Kamis malam Jum'at, 11.00 p.m.
Malam ini adalah malam Jum'at, tepat setelah seminggu yang lalu mereka membakar sebuah buku dongeng di pinggiran jalan jauh dari kota. Seperti pada malam sebelumnya, udara malam ini sangat dingin menusuk relung. Semilir angin berkibar di luar hingga menerobos masuk ke dalam jendela kamar Rio.
Krieekkk…
Suara decitan jendela yang diterobos angin berhasil membuat tidur Rio berantakan. Namun, pria itu tak mempedulikan jendelanya yang terbuka, ia memilih untuk membungkus tubuhnya yang kedinginan itu dengan selimut biru. Lantas, mencoba untuk terlelap kembali.
"Malin Kundang.…"
Rio melotot saat telinganya mendengar suara rintihan wanita tua yang memanggil namanya. Pria itu masih belum bereaksi, ia mencoba mendengarkan lagi apakah yang ditangkap gendang telinganya itu benar atau hanya sebatas suara alam.
"Malin Kundang … bangunlah …."
Suara itu muncul kembali dan seperti lebih dekat dengannya.
"Bunga tidurmu tidak cocok untukmu … bangunlah … bunga tidurmu itu sangat jahat … dia akan melukaimu …."
Rio membuka selimutnya lebar-lebar dan langsung membangunkan tubuhnya. Pria itu memandangi sekitarnya yang gelap lantaran lampu kamarnya ia matikan.
Brak! Krieeekk…
Rio terlonjak kaget saat jendela kamarnya yang tadi membuka tiba-tiba menutup dengan sendirinya lalu membuka kembali. Perasaan Rio benar-benar tidak tenang saat ini. Ingatan akan buku dongeng yang ia bakar dengan teman-temannya seminggu lalu telah mengganggu pikirannya. Bahkan suara percikan apinya sangat terdengar jelas dan memekakkan telinga pria itu.
Rio berniat untuk menutup kembali jendela kamarnya yang terbuka. Ia hendak beringsut dari ranjang, namun ia mengurungkan niatnya saat tiba-tiba dirinya itu merasakan sesuatu yang naik di atas ranjangnya, tepat di belakangnya.
"Malin Kundang.…"
Suara bisikan dari belakangnya membuat Rio melotot seketika. Ia meneguk ludah dan merasakan jantungnya yang terpacu begitu kencang. Bahkan tubuhnya saat ini gemetar hebat. Meskipun begitu, pria itu tetap memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
Perlahan, ia gerakkan tulang lehernya itu. Suara napasnya menjadi backsound ketegangan pada saat itu. Belum sampai ia menolehkan seluruh kepalanya, sebuah benda tajam sudah mendarat lebih dahulu tepat di lehernya.
Kress!!! Cratt!!!
Pisau besar berhasil mengiris leher pria itu hingga memancurkan semburan darah segar.
Krucuk… krucuk … gemercik aliran darah terdengar jelas dari tenggorokan Rio.
Pria itu memegangi lehernya, berusaha menghentikan pendarahannya. Bahkan ia tak mampu mengeluarkan suara untuk teriak. Kedua tangannya itu sudah basah akan darahnya sendiri. Meskipun begitu, ia mencoba melihat siapa yang telah lancang melukai lehernya.
Rio mendongak, membuat pancuran darah di lehernya semakin deras keluar bak air mancur. Mulutnya itu membuka dan melotot saat melihat sesosok bertubuh tinggi dan berambut panjang berantakan berdiri di belakangnya. Kulit wajah sosok itu mengelupas dan memiliki mata tua yang menyala. Sedangkan giginya tampak hitam tinggal tiga biji saat sosok menyeramkan itu tertawa.
Kress!
Sesosok menyeramkan itu menebas leher Rio hingga putus dengan pisau besar nan panjangnya. Semburan darah membasahi selimut serta ranjang pria itu, sedangkan kepalanya menggelinding jatuh ke lantai. Mata Rio saat itu melotot dan mulutnya membuka.
Brug! Tubuhnya terkulai lemas di ranjang tanpa kepala.
"Bunga kejahatan menunggumu di alam sana!"
RIO TELAH TAMAT!
***
12.00 p.m. (Tengah malam)
"Bangunlah … bunga tidurmu itu sangat jahat. Dia adalah iblis bagi kehidupanmu."
Brak!!!
Tubuh Nichole terjatuh dari ranjangnya. Keadaannya tidak baik-baik saja. Sekujur tubuhnya itu membiru, di mulutnya mengalir darah segar, sedangkan di tangannya menggenggam jamur.
Uhuk! Uhuk!
Pria itu masih bernapas. Ia mencoba memuntahkan seluruh darahnya melalui mulut.
"Wahai Kurcaci manis … bagaimana rasanya setelah memakan jamur ajaib itu?"
Nichole mendongakkan kepalanya. Di depannya itu berdiri wanita bungkuk bergaun hitam. Wajahnya jauh dari kata bagus, wanita itu layaknya penyihir yang menyeramkan.
"Kau mau memakannya lagi?"
"Tidak! Tidak! Jangan … uhuk ...uhuk!" Keadaan Nichole saat ini seperti keracunan.
Ia tidak pernah menyangka, kalau tidurnya harus diganggu oleh sosok mengerikan itu. Kepalan itu begitu pening, saat telinganya selalu terngiang akan suara percikan api. Api yang sama saat dirinya dan teman-temannya membakar buku dongeng seminggu lalu.
"Kurcaci … ambilah jamur ini lagi!" Sosok penyihir itu memberikan jamur lagi kepada Nichole. Meskipun pria itu menolak, namun ia tetap menyuapinya dengan paksa.
"Aku tidak ingin memakannya lagi…" Suara Nichole begitu lirih.
"Kau tidak ingin memakannya? Lalu mau kita apakah jamur ini?" Sosok itu berjalan pelan mengitari tubuh Nichole yang duduk menunduk menumpu lantai. "Bagaimana kalau kita main-main masak-masakan saja? Hehe!"
Sesosok itu terkekeh sadis.
Nichole menoleh ke arahnya. Ia tersentak keget saat tangan wanita menyeramkan itu membawa sebuah pisau pemotong daging yang cukup besar.
"Kita akan masak jamur-jamur ajaib ini dengan dagingmu, pasti rasanya lezat. Iya kan … kurcaci manis?" Sesosok itu terkekeh sadis dan mendekati Nichole.
Nichole mencoba menjauh, ia menggeser tubuhnya namun dengan cepat sesosok itu menyambar tangannya.
Kress!
Pisau pemotong daging itu berhasil memotong satu tangan Nichole.
"Aahhh!" Nichole menjerit hebat. Tangan kanannya telah terpotong dan darahnya mengucur begitu deras.
"Satu lagi kayaknya seru!"
Kreess! Satu lagi tangan Nichole terpotong. Sekarang, pria itu tidak memiliki kedua tangannya lagi.
Bukannya kasihan melihat pria itu yang sekarat, wanita renta itu membacok kaki kanan Nichole hingga terputus. Kemudian berganti kaki kirinya. Darah membanjir bagai aliran sungai saja.
Clok! Giliran leher pria itu yang terpotong. Tidak puas dengan itu saja, ia membelah tubuh Nichole menjadi dua bagian. Layaknya memotong daging ayam, wanita itu juga terus memotong-motong bagian tubuh Nichole hingga menjadi bagian-bagian kecil dan mencacah-cacahnya. Setiap yang terpotong memuncrat darah segar hingga membasahi wajah wanita itu.
"Hahaha! Kurcaci ini memang payah!"
NICHOLE TELAH TAMAT!
***
01.00 a.m. (Dini hari)
Perasaan tak tenang membuat Alex susah untuk terlelap. Sudah beberapa kali ia mencoba memejamkan matanya namun ia belum juga berhasil. Bagai bunga mimpinya tidak pernah menginginkan dirinya untuk menghadirinya. Padahal, waktu saat ini sudah menunjuk pukul 01.00 dini hari.
Alex membungkus tubuhnya dengan selimut rapat-rapat dan menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.
Tuk! Tuk! Tuk!
"Aaahh!!!" Alex menjerit hebat dan membuka selimutnya begitu saja. Ia terkejut saat melihat tiga pria berbadan besar sibuk memaku kakinya.
"What the hell!"
Pria itu menatap Alex. Namun wajahnya tidak kelihatan lantaran tertutup topeng serigala.
Alex menahan pedih di kakinya dan hendak menjauhkan kakinya dari mereka, namun salah satu dari mereka memegangi erat kakinya. Dan salah satunya lagi mengeluarkan gergaji kemudian mulai menggergaji kaki Alex.
Alex tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa menjerit saat satu persatu gigi geraji yang runcing itu mencicipi kulit kakinya. Darah mulai keluar, membuat Alex merasakan pedih yang luar biasa.
Ia mengambil bantal dan apapun di sekitarnya lalu dilempar pada ketiga pria itu. Tak cukup, ia meraba meja dan mengambil sebuah gelas untuk dilemparkan. Gelas itu pecah tepat di kepala salah satu dari mereka.
Alex terus melemparinya dengan benda hingga akhirnya mereka bertiga mau melepaskannya.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Alex menjatuhkan diri. Lalu mencoba menggerakkan kakinya. Ia mengesot menuju pintu keluar.
Alex tidak pernah tahu siapa mereka. Tetapi, saat ia mencoba mengingat-ingat lagi, Alex menebak kalau mereka tiga pria yang pernah menerornya setelah membaca buku dongeng kemarin. Lantas ia mengingat bagaimana dirinya itu dan teman-temannya membakar buku dongeng seminggu lalu. Suara percikan api tiba-tiba menyerang gendang telinga pria itu.
Alex membungkam kedua telinganya seraya terus mengesot menuju pintu kamar. "Tidak! Tidak mungkin!"
Sedikit lagi Alex akan sampai di depan pintu. Untungnya ketiga pria itu tidak mengikutinya. Mereka hanya berdiri diam memandangi Alex yang terus berusaha untuk kabur.
Alex begitu senang saat tiba di depan itu. Tangannya itu mencoba meraih gagangnya, namun tiba-tiba sebuah benda runcing melesat kencang dan mengenai telapak tangannya.
Entah bagaimana, namun saat ini telapak tangan Alex tertusuk besi runcing dan menempel di daun pintu.
"Aaaah!" Alex menahan sakit yang luar biasa. Ia mencoba melepaskan besi runcing itu dari tangannya, namun tiba-tiba tangan satunya menempel ke pintu.
Sreett…. Besi runcing kedua berhasil menacap telapak tangan pria itu lagi.
Kini Alex bagai tahanan di pintu kamarnya sendiri. Rasa ngilu bercampur pedih tak terelakkan lagi. Alex menatap ke depan, ia tertegun saat ketiga pria itu mulai berjalan mendekatinya. Dan yang paling tengah membawa sebuah gergaji mesin yang aktif.
Suara mesinnya menembus gendang telinga Alex, seolah membisikkan kalau nyawanya akan segera tamat sebentar lagi.
"Jangan! Jangan! Kumohon!" Percuma, berteriak sekeras apapun, dan meminta sebanyak apapun ketiga pria itu tidak menggubris penderitaan Alex.
Kini, mereka bertiga sudah sampai di hadapan Alex. Tak membuang waktu lagi, pria pembawa gergaji mesin itu langsung menggergaji kedua kaki Alex hingga putus.
Crat! Semburan darah memuncrat ke mana-mana bahkan menodai wajah Alex.
Alex tak mampu berkata-kata lagi. Ia hanya membuka mulutnya dan melotot. Kamudian, matanya menutup.
Ketiga pria itu tidak puas begitu saja. Mereka mulai memaku satu persatu tubuhnya itu di lantai dengan paku yang berukuran besar. Menggergaji lehernya hingga putus. Dan menusuk kedua matanya dengan besi. Tubuh Alex tak berupa manusia lagi.
ALEX BENAR-BENAR SUDAH TAMAT!
***
02.00 a.m. (Dini hari)
"Timun Mas!"
Maya membungkam telinganya rapat-rapat saat suara bernada besar memekakkan telinganya. Saat ini gadis itu tengah bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Menutup mulutnya agar sesosok berbadan besar di luar sana tidak mengetahuinya.
Maya sendiri tidak tahu, bagaimana ada orang misterius yang tiba-tiba datang di kamarnya dan membangunkannya dari tidurnya. Bener-bener keterlaluan. Lebih menakutkannya lagi, sesosok berbadan besar di luar membawa sebuah kapak yang runcing.
Brak!!!
Semua benda-benda di kamarnya telah dirusak dan berantakan oleh sesosok itu.
"Timun Mas! Sembunyi di mana kau?!"
Maya tersentak. Gadis itu melotot saat mendengar kata 'Timun Mas'. Ia menjadi ingat buku dongeng yang seminggu lalu dibakarnya. Mungkinkah arwah di dalamnya tidak terima dan menuntut balas?
Maya tidak bisa berpikir jernih. Telinganya kini tersambar oleh suara bising bak neraka. Percikan api terdengar jelas merasuk ke gendang telinganya.
"Bunga kejahatan yang telah kau simpan, akan menjadi karma atas dirimu. Kau harus membayar apa yang telah menjadi dosamu! Iblis telah menitipkan salam di neraka sana untukmu, Timun Mas!"
Brak!
Maya menjerit saat tempat tidurnya tiba-tiba melayang dan menatap tembok kamarnya hingga hancur. Rupanya, sesosok berbadan besar yang melakukan hal itu.
"Iblis telah mendapatkanmu!"
Sesosok bertubuh besar itu menyingsing tubuh Maya dengan memegangi lehernya. Dia mengangkat tubuh gadis itu layaknya menyingsing anak kucing saja.
"Aaahhh! Lepaskan aku! Kumohon!" Maya menjerit takut. Terutama saat melihat wajah sosok itu.
Mata besar membola sebesar bola pingpong. Kulit bersisik dan kasar layaknya kadal Afrika. Serta mulut lebar bergigi runcing itu telah membuat tubuh Maya gemetar.
Brak!!!
Tubuh Maya dilempar begitu saja ke lantai. Gadis itu menggeser tubuhnya ke belakang berniat menjauh. Namun, sosok bak raksasa itu mulai bergerak mendekati Maya. Tak lupa, mengayunkan kapak runcingnya bermaksud melukai gadis itu.
Awalnya Maya bisa selamat, namun setelah berkali-kali kapak itu diayunkan, akhirnya bidang tajam kapak itu berhasil memotong kaki Maya.
Pancuran darah mencuat ke mana-mana. Maya mengerang kesakitan. Tetapi sosok itu malah tertawa girang.
Tidak cukup puas setelah berhasil mencicipi darah segar Maya, kini kapak itu sosok itu beraksi lagi. Kini kepala Maya yang dipukul dengan punggung kapak itu hingga membuat darahnya muncrat dari mulutnya.
Kresss! Kelima jari Maya telah terpotong oleh kapak tajam itu. Gadis ity itu mampu bergerak lagi ataupun melawan.
Kress! Kini tangannya yang dipotong. Kemudian, lehernya itu disambar oleh ujung kapak hingga kepalanya terlempar mengenai tembok dan pecah.
MAYA BENAR-BENAR TELAH TAMAT!
***
02.00 A.M. ( Dini hari )
Darah segar membanjir di mana-mana. Alirannya melalui tubuh yang lemas tak berdaya.
Jlep! Brak!
Tubuh Jay tergeletak lemas di lantai. Tak berdaya, pria itu hanya bisa menyaksikan sesosok berambut putih yang terus asyik menyakiti tubuhnya tubuhnya. Walau rasa sakit yang dideritanya cukup menyakitkan, Jay masih mencoba mengingat wajah wanita tua yang melukainya itu.
Terutama pakaian layaknya putri kerajaan, membuat Jay teringat akan kisah dalam dongeng yang pernah dibacanya. Pria itu juga masih mengingat bagaimana dengan kejinya ia membakar buku dongeng seminggu lalu. Semburan apinya terasa menyengat telinga Jay.
Sreettt …
Bendak berujung runcing berhasil menyayat lengan Jay. Kulitnya telah dikelupas hingga dagingnya terekspos. Kemudian kakinya dijahit dengan rantai dan iikat satu sama lain. Kedua matanya itu ditusuk dengan ujung tusuk konde yang lancip.
Jlep! Jlep!
Darah langsung mengucur begitu deras bak air mancur.
"Pangeran kodok, andai kau lihat wajahmu ini. Pasti kau akan memujiku! Hehehe!" Wanita bergaun putri kerajaan itu terkekeh sadis. Lantas, ia menyayat kulit wajah Jay, mengelupas kulitnya hingga wajah itu berlumur darah. Mulutnya disobek hingga ke telinganya, dan lidahnya potong.
"Kau adalah lambang bunga kejahatan. Kau adalah karma bagi yang berbuat kejahatan. Kau akan tetap menangis darah di neraka sana!"
Jlep! d**a Jay ditusuk dengan ujung konde. Wanita itu secara brutal menyobek perutnya dan membedahnya. Lantas, mengeluarkan beberapa orang di dalamnya satu persatu.
Sadis, bahkan ia tak merasa bersalah. Malahan, dia sangat menikmatinya.
JAY TELAT TAMAT!
***
03.00 a.m (Dini hari)
Brug!
Veronica terbangun dari tidurnya saat sebuah mawar berdiri menjatuhi mukanya. Gadis mengambil mawar itu. Terkejut saat bunga itu tiba-tiba mengeluarkan darah mahkotanya.
"Bungaku, Belle!"
Suara bak Monster berhasil membuat jantung Veronica menyembul. Gadis itu menoleh seketika, mencari-cari suara yanh seperti pernah ia dengar sebelumnya.
Kemudian, ia merasakan akan sesuatu yang bergerak dan terus menendangi kolong ranjangnya.
Dug! Dug! Dug!
Ranjangnya itu seperti bergerak dan terangkat. Veronica menjadi panik. Matanya melotot saat sebuah tangan besar berbulu lebat keluar dari bawah ranjang dan mencoba meraihnya.
"Tolong!!!" teriak Veronica histeris.
"Aargghh!" Tiba-tiba saja, dari bawah ranjang itu keluar sosok besar berbulu lebat dan memiliki tanduk. Dia seperti Monster yang pernah meneror Veronica.
Mungkinkah monster itu balik lagi dan menuntut balas? Tapi bukannya buku dongeng itu sudah terbakar habis?
Veronica mengingat saat dia dan teman-teman kakaknya membakar buku dongeng seminggu lalu. Bertepatan saat malam Jum'at juga.
Lantas, gadis itu semakin panik saat kobaran api tiba-tiba merambat ke sekitarnya. Percikannya merantak hingga mengenainya.
Gadis itu menjerit histeris. "Kak Annie!!!"
"Diam kau, bungaku. Kau adalah bungaku. Lambang kejahatan. Kau adalah sebuah karma yang ditakdirkan untuk menderita!"
Sosok monster itu meloncat ke ranjang tebat di atas Veronica. Dia menduduki tubuh gadis itu hingga tak bisa bergerak. Kemudian, kuku-kuku runcingnya mulai ia perlihatkan. Perlahan, kuku itu mencakari wajah Veronica.
Crat! Crat! Crat! Darah segar gadis itu menciprat ke mana-mana.
Tak puas telah merusak kecantikan Veronica, kini monster itu beralih mencengkeram tubuhnya. Ia membedah tubuh gadis itu hingga perutnya membuka. Kemudian, monster itu merogoh organ dalamnya. Menarik usus-ususnya dan mengunyahnya. Mematahkan tulang rusuknya dan menjilatinya.
Darah Veronica diminum habis oleh monster buas itu.
VERONICA KINI TELAH TAMAT!
Brak!!!
Pintu kamar terbuka membuat sesosok monster itu menoleh. Ia tersenyum beringas melihat seorang gadis dengan wajah kaget di ambang pintu.
"Oh my God! Veronica!!!" Annie gemetar melihat adiknya yang telah dimangsa dengan mengenaskan.
Monster itu turun dari ranjang dengan tangannya yang masih memegangi usus yang panjang.
"Kau selanjutnya!" eramnya pada Annie.
Annie buru-buru lari dari sana. Ia menyusuri lorong dengan lari maraton. Jantungnya terpacu begitu kencang. Apalagi, saat sesosok tua bungkuk tiba-tiba muncul dari depannya. Sosok itu membawa cangkul dan berpakaian compang-camping. Wajahnya sendiri menyerupai tengkorak.
"Mau lari ke mana kau anak nakal?" ujarnya dengan suara serak.
"Petani bungkuk?!" Annie dengan cepat bisa menebak ssosok itu.
"Dasar kancil sialan!" Petani itu moloncat ke arah Annie dan mengayunkan cangkulnya.
Clok!!! Cangkul itu berhasil mendarat tepat di perut Annie.
Annie menjerit histeris!
"Aaahh!!!"
***
04.00 a.m ( Pagi fajar)
"Aaaa!!!"
Annie menjerit hingga terbangun dari tidurnya. Tubuh gadis itu basah akan keringat. Jantung tidak berdetak seperti biasanya. Napasnya juga memburu. Mimpi buruk kali ini benar-benar menguras tenaga Annie.
Ia benar-benar ketakutan dibuatnya. Apalagi saat menyaksikan adik serta teman-temannya yang dibunuh satu persatu dengan keji. Walau hanya sebatas mimpi, namun itu seperti nyata. Belum pernah ia bermimpi seperti ini sebelumnya. Mimpi buruknya kali ini merupakan ketakutan tiada tara sepanjang hidupnya.
Gadis itu segera meraih segelas air di atas nakas lantas meneguknya buru-buru. Segelas telah habis namun belum juga bisa membuat hatinya tenang. Ia sudah mencoba mengatur napasnya, namun bayangan mimpi buruknya tadi masih tergambar di pikirannya.
Ting tong …
Bel rumah berbunyi tiba-tiba dan mengagetkan Annie. Gadis itu menyambar ponselnya dan melihat jam di layar. Waktu itu masih menunjukkan pukul 04.00 pagi. Waktu seperti ini biasanya orang-orang masih tidur. Lalu kenapa bel rumahnya berbunyi?
"Siapa sih yang datang di pagi buta seperti ini?" gumam Annie bertanya-tanya.
Ting tong …. Berkali-kali bel rumahnya itu berbunyi namun tidak ada yang meresponnya. Biasanya ibunya itu akan langsung membukakan pintu begitu mendengar suara bel. Mungkinkah ibunya masih tidur? Tapi, biasanya ibunya itu selalu bangun pagi-pagi sekali.
Annie sebenarnya tidak sudi untuk mengeceknya, namun hatinya itu seperti menggertaknya untuk membukakan pintunya. Alhasil, ia mengalah dan memilih untuk membukakan pintu.
Gadis itu turun dari tempat tidurnya dan beranjak membuka pintu kamar. Ia berjalan menyusuri lorong kamar yang masih gelap dan juga tangga. Sesampainya di ruang tamu, ia bergegas ke arah pintu lantaran suara bel terus saja berbunyi dan tanpa jeda.
Setelah membuka kuncinya, lalu Annie membukakan pintunya.
Kosong! Tak ada siapapun.
Annie tersenyum sumbang. "Sudah kuduga, pasti ada yang jahil!" gumamnya kesal. Gadis itu memandangi langit luar yang masih gelap. Lantas ia bermaksud mengunci pintunya kembali. Namun, saat matanya menangkap sebuah box di bawahnya, ia mengurungkan niatnya.
Annie melangkah keluar. Ia mengambil box dan memperhatikannya. Ada sebuah surat di atas box tersebut. Annie membuka lalu membacanya.
"I AM BACK FOR YOU ALL!"
Annie mengeryitkan dahi. Ia penasaran dengan isi box itu yang tak terlalu berat. Buru-buru gadis itu membukanya. Begitu box itu berhasil terbuka, Annie terkejut bukan main.
Brak!!!
Annie menjatuhkan box itu begitu saja. Matanya melotot dan mulutnya menga-nga. Ia tak menyangka dengan isi box itu. Setelah mereka menghancurkannya, kini dia hadir kembali.
Buku itu. Buku yang sama yang mereka bakar seminggu lalu. Bedanya, buku itu kini tampak hangus sebagian. Namun meskipun begitu judul di sampulnya itu masih terlihat jelas. Judul yang sama yang membuat mereka seperti orang gila. Buku itu tak lain adalah buku dongeng.
"DONGENG KEMATIAN"
***
TO BE CONTINUED