Brak!!!
Annie menjatuhkan box itu begitu saja. Matanya melotot dan mulutnya menganga. Ia tak menyangka dengan apa yang ada di dalam box itu. Setelah mereka menghancurkannya, kini dia hadir kembali.
Buku itu. Buku yang sama yang mereka bakar seminggu lalu. Bedanya, buku itu hangus sebagian. Namun, bukunya itu masih utuh, dan judul di sampulnya masih terlihat jelas. Judul yang sama yang membuat mereka seperti orang gila. Buku itu tak lain adalah buku dongeng.
"DONGENG KEMATIAN"
"TIDAK! TIDAK! MUNGKIN!"
Annie menggeleng berkali-kali. Tubuhnya gemetar hebat. Ia mengulurkan tangannya, mencoba meraih buku tersebut untuk mengecek apakah itu buku yang sama atau bukan.
Annie memegang buku dongeng itu dengan gemetar. Matanya memperhatikannya, mengamatinya kemudian menangis. Ia yakin bahwa itu buku yang sama seperti kemarin. Annie membukanya. Ia terkejut saat menyadari buku itu kosong tak ada tulisannya sama sekali. Setiap lembarnya seperti pernah terbakar.
"Annie?" Suara ibunya yang memanggilnya dari belakang membuat wajah gadis itu menegang.
Annie menelan ludah. Mencoba untuk tidak panik. Ia buru-buru menyembunyikan buku itu di dalam bajunya. Lantas melempar box tadi ke sembarang tempat.
"Annie kamu ngapain duduk setimpuh di situ? Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya ibunya begitu melihat putri sulungnya itu tersimpuh di lantai depan pintu.
Annie mengusap air matanya yang hendak turun. Lalu ia menoleh ke belakang, menatap ibunya seraya melebarkan senyumnya. "A-aku … nggak apa-apa kok, Ma!"
Gadis itu terbangun dan berdiri. Bukunya masih ia sembunyikan di dalam baju. Ia menegang saat ibunya berjalan menghampirinya.
"Tumben kamu pagi-pagi buta sudah bangun? Ini bahkan belum ada jam lima, loh," seru Megan pada putrinya itu.
"A-aku tadi … aku kira sudah siang, Ma. Waktu aku buka pintu ternyata masih gelap. Terus aku kesandung dan jatuh deh." Annie menggigit bibir bawahnya. Berharap ibunya itu tidak mencurigainya kalau dia sudah berbohong.
Megan mengelus rambut Annie lembut, dan memperhatikannya. "Kalau jalan hati-hati, ya!" ujarnya menasihati.
"Iya, Ma!" Annie mengangguk. Lantas ia berjalan masuk ke dalam rumah sebelum ibunya itu melihat apa yang sedang ia sembunyikan. "Aku masuk ke kamar dulu ya, Ma!" ujarnya seraya berjalan.
Annie buru-buru masuk ke kamarnya. Ia membanting buku dongeng itu ke atas ranjang.
"Bagaimana bisa kau kembali! Hah?" Annnie mengambil guling dan memukul-mukuli buku tersebut. "Kenapa kau datang lagi! Kenapa? Kenapa? Bangsaaaaaattttttt!" Annie mengacak-acak rambutnya dan duduk bersimpuh ke lantai.
***
Mentari bersinar cukup terang. Cahayanya menembus hingga lubang-lubang rumah. Kicauan burung terdengar membising di pepohonan belakang rumah, bersahut-sahutan dengan yang lainnya.
Krieekk… suara decitan pintu terdengar membuka.
Veronica menoleh, tersenyum saat melihat kakaknya berada di ambang pintu kamar. "Kak Annie? Masuklah!" serunya.
Annie berjalan masuk tanpa gairah. Wajah gadis itu sayu bak sayur layu. Mimpi buruknya semalam masih terngiang di telinga juga pikirannya. Gambaran bagaimana adik dan teman-temannya telah dilenyapkan dengan keji terbayang begitu jelas.
"Ada apa Kak, kok pagi-pagi ke sini?" tanya Veronica membuat lamunan gadis itu buyar.
Annie mempercepat langkahnya lalu duduk di sebelah Veronica yang berada di ranjang. Ia memperhatikan adiknya itu, lalu menghela napas menyadari kalau adiknya itu masih baik-baik saja.
"Kak?" Veronica memegang tangan Annie yang gemetar. "Kakak kenapa? Ada masalah apa? Kamu habis mimpi buruk?" tanya Veronica sekali lagi.
Annie langsung mengangguk cepat. "Iya!" katanya berterus terang.
"Ceritakan saja padaku. Siapa tahu aku bisa membantu atau setidaknya bisa mengurangi beban mu," ucap Veronica menyakinkan kakaknya.
"Tadi malam … aku mimpi diteror lagi," ujar Annie sembari menunduk. Bibirnya itu masih bergetar.
"Diteror?" Veronica sedikit terkejut. Kemudian ia mencoba bersikap tenang. "Kakak tenangkan diri dulu. Ini kan cuma mimpi, yang penting buku itu sudah tidak ada bersama kita lagi kan," ujar Veronica.
Annie mengerjap sejenak. Ia berkata dalam hati, "Sayangnya buku itu sudah kembali, Veronica. Andai kamu tahu."
Tidak! Annie tidak bisa mengatakan pada adiknya kalau buku itu datang kembali dan sekarang ada di kamarnya. Ia tidak ingin membuat semuanya menjadi panik.
"Kita sudah membakar buku itu seminggu lalu, nggak mungkin kan buku itu datang kembali." Perkataan Veronica telah membuat Annie khawatir. Bagaimana jika mereka tahu kalau sebenarnya buku sudah datang.
Annie hanya terdiam. Ia mencoba memendam semuanya sendiri. Ia berpikir, kalau masalah ini akan ia selesai sendiri.
"Ya sudah, Kakak pergi ke kamar dulu ya mau siap-siap ke kampus. Oh iya kamu hari Jumat masih ada kelas kan?" tanya Annie bermaksud mengalihkan perhatian.
"Iya," jawab Veronica.
"Kalau begitu kita siap-siap sekarang. Nanti kita berangkat bareng," seru Annie.
"Oh iya, Kak. Kemarin Rio nembak aku." Veronica berkata dengan canggung.
"Terus kamu terima?" tanya Annie.
Veronica terdiam lalu menggeleng. "Belum," ujarnya. "Aku belum yakin sama perasaanku, Kak," lanjutkan.
"Kalau belum yakin, ya jangan diterima dulu. Tapi … aku bisa melihat cinta Rio ke kamu itu tulus. Aku sudah bertahun-tahun menjadi temannya dan dekat dengannya. Bahkan keseharian dia kami tahu semua. Termasuk dia yang suka berganti-ganti pacar. Tapi jujur, kalau aku lihat Rio mengejar cintamu itu beda. Serius dia tulus." Annie menggenggam tangan Veronica. "Tapi aku nggak menyarankan dirimu untuk menerimanya langsung. Tapi coba pikirkan lagi."
Veronica mengangguk. "Iya, Kak."
"Ya sudah, aku ke kamarku dulu ya," kata Annie kemudian beranjak.
***
Di kampus, Annie masih berpikir keras apakah dia akan menceritakan semuanya pada teman-temannya atau tidak. Gadis itu tampak berjalan murung melewati jalanan kampus yang ramai dengan mahasiswa-mahasiswa. Namun, keramaian itu tidak sampai di hati Annie.
Dengan tas selempang yang disongsongnya, Annie berjalan memasukkan kelas.
***
TO BE CONTINUED