itu juga ada hubungannya? Aku harus menyeledikinya!"
Sammy mengangguk-angguk dan enyah dari sana sebelum mereka memergokinya.
***
TO BE CONTINUED