18

1676 Kata
"Right person in wrong time." Sore ini, udara sangat sejuk, ditambah udara dari air conditioner, ranjang yang empuk, ah, rasanya Nesya seperti berada di surga. Baru saja ia terhanyut ke dalam mimpi, tiba-tiba tubuhnya di guncang oleh seseorang. Sontak saja hal itu membuat matanya yang tadinya tertutup, kini terbuka lebar. "Nes, oi, kebo lu, bangun!" Tasya mengguncang kuat tubuh Nesya. Nesya berdecak sebal, "Apaan sih, Sya? Gue ngantuk, elah." "Itu, di bawah ada Rey. Buruan samperin," ujar Tasya. "Lah, Rey ke sini terus hubungannya sama gue apa? Ini kan rumah lo, berarti dia ke sini mau ketemu lo. Tasya ih, ganggu gue tidur!" sungut Nesya. Tasya menoyor jidat Nesya, "Heh, ini emang rumah gue. Tapi, dia mau ketemu sama lo." "Ngapain? Barusan juga ketemu, emang ya, orang cantik itu ngangenin," ujar Nesya pede. "Gue baru tau, ternyata lu narsis. Udah sana, kasihan Rey kelamaan di bawah. Kayak gembel," ujar Tasya seraya terkekeh pelan. "Gembel mana ada yang ganteng kayak, Rey." balas Nesya, kemudian ia segera melenggang keluar kamar Tasya untuk menemui Rey. Saat sudah sampai di bawah, Nesya melihat Rey yang sedang duduk di atas motor besarnya. Menggunakan jaket kulit berwarna hitam, dan celana jeans berwarna senada, penampilan Rey terlihat sempurna. "Rey!" Mendengar namanya di panggil, Rey segera menengok. Ia tersenyum ramah pada orang yang memanggil namanya barusan, seorang gadis yang sedang mengenakan setelan baju santai dan wajah yang terlihat baru bangun tidur, sedang berdiri di hadapannya sekarang. "Hai," sapa Rey ramah dan di balas tatapan bingung dari gadis yang sedang berdiri di hadapannya ini. "Ada yang ketinggalan?" tanya Gadis itu dan dibalas anggukan oleh Rey. "Apa, yang ketinggalan?" "Hati gue," ujar Rey datar. "Rey, muka lo terlalu triplek buat bercanda," cibir Nesya. "Kok triplek?"  "Abisnya, muka lo datar persis kayak triplek."  "Oh." Rey mengangguk anggukan kepalanya. Lalu, mereka berdua sama-sama diam. Rey sibuk menatap ke dalam jaketnya, dan Nesya yang terus memperhatikan Rey dengan tingkah anehnya. Sebal, Nesya segera memulai percakapan lagi.  "Rey, lo mau ngapain ke sini?" tanya Nesya lagi. Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Lo, pernah pacaran nggak?" Dahi Nesya mengernyit, "Emangnya kenapa?" "Jawab aja." "Enggak," jawab Nesya kesal. "Kenapa sih?" Rey tersenyum penuh arti, kemudian ia menarik resleting jaketnya dan mengambil setangkai bunga mawar berwarna peach yang ia beli tadi. "Buat lo." Rey menyodorkan bunga itu pada Nesya. Dengan ragu, Nesya mengambil bunga yang di berikan oleh Rey. Gadis itu menatap Rey dengan tatapan bingung, sedangkan Rey, ia menatap Nesya dengan senyuman cerahnya. "Makasih, tapi ini buat apa?" tanya Nesya seraya menunjuk bunga yang ada di genggamannya. "Gimana ya, gue tau ini mungkin terlalu cepat. Tapi, gue nggak mau terlalu lama mendam. Gue suka sama lo," ujar Rey dengan satu tarikan nafas. Nesya mematung, baru saja Rey menyatakan perasaannya. Ada sesuatu di diri Nesya yang ingin meledak sekarang, sesuatu yang membuat Nesya ingin berteriak sekencang-kencangnya. "Su-suk-suka?" ucap Nesya terbata-bata. Rey terkekeh pelan, "Bukan cuman suka, rasanya gue juga sayang." ujar Rey santai, padahal ia sedang berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Sa-sayang?" Bibir Nesya bergetar, entah apa yang terjadi pada tubuhnya sekarang. Semuanya tidak sinkron. "Gue nyatain perasan gue, bukan mau makan lo. Nggak usah gugup gitu," cibir Rey. "Iyaiya, ma-makasih."  Kok malah terima kasih, sih? Wah, gue kayaknya harus keluarin jurus andalan. Batin, Rey. "Nesya, lo suka buah kan?" tanya Rey. Nesya mengangguk, "Suka." "Suka anggur?" "Suka." "Kalau apel, suka nggak?" "Suka." "Kalau gue kasih buah, mau nggak?" "Mau." "Beneran, mau?" tanya Rey meyakinkan. "Iya, mau." kesal Nesya. "Gue ulang ya, suka apel?" tanya Rey, ia sudah memulai aksinya sekarang. "Suka." jawab Nesya dengan malas. "Suka gue?"  "Suka." "Mau jadi pacar gue?" "Mau," balas Nesya malas. Sesaat kemudian, ia melotot ke arah Rey yang ternyata sedang menahan tertawa. "Polos sama b**o beda tipis, ya," sindir Rey seraya terkekeh. Pipi Nesya merona merah, malu. Tanpa mendengar pertanyaan Rey, Nesya langsung saja menjawabnya. Ternyata, Rey sedang menjebaknya. "Bodo!" Nesya memukul d**a Rey keras, kemudian ia hendak masuk, namun Rey mencegat tangannya. "Eh, jangan ngambek dong. Kan udah jadian." goda Rey. "Jadian apaan, itu nggak sah!" kilah Nesya. "Lah, kenapa nggak sah?"  Nesya memutar bola matanya jengah, "Di mana-mana, orang kalo ditembak itu yang romantis. Bukan pake acara ngejebak kayak tadi." "Oh." Rey menganguk-anggukan kepalanya, "gue ke sini bawa bunga, kurang romantis apa?" "Banyak, lah." sungut Nesya sebal. Rey terkekeh geli, sedetik kemudian, ia meraih kedua tangan Nesya. Di genggamnya erat-erat, membuat gadis itu kini menatapnya.  Rona merah di wajah Nesya tidak dapat di sembunyikan, Rey dapat melihat itu dengan jelas. Dalam hatinya, Rey terus saja mengumpat tidak jelas. "Anesya Jasmeen, gue Raelando Wirawan. Suka sama lo, nggak tau dari kapan. Yang gue tau, setiap gue sama lo, gue ngerasa nyaman. Hati gue rasanya aneh, setiap bikin lo sedih sama sindiran gue. Semakin gue sering di dekat lo, rasanya gue nggak pengen jauh-jauh." Rey mengambil nafas sebelum melanjutkan kata-katanya. "Sekarang gue udah nggak suka lagi sama lo, gue udah sayang. Jadi, lo mau jadi pacar gue?"  Rey menatap Nesya lekat-lekat, menunggu jawaban dari gadis itu. Rasanya tubuh Rey sudah mulai panas dingin, gadis itu menatapnya, tapi tidak memberikan respon apa-apa.  "Kok diem? Nggak mau ya?" tanya Rey lemas, sepertinya ia akan langsung pindah ke luar negeri jika Nesya menolaknya.  "Mau." Mata Rey berbinar, senyum mengambang di wajah tampannya. Ia menarik gadis dihadapannya kedalam dekapannya, gadis itu tidak menolak. Bahkan ia membalas pelukan Rey, tidak seperti saat di rumah sakit.  •  Hari Senin, adalah hari yang paling di benci oleh seluruh murid sekolah. Entah apa salahnya Senin, mungkin karena ada upacara pagi yang harus di jalani. Seperti saat ini, seluruh murid SMA Golden sedang melakukan upacara bendera di lapangan sekolah mereka. Upacara berlangsung khidmat, sampai saat babak amanat para murid sudah mulai kesal berdiri. Ceramah dari Kepala Sekolah, rasanya hanya seperti angin lewat. Mereka bosan, rata-rata mereka lebih memilih mengobrol dengan teman satu barisan dari pada mendengarkan ceramah dari Kepala Sekolah. "Capek, ya?" tanya Rey pada Nesya, gadis itu sedang berdiri di sebelahnya. Nesya mengangguk seraya mengibas-ngibaskan tangannya, "Panas." "Bentar lagi selesai, sabar," ujar Rey dengan lembut. Hal itu membuat para perempuan yang berbaris di dekat Nesya menjadi ge-er. Selama ini, mereka hanya melihat sisi Rey yang jutek dan selalu menolak dengan kasar perempuan yang ada di dekatnya. Namun, sekarang mereka melihat dengan jelas sisi lembut seorang Rey terhadap perempuan. "Sekian dari saya, terima kasih atas perhatiannya. Selamat pagi." ucap Kepala Sekolah untuk menyudahi pidatonya. Riuh tepuk tangan para murid membuat upacara menjadi ramai, mereka bukannya bertepuk tangan karena kagum dengan pidato barusan. Melainkan mereka senang, karena pidato panjang kali lebar itu akhirnya selesai. Beberapa menit kemudian, upacara benar-benar selesai. Para murid langsung membubarkan diri mereka, ada yang ke kantin, ada yang ke kelas, ada juga yang langsung pulang. Rey dan teman-temannya memilih untuk pergi ke kantin, di ikuti oleh Nesya dan Tasya. Mereka pergi ke kantin ber samaan. Tidak jarang, saat di jalan menuju ke kantin, banyak perempuan yang histeris ingin menjadi Nesya dan Tasya. Sedari dulu, perempuan yang hanya bisa dekat dengan 5R adalah Tasya.  Itu karena dirinya adalah kekasih Rio. Sekarang Nesya, seorang murid baru. Namun, ia bisa berteman dengan kelima cowok tampan itu, tentu saja itu membuat para fans 5R merasa iri. Siapa yang tidak mau? Pergi kemana-mana bersama lima cowok ganteng. "Kok kita diliatin terus, sih?" ujar Nesya seraya menatap sinis pada perempuan yang tengah menatap mereka. "Jangan diliatin, anggep aja mereka nggak ada. Cuekin aja," ucap Tasya santai. Mereka tiba di kantin, seperti biasa, duduk di tempat yang sama. Namun, kali ini yang berbeda, karena adanya Tasya dan Nesya di sini. "Kita semua ditraktir Revin baksonya mang Dadang loh!" ucap Rico antusias. "Ada acara apaan? Biasanya juga pelit." sindir Rio seraya terkekeh. "Revin kalah taruhan." ucap Rasya. "Taruhan apa?" "Waktu di rumah sakit, Gue, Revin sama Rico taruhan. Kalo Rey jadian minggu ini, Revin bakalan traktir bakso mang Dadang." Rasya menaik turunkan alisnya menatap Revin. "Gue 'kan nggak bilang gitu, yang bilang mah, onoh." Revin menunjuk Rico dengan dagunya. "Udah Rev, terima aja. Duit lo banyak juga, elah, jangan pelit sama saudara sendiri." cibir Rio. Revin pasrah saja, akhirnya Rasya memesan bakso untuk mereka bertujuh. Dan, ia yang harus membayarnya. Saat sedang menunggu pesanan mereka datang, tiba-tiba Angel datang dan langsung menarik rambut Nesya sehingga membuat gadis itu terjatuh ke belakang. Kepala Nesya kembali terbentur, padahal ini kurang baik untuk dirinya yang baru saja sembuh. Melihat gadisnya tersungkur di lantai, Rey segera membantu Nesya untuk bangun. "Mana yang sakit, di sini ya?" ujar Rey panik, ia mengusap-usap kepala Nesya untuk menghilangkan sakit yang ada di kepala gadis itu. "Rey! Kamu ngapain sih?! Deket-deket sama cewek ganjen ini!" ujar Angel dengan manja. Tasya yang berada di situ tidak tinggal diam, ia langsung menghampiri Angel untuk memberikan pelajaran. Plak! "Lo sinting ya? Atau buta? Ngaca dong! Yang ganjen itu elo, bukan temen gue!" geram Tasya. Angel yang naik pitam itu, ingin membalas tamparan Tasya. Namun, tangannya dicegat oleh Rio. "Jangan macem-macem sama pacar gue," ucap Rio sinis. "Gue nggak punya urusan sama pacar lo, ya! Dia yang dateng-dateng main tampar!"  "Nggak punya urusan? Lo nyakitin sahabat gue, berarti lo juga nyakitin gue. Dan, gue paling nggak suka sama yang namanya di sakitin!"  "Udah! Angel, lo pergi dari sini sekarang sebelum gue bersikap kasar sama, Lo." ucap Rasya, ia menyuruh dayang-dayang Angel untuk membawa gadis itu pergi. Awalnya Angel memberontak, ia ingin menyerang Nesya lagi. Namun, Rey menatapnya dengan penuh kebencian. Lebih mengerikan daripada biasanya, membuat Angel bergidik ngeri dan akhirnya pergi dari sana. "Lo nggak pa-pa, Nes? Kita ke UKS ya?" ujar Tasya cemas. Nesya menggeleng, "Gue nggak pa-pa." "Nggak, kita ke UKS aja." Rey kemudian ingin mengangkat tubuh Nesya, namun gadis itu menolak. "Enggak usah, Rey. Kita makan aja, ya? Gue laper." Nesya berusaha memasang senyumnya. Mendesah pelan, Rey mengikuti permintaan Nesya. Mereka akhirnya kembali duduk di meja itu, dan mulai menyantap bakso yang sudah di siapkan oleh mang Dadang. Tanpa mereka ketahui, dari jauh seseorang sedang menatap mereka semua dengan tatapan tidak suka. ------------------------------------------------------------- Hai! Wkwk Anjay, part ini paling panjang sumpah :'v  Btw, maafkan kalau gaje wkwk Eh, sampul 'Dangereux' new loh. Jangan lupa vote dan coment :))) Salam 6 R
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN