20

1578 Kata
"Stop worrying about people that aren't worried about you." ------------------------------------------------------------- Rey, lelaki itu tidak hentinya memandangi gadis yang sedang duduk di sampingnya sekarang. Bagaimana tidak? Sebelumnya ada crepes dan es krim di tangan gadis itu, namun kini sudah berganti dengan pisang keju dan gulali. Gadis itu terus memakan semua makanannya dengan santai, tidak sedikit pun menggambarkan tanda-tanda bahwa perutnya sudah mulai kenyang. "Tiap hari ya, makan sebanyak itu?" tanya Rey spontan. Nesya menggeleng, "Nggak lah, Bunda nggak izinin. Kalau Bunda tau, aku beli makanan di pinggir kaya gini, Bunda bisa marah. Kata Bun-"  Gadis itu tiba-tiba menghentikan ocehannya, ia baru sadar jika baru saja ia membicarakan Bundanya. Selera makannya tiba-tiba hilang, Nesya langsung membuang gulali dan pisang keju itu keluar jendela. "Loh, kok di buang? Tuh 'kan, kenyang. Buang-buang makanan nggak baik, banyak orang yang nggak bisa makan di luar sana." tegur Rey. "Iya, maaf." sahut Nesya pelan, gadis itu menatap keluar jendela. Rey yang tidak peka itu, langsung saja menjalankan mobilnya, tanpa menyadari ekspresi perubahan di wajah Nesya. Mobil Rey melaju membelah jalanan, di sepanjang jalan ia hanya fokus menyetir saja. Sesekali ia melirik Nesya dari sudut matanya, gadis itu sedang duduk bersandar seraya menatap keluar jendela. Rey pikir, Nesya sedang tertidur akibat kekenyangan. Kenyataannya, gadis itu sedang menangis. Menatap keluar jendela, menitikan airmata, menangis dalam diam. Itulah yang tengah di lakukan Nesya saat ini. Entah karena Rey yang terlalu tidak peka, atau memang Nesya yang terlalu pandai menyembunyikan kesedihannya. Padahal, gadis itu sempat terisak beberapa kali, namun Rey tidak menengok atau bertanya sedikit pun. Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah Tasya. Saat ingin turun, Rey menahan tangan Nesya, membuat gadis itu kembali terduduk ke posisinya semula. "Kenapa?" tanya Nesya heran. Rey tidak menjawab, ia memajukan wajahnya. Terus mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Dan, akhirnya satu kecupan singkat mendarat di bibir Nesya. Gadia itu syok, ia tertegun. Tidak sampai 2 detik Rey menciumnya, namun efeknya bisa membuatnya mematung selama 2 jam. "Jangan suka nangis sendirian, okey? Gue tau lo tadi lagi nangis, kan?" ujar Rey dengan lembut. Nesya tersadar dari lamunan sesaatnya, ternyata, Rey menyadari bahwa dirinya tadi sedang menangis. Pipinya bersemu merah, pikiran tentang Bunda hilang seketika. Digantikan oleh perlakuan Rey barusan. "Gu-gue, masuk dulu ya. Dadah," ucap Nesya, gadis itu buru-buru keluar dari mobil Rey. Tentu saja untuk menyembunyikan apa yang ada di hatinya sekarang.  Rey geleng-geleng saja melihat gadis itu, padahal tadi ia hanya ingin memeluk. Namun, ia malah kelepasan sampai mencium.  "Biarin deh." ucap Rey terkekeh, kemudian ia menjalankan mobilnya untuk segera pulang ke rumah. • • • • "TASYAAAAA!" pekik Nesya saat memasuki kamar sahabatnya itu. Tasya terlonjak kaget, ia mengelus d**a, menatap Nesya dengan bingung. Baru kali ini, gadis itu berteriak seperti ini. "Apaan? Kudu banget ya, teriak kayak tarzan gitu?" sidir Tasya. "Tasya, gue kayaknya udah gila. Astaga, tadi Rey---anu---dia---gue---cium---nangis---gu--" "Diem." ujar Tasya, ia membekap mulut Nesya agar gadis itu berhenti berucap tidak jelas. "Hhhuheee hhishaa hilaaa, hreyy hhium hhueee," Nesya tiada hentinya mengoceh, bahkan saat bibirnya di bekap oleh Tasya, ia masih saja mengoceh. Tanya mengernyitkan dahinya, ia tidak mendengar dengan jelas ucapan Nesya barusan. "Hah?" "Heepassss!" ucap Nesya, tangannya memukul lengan Tasya dengan pelan. Untuk membuat gadis itu melepaskan bekapannya. "Lepas?" tanya Tasya dan di balas anggukan oleh Nesya. "Jangan ngomong, ceritain pake bahasa isyarat." Mendapat anggukan, Tasya melepaskan tangannya yang di gunakan untui membekap mulut sahabatnya itu. Saat Nesya ingin membuka suaranya, Tasya langsung mengangkat tangannya ke depan wajah gadis itu, untuk membuatnya berhenti. "Bahasa isyarat, jangan ngomong." ucap Tasya memperingati. Mendengus kesal, akhirnya Nesya menurut saja. Ia menunjuk dirinya sendiri, kemudian membentuk sebuah siluet menggunakan tangannya. "Lo, dan Rey?" tebak Tasya. Mengangguk, Nesya melanjutkan aktivitasnya yang melelahkan ini. Ia mengangkat kedua tangannya, membentuk menjadi kerucut, lalu menyatukan kedua ujungnya. Tasya membelalakan matanya, ia menutup mulutnya sesaat, kemudian ia memekik keras. "CIUMAN?!" Kali ini, giliran Nesya yang membekap mulut Tasya. Ia memelototi sahabatnya itu, untung mereka hanya berdua di sini. Tasya melepaskan bekapan Nesya, ia menatap gadis itu dengan tidak percaya, sedetik kemudian, ia tersenyum jahil ke arah sahabatnya itu. "Gerak cepet banget ya," goda Tasya. "Ish!" kilah Nesya. "Dia yang nyosor, lagian namanya bukan ciuman. Tapi, gue di cium!" "Sama aja, atuh." ujar Tasya seraya menaik turunkan alisnya. "First kiss, gue." Nesya menutupi wajahnya dengan bantal. "First kiss di ambil sama pacar pertama, boleh juga." goda Tasya lagi. Nesya mendengus saja mendengar godaan Tasya, sahabatnya itu terus-terusan menggodanya. Membuat Nesya teringat kejadian itu lagi, dan akhirnya pipinya mulai memanas lagi. "Udah, ah, Sya!"  Tasya terkekeh, "Gue juga gitu, kok." Nesya mendongakan kepalanya, "First kiss dan pacar pertama, Rio?" tanya Nesya dan dibalas anggukan oleh Tasya. "Lu berdua lucu deh, ceritain dong. Kenapa, lo bisa jadian?" goda Nesya, kali ini ia membalas. Pipi Tasya bersemu merah, "Kepo, ah!" kilahnya. "Idih, yaudah. Gue mau pindah aja, Rey udah nyediain apartemen." Ancam Nesya bohong. "Ih! Jangan dong, iyaiya gue cerita." ucapnya memelas. "Buruan." Tasya menarik nafasnya, menghembuskannya, kemudian ia mulai bercerita. Beberapa jam berlalu, baik Nesya maupun Tasya, kedua gadis itu masih sibuk bercerita. Bahkan, mereka sudah membahas hal yang tidak penting sekarang. "Nes, btw, nyokap lo ada jenguk nggak?" Nesya mengangguk seraya meminum segelas air putih yang ada di genggamannya. "Gue, berantem lagi. Lebih parah." "Lebih parah?" ulang Tasya. Nesya menggedikan bahunya. "Ya, nyokap gue masih mikir kalau gue yang egois. Yaudahlah, mungkin pas gue udah nggak ada. Baru nyokap sadar." Jawab Nesya acuh. Tasya menoyor jidat Nesya. "Mati, mati. Seenak jidat kalo ngomong." Nesya terkekeh pelan, ia sedang mencoba terlihat acuh dan tidak peduli. Padahal, dadanya terasa sesak sekarang, mengingat sang Bunda yang sudah melepasnya jauh. • • • • Bel tanda pelajaran akan segera di mulai sudah berbunyi. Para murid berbondong-bondong untuk masuk ke kelas dan duduk di bangku mereka masing-masing. Sama halnya dengan murid XI-MIPA-1 mereka buru-buru masuk ke kelas, setelah melihat pak Botak----pak Gunarhad----wali kelas mereka, sedang berjalan ke arah kelas, seraya menenteng secarik kertas. Semua murid di kelas itu, sudah tau apa yang di bawa oleh pak Botak.  Memasuki kelas, pak Botak mendapat sambutan keluh dari para muridnya. Ia tersenyum puas, menyiksa murid dengan ulangan mendadak adalah kesenangan tersendiri bagi para guru. "Selembar kertas, dan satu pulpen. 5 soal, 30 menit." ucapnya dengan lugas. Para murid mendesah kesal, mereka menuruti perintah sang guru. Mengeluarkan selembar kertas, dan juga sebuah pulpen.  Pak Botak mulai mendikte 5 soal ulangan matematika, satu soal bercabang menjadi lima. Itu berarti ada 25 soal yang harus di kerjakan dalam waktu 30 menit. Itu berarti, 1 soal harus di kerjakan dalam 1.2 menit. Sabar, ini ujian. Ujian dari pak Botak. "Kerjakan sekarang, jangan ribut dan jangan menyontek." perintah pak Botak saat sudah selesai membacakan soal. "Ini soal apaan sih?"Nesya gusar, ia tidak mengerti sama sekali.  Rey yang duduk disamping Nesya, tidak peduli dengan kesusahan yang kekasihnya itu alami. Ia memilih fokus mengerjakan soalnya. Mendengus kesal, Nesya melirik kertas jawaban Rey. Matanya terbelalak, tinggal 2 soal lagi, dan Rey selesai. "Itu otak, ya?" ucapnya spontan. Seperti ada yang memperhatikan, Rey menolehkan kepalanya ke samping. Benar saja, Nesya sedang melihat lembar jawabannya dengan seksama. Secepat kilat, Rey segera menutup lembar jawabannya. "Loh, kok di tutup!" protes Nesya, gadis itu mencebikan bibirnya. Rey menaikan sebelah alisnya, "Usaha." ucapnya dengan nada mengejek. Mendengus kesal, akhirnya Nesya mengerjakan sendiri soalnya. Beruntung beberapa ada yang ia pahami, di tambah lagi dengan jawaban Rey yang mudah di mengerti. Tiga puluh menit kemudian. "Waktu sudah habis. Jordan, kumpulkan semua lembar jawaban teman-teman kamu. Jika ada yang belum selesai, langsung di tarik." Pak Botak membetulkan letak kacamatanya. Jordan mengangguk, ia berjalan keliling kelas untuk mengambil semua lembar jawaban temannya. Sesuai keinginan pak Botak, jika ada yang belum selesai, maka lembar jawabannya harus di tarik. Selesai mengumpulkan lembar jawaban ulangan, pelajaran kemudian di lanjutkan. Inilah alasan pak Botak hanya memberikan waktu 30 menit, karena jam mengajarnya hanya 1.5 jam, jadi masih ada 1 jam untuk dia mengajar. Materi kali ini adalah tentang limit fungsi. Pak Botak menjelaskan materinya dengan cepat, seakan-akan hanya untuk dirinya sendiri. Tidak sadar murid-murid di belakangnya garuk-garuk kepala tidak mengerti. Rey melirik Nesya yang berada di sampingnya, baru sepuluh menit berlalu. Gadis itu sudah menyerah, dan lebih memilih tidur. Ia menyikut lengan Nesya untuk membangunkannya. Tidak di respon, Rey kemudian mencubit keras pinggang gadis itu. Membuatnya terhentak dan memekik, sehingga perhatian seluruh kelas tertuju padanya. "Itu, ada apa di sana?" ucap Pak Botak. "Ada tikus pak, maaf." jawab Nesya asal. Mengangguk, pak Botak kembali melanjutkan ajarannya. Nesya menelengkan kepalanya menatap Rey, lelaki itu sedang fokus memperhatikan pak Botak. Ia yakin, pasti tadi bukan mimpi. Sakitnya berasa nyata. "Ngapain nyubit gue?" tukasnya kesal. "Belajar, jangan tidur. Nggak usah sekolah kalo di sini cuman buat tidur, masih banyak anak yang nggak bisa sekolah, dan lo lebih milih tidur? Ironis." ucapnya sarkas, tidak peduli bahwa lawan bicaranya saat ini adalah kekasihnya sendiri. Nesya mencebikan bibirnya, "Gue nggak ngerti, pak g*n terlalu cepet." "Makanya kenapa lo nggak perhatiin terus. Makin b****k, baru tau rasa." "Ajarin," rengek Nesya. Rey menggeleng, "Nggak mau." Mendengus kesal, Nesya memutuskan untuk kembali tidur. Saat ia ingin menelungkupkan wajahnya, Rey menahan agar ia tidak kembali tidur. "Kenapa sih!" Nesya mendelik sebal. "Gue nyuruh perhatiin, bukan tidur." Rey menggeleng-gelengkan kepalanya. "Percuma Rey. Gue. Nggak. Ngerti." ucapnya penuh penekanan. "Setidaknya, lo jangan tidur."  Tidak memperdulikan lagi, Nesya bergerak ingin tidur lagi. Dan, lagi-lagi Rey menahannya. Nesya mendengus kesal. "Apa lagi sih!"  "Gue ajarin. Buruan." Titah Rey tegas. ------------------------------------------------------------- Hai! Gimana?  Suka? Engga? He he he. Btw, hari terakhir puasa kayaknya banyak tanyangannya ya . Vote dan komen ya! Anesya Jasmeen Salam 6 R
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN