19

1181 Kata
"Even when you think you're alone, I promise you are not." -Raelando Wirawan ------------------------------------------------------------- "Gue udah bilang ya, gue nggak mau tau." ucap seorang gadis pada gadis lain yang sedang duduk dihadapannya. "Oke." gadis itu mengangguk. "Gue nggak peduli, apapun caranya. Lo, harus berhasil." cetus gadis itu final, kemudian ia melenggang pergi meninggalkan cafe yang menjadi tempat pertemuannya dengan gadis yang di hadapannya tadi. "Ada ya, manusia kayak dia." gumam gadis yang tengah memandangi punggung gadis satunya yang kian menjauh.  "Masa bodo, gue butuh duit." ucapnya acuh, kemudian ia turut pergi meninggalkan cafe itu. • • • • Hiruk pikuk suara orang-orang di dalam teater bioskop, ada yang sedang menjerit ketakutan, ada yang diam tanpa ekspresi, ada yang tertawa, padahal tidak ada yang lucu. Sama seperti dua sejoli yang kini tengah serius menonton film di depan mereka, yang satu wajahnya datar, yang satu lagi sudah mulai ketakutan. "Rey! Astaga----aaaaa----iiiiiii----Rey!!!" pekik Nesya tidak jelas, gadis itu memejamkan matanya, kakinya ia angkat dan di lipat, tangannya mencengkram lengan lelaki yang berada di sampingnya. "Biasa aja, lebay lo, ah." ujar Rey datar, ia terus saja memperhatikan layar besar yang menampilkan film bergenre fantasy dan action itu dengan tatapan datar, Rey terus menyuapkan popcorn caramel kedalam mulutnya. Nesya memukul lengan Rey dengan keras, kini ia tengah merajuk. Padahal  tadi ia mengajak nonton film Wonder Woman, namun Rey memaksa ingin menonton film The Mummy. "Mummy nya jelek, gue nggak suka." sungut Nesya sebal, memang tidak terlalu seram, namun mengejutkan. "Bentar lagi selesai, sabar." Rey masih fokus dengan film itu, tangannya dengan telaten menyuapkan popcorn caramel kesukaannya ke dalam mulutnya. Mendengus kesal, akhirnya Nesya memutuskan untuk bermain ponsel. Daripada harus melihat mummy di depannya, lebih baik ia membuka i********: untuk men-stalking idolanya. "Mending ngeliatin Manu, Cam, Shawn, Alvaro, sama Cicho. Daripada ngeliat mummy jelek."  Sibuk dengan kegiatannya, Nesya tidak menyadari bahwa filmnya sudah selesai. Ia masih saja fokus menatap timeline Instagramnya yang memaparkan wajah-wajah tampan idolanya. "Gantengan gue." sindir Rey sinis. Terkejut, Nesya mendongakan kepalanya. Ternyata Rey sedang memperhatikan aktivitasnya berfangirling ria, Nesya nyengir lebar saja untuk membalas tatapan tajam dari Rey. "Udah abis ya, filmnya?" tanya Nesya. Rey menoyor jidat Nesya, "Udah daritadi." Bukannya marah, Nesya justru senang. Ia menarik Rey untuk keluar dari teater ini, perutnya tiba-tiba lapar karena melihat mummy. Entah apa hubungannya. "Mau kemana?" ucap Rey seraya menghentikan langkah Nesya yang terus saja menariknya. "Laper," rengek gadis itu seraya mengusap-usap perutnya yang rata. Rey terkekeh melihat ekspresi Nesya, ia kemudian menggenggam dengan benar tangan gadis itu, berbeda dengan Nesya yang tadi menariknya seperti sapi. "Yuk." ajak Rey dan di balas anggukan antusias oleh Nesya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, mencari tempat makan di sekitar bioskop itu. Tidak jarang orang-orang yang berpapasan dengan mereka menatap kagum pasangan itu. Cowoknya subhanallah. Cantik sama ganteng, cocok banget ya. Bang, di dalam Islam, punya istri lebih dari satu itu nggak papa loh. Kapan gue kayak gitu. Ceweknya cantik, jadi pengen rebut cowoknya. Woi, banyak jomblo di sini. • • • • Harum dari masakan yang sedang di masak oleh juru masak tercium oleh hidung mancung Nesya, gadis itu sedang menunggu pesanannya datang. "Lama banget, ish." gerutu Nesya yang sudah tidak sabaran. "Pelayannya baru pergi 5 menit yang lalu, sayang." ucap Rey mengingatkan. Nesya mendengus kesal, "5 menit berasa 5 tahun, kasihan cacing-cacing di perut Nesya, butuh asupan." ucapnya memelas. Rey terkekeh geli mendengar ucapan kekasihnya ini, "Ternak cacing ya?" tanya Rey dan langsung di jawab anggukan oleh Nesya. "Kenapa ternak cacing?" tanya Rey lagi. "Biar makan banyak, tapi tetep kurus."  Rey mengangkat sebelah alisnya, "Apa hubungannya?" "Jadi, kan di sini ada cacing" Nesya menunjuk perutnya yang rata, "perut aku nggak bakalan buncit, soalnya keburu di makan sama cacing." Dahi Rey mengernyit, "Teori dari mana?"  Nesya ngenyir seraya menunjuk kearah jidatnya, "Dari sini." "Besok-besok, jangan pake otak cetek lo itu, ya." ujar Rey datar, namun menusuk. "Kok, cetek?" ucap Nesya tidak terima. "Emang otak lo cetek." ujar Rey datar, kemudian Nesya langsung melemparnya menggunakan tusuk gigi yang berada di atas meja. "Ngeselin! Pacaran nggak pacaran, sama aja mulutnya." Nesya terus melempari Rey dengan tusuk gigi. "Maaf mba, tolong jangan mengotori meja ini. Dan, jangan buang-buang tusuk giginya." sindir salah seorang pelayan yang berada di dekat mereka berdua. "Maaf ya mba." ucap Rey seraya tersenyum ramah kepada pelayan itu. Pelayan itu menjadi salah tingkah karena mendapat senyuman dari Rey, ia kemudian membalas senyuman Rey tidak kalah ramah. Membuat Nesya geram. "Ekhem!" Nesya berdehem untuk menyadarkan pelayan itu. "Mba, makanan saya kok lama banget ya. Sana gih, tanyain sama yang masak. Sekalian bilangin, buruan."  Jengkel, pelayan itu melengos pergi ke belakang. "Cemburu ya?" goda Rey, ia terkekeh melihat raut wajah sebal gadisnya itu. Tidak menjawab, Nesya mengambil ponselnya. Membuka i********:, dan mulai berfangirl ria lagi. Sampai akhirnya makanan pesannya sudah siap. Dengan cepat, Nesya segera memakan Nasi goreng spesial pesanannya itu. Ia makan dengan santai, sesekali memainkan ponselnya.  "Kalau makan, jangan sambil main handphone." tegur Rey. "Hm." Dengan cepat, Nesya segera menghabiskan makanannya. Tidak kuat jika harus menahan untuk tidak bermain handphone dengan waktu yang lama. "Uhuk-uhuk!" Nesya tersedak karena makan terlalu cepat, bahkan ia sampai tidak mengunyah dengan benar. Dengan sigap, Rey segera memberikan segelas air putih kepada kekasihnya itu. "Pelan-pelan, nggak lucu kalo gue jadi jomblo, gara-gara di tinggal pacar yang meninggal tersedak nasi goreng."  "Masih aja ngomongnya, pedes." cibir Nesya. • • • • Saat ini, Rey sedang melongo karena ulah Nesya. Bayangkan saja, baru saja mereka habis makan makanan berat. Tiba-tiba, saat ingin pulang, Nesya meminta Rey meminggirkan mobilnya. Gadis itu langsung turun, dan menghampiri paman crepes yang sedang mangkal di depan Sekolah Dasar.  Mendapatnya crepesnya, Nesya beralih pada penjual es krim yang mangkal di samping tukang crepes. Sambil memakan crepes yang ada di tangan kirinya, Nesya menyambut es krim yang di pesannya tadi. Selesai, Nesya kembali berjalan riang menuju mobil Rey. Gadis itu kesusahan untuk membuka pintu, karena tangannya penuh dengan crepes dan es krim. Rey sepertinya memahami bahwa gadisnya itu kesusahan, kemudian, ia membukakan pintu untuk Nesya dari dalam. "Lama amat pekanya," cibir Nesya yang sudah duduk di kursi sebelah Rey. Bukannya membalas cibiran Nesya, mata Rey tertuju pada es krim dan Crepes yang berada di genggaman gadis itu. "Itu, mau di makan semua?" tanya Rey tidak percaya. Nesya mengangguk, "Yaiyalah, masa yaiyadong. Mulan aja jamilah, masa jamidong."  Rey menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia menghidupkan mesin mobil dan ingin menjalankannya. Namun, Nesya memekik, membuat Rey tidak jadi menjalankan mobilnya. "Kenapa, teriak-teriak?"  "Aku mau habisin ini dulu, abis itu mau beli gulali, jangan pulang dulu." ucapnya santai. Mata Rey terbelalak, ia melirik perut Nesya yang masih rata. Padahal, gadis itu sudah makan banyak sekali dari tadi. Sepiring nasi goreng spesial, sebuah crepes jumbo, es krim cone besar, belum lagi minumnya, segelas americano, greentea latte, dan bubble rasa coklat. "Udah banyak banget, sayang. Itu perut, apa gentong sih?" tanya Rey, ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Nesya yang sepertinya belum kenyang sama sekali. "Belum, aku mau beli gulali dulu ya. Crepesnya udah abis." ucap Nesya, gadis itu langsung melengang pergi tanpa mendengar jawaban dari Rey. "Beneran cacingan ya?" gumam Rey. ------------------------------------------------------------ HAIII wkwk Entah kenapa ya, gue ngakak ngetik part ini. Jangan lupa vote dan komen! Raelando Wirawan Salam 6 R
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN