"Ada luka yang tak bisa dijelaskan, oleh karena itu air mata jatuh tanpa bicara."
Nesya, gadis itu sedang mengerucutkan bibirnya sekarang. Daritadi, Rey terus mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Membuat Nesya menjadi kesal setengah modar.
"Ini berapa?" Rey mengangkat telunjuk dan jari tengahnya.
Nesya memutar bola matanya jengah, "Dua, Rey."
"Nama panjang gue, siapa?"
"Raelando Wirawan," jawab Nesya kesal.
Rey mengangguk-anggukan kepalanya, "Berarti otak lo normal."
"Jadi, maksud lo gue kemaren-kemaren nggak normal?" Nesya melotot pada Rey.
"Eh?" Rey menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "bukan gitu, gue cuman mastiin. Habis ke bentur kepala lo masih berfungsi apa enggak."
"Heh!" Nesya melotot ke arah Rey, "lo nanyain hal nggak penting, cuman buat mastiin hal konyol kayak gitu?"
Rey mengangguk, senyuman jahil terlukis di bibirnya. Membuat Nesya ingin melempar wajah tidak berdosa Rey itu, menggunakan sepatu sepak bola.
"Jangan melotot gitu, serem." Rey bergidik ngeri, sedetik kemudian, ia terkekeh pelan.
"Rey, lo bikin gue setres tau nggak?" Nesya menggeram.
Rey menggeleng, "Enggak."
"Ngeselin! Sana keluar!" usir Nesya yang sudah tidak tahan, dengan sikap Rey yang menjengkelkan. Bahkan sekarang, Nesya lebih menyukai Rey yang cuek.
"Ntar gue keluar," ujar Rey santai.
"Kapan?"
"Tunggu Bunda lo nyampe sini."
"Hah?!" Nesya memekik, membuat lelaki yang berada di sampingnya terperanjak kaget.
"Biasa aja dong! Elah, gue kaget tau!" hardik Rey seraya mengelus dadanya.
"Lo, telpon Bunda gue?"
Rey mengangguk seraya mengernyitkan dahinya, "Emang kenapa?"
"Eng-enggak pa-pa." Nesya membuang mukanya menatap lantai.
"Lah?" Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya ia sudah salah melakukan sesuatu.
"Rey, gue boleh minta sesuatu?" tanya Nesya dengan suara bergetar.
Rey mengernyitkan dahinya, "Apa?"
"Kalau Bunda ke sini, lo tetep di sini, ya?" pinta Nesya dengan wajah memelas.
"Lah, ngapain? Ogah, ntar di kira gue cowok lo." Rey menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yaudah," balas Nesya lemas.
• •
Hening, itulah yang terjadi di ruang inap Nesya saat ini. Daritadi, sang Bunda hanya duduk diam seraya menatapnya.
Gadis yang sedang terduduk di atas ranjangnya itu hanya menunduk, ia menatap jari-jarinya yang saling bertautan.
Dari sudut matanya, Nesya dapat melihat bahwa sang Bunda sedang menatapnya dengan tatapan sayang. Namun, tetap saja Bundanya tidak mengatakan apa-apa.
"Masih inget, sama Nesya?" ujar gadis itu dengan nada menyindir, tetap saja suaranya pelan.
Citra--sang Bunda mengehela nafasnya gusar, "Maafin Bunda."
"Buat apa?" Nesya tertawa hambar.
"Kamu bisa kembali ke rumah, sayang. Bunda kangen," lirih Bundanya.
"Enggak." Nesya menggelengkan kepalanya. "Aku nggak bisa satu rumah sama dia."
"Tapi, kenapa? Kamu nggak mau maafin adik kamu?" ujar Bundanya.
"Aku sudah maafin dia, Bunda. Tapi, untuk ngelihat wajahnya setiap hari bikin aku teringat kejadian itu," ujar Nesya tanpa ingin menatap Bundanya.
"Tapi sayang, Bun--"
"Enggak Bunda," sela Nesya. "Bunda nggak ngerti, bagi Bunda yang terpenting cuman Tiara. Dari dulu, selalu Tiara. Bahkan, Bunda cuman anggap Nesya sebagai sayap pelindung Tiara."
"Bukan gitu, Nesya. Kamu tau 'kan? Kondisi Tiara dari dulu? Dia lemah, Bunda cuman pengen menjaga kalian berdua."
Nesya tertawa sinis, "Tiara lemah, itu dari sudut pandang Bunda. Di belakang? Bunda nggak tau 'kan?"
Citra bangkit dari posisi duduknya, wanita itu menatap anaknya dengan tajam.
"Bunda nggak nyangka, selama ini Bunda kira Tiara yang paling egois. Nyatanya? Kamu. Bahkan kamu sampai memfitnah kembaran kamu sendiri," Citra menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bunda pamit, Assalamualaikum."
Citra segera keluar dari ruangan itu, Nesya menatap nanar punggung Bundanya yang kian menghilang.
"Nesya harus ngebuktiin pakai cara apa, Bun?" ucap Nesya pada dirinya sendiri.
Sebulir airmata mengalir melalui pelupuk mata Nesya, gadis itu sudah menahannya daritadi. Tidak kuasa membendung kesedihannya, Nesya menangis sejadi-jadinya.
Biarlah kamar ini menjadi saksi bisu kesedihan gadis itu, menangis dalam kesendirian tanpa adanya seseorang yang bisa di jadikan tempat untuk bersandar. Adakah yang lebih miris dari pada ini?
"Nesya?"
Suara itu menusuk telinga Nesya, membuatnya terpaku untuk beberapa saat. Perlahan, Nesya mendongakan kepalanya. Memperlihatkan wajahnya yang di basahi air mata.
"Lo, kenapa?" ucap Rey panik, lelaki itu menangkupkan tangannya ke pipi Nesya, jempolnya bergerak untuk menghapus air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata gadis itu.
Gadis itu tidak menjawab, ia menundukan kepalanya. Masih saja menangis, kali ini ia tidak bersuara. Namun, isakan perih dapat terdengar.
"Gue nggak tau lo kenapa, Nes." ujar Rey.
"Tapi gue tau satu hal, cewek kalo lagi sedih, biasanya suka di peluk." tambah Rey.
"Nesya, mau dipeluk?"
Gadis itu masih diam, sepertinya kesedihan yang di alaminya sangat mendalam. Tetap saja, perkataan Rey barusan membuatnya sedikit terkejut.
Tidak mendapat respon, Rey menjadi diam. Namun, lelaki itu mengerti, tanpa aba-aba, Rey segera menarik Nesya ke dalam dekapannya. Mencoba menenangkan gadis itu, memberinya tempat ternyaman untuk menangis.
Berada dalam dekapan Rey, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan, untuk bisa dekat dengan Rey saja rasanya tidak mungkin. Satu hal yang pantas untuk menggambarkan pelukan Rey saat ini.
Nyaman.
Dan, satu hal yang masih membuat Nesya bingung. Kenyataan bahwa Rey tidak pulang, lelaki itu menuruti permintaannya untuk tetap berada di sini.
•
Sebuah sepeda roda tiga sedang melaju, sang pemilik mengayuh sepedanya dengan sangat cepat untuk bisa membalap sepeda yang berada jauh di depannya.
"Adek!" teriak Nesya sambil mengayuh sepeda roda tiganya dengan susah payah.
"Tiara cepet banget sih," gumam Nesya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Nesya bisa menyusul adiknya itu.
"Kamu cepet banget sih, Dek!" Nesya mengatur nafasnya yang tersendat sendat karena lelah mengayuh sepedanya.
"Kakak sih, lambat kayak siput." ejek Tiara seraya menjulurkan lidahnya.
"Iyadeh, kakak selalu kalah. Udah yuk, pulang. Nanti Ayah sama Bunda nyariin kita." ajak Nesya.
Tiara mengangguk, kemudian mereka berdua mengayuhkan sepeda roda tiga itu menuju ke rumah mereka. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di rumah.
"Aku sudah bangkrut! Ini semua gara-gara kamu nggak becus jaga rahasia!"
"Bukan salah saya! Korupsi itu tidak baik mas! Apa untungnya? Itu uang haram, tidak ada berkahnya!"
"Saya melakukan semua ini untuk kehidupan kalian! Untuk kamu, untuk Ane dan Tiara yang masih kecil!"
Sungguh miris, kedua anak berusia 7 tahun itu harus mendengar semua perkelahian orang tuanya. Bahkan mereka belum mengerti apa yang sedang orang tua mereka ributkan.
Nesya menggigit bibir bawahnya yang bergetar, baru kali ini ia melihat kedua orang tuanya yang biasanya harmonis tiba-tiba bertengkar.
Seketika pandangan Nesya menjadi gelap, sebuah tangan mungil sedang menutup mata Nesya sekarang.
"Tiara, kenapa kamu tutup mata kakak?"
"Kak Ane, jangan dilihat. Kita nggak boleh lihat itu semua, tangan Tiara cuman dua. Cuman cukup buat tutup mata kakak, jadi, kakak pake tangan kakak sendiri buat tutup telinga kak Ane, ya." ujar sang adik.
"Terus, kamu gimana? Yang tutup mata dan telinga kamu, siapa?"
"Aku nggak pa-pa, yang penting bukan kakak yang ngeliat," ujar Tiara, gadis itu tidak peduli jika harus melihat dan mendengar hal yang tidak pantas untuk anak seusia mereka.
Yang penting bukan kakak yang dengar, batin Tiara.
"Nesya?"
Suara barithon khas itu menyadarkan Nesya dari kilas balik masalalu-nya.
"Iya?" jawab Nesya.
"Kok melamun sih? Lo dengerin cerita gue nggak sih?" kesal Rey karena ia sudah bercerita panjang lebar, namun tidak di hiraukan.
Padahal ini rekor dunia, Rey berbicara panjang kali lebar.
"Cerita? Yuk, cerita."
Rey memutar bola matanya malas, "Ceritanya udah kelar."
"Eh?" Nesya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "emang kapan lo cerita?"
Rey berdecak sebal, "Daritadi, elah. Lo ngapain pake acara melamun sih."
Nesya terkekeh pelan, pelukan Rey tadi membuatnya terhanyut ke dalam ingatan masa lalunya. Entah apa yang membuat itu semua terjadi, namun yang pasti, Nesya sudah lama tidak merasakan kasih sayang seperti ini.
------------------------------------------------------------
Hai wkwk, ada yang bingung? Itu tadi ingatan kilas balik Nesya waktu kecil, jadi, sedikit demi sedikit akan di kupas secara tajam, setajam, SILET!
HA HA HA
By the way, panggilan Nesya waktu kecil itu 'Ane' jadi jangan bingung ya wkwk. Dari mana dapet 'Ane'? ANEsya Jasmeen.
Any question guys?
Salam 6 R