"I'm tired of acting.
Like I'm not hurting."
Seminggu kemudian.
Ruang Inap Nesya sedang ramai sekarang, teman-temannya----lebih tepatnya teman-teman Rey. Mereka berkumpul untuk membantunya berkemas untuk pulang, padahal Tasya saja sudah cukup.
Kondisi Nesya sudah mulai membaik, dokter sudah mengizinkan untuk pulang. Hanya sesekali, Nesya harus check up ke Rumah Sakit untuk memeriksa keadaan kepalanya.
"Kalian buat apa sih ikut, bikin ribet tau, nggak?" gerutu Tasya seraya membereskan pakaian Nesya.
"Lah, kita mah cowok-cowok mau jagain lu bedua." celetuk Revin.
"Auk, bersyukur dong. Dijagain lima cowok ganteng secara sukarela, di luar sana banyak yang ngarep, di sini malah sewot." sungut Rico.
"Idih, pede banget kalian." cibir Tasya.
"Biarin aja dong, sayang. Kasianin jomblo, kesepian." ujar Rio seraya terkekeh pelan dan langsung mendapatkan tabokan keras dari teman-temannya.
"Anjir, sementang lu doang yang kagak jomblo." cibir Rasya.
"Wo, jelas dong." Rio menepuk-nepuk dadanya bangga.
"Bacot." Rey menatap tajam teman-temannya untuk menyuruh mereka diam.
"Rey, galak ih kayak anjing tetangga." cicit Rio.
Langsung saja Rey mengalihkan tatapan tajamnya ke arah Rio, dingin dan menusuk. Rio yang mendapatkan tatapan itu, segera mengalihkan tatapannya ke arah lain, tidak mau melihat ke arah Rey. Seram katanya.
"Rey, mata lo mau keluar itu." tegur Nesya seraya menepuk lengan Rey yang berada di sampingnya.
Bukannya marah, Rey justru terkekeh seraya menatap Nesya. Berbeda 180° dengan dirinya 1 menit yang lalu saat menatap Rio.
"Temen lo, tuh." bisik Revin pada Rasya dan Rico.
"Doi udah mulai cair tuh." balas Rico.
"Taruhan, bentar lagi jadian." ujar Rasya.
"Bakso mang Dadang!" ucap Rico antusias.
"Bakso pala lo bulat," ujar Revin seraya menoyor kepala Rico, "itu anak anti sama cewek udah 2 tahun, yakali baru ketemu 2 bulan bisa langsung jadian."
"Orang mah kagak bisa ditebak Rev, kita liat aja entar," ucap Rasya.
"Semoga."
•
Setelah sampai di rumah Tasya, para lelaki langsung pulang karena diusir Tasya. Seperti biasa, lagi-lagi di rumah Tasya tidak ada orang. Hanya ada satu asisten rumah tangga, itupun sedang pergi ke pasar.
"Bentar Nes, gue ngambil kunci dulu." Tasya berjalan menuju pot besar yang terletak di samping rumahnya, ia mencari-cari sesuatu di sana. Tidak lama, Tasya kemudian kembali dengan sebuah kunci yang berada di genggamannya.
Membuka pintu rumahnya, Tasya dan Nesya segera masuk seraya menyeret koper kecil. Berisikan barang-barang Nesya selama berada di rumah sakit.
Mereka berdua langsung naik tangga menuju kamar Tasya, saat sudah berada di sana, Tasya segera menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya yang empuk. Lelah.
"Maaf ya, Sya. Gue jadi ngerepotin," ujar Nesya yang merasa tidak enak.
Bangkit, Tasya duduk di samping Nesya. Gadis itu menatap sahabatnya dengan tajam, seakan-akan perkataan Nesya barusan telah menyakiti hatinya.
"Ish, lo itu ya!" Tasya menjewer telinga Nesya, "udah gue bilang, nggak usah terima kasih mulu. Gue seneng bantuin lo, awas ya, kalo gue denger lo berterima kasih buat ini lagi."
"Iya Tasya, ampun! Telinga gue mau putus rasanya!" Nesya memukul pelan tangan Tasya agar melepaskan jewerannya.
"Eh?" Tasya melepaskan jewerannya, ia malah nyengir lebar. "He he."
"Ish, pasti merah ini telinga gue." sungut Nesya.
"Lupakan soal telinga, Lo sama Rey, gimana?" tanya Tasya penuh selidik.
Dahi Nesya mengkerut, ia menatap Tasya dengan tatapan bingung. "Gimana apanya?"
Tasya memutar bola matanya jengah, "Perlu ya, gue tanya secara detail?"
"Iyalah, orang lo cuman nanya 'gimana?'. Gue kan bingung, apanya yang 'gimana'." Nesya menaikan sebelah alisnya.
"Pas lo pingsan, dia nungguin lo sampe nggak sekolah. Tiap pulang sekolah, langsung ke rumah sakit masih pakek seragam. Sampai berantem sama satpam rumah sakit gara-gara dia dateng pas bukan di jam besuk, hubungan lo berdua apa?" corocos Tasya panjang lebar.
Nesya menggedikan bahu, "Nggak ada."
"Astagfirullah," Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memijit pelipisnya. "Jadi, friendzone, nih?"
"Kok, friendzone?" tanya Nesya dengan wajah polosnya.
Tasya menepuk jidatnya, "Lo pernah pacaran nggak sih?" tanya Tasya dan di balas gelengan oleh Nesya.
"Lo kayaknya buta banget dalam urusan Cinta, ya," ujar Tasya seraya menepuk ringan pundak sahabatnya itu.
Nesya mengangguk antusias, "Banget."
•
Tiba di rumahnya, Rey segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat. Ia melemparkan sebuah benda yang sedari tadi di simpannya di dalam jaketnya.
"Ngapain gue beli ini kalo gue nggak berani ngasih?" ucap Rey pada dirinya sendiri.
Tadi, saat Rey ingin berangkat menjemput Nesya, ia melewati sebuah toko bunga. Entah mengapa, hatinya ingin sekali pergi ke sana. Maka dari itu, Rey membeli setangkai mawar dan di simpannya didalam jaket.
Menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, Rey segera memejamkan mata. Ia ingin tidur, tetapi wajah Nesya saat tersenyum tiba-tiba melintas di pikirannya.
Gadis itu, selalu tersenyum dan tertawa. Semua orang bisa tertipu dengan sikapnya yang seperti itu, tapi Rey tau, bahwa itu semua bukan nyata. Itu hanya topeng, untuk terlihat kuat, nyatanya tidak.
Selama seminggu Rey menemani Nesya di rumah sakit, sudah tidak terhitung berapa kali Rey memergoki Nesya sedang menangis dalam diam. Rey hanya pura-pura tidak tau saja, ia tidak ingin kalau gadis itu merasa canggung karena Rey mengetahui ia sedang menangis.
Entah apa yang mempengaruhi pikiran, Rey. Bagaimana bisa, ia menuduh gadis rapuh itu sebagai penggila harta. Bahkan ia yang masih kekurangan kasih sayang, masih sempat memberikan kasih sayang pada orang lain.
Gusar, Rey merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Setelah itu, jari jemarinya dengan cepat mengetikan sesuatu di sana.
Pandawa lima (5R) :
Rey : woi
Rio : apaan
Rasya : ^(2)
Revin : ^(3)
Rico : ^(4)
Rey : tmbk, jgn?
Rasya : APAAN SIH
Rico : GUE KESEL BGST
Revin : nyante gaes, keyboard Rey isinya huruf konsonan doang.
Rio : tembak, jangan? (Translate by www.kamus.Rey.com) jangan coba-coba translate, ini cuman bisa di lakukan oleh profesional, jika tidak, kalian bisa setres karena tidak akan mengerti.
Revin : sepupuan gesrek semua, ya.
Revin : eh, mau nembak siapa si dugong?
Rico : mimi peri
Rey : ^
Rio : anjing lu, (Translate by www.kamus.Rey.com) sekali lagi, ini hanya bisa di lakukan oleh ahli.
Rasya : cuman gue yang normal di sini.
Rasya : Revin mana? Bakso mang Dadang ya, doi mau nembak soalnya.
Revin : elah, si dugong. Jadian aja belom.
Rey : otw
Rico : a***y, ngegas
Rico : BAKSO MANG DADANG YA REVIN, HO HO HO
Revin : minggu depan aja elah, Rey. Gue tekor entar
Rio : perasaan mana bisa ditahan, karena perasaan itu seperti kentut. Semakin di tahan semakin sakit, coba di keluarkan, beuh mantep
Rey : ❤ spu2 w
Rico : lo ngomong apa, anjir Rey
Rasya : cinta sapu sapu warung, artinya Rey cinta sama ikan sapu sapu yang di jual di warung. (Translate by www.kamus.Rey.KW.com)
Rio : sayang sepupu gue,(Translate by www.kamus.Rey.com)
Rio : udah gue bilang, jangan coba-coba. Sok-sok an, pake kamus KW lagi.
Revin : serah lu pada
Rico : bakso mang Dadang Rev, 10 mangkok porsi komplit istimewa plus plus
Revin : BELOM JADIAN BEGE!
Sepertinya, menghubungi mereka semua adalah ide yang buruk. Buktinya, bukan membahas apa yang Rey katakan, mereka malah membahas kamus dan bakso.
Menghela nafas, Rey bangkit dari tidurnya. Mengambil kunci motor dan juga bunga yang tergeletak di atas kasurnya, ia bergegas pergi.
Ke rumah Tasya.
-------------------------------------------------------------
Hai! Gimana? Wkwk
Maaf kalo jelek banget, komen aja kalo ada typo atau ada yang aneh wkwk.
Vote dan coment dong
Salam 6 R