14

1032 Kata
"Deja que te diga cosas al oído Para que te acuerdes si no estás conmigo" -Despacito ------------------------------------------------------------- Sudah seminggu berlalu, Nesya masihmenginap di rumah Tasya. Padahal gadis itu sudah berencana untuk menyewa kamar kos kecil, namun Tasya selalu menahannya. Dengan alasan kesepian, Tasya menyuruh Nesya untuk menunda kepindahannya. Karena tahu rasanya kesepian, membuat Nesya iba dan menuruti permintaan Tasya. "Nes, gue bosen. Pengen ke mall," ujar Tasya yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur seraya menatap Nesya yang sedang fokus mengerjakan pr. "Gue juga bosen, Sya. Tapi mager banget mau kemana-mana," sahut Nesya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. "Hm, yaudah deh. Mending gue bobo cantik." Tasya membetulkan posisi tidurnya, memulai menutup mata, baru beberapa detik tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan malas, Tasya mengangkat telpon itu.  "Apa?" ketus Tasya saat mengangkat telpon. "Sayang ih, galak amat. Pasti baru mau tidur, ya?" "Udah tau, masih nanya. Ngeselin!" "Tapi, aku di bawah."  Mata Tasya yang tadinya tertutup, kini membulat sempurna, "RIO! MAU NGAPAIN?!" "Kesempatan, mumpung bonyok kamu nggak ada. He he." "Gila ya?! Pulang sana!" "Astagfirullah, ini anak-anak bisa ngamuk kalau di usir. Lagian aku maksa mereka buat ikut ke sini, tau."  "Anak-anak?" Tasya melirik Nesya yang sedang fokus mengerjakan PRnya. "Iya, 5R." "Yaudah, aku turun bentar."  Tasya memutuskan telfonnya, kemudian segera berlari keluar kamarnya. "Itu anak kenapa coba?" gumam Nesya. • • Saat sudah berada di depan rumahnya, Tasya segera membukakan pagar untuk mobil Rio agar bisa masuk. "Ngapain sih, ke sini?"  "Mau minta makan," celetuk Rasya dari belakang. Rio hanya cengengesan seraya menatap pacarnya itu, padahal ini semua ide mereka untuk mendekatkan Nesya dan Rey. "Tamu nggak disuruh masuk, nih?" "Gue sama Nesya cuman berdua di rumah, ART lagi ke pasar. Bonyok ke luar kota. Lo semua berlima, apa kata tetangga?"  "Bodo amat sama tetangga," celetuk Rico. Kemudian ia langsung nyelonong masuk diikuti oleh Revin dan Rasya. "Dua." Rey mengekor di belakang mereka. Tasya membelalakan matanya, mereka semua masuk tanpa izin ke dalam rumahnya. Ia berbalik menatap Rio dengan tajam. "Ngapain sih?!" geram Tasya. "Stttt." Rio meletakan telunjuknya di bibir Tasya, "buat ngedeketin Rey sama Nesya."  "Hubungannya sama rumah aku apa?"  "Nesya kan di sini, kalo Nesya di kolong jembatan baru deh kita bawa Rey ke kolong jembatan juga," jawab Rio santai. Tasya memukul lengan Rio yang bergelayut di pundaknya, bukannya apa, ini masih lingkungan komplek rumahnya. Takut ada salah paham, bisa-bisa di laporkan pada orang tuanya. "Nggak usah rangkul-rangkul!" "Udah 5 tahun, masih malu-malu aja." Rio menaik turun 'kan alisnya untuk menggoda Tasya. "Ini masih lingkungan rumah tau!" Tasya mencebikan bibirnya. "Iyaiya, masuk, yuk. Nesya sendirian 'kan? Di dalem ada empat manusia jomblo," Rio terkekeh pelan. "Tunggu dulu, rencananya apa?"  "Rencana apa?"  Tasya memutar bola matanya jengah, "Katanya mau ngedeketin Nesya sama Rey. Gimana rencananya?" "Oh, itu." Rio mengangguk anggukan kepalanya. "Iya, apa?!" Tasya sudah geregetan ingin mencabik lelaki dihadapannya ini, untung Rio adalah pacarnya. Rio kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Tasya, membisikan sebuah rencana yang sudah Rio dan teman-temannya atur untuk mendekatkan Nesya dan Rey. "Oke 'kan?"  Tasya mengangguk, "Oke." Setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam rumah Tasya. Memulai sebuah misi yang di namakan 'Micin ReyNes'. Misi Cinta Rey&Nesya •  Berisik, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana rumah Tasya saat ini. Padahal, mereka hanya berenam. Namun, suara yang di timbulkan sudah seperti ada berpuluh-puluh orang di sini. "Nesya mana?" bisik Rio yang sedang duduk di samping Tasya. Mata Tasya tertuju pada pintu kamarnya yang berada di atas, padahal mereka sedang membuat kegaduhan sekarang. Namun, sepertinya tidak ada niatan untuk Nesya keluar kamar. "Kalo nggak salah, tadi dia pake earphone makanya nggak denger suara kita."  "Coba kamu panggil?" Tasya mengangguk, kemudian ia bangkit dan segera pergi menuju kamarnya untuk memanggil Nesya. Saat sudah sampai di depan pintu kamarnya, Tasya mendorong pintu itu pelan. Memunculkan setengah badannya melalui celah pintu, Tasya melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Nesya.  "Kok nggak ada?" guman Tasya. Gadis itu kemudian benar-benar masuk ke dalam kamarnya, mencari ke segala tempat, tetap saja yang di carinya tidak ada. Saat ingin beranjak keluar, Tasya ingat dia belum mengecek di kamar mandi. "Nes?" panggil Tasya, tidak ada jawaban. "Nes? Lo di--aduh!"  Kaki Tasya menyandung sesuatu di kamar mandi, saat menengok ke bawah, Tasya membelalakan matanya. Nesya sedang terbaring lemah tidak berdaya di lantai kamar mandinya. "Nesya!" pekik Tasya, gadis itu segera mengangkat kepala Nesya untuk mendudukannya. "Darah?" Tasya membelalakan matanya, kepala Nesya mengeluarkan cairan merah itu.  "RIO!" Tasya berteriak histeris melihat Nesya yang sedang tidak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya. Beberapa saat kemudian, Rio dan teman-temannya datang menghampiri Tasya. "Itu, Nesya kenapa?"  "Jangan tanya itu dulu, nggak penting! Kepalanya berdarah, dia pingsan!" Tasya sudah panik setengah mati. "Minggir, biar gue yang angkat. Rio buruan siapin mobil, kita ke rumah sakit sekarang." ucap Rey dengan tenang. Padahal, hatinya sedang tidaj karuan saat ini. Rio mengangguk dan segera berlari ke garasi rumah Tasya, di belakangnya Revin, Rasya dan Rico ikut mengekor. Dengan cepat, Rey membawa Nesya menuju mobil Rio. Tasya mengekor, namun gadis itu mengambil kunci mobilnya terlebih dahulu. Mobil Rio hanya muat untuk 5 orang, sedangkan mereka ber7.  Setelah selesai, Tasya segera turun untuk menyusul mereka. Mengunci pintu rumahnya, dan segera menaiki mobilnya. "Sya, kita ikut sama lo ya?"  Tasya mengangguk, "Masuk aja Vin, Co." Mereka segera melajukan mobilnya ke rumah sakit sekarang, Tasya sedikit panik membuatnya hampir menabrak daritadi. "Astagfirullah, Sya. Gue masih jomblo, belom mau meninggal," ujar Rico sembari memegangi dadanya. "Gue juga, sabar Sya. Lo liat tuh, Rio aja nyante." tambah Revin. "Gue nggak bisa sabar! Astaga, itu kalo Nesya kenapa-kenapa gimana?!" Tasya histeris sendiri. "Jangan mikir gitu dong, Sya. Kepalanya cuman berdarah dikit, nggak mungkin sampe meninggal." sahut Rico sekiranya dapat membuat Tasya lebih tenang. "Bener Sya, kata Rico. Yang dalam bahaya itu kita bertiga. Sya, despacito!" pekik Revin, lagi-lagi Tasya hampir menabrak. "Despacito apaan sih?!"  "Despacito kan artinya pelan-pelan Ric, jadi tadi gue nyuruh Tasya pelan-pelan."  Rico menoyor kepala Revin, "Bisa ae lu." ---------------------------------------------------------- HAI!  okey, jadi hari ini gue lama update gara-gara gue bete. Gue udah ngetik panjang", eh malah ilang :( So gue ketik ulang dengan perasaan bete, jadi maafin kalo nggak dapet feel or typo or jelek :(. Btw, gue hobby bikin pemeran utamanya kesakitan ya :( ha ha ha Salam 6 R
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN