15

1111 Kata
"Mendoakan adalah cara mencintai paling rahasia." Seutas perban melingkar di kepala seorang gadis yang kini masih terbaring lemah tidak sadarkan diri, sudah hampir 10 jam tidak ada tanda-tanda dari gadis itu untuk membuka matanya. "Dia nggak pa-pa, kalian nggak usah khawatir. Bentar lagi mungkin siuman," ujar Kanaya--dokter yang menangani Nesya. "Engga bakalan sampe amnesia 'kan kak?" tanya Rio. "Enggak, mendingan kalian pulang deh. Biar kakak suruh suster yang jaga, besok sekolah loh. Udah jam berapa ini?" nasehat Kanaya, pada para remaja yang sedang duduk sembari memperhatikan teman mereka yang tidak sadarkan diri di atas bankar. "Iya deh kak, lu kagak balik? Mami kangen tau," ujar Rio pada kakaknya itu. "Entar, masih banyak pasien. Duluan aja, sana gih. Jam besuk udah abis daritadi." Kanaya mengibaskan tangannya untuk mengusir para remaja itu. "Gue di sini aja, kak." Semua orang menoleh, tadi Rey yang berbicara. Setelah saling pandang, mereka menatap Rey seraya tersenyum jahil. "Apa?" Rey menaikan sebelah alisnya, untuk membalas tatapan teman-temannya itu. "Enggak, yaudah. Kita pulang ya, jagain Nesya ya Rey." jawab Rio disertai kekehan kecil. Mereka semua segera meninggalkan ruangan itu, awalnya Kanaya ingin menolak. Namun, Rio buru-buru menariknya untuk ikut mereka keluar. "Eh, itu ngapain si Rey ditinggal? Pasien gue butuh istirahat." Kanaya menghentikan langkahnya. "Stt!" Rio memelankan suaranya, "kakak, jangan protes. Ini malah bagus, biar mereka deket." "Apaan sih? Kesehatan pasien itu bukan mainan, Rio!" bentak Kanaya. "Kakak, sekali aja 'sih! Nggak bakalan metong juga itu anak, lagian bagus lagi, kan ada yang jagain." "Serah." Kanaya melengos pergi meninggalkan Rio dan teman-temannya. "Yuk, pulang." ajak Rio dan di balas anggukan oleh teman-temannya. Mereka pun benar-benar meninggalkan Rey. •  Suara dering telpon menggema ke seluruh ruangan, membuat sang empunya yang tengah tertidur tiba-tiba terbangun. "Siapa sih?" gumam Rey dengan keadaan setengah sadar, ia merogoh sakunya untuk mengangkat ponselnya. Ibu negara is calling. "Mampus, gue lupa izin." Rey menepuk jidatnya, sekarang ia harus menjaga gendang telinganya agar tidak pecah mendengar teriakan dari sang ibu. Dengan berat hati, Rey menggeser icon hijau yang tertera di layar ponselnya. Memejamkan mata, Rey menempelkan ponselnya ke telinga kirinya. "Iya, Ma?" sahut Rey pelan. "Nggak inget punya rumah, nak?"  "Rey, lupa minta izin. Rey di rumah sakit, nemenin Nesya. Kasian ma, orang tua sama keluarganya nggak ada."  "Di rumah sakit? Nesya kenapa?" "Dia tadi jatoh di kamar mandi ma, kepalanya kena benturan. Terus pingsan sampai sekarang."  "Yaudah, besok kamu nggak sekolah?" "Sehari aja ya, Ma? Izin," "Iya, besok pulang, ya." "Iya." Setelah mematikan telpon, Rey ingin melanjutkan tidurnya. Namun, suara Nesya membuatnya mengurungkan niat untuk kembali tidur. Rey bangkit dari sofa yang ada di ruangan itu, berjalan menghampiri Nesya yang sepertinya sudah mulai sadar. Nesya mengerjapkan matanya, ia melihat kearah sekeliling. Kepalanya terasa sakit, tubuhnya juga.  "Nes?"  Menoleh, Nesya mengernyitkan dahi saat mendapati seseorang yang tengah berdiri di sampingnya saat ini. "Rey?" Nesya menyipitkan matanya, untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. "Ada yang sakit?" tanya Rey pelan, suaranya terdengar sangat lembut dan penuh perhatian. Berbeda dari Rey yang selama ini Nesya kenal. "Gue ... di mana?" tanya Nesya, suaranya sangat berat dan serak. "Surga," jawab Rey santai. Bukannya tertawa, Nesya malah menangis. Membuat Rey menjadi gelagapan, padahal tadi niatnya hanya bercanda. "Gue cuman bercanda, kenapa malah nangis. Ya Allah, Rey cuman bercanda, jangan dimasukin ke buku dosa." Rey menengadahkan kepalanya keatas, seakan-akan sedang berbicara dengan Tuhan. Sekarang, Nesya malah tertawa. Membuat Rey menjadi kikuk seperti orang bodoh. "Lo, lucu banget." Nesya semakin tertawa geli, melupakan sakit yang bersarang di seluruh tubuhnya. "Astagfirullah, gue rasa lo udah gila. Pasti ini gara-gara kepala lo yang kebentur." Rey mengacak rambutnya frustasi. "Lagian, ngeliat gue nangis malah heboh, gue ketawa juga heboh."  "Ya elo ngapain nangis," tanya Rey setengah kesal. Nesya menggedikan bahunya, "Nggak tau, tiba-tiba pengen nangis." Rey mengernyitkat dahi, "Kalo pengen nangis, terus kenapa ketawa?" "Rey lucu sih, gue kira lo cuman robot ternyata bisa jadi badut," ujar Nesya datar. "Gue?" Rey menunjuk dirinya sendiri, "robot? Badut?" Nesya mengangguk, "Iya." "Serah." Rey berjalan menjauh dari Nesya, ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa tempat ia tidur tadi. "Yah, ngambek." gumam Nesya.  •  Ketukan pintu membuat Rey terbangun, kali ini seorang suster sedang masuk untuk membawakan sarapan dan beberapa obat. Rey merasakan seluruh tubuhnya tidak nyaman, ini pasti karena efek tertidur di sofa. Saat selesai dengan tugasnya, suster itu segera keluar dari ruangan Nesya. Menyisakan mereka berdua di dalam sana. "Lo nggak sekolah?" tanya Nesya saat Rey berjalan menghampirinya. Lelaki itu menggeleng, ia mendudukan dirinya di kursi yang berada di samping bankar. "Kenapa?" tanya Nesya lagi. "Gue kasian, liat lo. Nggak ada yang jagain," jawab Rey datar. Nesya mendelik, "Idih, yakin kasian?"  "Iya, lah," balas Rey acuh. "Makasih, Rey," ucap Nesya tulus. Lelaki itu tidak menjawab, ia mengangguk seraya bangkit dari posisi duduknya.  "Gue balik, ya? Habis mandi, gue ke sini lagi." pamit Rey. "Hati-hati ya, jangan ngebut, kalo belok ya belok jangan lurus. Jangan nikung juga, masih banyak kok yang jomblo," ucap Nesya seraya terkekeh pelan. "Masih aja sempet bercanda," cibir Rey. "Loh? Emang nggak boleh?" Nesya menaikan sebelah alisnya. "Ya, lo kan lagi sakit," balas Rey. "Emang kalo sakit nggak boleh bercanda? Sakit jangan terlalu dirasain kali, keliatan lemah banget," ujar Nesya seraya terkekeh. "Serah, udah, ya." Rey langsung pergi keluar, meninggalkan Nesya sendirian di dalam kamarnya. Nesya menatap punggung Rey yang kian menghilang, sedetik kemudian, pandangannya beralih pada makanan yang ada di atas pangkuannya. Gadis itu terkekeh lagi, ia membuka bungkusan makanan itu. Menyuapkannya sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. "Pura-pura kuat butuh banyak tenaga," ucap Nesya pada dirinya sendiri. •  Mobil Rey memasuki pekarangan rumahnya, ia memarkirkan mobilnya ke garasi. Setelah selesai, ia segera berjalan masuk ke dalam rumahnya. Badan Rey terasa sakit, ia meregangkan otot-ototnya. Rasanya seluruh tulangnya remuk, ini semua akibat dirinya yang tertidur di sofa. "Rey?"  Menoleh, Rey membalikan badannya untuk menatap siapa yang baru saja memanggilnya.  Itu Zahra. "Iya, Ma?" sahut Rey. "Nesya gimana?" Zahra berjalan menghampiri anaknya itu. "Udah bangun, tadi pagi." Zahra mengangguk, kemudian ia menyuruh Rey untuk segera mandi dan sarapan. Rey menurut, kemudian ia pergi ke kamarnya untuk segera membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, Rey segera turun untuk sarapan, perutnya sudah demo minta di isi karena dari tadi malam ia tidak makan. Rey sarapan sendirian sekarang, papanya sudah berangkat ke kantor. Regitha sudah berangkat ke sekolah, dan mamanya baru saja berangkat ke boutique. Dengan cepat, Rey segera menghabiskan sarapannya. Ia bergegas pergi ke rumah sakit lagi. "Gimana cara ngehubungin keluarganya, ya?" gumam Rey. ------------------------------------------------------------- Hai. So, aku beberapa hari ini bakalan nggak bisa update :(. Karena ada satu masalah, jadi aku nggak bisa update.  Nggak bisa di paksa juga, yang ada nanti malah ceritanya hancur :(. Ini aku juga ngerasa hancur banget :(. Btw vote dan coment dong Salam 6 R
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN